
Tanpa sadar Hana tersenyum. Hana merasa senang dalam hati. Mendapati kakak keduanya yang sudah kembali seperti dulu lagi. Kakak yang banyak omong dan siap membelanya dalam hal apapun.
"Kenapa malah senyum hem? Sebenarnya apa sih Han?" Ulang Keira penuh rasa penasaran.
Hana menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan. Hana menatap Keira dan memutuskan untuk menceritakan mengenai kesepakatan yang ia buat dengan Pasha.
"Jadi karena ini kamu menangis?"
Hana tidak mengangguk, karena yang membuatnya menangis bukanlah hal itu. Keira yang melihat Hana diam membisu, menepuk pundak Hana dengan tegas berujar, "Kau tenang saja. Sekalipun bos toxic itu berhasil memenuhi ketiga persyaratan mu, kakak tetap tidak akan membiarkan mu menikah dengannya"
Hana mengulas senyum lembut merasa tersentuh. Tapi memikirkan ancaman Pasha tempo hari, jika seandainya Hana tidak berlaku sesuai kesepakatan, bulu kuduknya terus meremang takut, "Sepertinya tidak bisa kak"
"Kenapa?"
"Berdasarkan kesepakatan, itu berarti aku harus menikah dengannya. Aku tidak mungkin melanggar kesepakatan yang sudah kami buat" Hana tidak mungkin memberitahukan alasan yang sebenarnya pada Keira. Hana takut itu hanya akan membuat Keira cemas.
"Hana, jangan bilang kau bersedia menikahi pria tak berperasaan seperti dia?" Mata Keira membulat tak percaya.
"Mau bagaimana lagi?" Hana berkedik pasrah. Walau terang saja, Hana merasa ngeri membayangkan dirinya bersanding bersama Pasha sebagai suami istri.
"Hanaa" Suara melengking Keira membuat Hana lekas menutup kedua telinganya.
"Kenapa kamu pasrah begitu? Ini soal kebahagiaan seumur hidup. Jika kamu menikah dengan pria berdarah dingin itu, apa kamu ingin menghabiskan hidupmu dalam penderitaan?"
Hana terkesiap. Menghabiskan seumur hidup dalam penderitaan? Pernyataan itu membuat Hana kembali teringat dengan ibunya. Hana jelas menjadi saksi dari akhir kisah hidup ibunya yang menderita batin karena kelakuan sang ayah.
Kakak keduanya benar. Ini adalah soal kebahagiaan seumur hidup. Kenapa ia bisa pasrah dengan mudah?
Tapi...
"Kakak tenang saja, hal itu tidak akan terjadi" Hana tersenyum optimis dan penuh pengharapan. Untuk sesaat Hana begitu yakin, takdirnya pasti akan berlabuh pada seorang pangeran berkuda putih.
Yang akan memberikannya kebahagiaan dan kesetiaan sampai akhir.
"Kenapa kau yakin sekali? Memangnya persyaratan apa saja yang kau buat dengannya?" Selidik Keira. Terang saja, ia sangat mengkhawatirkan sifat adik bungsunya yang terlalu naif.
Hana pun menyebutkan ketiga persyaratan yang diajukannya pada Pasha. Setelah mendengar ketiga persyaratan itu, Keira terus memijit pelipisnya. Keira tidak tau apakah harus ia menangisi kenaifan Hana yang terang saja, membuat Keira merasa ingin menjerit frustasi, 'Oh Hana ku yang malang, kamu benar-benar...'
"Kenapa kak? Apa ada masalah dari persyaratannya?" Hana bertanya dengan polosnya setelah memperhatikan sikap Keira yang mendadak tertekan.
"Persyaratan pertama dan kedua" Keira menghela nafas berat.
__ADS_1
"Ya?"
"Kau tau pangeran malam itu berasal dari keluarga mana?" Keira menatap serius Hana.
"Aku tau. Keluarga konglomerat ternama di kota X, El-Murad" Hana ingat pernah membaca hal itu disebuah artikel. Pasha memang cukup terkenal dikalangan orang-orang besar, baik itu pengusaha, dewan dan bahkan petinggi.
"Lalu apa kau tau keluarga El-Murad itu keturunan apa?"
Hana terdiam beberapa saat mencoba mengingat-ingat, "Arab"
"Sekarang apa kau mengerti letak kesalahan mu?"
Hana menggeleng.
"Hah" Keira kesekian kalinya mendesah berat. Ia sungguh bertanya-tanya, dari mana datangnya sifat Hana yang polos dan kelewat naif itu? Sedangkan mereka satu keluarga cukup pandai dalam berpikir picik dan bersikap licik. Tapi Hana...
"Hana, pangeran malam itu cukup cakap berbahasa Arab dan tidak menutup kemungkinan itu hal mudah baginya dalam membaca Alquran dan terlebih lagi menghafalkan bacaan shalat"
Hana terkesiap. Kepalanya seakan memberat. Kenapa ia terlambat menyadarinya sekarang?
"Tapi tetap saja, bahasa Arab Alquran itu Arab fushah*. Yang digunakan pak Pasha pasti Arab 'ammiyah* yang tentu saja ber—"
"Tetap saja Hana.." Potong Keira frustasi, "Setidaknya pria itu bukan orang awam mengenai abjad Arab dan pelafalannya. Kakak yakin kau yang paling tau jelas akan hal ini"
"Apa lagi kau memberinya waktu selama seminggu, kakak yakin dia sudah menyiapkannya dengan sangat baik"
Sepasang bahu Hana jatuh lemas kebawah. Hana tak tau apakah harus menyesal atau menangisi kecerobohannya?
"Lalu persyaratan ketiga"
Hana menoleh pada Keira, memasang tatapan penuh pengharapan. Walau sepertinya itu cukup nihil.
"Mungkin wajar jika kau tak tau hal ini" Keira menghela nafas panjang, menatap wajah tak berdaya Hana kasihan, "Jadi, perusahaan yang dipimpin bos toxic itu, punya aturan yang selalu dilakukan secara berkala di setiap tahunnya. Yaitu para karyawan harus di tes narkotika. Tentu saja ini menunjukkan pria berdarah dingin itu sangat menjaga bersih karyawannya dari hal-hal seperti itu"
Kali ini Hana benar-benar lemas sampai ingin pingsan rasanya.
"Menurut mu, dengan tindakannya itu, apa mungkin bos toxic itu mengkonsumsi narkotika?"
Hana menggeleng lemah. Habis sudah. Dirinya sungguh tidak tertolong lagi. Apakah pada akhirnya ia akan menikahi seorang pria yang berjarak sepuluh tahun darinya?
Melihat wajah Hana yang sudah pucat pasi, tentu Keira mengerti kerisauan Hana. Meskipun Hana tidak pernah bercerita, tapi Keira sangat mengerti tipe seperti apa yang diidamkan adik bungsunya itu. Belum lagi Hana mempunyai tekad besar dalam hal studi pendidikan. Tentu saja fakta akan menikah dini bukanlah perkara mudah untuk Hana lakukan.
__ADS_1
"Kau tenang saja. Kakak tidak akan pernah membiarkan itu terjadi" Tegas Keira, menatap dalam sepasang mata Hana, "Jadi sekarang ini, tetaplah fokus pada pendidikan mu"
Hana menatap sendu Keira. Haruskah ia memberitahu Keira mengenai ancaman Pasha jika seandainya ia tidak berlaku sesuai kesepakatan?
"Tapi bagaimana jika—"
"Dia mengancam mu?"
Hana mengangguk pelan.
Keira tertawa kecil dan menepuk pundak Hana lembut, "Itu tidak akan terjadi. Begitu banyak wanita cantik di dunia ini, dia tidak mungkin membuang-buang tenaganya hanya untuk menikah dengan mu. Memangnya dia mencintaimu?" Ujar Keira, "Jika dia mencintaimu mungkin saja itu terjadi. Tapi pria dingin seperti itu mengerti apa soal cinta?"
Ya. Keira benar. Tapi masalahnya disini Pasha memandang Hana bukan sebagai wanita cantik. Melainkan barang antik yang harus Pasha miliki. Yang membuat Pasha tak peduli apa, Pasha siap mengerahkan berbagai macam cara hanya untuk membuat barang antik itu jatuh ke tangannya.
"Sudah jangan khawatir begitu" Tutur Keira, yang melihat Hana masih diam dan bergelut dalam keresahan.
"Kakak tau pria itu pasti menganggap penting pernikahan ini setelah memikirkan segala macam keuntungan. Baik itu keuntungan bisnis yang cukup menarik dan juga keuntungan mendapatkan wanita cantik" Keira menjawil lembut dagu Hana gemas.
"Mungkin itu kenapa dia sampai menyarankan mu untuk membuat kesepakatan ini dengannya. Tapi kau tak perlu cemas"
Hana menatap Keira tertekan, bagaimana mungkin ia tidak cemas? Pasha dengan terang-terangan mengancam akan menculiknya jika ia berani bersikap tidak sesuai kesepakatan.
"El-Murad Pasha itu dikenal sangat menghargai waktu selayaknya ia menghargai bisnisnya. Jadi logikanya, ia tidak mungkin akan terus buang-buang waktu hanya untuk mendapatkan mu" Terang Keira lebih lanjut. Berharap Hana tidak terlalu cemas dan takut dengan situasi sulit yang sedang dihadapinya.
Hana berpikir. Apakah itu juga akan berlaku jika mengenai persoalan barang antik?
"Han.." Panggil Keira, ia jelas melihat wajah sang adik memucat.
"Y-ya?"
"Sudah tidak perlu cemas, oke?" Keira meraih tangan Hana dan menggenggamnya lembut, "Kakak disini bersama mu, jadi tidak perlu takut, em?"
"Em" Hana terakhir mengangguk, tersenyum, sekaligus merasa tersentuh dengan sikap Keira yang terus membuatnya merasa lebih baik. Meskipun dalam hati, Hana tak dapat menampik kerisauannya.
Terang saja, setelah mendengar semua Fakta yang diutarakan Keira mengenai Pasha. Hana menjadi pesimis.
'Harusnya aku lebih hati-hati hari itu'
—••—
* Arah fushah: Bahasa Arab baku yang ada dalam Al-Qur'an dan Hadist. Umumnya digunakan dalam kesempatan-kesempatan formal.
__ADS_1
* Arab ammiyah: Bahasa Arab sehari-hari yang bersifat informal dan umumnya berbeda tempat berbeda pula gaya bahasa ammiyah nya. Seperti Arab ammiyah di negri Sudan mungkin sedikit berbeda dengan Arab ammiyah di negri Mesir.