
Untuk pertama kalinya Hana merasa sinar mentari pagi yang membelai lembut wajahnya, itu menjadi pertanda dari awal hari yang berat. Hana perlahan bangun dari atas sajadah yang sudah basah karena derai air matanya sepanjang shubuh.
Hana menanggalkan mukena dan mendengar suara pintu kamarnya di buka.
"Han, sekarang kamu siap-siap dan ikut kakak"
Hana terkejut melihat Keira masuk dengan langkah terburu-buru ke dalam kamarnya.
"Kemana kak?" Hana bertanya dengan suara serak, khas baru bangun tidur.
"Udah jangan tanya apa-apa dulu, yang penting sekarang kamu siap-siap ya"
Semua adegan itu berlalu begitu cepat. Entah bagaimana Hana sudah rapi dalam balutan gamis marun dengan kerudung bewarna senada yang jatuh terurai menutup dada. Kini Hana berdiri tepat di sebuah lapangan luas dimana di depannya terdapat jet pribadi yang sudah siap untuk lepas landas.
"Ayo cepat masuk" Keira mendorong Hana untuk bergegas dan menyerahkan dua koper besar pada dua orang pria yang berseragam hitam.
"Kak Kei ini maksudnya gimana—" Hana memasang tampang linglung.
"Ini jet pribadi punya kenalan pacar kakak, jadi kamu cepat masuk ya dan segera pergi dari sini"
"Kak Kei ini—" Hana berkedip dalam kebingungan.
"Kak Kei gak mau liat kamu nikah sama si bos toxic itu. Kamu gak perlu ngelakuin pengorbanan apapun di sini, kak Kei cuma mau adik kakak yang lembut dan cantik ini terus bahagia"
Sepasang mata Hana berkaca-kaca, rasa pekat di hidungnya membuat ia merasa tak tahan untuk tidak terisak, "Tapi kak, Hana—"
"Gak ada tapi-tapian, kamu naik sekarang dan segera pergi dari sini. Acara akad nya gak lama lagi akan di mulai, orang-orang pasti udah nyariin kamu sekarang"
Akad? Hana terjerembab. Entah ia terlupa atau tidak, Hana sama sekali tidak tau akad nikahnya akan berlangsung hari itu.
"Lalu papa gimana kak?" Lirih Hana bertanya, sepasang mata hita nan jernih itu bergetar berkaca-kaca.
"Biar kak Kei dan kak Ratna yang urus, yang penting kamu cepat-cepat pergi dari sini, oke?"
Begitu saja, Hana sudah duduk di dalam jet pribadi mewah yang entahlah punya siapa. Hana tak tau seberapa banyak uang yang Keira habiskan demi membuatnya lari dari pernikahan ini.
Tepat ketika sudah lepas landas dan Hana sudah duduk dalam transportasi udara itu, sebuah suara dingin mencekam, terlintas di mindanya bagai geluduk petir.
"Jika kau berani bersikap tidak sesuai kesepakatan, maka aku akan menjadikan mu milikku secara paksa"
"Baik itu menyembunyikan mu di sebuah pulau atau mungkin mengurung mu di sebuah mansion—"
"Kau tau itu bukan hal sulit untuk ku lakukan"
Tanpa sadar Hana mengepalkan kedua tangannya dan titik-titik keringat dingin memenuhi pelipis kecilnya. Dalam ketakutan yang tak tergambarkan itu, sebuah suara arogan mengetuk Indra pendengarannya bagai hujan di musim dingin.
"Bukankah aku sudah memperingati mu untuk tidak melanggar kesepakatan?"
__ADS_1
Sekujur tubuh Hana membeku. Serasa otot-otot dalam tubuhnya mengeras tak dapat di gerakkan, begitupun kepalanya yang hanya dapat menghadap ke depan tersentak tak ber-maya.
"Jika sudah seperti ini, aku tak punya pilihan selain—"
Hana bergeming dalam kepanikan.
"Menculik mu dan menyembunyikan mu di sebuah pulau..."
Hana merasa seperti oksigen sekitarnya terenggut habis, membuatnya sesak tak berdaya.
"Di mana kau tidak akan dapat lari kemanapun"
Gelap.
Semuanya menjadi hening dan hitam.
Kelopak mata Hana yang entah berapa jam lamanya tertutup rapat, lemah terangkat dan menemukan langit-langit asing. Dalam keadaan separuh sadar dan pusing, Hana beranjak bangun dari baringan. Memegang kepalanya yang terasa berat, Hana mengedarkan pandangannya ke sekitar.
Menemukan dirinya berbaring di sebuah ranjang putih dan besar dalam sebuah kamar dengan dekorasi hitam putih minimalis. Hana terus merasa panik dan menurunkan selimut yang menutupi tubuhnya, mendapati baik kerudung dan gamis marun, itu masih membungkus rapat tubuhnya.
Terdengar suara riuh angin yang menepuk tirai putih jendela kamar yang besar. Membuat kain putih itu melambai-lambai dan tersingkap. Sekilas menampakkan panorama pasir putih dan lautan biru yang menawan. Hanya itu...
Kosong dan hening.
"Tidak mungkin" Hana segera melompat turun dari ranjang, bergegas mendatangi pintu dan berlari pergi meninggalkan kamar.
Ruang tamu yang luas dan hangat menyambutnya. Hana tak peduli dengan keindahan dekorasi kediaman itu, berlari cepat mendatangi pintu dan mendorongnya hingga terbuka luas.
Angin pantai menghantam wajah cantiknya. Hana melangkah keluar dengan kaki telanjang berjalan di atas pasir putih yang bersih. Suara deburan ombak mengiringi tiap langkahnya yang bergetar, lemah dan takut.
"Kamu sudah bangun permata ku?" Itu sapaan yang lembut, tapi terasa seperti percikan es dingin yang menusuk hingga ke pori. Alhasil membuat...
Hana menggigil, "P-pak Pasha ini dimana?"
"Pulau"
"Pak Pasha b-bercanda?" Bibir kecil Hana bergetar.
"Apa menurutmu aku sedang bercanda?"
Hana memucat, melangkah mundur ke belakang. Seluruh tubuh kecilnya bergetar dan sepasang lututnya membekuk, membuatnya seketika terjerembab di atas pasir.
"Kamu baik-baik saja?"
Hana terus menyilang kan kedua tangannya di depan, memasang sikap defensif pada Pasha yang mencoba mendekat, "Pak Pasha s-saya mohon.. j-jangan seperti ini" Lirih Hana dengan bibir ranum bergetar hebat.
Sepasang mata hitam bening itu bergetar dan menangis, "Kita b-belum halal pak. Tolong pulangkan saya ke keluarga saya..hiks" Hana menatap, mengiba pada Pasha.
__ADS_1
"Lalu membiarkan kamu kabur lagi? Begitu?"
"Pak Pasha saya mohon.."
"Mulai sekarang ini adalah tempat kamu Hana" Tepat ketika Pasha hendak menarik dagu kecil Hana, cepat Hana menjauh.
Tangan Pasha yang menangkap udara kosong, tampak jari-jemari itu meremas dalam ketidakpuasan, "Di tempat ini tidak ada siapapun yang bisa mengambil mu dariku dan aku bisa bebas memiliki mu seutuhnya"
Mendengar itu tangis Hana semakin deras dan sepasang bahunya berguncang hebat seiring isak tangis yang bercampur baur dengan suara keras ombak.
"Hana berhenti menangis" Pasha yang tidak pandai menghibur, hanya terbiasa memberi perintah. Alhasil kalimat itulah yang mengalir di mulutnya ketika melihat Hana yang terus menangis hebat.
"Hana aku menyuruhmu untuk berhenti menangis"
Tangis Hana semakin keras dan menjadi-jadi.
"Baik, kamu tidak menurut.."
Hana tersentak kaget mendapati tubuh kurusnya sudah di bopong oleh Pasha. Hana menangis dan meronta-ronta meminta untuk di turunkan. Pasha tidak menurunkannya hingga Hana sudah di bawa masuk kedalam kamar tempatnya berbaring saat baru sadarkan diri.
Pasha meletakkan tubuh Hana lembut di atas ranjang, seakan begitu takut permata berharga itu akan pecah ataupun retak.
Hana memeluk tubuhnya erat, merasa begitu ternoda dan menangis begitu kencang. Pasha yang merasa tak tahan dengan itu, terus melempar tubuhnya ke atas ranjang.
Berada tepat di atas tubuh kecil Hana, Pasha membungkam mulut kecil Hana dengan bibirnya. Mendesak paksa gadis kecil itu untuk diam dan berhenti menangis.
Hana tercengang. Otot-otot tubuhnya melemas dan detak jantungnya melemah. Hana tak berdaya menjerit dan terisak, bibir dingin Pasha menekan dan mengunci rapat mulutnya. Tekstur kasar dan empuk nya benda padat yang mendominasi bibir kecilnya itu membuat derai air mata Hana mengalir bagai gerimis tak berkesudahan.
'Allah...'
'Aku sungguh telah gagal menjaga kesucian ku..'
'Allah..'
'Aku sungguh telah gagal menjaga kehormatan ku..'
'Allah...'
'Aku sungguh tak berdaya melakukan apapun'
Kelopak mata Hana memberat dan segalanya menghitam.
—••—
Maaf karena beberapa hal, saya tak dapat melanjutkan cerita ini lagi disini. Sebelumnya terimakasih karena sudah membaca karya saya yang sederhana ini. 🙏🙏
Sebagai gantinya saya akan mengubahnya menjadi novel lain dengan judul 'Vampire's Secret Baby'.
__ADS_1