Pernikahan Yang Sempurna

Pernikahan Yang Sempurna
Bab 11: Selera Lokal


__ADS_3

"Kamu gak bawa mobil, Han?" Tepat setelah mata kuliah berakhir, siang itu Hana dan kedua temannya bergegas pergi meninggalkan gedung fakultas dan pergi ke kantin kampus.


"Engga, Cha" Jawab Hana lemas, karena pertanyaan Chaca itu berhasil membuatnya kembali terkenang betapa memalukannya awal pagi yang ia hadapi hari ini.


"Kok kamu lemes gitu sih Han?" Miftah menyenggol lengan Hana. Sejak tadi di dalam ruang Hana tampak tidak bersemangat.


"Sebenarnya aku males banget cerita"


Miftah dan Chaca bertukar pandang. Mereka saling berkirim sinyal, pasti ada sesuatu yang baru saja terjadi pada Hana.


"Memangnya kenapa sih Han? Ayo dong  cerita!" Chaca meletakkan tangannya di pundak Hana, matanya berkedip penuh keingintahuan. Hana yang melihatnya mendesah panjang. Di antara kedua temannya, Chaca lah yang paling besar jiwa keingintahuannya. Dalam tanda kutip 'bukan mengenai pembelajaran'.


"Engga ah, males!"


"Jangan gitu dong Han, kami kepo ni" Bujuk Chaca, setengah memelas. Sangat jarang melihat mood seorang Hana tidak baik. Karena biasanya Hana selalu tampil positif dan semangat.


"Ada masalah di rumah Han?" Miftah bertanya, walau tidak yakin apa benar begitu. Karena sejauh ini Hana tidak punya masalah apapun dalam keluarganya. Walaupun papa Hana yang single parent itu sibuk, tapi Hana sama sekali tidak pernah mempermasalahkannya.


"Alhamdulillah, engga mif" Hana menggeleng.


"Kalau gitu, kamu pasti galau karena kamu baru aja tolak cowok" Tebak Chaca penuh percaya diri, "Iya kan Han?" Karena pernah dulu ketika Hana di tembak oleh salah seorang teman seangkatan mereka.


Hana yang tidak pacaran itu, terus menolak dengan tegas dan setelahnya mood nya terus berubah buruk seharian penuh. Memikirkan rasa tidak enakan dan rasa bersalah. Klise nya, Hana terlalu takut menyakiti perasaan orang. 


"Emang bener Han?" Sambung Miftah. Singkatnya, rasa 'kepo' itu memang menular.


Sesaat, Hana berhenti berjalan. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri,  menatap Miftah dan Chaca yang berdiri mengapit nya, "Di kantin aja ya aku cerita!" Jika tidak begitu, Chaca pasti akan terus memberondongnya dengan sejuta pertanyaan sampai rasa 'kepo' nya itu terbayar kan.

__ADS_1


"Oke" Chaca dengan semangat merangkul pundak Hana, menyuguhkan senyum sumringahnya yang manis.


Temannya yang satu itu mungkin tipikal yang tertutup, tapi dengan mereka, Hana kerapkali tak ragu berbagi banyak hal. Karena untuk Hana, mereka sudah seperti keluarganya.


Setiba di kantin kampus, Miftah yang sudah hafal dengan selera kedua temannya itu dengan murah hati menawarkan diri untuk pergi memesan.   


Sembari menanti pesanan, Hana pun menceritakan tentang apa saja yang ia alami semalam. Mengenai dirinya yang menggantikan pertemuan kakaknya, hingga dilarikan ke rumah sakit hanya karena kram menstruasi dan tak lupa pula dengan kejadian pagi harinya yang ia sempat dikira ambeien karena kesalahpahaman yang memalukan.


Terang saja, Miftah dan Chaca tertawa terbahak-bahak mendengar ceritanya itu. Sampai pada akhirnya pesanan mereka pun sampai.


"Ice lemon tea buat Chaca" Miftah meletakkan teh lemon dingin itu di depan Chaca, "Avocado juice- no sugar buat Hana" Jus alpukat tanpa gula Miftah letakkan tepat di depan Hana, "Dan ice milik tea buat aku" Miftah menarik sendiri bagiannya.


Untuk makanan di kantin kampus, selera mereka bertiga sama. Sepiring siomay dengan bumbu kacang yang banyak.


"Btw, kamu serius bakal nikah sama tu bapak?" Tanya Chaca dengan polosnya.


"Huk..huk.." Berhasil membuat Hana yang baru saja menyeruput jus alpukat itu tersedak.


"Ya engga mungkin lah Cha. Bapak yang semalam ditemui Hana itu kan calon suaminya kak Keira" Terang Miftah, jelas ia sudah mengenal dengan dua orang kakaknya Hana, "Semalam itu Hana cuman gantiin posisinya kak Keira buat tolak itu bapak" 


"Ya, tapi kan itu bapak minta pertanggungjawaban Hana, Mif.."


"Itu mah akal-akalan si bapaknya aja buat dapetin Hana" Tutur Miftah, sambil mengaduk teh susu miliknya, "Orang Hana cantik gini, masih muda lagi. Ya kalau aku di posisi tu bapak, ya aku manfaatin aja momennya"


"Bener juga sih" Chaca turut setuju dengan apa yang dikatakan Miftah, "Pokoknya Han, aku gak setuju kamu nikahan sama yang modelnya macam bapak-bapak" Tegas Chaca, siap dengan memukul meja pelan. Jika terlampau keras, hanya akan mengundang ribuan pasang mata kearahnya.


"Kamu masih muda Han, udah gitu gak pernah pacaran, ya kali nikahan sama yang udah tuaan!!" Lanjutnya lagi. Chaca benar-benar gak bisa menerima kalau teman tersayangnya itu menikah dengan seorang pria berumur.

__ADS_1


Titik demi apapun— ia tidak rela.


"Bener Han. Yah sekalipun itu nikah politik, tapi tetep aja kan pilihan itu ada di tangan kamu" Sambung Miftah, dengan tatapan prihatin. Memang dunia yang dijalani sahabatnya itu sungguh berat. Bahkan dalam pernikahan pun dilakukan demi variabel bisnis.


Kalau dipikir-pikir, emang orang kaya gak pernah puas!


"Entahlah Mif, kali ini kak Keira. Gak menutup kemungkinan aku juga bakal begitu" Hana menghela nafas pasrah. Ia menyendok sesuap siomay kedalam mulutnya dengan tidak lagi berselera.


"Kamu tenang aja Han, sebelum itu terjadi. Kita kudu cepat-cepat S2 ke Mesir. Dan kalau perlu, kamu cari suami orang sana aja deh. Udah tinggi, hidung mancung, mata cantik, tampan plus kaya lagi. Aku jamin deh, papa kamu pasti gak bakal nolak"


Sontak Miftah tergelak keras mendengar penuturan Chaca itu, sedang Hana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tersenyum pelan, "Aku seleranya yang lokal Cha, gimana?"


"Yah gimana ya?" Chaca meletakkan sendok dan garpu ke piring, karena terus berbicara, piringnya itu masih belum tersentuh sama sekali, "Atau kamu jadi kakak ipar aku aja?" Tukas Chaca dengan santainya, "Kebetulan kakak aku yang baru aja dapet gelar dokter muda itu masih single, gimana?"


Puk! Miftah terus memukul pelan kepala Chaca dengan sendok, "Dasar! Bilang aja kalau kamu pengen dapet kakak ipar yang jenisnya macam Hana"


"Ya emang iya kok! Emangnya kenapa? Gak boleh?"


"Bukannya gak boleh. Emang Hana nya mau sama kakak kamu?"


"Kakak aku tu es-ked loh mif. Udah gitu tampan lagi" Jelas Chaca, dengan sangat semangat membanggakan kakak lelakinya itu yang benar saja—


Memang cukup tampan!


"Di tambah lagi nih ya.. prinsip hidupnya itu sebelas dua belas sama Hana. Maka karena itu, aku berani nih tawarin kakak lelaki aku buat Hana" Chaca melipat kedua tangannya di meja, "Lagi pula sebagai sahabat, jelas dong aku mau yang terbaik buat sahabat aku. Iya gak Han?" Chaca mengedipkan matanya pada Hana dan tersenyum.


"Gimana Han, kamu mau gak di comblangin sama kakaknya Chaca?" Kini giliran Miftah yang bertanya.

__ADS_1


__ADS_2