Pernikahan Yang Sempurna

Pernikahan Yang Sempurna
Bab 17: Begal Ponsel


__ADS_3

"Han, aku pulang duluan ya" Berjalan keluar meninggalkan gedung kampus, Chaca tampak terburu-buru pergi ke parkiran.


Hana menoleh sekilas pada Miftah dengan tatapan bertanya, 'Kenapa dia terburu-buru sekali?' Miftah merespon arti tatapan itu dengan berkedik bahu. Lalu ia berteriak, "Chaa, gak mampir ke perpus dulu bareng kita?"


Chaca yang sudah mengeluarkan motornya dari area parkiran, memasang helm dan menoleh kearah Hana dan Miftah, "Engga Mif, aku buru-buru nih. Mau jemput keisya, soalnya kak Fawaz gak bisa jemput. Jadwal koas nya padat hari ini"


"Ohh" Hana dan Miftah mengangguk-angguk mengerti.


Keisya adalah adik bungsu Chaca yang baru duduk di kelas lima SD. Keluarga Chaca juga terbilang sibuk. Ibunya yang seorang dosen itu terkadang ada jam-jam tertentu yang tidak memungkinkan untuk menjemput Keisya. Begitu pun dengan ayahnya yang seringkali dinas keluar kota. Alhasil Chaca dan kakak pertamanya sering berbagi tugas untuk itu.


"Hati-hati yaa" Seru Hana dan Miftah serempak pada Chaca yang sudah menaiki motornya.


Hana memasang helm, menganggukkan kepalanya kepada mereka dan bergegas pergi meninggalkan pekarangan kampus.


Miftah dan Hana kini sudah berada di perpustakaan kampus. Tepat ketika Hana hendak mencari buku kajian bahasa Arab di rak, ponselnya berdering. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar.


"Assalamu'alaikum" Hana memutuskan untuk mengangkat. Barangkali itu panggilan penting.


"..."


"Maaf ini dengan siapa ya?"


"..."


Jeda beberapa detik lamanya, tidak ada siapapun yang menjawab. Panggilan justru diakhiri sebelah pihak. Membuat Hana menautkan sepasang alisnya berpikir, "Salah sambung kali ya?"


Pasha tertawa dingin. Ternyata Hana benar-benar menghapus nomornya. Padahal ia sudah mengingatkan gadis kecil itu untuk menyimpan kontaknya dan memperingatkannya untuk jangan sekali-kali berpikir menghapusnya. Tapi...


"Sepertinya aku memang harus mengambil ponselmu" Pasha menyeringai.  


"Eman"


"Iya pak?" Eman adalah sekretaris Pasha yang baru saja bekerja awal tahun lalu. Di antara semua mantan sekretaris Pasha, Eman lah yang sejauh ini cukup lama bertahan bekerja sebagai sekretaris pribadinya.


"Tolong kerjakan sesuatu untuk saya"


___


Hana pulang ke rumahnya tepat di sore hari setelah shalat ashar di mushalla kampus. Setelah melewati jalan besar yang tidak seberapa padat, Hana pun berbelok masuk menuju jalan per-komplekan elit dimana kediamannya berada.

__ADS_1


Menurunkan kaca jendela mobilnya, ramah Hana menyapa security yang selalu berjaga di pos keamanan sebelum memasuki gerbang komplek, "Sore pak Tono"


"Eh mbak Hana. Baru pulang ngampus ya?"  Sapa pria yang berkisar empat puluhan itu. Ia langsung menaikkan benda putih di depan sana untuk membiarkan Hana lewat.


"Iya pak" Hana mengulas senyum hangat, sebelum pergi membawa si cantik merahnya kedalam.


Tepat ketika menyusuri jalanan per-komplekan yang sepi. Di bawah naungan jejeran pepohonan yang hijau dan rimbun. Tiba-tiba sebuah motor muncul dari arah depan dan berhenti tepat di depan mobil Hana.


"Astagfirullah" Hana tersentak kaget, refleks menginjak pedal rem mobilnya. Hana gak habis pikir dengan seseorang yang berhenti mendadak menghalangi jalannya.


Seseorang berjaket hitam dengan kepala dan wajah yang tertutup helm itu, berjalan mendatangi mobil Hana. Pria itu membungkukkan punggungnya sedikit, melihat Hana yang duduk di bangku pengemudi.


"Ada apa ya pak?" Hana yakin ia sama sekali tidak menabrak pria itu.


"Serahkan ponsel anda!"


"H-huh? Kenapa saya har—"


"Jangan membuat saya berlaku kasar, cepat serahkan!"


"S-sebentar" Hana terlalu takut yang didepannya itu adalah seorang begal, segera menyerahkan ponselnya.


Pria yang wajahnya tertutup kaca hitam helm itu, mengambil ponsel Hana dan bergegas pergi mendatangi motornya. Terdengar suara deruman kecil dan kendaraan beroda dua itu terus melesat pergi.


Hana terus memutar mobilnya dan kembali ke pos penjagaan. Hana berpikir untuk segera melaporkan kejadian tadi.


"Pak Tono, tadi ada begal yang baru saja mengambil ponsel saya" Hana turun dari mobilnya dan segera melaporkan kejadian yang dialaminya tadi pada pak Tono, salah satu security yang bertugas menjaga keamanan komplek.


"Begal?" Tono berseru kaget. Ia sangat yakin tidak mengizinkan orang asing masuk ke pekarangan komplek kecuali telah memastikan memiliki kepentingan dengan salah satu penghuni didalamnya. 


"Iya pak"


"Tapi non Hana engga apa-apa kan?" Pria berkepala empat itu dengan saksama memperhatikan keadaan Hana. Guratan kecemasan tergambar jelas di wajahnya.


"Alhamdulillah saya gak apa-apa pak"


"Non Hana lebih baik segera pulang ke rumah. Saya akan segera mengabari teman saya yang lain untuk berpatroli"


"Baik pak, terimakasih"

__ADS_1


Hana masuk kedalam mobil dan bergegas menuju kediamannya yang besar dan megah. Security segera membukakan pintu pagar dan Hana terus menyetir mobilnya kedalam. Setelah memarkirkan si merah kesayangannya itu di bagasi, Hana berjalan lemas kedalam rumah.


Hana merasa sedikit tertekan memikirkan ponsel, salah satu benda yang dianggapnya penting itu telah lenyap dari genggamannya. Bukan perkara membeli yang baru, tapi semua kontak dan beraneka file penting lainnya yang terkait perkuliahannya ada di sana.


"Kau sudah pulang?"


Suara bariton nan dingin itu, jelas terasa tak asing. Hana menoleh dan kedua bola matanya siap melompat keluar. Seorang pria dalam balutan jas hitam formal duduk tegap berwibawa di sofa tunggal ruang tamu. Sekilas mata elang pria itu menyipit, tersenyum antusias menyambut kedatangannya.


"Kenapa bapak bisa ada di sini?"


"Mengunjungimu" Pasha pergi menyilakan kakinya, ekspresi wajahnya terlihat cukup santai.


"Untuk apa bapak mengunjungi saya? Bukan untuk melamar kan?" Baru saja Hana tertekan dengan ponselnya yang baru saja hilang. Kini kemunculan adam didepannya itu seperti membuatnya pergi memanggul dua karung beras.


"Aku tidak tau kau akan setidak sabar itu"


"Maksud bapak?"


"Kau tenang saja. Besok malam aku akan segera datang untuk melamar mu"


Hana membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu. Tapi rasa geram yang dirasakannya, membuat Hana mendesah berat tak sanggup berkata-kata.


"Ini ponselmu" Pasha meletakkan benda pipih itu di atas meja kopi.


Hana membelalakkan matanya terkejut. Jelas itu adalah ponselnya yang baru saja di ambil seorang begal. Tapi bagaimana bisa...


"Kenapa ponsel saya ada di bapak?"


"Kau menghapus kontak ku"


Hana tertegun. Bulu matanya berkibar tak percaya memikirkan perkataan Pasha tempo hari mengenai ancaman akan mengambil ponselnya jika Hana menghapus kontak Pasha.


"J-jadi yang tadi itu—"


"Salah satu bodyguard saya"


Bruk!


Hana bersimpuh lemas di atas lantai. Memikirkan kejadian yang dikiranya per-begalan itu membuat wajah cantiknya memucat. Tapi Pasha dengan tak berdosa nya mengatakan kenyataan bahwa itu bagian dari rencana ancamannya.

__ADS_1


"Kau kenapa?" Pasha bergegas bangun mendatangi Hana. Tepat ketika Pasha hendak menyentuh pundak Hana. Hanya gadis mungil itu segera menjauh.


"Kenapa bapak tega melakukan hal kejam itu?" Lirih Hana. Tampak sepasang mata hitamnya berkaca-kaca itu perlahan beruraian air mata.


__ADS_2