Pernikahan Yang Sempurna

Pernikahan Yang Sempurna
Bab 25: Pernyataan Cinta


__ADS_3

"Langsung saja, niat saya datang kemari, adalah untuk melamar putri bungsu anda pak Arya, untuk putra semata wayang saya Pasha" Lugas suara Shahbaz memecah keheningan ruang tamu.


Jantung Hana berdegup kencang. Nafasnya seakan memburu cepat dan seluruh dunianya menjadi kacau. Akhirnya datang hari dimana seseorang datang melamarnya. Hanya itu menyedihkan. Bukanlah pangeran berkuda putih seperti yang diimpikannya selama ini...


"Maaf sebelumnya pak Shahbaz, bukankah kita sudah sepakat untuk menjodohkan putra tunggal anda dengan putri kedua saya Keira?" Arya tersenyum rumit menatap Shahbaz.


Keira yang mendengar penuturan papanya itu tersenyum kecut. Sampai akhir, tanpa perlu mengajukan diri pun, memang dirinya lah yang harus di korbankan di sini.


"Saya mengerti. Tapi saya hanya mengikuti apa yang telah dimainkan putra tunggal saya Pasha dengan putri bungsu anda Hana. Mereka berdua lah yang paling jelas kenapa saya datang pada malam hari ini atas tujuan itu" Shahbaz tersenyum seadanya memandang Arya. Perawakannya tenang, berwibawa dan hangat. Kontras sekali dengan Pasha yang arogan dan dingin.


Arya menoleh pada putri bungsunya dan melihat wajah yang begitu mirip dari almarhumah istrinya kala muda, itu memucat cemas dan resah, "Hana, sebenarnya ada apa ini?"


Hana terkesiap. Kepalanya langsung menoleh pada sang ayah dan mulut kecilnya tergamam, gagal mengatakan sepatah katapun.


"Mereka melakukan kesepakatan" Itu adalah Keira yang menjawab mewakili Hana, "Batalkan saja kesepakatan itu, karena aku sudah bersedia menikah dengan mu" Keira melayangkan tatapan tegasnya pada Pasha. Itu tajam dan penuh kebencian.


Pasha mengepalkan tangannya dan rahangnya mengetat. Mulutnya yang tertutup rapat itu baru saja hendak mengatakan sesuatu hanya...


"Tidak bisa" Sambar Hana cepat.


Aksi gadis mungil yang paling muda dari kedua saudara perempuannya yang lain itu berhasil mencuri pusat perhatian, "Ini kesepakatan antara aku dan Pak Pasha. Bagaimana bisa pihak lain yang membatalkannya" Hana mencoba untuk berani dan itu berhasil. Walau sepasang bola mata hitamnya yang bergetar takut itu tak dapat menyembunyikan ketakutan yang ditanggungnya.


Ratna cukup terkejut dengan apa yang telah dilakukan dua orang adiknya itu. Memijit pelipisnya pusing, Ratna sungguh tidak habis pikir pada papanya. Jelas saja Keira itu belum begitu matang, tapi papanya tetap bersikukuh melakukan pernikahan politik ini pada gadis muda yang masih ingin hidup bebas dan bersenang-senang.


"Sudah, begini saja" Ratna memutuskan untuk angkat bicara. Menatap tegas sang ayah dan kemudian melirik sopan pada Shahbaz, dengan lugasnya ia bertanya, "Ini adalah pernikahan politik bukan?"

__ADS_1


Mau Arya ataupun Shahbaz tidak ada yang mengangguk membenarkan ataupun menggeleng sebagai bantahan.


"Siapapun bisa menjadi subjek dari pernikahan ini selama itu anak dari keluarga El-Murad.." Ratna dengan karakter wanita tegas nan berwibawa melayangkan tangannya ke pihak Pasha, "Dan anak dari keluarga Arslan" Ratna beralih menunjuk pihaknya.


"Jadi disini, biar saya saja yang menjadi subjek dari pernikahan politik ini" Tegas Ratna, berhasil membungkam semua orang yang ada di ruang tamu. Tidak diragukan lagi kenapa para pemegang saham bersedia mempercayakan perusahaan di tangan seorang wanita cantik dan bahkan masih begitu muda. Bahkan seorang investor pun tak perlu berpikir dua kali untuk berinvestasi atau tidak. Itu karena wanita itu sungguh berkarakter dan kuat.


"Aku menolak" Pasha melipat kedua tangannya di depan dada, pesona acuh tak acuhnya berhasil membuat Keira yang melihat, itu memutar bola matanya muak.


"Kenapa?" Sepasang alis Ratna menjepit erat dan matanya menatap tegas Pasha.


"Tidak tertarik" Sepasang mata elang Pasha tersenyum dingin menatap Ratna. Wanita keras itu sungguh dapat menjadi lawan yang sempurna, tapi...


Hanya sebatas itu, tidak lebih.


Bibir Pasha berkedut, menyeringai. Memposisikan duduknya senyaman mungkin, tak lupa dengan pesona angkuh di wajah tampannya yang dingin, dengan suara malas Pasha berujar, "Ya, tapi aku tidak berniat menikah dengan seseorang yang hanya akan menjadi lawan ku dalam berbisnis"


Ratna masih menatap Pasha dengan tatapan lantangnya, menuntut penjelasan lebih lanjut.


"Jika kita menikah, apa kau yakin tidak akan berkompetisi denganku?"


"Hah.." Ratna mendesah, tersenyum tak percaya seraya memutar kedua bola matanya jengah, 'Pria ini benar-benar..'


"Sudah, biar aku saja. Bukannya kata Mak Comblang akulah yang paling cocok dengan mu?" Keira tersenyum pada Pasha, tapi itu jelas lebih seperti tatapan mencemooh.


"Balik saja ke pengaturan awalnya" Keira memperbaiki posisi duduknya lebih santai, "Untuk apa yang terjadi itu adalah kesalahan saya, itu berarti saya yang perlu bertanggung jawab disini" Keira terus melayangkan tatapan tajam membunuhnya pada Pasha, "Bukan adik bungsu saya, Hana" Tutup Keira penuh penekanan.

__ADS_1


Situasi itu telah membuat Arya dan Shahbaz bungkam dan hanya menonton. Diam-diam Shahbaz memuji hubungan ikatan persaudaraan yang terjalin antara ketiga putri Arya. Mereka memiliki ikatan kebersamaan yang erat meskipun kerapkali berjauhan karena kesibukan masing-masing.


"Baik kalau begitu, kita kembali pada pengat—" Baru saja Arya menyuarakan suaranya setelah diam begitu lama. Tapi ia dikejutkan dengan putri bungsunya yang langsung saja memotong ucapannya.


"Tidak bisa!"


Pasha yang baru saja mengambil secangkir kopi yang ada di atas meja, mendengar suara lantang Hana yang gugup cemas menentang, terus kurva bibirnya melekuk tajam dan mata elangnya melirik antusias pada Hana.


"Hana, sebenarnya kamu ini kenapa?" Geram Arya murka. Apakah Hana tidak tau betapa kerasnya malam ini ia berpikir untuk menolak lamaran Pasha?  Terus terang Arya sangat bersyukur Keira akhirnya tidak keras kepala seperti sebelumnya. Tapi apa ini? Kenapa Hana terus saja berulah?


"Kakak keduamu sudah setuju. Apa lagi yang harus dipermasalahkan?" Lanjut Arya.


Hana menoleh pada Keira. Hana melihat Keira tersenyum padanya. Tapi jelas itu senyuman ketidakberdayaan. Meremas jari-jemarinya, Hana mengangkat kepalanya dan matanya menatap semua orang yang ada di ruang tamu.


Menarik nafas dalam-dalam, Hana sudah membulatkan tekadnya. Demi kebaikan dan kedamaian semua orang...


"Aku mencintai pak Pasha Pa"


Deg!


Pengakuan Klise itu berhasil menyita semua perhatian tertuju pada Hana. Termasuk Pasha, yang cukup dikejutkan dengan pernyataan berani Hana yang begitu tiba-tiba. Ini persis seperti apa yang direncakan Pasha, memanfaatkan kelembutan hati si kelinci putih hingga mendorongnya secara perlahan masuk ke gua serigala.


Hanya saja Pasha tak menduga, skenario itu akan berjalan begitu mengagumkan!


"Hana, kamu ini bilang apa sih?" Keira sungguh tak percaya sebaris kalimat itu akan keluar dari mulut Hana, "Barusan saja kamu nangis sama kakak karena menolak menikah dengan si bos toxic itu, tapi apa ini?" Keira bernafas menggebu-gebu, "Kenapa mendadak memberi pernyataan mencintainya?"

__ADS_1


__ADS_2