
Di samping wajahnya yang bersemu malu, Hana merasa cukup lega. Menurut Hana, suatu hal seperti berbagi tempat makan dan minum, itu adalah aktivitas yang terbilang intim antara pria dan wanita. Hana hanya ingin melakukan hal itu dengan pasangan halalnya kelak.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan, Hana tak dapat menahan diri dari terkejut, tepat ketika sepasang pupil matanya, melihat Pasha dengan santainya minum dari sedotan bekas miliknya tadi. Pasha terus menyedot jus hijau itu seakan tidak terganggu dengan fakta...
'Itu adalah bekas mulut ku?'
Hana menggeleng cepat dan memutuskan untuk fokus menghabiskan semua makanannya.
Pasha sudah menyelesaikan makannya dan memperhatikan Hana yang masih berjuang keras menghabiskan setiap makanan di piring.
Alhasil setelah tiga puluh menit berlalu, tujuh piring dan tiga gelas itupun kosong. Hana yang merasa sangat kekenyangan, mengusap perutnya yang sudah membengkak. Tiba-tiba Hana menutup rapat mulutnya, mendadak merasa mual ingin muntah.
"Saya ke toilet sebentar" Hana secepat kilat berlari pergi keluar dan terus berlari mencari toilet.
Pasha tertawa kecil dengan kelucuan yang Hana perbuat, "Permata ku ternyata cukup menggemaskan.."
Di toilet Hana terus muntah-muntah di wastafel. Semua makanan yang di desak nya masuk kedalam perut, akhirnya banyak terbuang keluar. Setelah lelah memuntahkan hampir sebagian isi dari perutnya, Hana berdiri lemas dengan wajah pucat menatap kearah cermin, "Hah, rasanya aku ingin pingsan"
Hana kembali ke ruang privasi mereka dan menemukan meja sudah bersih dari piring-piring dan gelas kotor. Yang tersisa di atasnya hanya dua cangkir minuman. Kopi dan teh.
"Kau baik-baik saja?"
Hana baru saja duduk dan terkejut melihat ekspresi Pasha yang jelas seperti sedang mencemaskan keadaannya. Untuk beberapa saat mata Hana berkedip tak percaya, 'Tidak, apa aku salah lihat?'
"Em" Hana mengangguk, tersenyum pelan.
"Minumlah" Pasha mendorong secangkir teh kearah Hana dan itu teh chamomile seperti yang Hana pesan pada malam pertama pertemuan mereka. Tidak tau apakah itu hanya kebetulan tapi Hana merasa...
Pasha seperti sangat memperhatikan dirinya.
"Makasih" Hana mengangkat cangkir dan menyesap pelan minuman hangat itu. Syukurlah Hana merasa jauh lebih baik.
"Jadi, kau ingin aku mulai darimana dulu?" Setelah memperhatikan Hana benar-benar baik saja, Pasha langsung menuju ke topik.
Hana terhenyak, pelan meletakkan cangkir keatas meja. Menarik nafas dalam-dalam, Hana mencoba untuk siap menghadapi hal terburuk.
"Terserah bapak saja"
"Kalau begitu lima ayat pertama dari surah Al-Baqarah"
"Oke" Hana baru saja mengeluarkan ponsel dan berniat untuk membuka aplikasi Alquran, tapi Hana dikejutkan dengan suara merdu Pasha yang baru saja melafalkan bismilah.
Hana terkesiap. Lantunan itu begitu indah dan berhasil menusuk jauh kedalam relung-relung jiwanya sampai Hana tak sadar Pasha sudah tiba pada ayat kelima surah Al-Baqarah.
"Bagaimana?"
__ADS_1
Hana terkedu.
"Persyaratan kedua apakah lulus?"
Hana dengan tidak berdayanya mengangguk.
"Kalau begitu saya lanjut ke persyaratan pertama. Bacaan shalat"
Pasha tanpa ragu memulainya dengan takbiratul ihram dan menjelaskan itu adalah hal pertama yang dilakukan sesudah mengucapkan niat shalat, lalu
berlanjut ke al- Fatihah dan semua itu Pasha lakukan dengan berurutan dan begitu mendetail. Pasha bahkan dapat menjelaskan setiap gerakan dalam shalat dengan benar dan tepat. Terakhir Pasha melafalkan setiap niat shalat lima waktu dalam bahasa Arab dan keseluruhannya tidak ada yang salah.
Hana tercengang.
"Bagaimana?"
Lagi, Hana dengan tidak berdayanya mengangguk menyatakan Pasha telah lulus untuk persyaratan pertama.
Pasha tidak tersenyum atau terlihat puas, tapi pria itu hanya bersikap biasa saja dan tenang berwibawa seperti kharismanya. Meraba saku jasnya, Pasha mengeluarkan sebuah lipatan surat dan menyodorkannya pada Hana.
"Ini adalah hasil tes untuk persyaratan ketiga"
Hana membeku di tempat, matanya menatap tak ber-maya pada amplop putih itu. Dengan tangan bergetar Hana mengambil dan mengeluarkan isi didalamnya. Sebuah surat yang menyatakan Pasha negatif dari narkoba, itu tak lagi mengejutkan bagi Hana setelah mengingat pembicaraannya kemarin dengan Keira.
Hana merasakan jantungnya seperti baru saja jatuh ke perut.
"Persiapkan dirimu!"
Selepas Pasha pergi, Hana berjalan lemas ke meja kasir untuk membayar tagihan. Sekalipun itu restoran keluarganya, Hana tetap bayar setelah makan di sana. Itu Hana lakukan atas keinginannya sendiri, bukan aturan keluarga.
Setelahnya Hana terus pulang ke rumah dan merenungi nasibnya di kamar seharian suntuk
_•••_
Malam harinya Hana berjalan mondar-mandir di kamarnya dengan perasaan gelisah. Sekali-kali Hana mengacak-acak rambutnya frustasi. Jika saja seandainya memungkinkan, ingin sekali Hana pergi meninggalkan rumah dan berlari sejauh yang ia bisa. Tapi ancaman Pasha hari itu bergentayangan seperti hantu di kepalanya.
"Bagaimana ini?" Hana menggigit jari telunjuknya.
"Apa yang harus aku katakan pada papa?" Hana meraup kasar sebagian rambut kepalanya.
"Ya Allah aku harus gimana..." Rasanya Hana ingin sekali berteriak dan menangis sekeras mungkin untuk nasib malangnya.
Sayup-sayup Hana mendengar suara gerbang depan rumahnya terbuka, tampaknya kakak pertamanya dan papanya baru saja pulang. Tak selang berapa lama pintu kamarnya di ketuk.
"Hann"
__ADS_1
Tok..tok..
"Iyaa"
"Ayo turun, makan malam"
Hana pergi membuka pintu dan melihat Keira sudah berdiri didepannya. Keira tampak cukup imut dalam piyama Mickey mouse bewarna pink dengan bandana telinga kelinci yang ada di atas kepalanya. Itu semakin membuat Keira cantik menggemaskan.
"Kak Kei"
"Ya?"
"Aku harus gimana kak Kei? Hiks" Tangis Hana terus pecah. Tidak tau kenapa, setelah melihat wajah kakak keduanya itu, Hana tak tahan untuk tidak menangis dan merasa ingin segera melepaskan semua yang ia tahan seharian ini.
"Ya Allah, Han. kamu kenapa?" Keira cukup terkejut melihat adik bungsunya itu menangis, terus menarik Hana kedalam pelukan. Pelan Keira menepuk punggung Hana mencoba menenangkan.
"Kak Keiii..." Hana meraung lebih keras dalam tangis.
"Iya sayang, kamu kenapa?" Melihat Hana menangis keras begitu tentu saja Keira menjadi cemas.
"Malam ini dia datang ke rumah kakk.." Tukas Hana dengan suara terisak.
Keira terkejut dan segera melepaskan Hana dari pelukannya, "Si bos besar toxic itu?"
Hana dengan terisak menganggukkan kepalanya.
Keira mendesah berat dan menggigit jari telunjuknya cemas. Terang saja Keira ter-ikut gelisah. Bagaimana pun itu adalah kesalahannya yang membuat sang adik sampai terlibat dengan Pasha. Keira sungguh tak mengira persoalan satu malam itu akan bergerak sejauh ini.
"Hana sayang, lihat kakak!" Keira memegang erat kedua bahu Hana.
Hana yang masih menangis terisak-isak, pun menatap Keira.
"Kamu yang tenang oke?" Keira berusaha menenangkan Hana yang tengah kacau balau itu, "Kakak yakin, papa gak akan biarin kamu jatuh ke tangan pria dingin itu. Percaya sama kakak"
"T-tapi kak, kesepakatan—"
"Engga ada kesepakatan-kesepakatan. Apapun itu, papa pasti tidak akan setuju jika bos besar toxic itu melamar kamu" Ujar Keira begitu yakin. Bagaimanapun Hana adalah putri kesayangan papanya, yang bahkan siap marah besar pada Keira karena membuat Hana menggantikan tempatnya untuk datang ke pertemuan makan malamnya dengan Pasha.
"Tapi Kak, Hana takutt.." Ancaman Pasha hari itu begitu kentara di benaknya. Itu bahkan sudah seperti alarm di otaknya yang mewanti-wanti nya setiap waktu.
"Ada kakak" Tegas Keira, kedua tangannya dengan lembut mengusap kedua belah pipi Hana yang sudah basah karena air mata, "Kakak yang akan berdiri didepan mu menghadapi pria dingin itu, jadi kamu tak perlu takut, oke?"
Terakhir, Hana mengangguk. Walau jujur saja, Hana masih merasa begitu takut bahkan sampai ingin pingsan!
_•••_
__ADS_1