
Mata hitam Hana membulat lebar. Hana terkesiap mendengar apa yang baru saja dikatakan Pasha. Menepikan gelas cappucino dingin itu ke samping, Hana duduk tegap dan cepat-cepat berpikir.
Hana memutar keras otaknya, memikirkan persyaratan apa yang kira-kira Pasha tak dapat memenuhinya. Sekali pandang saja, jelas pria arogan itu cukup cakap dan berkemampuan dalam banyak hal. Jadi ia tidak boleh gegabah.
Hana melihat Pasha meletakkan sebuah jam pasir kecil di atas meja. Hana kian tegang mendapati mata elang Pasha berkedip padanya dengan senyum separuh menyeringai, "Cepatlah, waktunya sudah berjalan dua menit"
Sepasang mata Hana berkedip tertekan.
"Kau masih memiliki 8 menit tersisa"
Hana meremas jari-jemarinya menatap Pasha rumit. Pria itu pasti sengaja membuatnya gelisah, mengusiknya dari berpikir.
"Lima menit" Pasha melirik kearah jam pasir kecilnya yang terus bekerja. Pasir didalam sana terus berjatuhan kebawah.
Hana melirik sekilas kearah arloji yang melingkari tangan kirinya. Hana takut Pasha hanya asal menebak, bagaimanapun itu hanya jam pasir. Tapi ternyata pengaturan waktu itu cukup sesuai.
Hingga setelah beberapa detik dan menit berlalu dalam keheningan, suara bariton Pasha kembali terdengar seperti Guntur yang mencekam di telinga Hana, "Sembilan menit"
Hana kian cemas tak karuan. Hana hanya memiliki satu menit yang tersisa tapi belum juga mendapatkan persyaratan yang menurutnya cocok.
"Lima, empat, tiga..." Pasha mulai menghitung mundur dengan sorot mata elangnya yang tersenyum dingin menatap wajah tegang Hana.
Dalam detik-detik terakhir yang cukup menegangkan itu, Hana terus berseru, "Aku sudah memikirkannya"
"Katakan" Pasha mengambil jam pasir dan menyelipkannya ke dalam saku mantel hitam panjangnya. Matanya melirik kearah Hana dengan tatapan tak terbaca.
"Aku memiliki tiga persyaratan. Jika anda bisa memenuhi ketiganya, saya akan menerima lamaran anda. Tapi jika salah satu dari syarat yang saya ajukan anda gagal, maka lakukan seperti yang anda janjikan" Sepasang mata hitam Hana tampak berani dan penuh percaya diri. Seakan Hana tampak sangat yakin Pasha akan gagal memenuhi salah satu dari persyaratannya.
"Sebutkan!" Pasha pergi menyilang kan kedua tangannya di depan dada. Sikapnya mengungkap kan bahwa ia menolak basa basi dan cukup langsung saja ke inti.
"Syarat pertama, saya ingin anda melafalkan bacaan-bacaan dalam shalat beserta niatnya" Hana menebak Pasha sejauh ini pasti tidak pernah menunaikan kewajiban lima waktunya. Itu kenapa Hana dengan percaya diri mengajukan persyaratan itu.
"Persyaratan kedua?" Pasha pergi mengambil cangkir kopinya yang tersisa setengah, meminumnya seteguk.
Mendapati sikap tenang Pasha yang acuh tak acuh seakan menyatakan itu tidaklah sulit sama sekali. Hana terus merasa cemas, 'Apa aku sudah salah menilai?'
__ADS_1
"Persyaratan kedua, anda harus membacakan lima ayat pertama dari surah Al-Baqarah"
Pasha meletakkan cangkir kopi yang baru saja diminumnya di atas meja. Mendengar persyaratan kedua itu, salah satu sudut bibir Pasha berkedut, menyeringai.
"Persyaratan ketiga, saya ingin anda melakukan sebuah tes pemeriksaan narkotika. Saya mengajukan persyaratan ini bukannya berpikiran buruk terhadap anda, tapi saya hanya bersikap tegas dalam menyeleksi calon suami saya"
Pasha mengangguk. Sedikitpun Pasha tidak tersinggung. Sorot mata elangnya yang menatap Hana itu jelas tampak mengapresiasi ketegasan Hana dalam bersikap. Tipikal wanita yang berani dan cerdas dalam bertindak. Hanya saja...
Sedikit naif dan ceroboh!
"Saya berikan waktu selama seminggu. Jika lebih dari batas itu, anda akan di anggap gugur"
Pasha mengangguk, ekspresi wajahnya yang dingin dan kaku tidak berubah, "Baik. Kalau begitu beri aku sebuah kepastian"
"Maksud bapak?" Sepasang alis Hana tertaut tak mengerti.
"Bagaimana jika aku berhasil memenuhi ketiga persyaratan yang kau ajukan, tapi kau bersikeras tetap menolak lamaran ku?"
Hana mengangguk mengerti, "Anda tenang saja. Saya bukan tipikal orang yang seperti itu"
Hana tentu mengerti keraguan Pasha. Tapi ia sama sekali tidak berpikir untuk mengakhiri ini dengan selembar surat perjanjian.
"Saya tau. Tapi kali ini anda datang berbicara pada saya bukan sebagai pengusaha, melainkan seorang pelamar. Terus terang, saya menolak adanya surat perjanjian" Tegas Hana.
"Kalau begitu, hanya ada satu hal yang dapat menyakinkan ku"
"Apa itu?"
"Jika kau berani bersikap tidak sesuai kesepakatan, maka aku akan menjadikan mu milikku secara paksa"
Sekujur tubuh Hana terus menegang mendengar pernyataan itu. Rasanya seperti ada yang baru saja mengikat paksa paru-parunya hingga membuatnya kesulitan bernafas.
"Baik itu menyembunyikan mu di sebuah pulau atau mungkin mengurung mu di sebuah mansion—" Mata elang Pasha tersenyum dingin, "Kau tau itu bukan hal sulit untuk ku lakukan"
Tanpa sadar kedua tangan Hana bergetar dan kedua lututnya melemas.
__ADS_1
Takut, Hana melirik Pasha dan melihat aura gelap di sekitar pria bermata elang itu, seketika hawa dingin yang entah datang darimana, merambat ke punggung Hana.
"K-kenapa anda sangat ingin menikah dengan saya?" Malam ini tiba-tiba Hana tersadar akan satu hal. Pasha jelas tampak sangat ingin memperistri dirinya.
Hanya itu mengerikan karena...
Ketimbang memperistri, gerak-gerik Pasha sejauh ini jelas seperti seseorang yang sedang menaruh minat pada sesuatu dan merasa ingin memilikinya. Tidak peduli dengan cara apapun, itu hanya akan terpuaskan jika benda yang menarik minatnya itu jatuh ke tangannya.
Seperti itulah yang Hana lihat dari cara Pasha yang sangat bersikeras menjadikannya istri.
"Apa anda jatuh cinta pada saya?" Sebaris kalimat pertanyaan itu pun meluncur dari mulut Hana. Menarik nafas dan menghelanya, perlahan Hana mulai menetralisir sedikit rasa takut setelah mendengar ancaman gila Pasha tadi.
Cinta? Bibir Pasha berkedut. Sesaat mata elang itu menggelap dan senyum misterius terbit di wajah tampannya yang dingin, "Apa kau tau perasaan seorang pemburu barang antik ketika menemukan barang yang sangat diincarnya?"
Hana bergeming. Biar tatapannya tampak jauh menerawang, tapi Hana mendengar jelas apa yang dikatakan Pasha.
"Seseorang itu pasti akan dengan gencar melakukan apapun sampai barang itu jatuh dalam genggamannya"
Hana menoleh pada Pasha tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Seperti itulah aku padamu"
Hana terguncang. Fakta seseorang baru saja dengan lugas menyamakan dirinya seperti barang yang diinginkan, dimana siap melakukan berbagai macam cara hanya untuk memilikinya. Jelas itu...
Mengerikan!
"Bagiku, kau adalah barang antik itu!"
Pembicaraan malam itu terus membuat Hana terngiang-ngiang sampai tidak bisa tidur. Sudah berkali-kali Hana memejamkan matanya tapi terus saja gagal terlelap. Perasaan cemas dan takut yang menguasai Hana, membuat Hana untuk pertama kalinya terjebak insomnia.
"Kenapa aku harus menjadi sesuatu yang menarik minatnya?" Hana menatap langit-langit kamar, tampak sepasang bulu matanya berkibar lemah.
"Tapi tetap saja" Hana meraih selimut ke dada dan melipat kedua tangan di atasnya, "Aku ini manusia bukan barang"
Tapi pria berdarah dingin itu jelas melihatnya seperti sebuah benda!
__ADS_1
—••—