
Tepat setelah rutinitas makan malam selesai, terdengar suara bel yang begitu nyaring dari luar. Arya yang baru saja duduk bersila kaki di sofa ruang tengah dengan koran di tangannya, melirik sekilas pada Keira yang baru saja lewat berjalan hendak mencapai anak tangga, "Ada yang datang itu Kei, coba kamu cek"
Keira yang baru saja mencapai anak tangga, siap pergi ke lantai atas, terus tercekat di tempat, "Jangan-jangan..."
Hana baru saja masuk kedalam kamar dan mendapati ponselnya berdering. Hana mengambil benda pipih itu yang ada di atas meja samping ranjang dan melihat nama yang tertera di layar, 'Pak Ujang?' Itu adalah security yang berkerja di kediamannya.
"Iya, Assalamu'alaikum pak"
"Wa'alaikumsalam, ini non saya mau kabarin"
Hana menggigit ujung jari telunjuknya dengan perasaan tertekan, "Ya, ada apa pak?"
"Pak Pasha baru saja tiba dengan pak Shahbaz non. Saya mau kabarin itu saja, sesuai pesanan non Hana tempo hari"
"Iya pak Ujang, makasih ya"
"Sama-sama non"
Hana melempar asal ponselnya ke atas ranjang. Tepat ketika Hana terduduk lemas di atas hambal hijau alpukat lembut yang terbentang di tengah kamarnya, bersamaan dengan itu pintu kamarnya terbuka. Hana mendongak keatas dan melihat Keira berjalan panik kedalam.
"Gawat Han, dia datang" Seru Keira cemas. Padahal ia yang paling berusaha keras menenangkan Hana untuk tidak panik. Tapi setelah ber-semuka langsung pada titik masalah, Keira terus saja menjadi kacau.
"Aku tau kak" Hana terlihat pasrah. Matanya tidak lagi menangis seperti tadi. Perlahan Hana berdiri, memantapkan dirinya untuk berjalan pergi ke kamar ganti.
"Kamu mau kemana Han?"
"Mau siap-siap kak" Hana berjalan lesu kedalam ruangan luas yang memanjang ke depan dengan pencahayaan dari lampu kuning mewah keemasan.
Keira mengikuti Hana ke dalam. Keira melihat Hana sudah mengambil salah satu gamis polos bewarna hijau alpukat yang tergantung di salah satu deretan pakaian khusus gamis. Hana terus mengenakannya.
__ADS_1
"Kamu serius Han bakal turun ke bawah?" Keira menatap sang adik cemas.
"Mau bagaimana lagi kak? Pak Pasha datang melamar aku. Mau gak mau aku ya harus turun" Setelah mengenakan pakaian terusan panjang itu, Hana mendatangi tempat di mana berbagai macam warna dan jenis pasmina tergantung cantik dalam satu tempat. Hana mengulurkan tangannya, mengambil pasmina coklat susu simple.
"Han, biar kakak saja yang menerima lamarannya"
Hana yang baru saja memasang pasmina di atas kepalanya, terus menoleh kearah Keira dengan tatapan terkejut, "Maksud kak Kei— kak Kei mau menerima lamaran pak Pasha?" Sepasang mata hitam Hana membulat tak percaya.
"Pernikahan ini pada awalnya memang papa atur untuk kakak. Jadi biar kakak saja yang menerimanya" Keira merasa bersalah pada Hana. Karena keegoisannya malam itu, sang adik harus menerima semua ganjaran ini.
"Lalu pacar pilot kakak gimana? Bukannya kak Kei pernah cerita kalau akhir tahun nanti dia bakal datang melamar kak Kei?"
"Pftt.." Keira tak dapat menahan diri untuk tidak tertawa.
"Kenapa kak Kei ketawa?" Hana tergamam bingung.
"Aku hanya menerima lamarannya, bukan berarti bersedia menikah dengannya"
"Yah.. maksudnya kakak cuma nerima lamarannya aja. Tapi pas nikahan nanti, ya kakak tinggal cabut aja pergi" Jabar Keira tak ber-beban, sambil mengangkat sepasang bahunya santai.
"Kak Kei bercanda? Ini menyangkut antara dua keluarga besar. Ya mana bisa gitulah" Hana terus melilitkan pasmina panjang itu ke leher hingga menutup kebawah dada, "Papa juga bakal marah besar ke Kak Kei, aku gak mau itu terjadi"
"Kamu benar ini menyangkut dua keluarga besar. Lalu bagaimana dengan perasaan kita? Apa perasaan kita disini itu gak penting?"
Hana yang berdiri menatap cermin, tercekat.
"Kalau dibilang kita egois, ya mereka juga egois" Tegas Keira, "Gak ada bedanya kan?"
Hana terkedu, dengan tatapan termenung kebawah, tangannya terus pergi menancap jarum ke sekitaran bahu dan merapikan tata letak hijabnya sekali lagi.
__ADS_1
"Pokoknya kamu tenang aja, apapun yang kejadi nanti. Biar kakak yang tanggung resikonya" Setelah berkata begitu, Keira berjalan pergi meninggalkan Hana seorang diri yang tengah larut dalam pikirannya.
Jika Keira benar-benar menerima lamaran itu dan menjalankan rencana gilanya yang siap pergi di hari pernikahan nanti, apa yang akan terjadi?
Kehormatan dua keluarga besar menjadi taruhan dan begitupun jalinan kekerabatan yang bisa saja merenggang. Tapi lebih dari hal itu, papanya yang tegas dan keras pasti akan marah besar pada Keira.
Hana membayangkan kemungkinan terburuk— akan se-sengit apa perseteruan ayah dan anak itu jika saja hal itu terjadi. Seketika Hana menggelengkan kepalanya cepat, "Aku tidak ingin keduanya berseteru sengit"
Hana meraup wajahnya tak berdaya, "Lalu apa yang harus kulakukan?"
Dalam kekacauan otaknya yang sedang berpikir keras, begitu saja suara lembut seorang wanita yang lemah, terlintas di minda Hana yang semrawut.
“Hana, terkadang pengorbanan dibutuhkan untuk mencapai hasil yang memuaskan”
Hana tercenung. Memilin serat kain dari gamis panjangnya yang lembut, Hana bergumam lirih, "Maa.., untuk pertama kalinya aku mengerti kenapa mama rela mengorbankan diri untuk sesuatu yang mungkin tidak memuaskan mama.."
Demi kakak keduanya tidak bertentangan dengan papanya, demi hubungan antara papa dan anak itu agar tetap terjalin harmonis dan demi senyum manis dan keceriaan di wajah Keira yang sangat berarti baginya, "Kali ini aku akan melakukan apapun, asal puas melihat semuanya baik-baik saja" Hana tersenyum sendu, berusaha memantapkan hati. Meski berat, tapi tekad Hana sudah bulat.
Setiba di ruang tamu, Hana melihat semua orang duduk dalam keheningan. Papanya duduk di sofa tunggal, baru saja menyesap sedikit kopi dari cangkir. Hana melihat Keira dan Ratna duduk bersama di sofa panjang. Hana terus melabuhkan punggungnya di sofa bersampingan dengan Keira.
Pusat Pasha terus teralihkan tepat ketika melihat seorang gadis mungil dengan gamis polos panjang berwarna hijau alpukat, berjalan duduk di sofa tepat di depannya. Mata elang Pasha memancarkan sinar yang tak ter-deskripsikan melihat wajah cantik itu terbungkus rapi dalam balutan pasmina coklat susu simple.
Rasanya pemandangan itu begitu familiar. Pasha berusaha keras mengingat apa itu dan tak butuh waktu lama hingga teka-teki terpecahkan. Itu adalah penampilan yang sama persis dengan di selembar foto yang papa tunjukkan padanya pada saat negosiasi.
'Benar-benar permata ku yang menawan...'
Hana meremas baju gamisnya gugup. Hana dapat merasakan tatapan Pasha yang begitu kentara kearahnya. Itu tidak tampak seperti percikan api yang penuh hasrat. Atau sepasang mata yang berkedip tak percaya mendapati sang cinta pertama ada di depannya. Tapi itu jelas seperti...
Penampilan dari sepasang mata seseorang yang baru saja menemukan mutiara berharga di dasar laut.
__ADS_1
Ya, seperti itulah cara Pasha menatap Hana.