Pernikahan Yang Sempurna

Pernikahan Yang Sempurna
Bab 20: Tidak Berubah


__ADS_3

Tak terasa ini adalah hari keenam setelah kesepakatan yang Hana buat dengan Pasha. Hana duduk termenung di ayunan yang ada di taman belakang rumahnya. Mata Hana menatap kebawah, memperhatikan rerumputan hijau yang terpangkas rapi. Biar begitu pikirannya mengembara jauh, memikirkan segala kemungkinan. Mengharapkan Pasha gagal memenuhi salah satu persyaratan darinya.


Tapi Hana tak dapat menepis rasa takut yang terus bergelayut di mindanya. Pasha seseorang yang sangat tak tertebak. Bagaimana jika ketiga persyaratannya terpenuhi?


"Aku sungguh tidak mau menikah dengan seseorang yang berjarak sepuluh tahun dariku" Kedua bahu Hana jatuh tak berdaya membayangkan nasibnya, "Terlebih lagi seorang pengusaha" Hana mendesah berat, "Plus seorang konglomerat!"


Hana menatap langit biru sore yang menawan, rasanya ingin sekali menangis.


Sejak dulu Hana sudah mem-blacklist 'pengusaha' sebagai kandidat calon suaminya. Terlebih seseorang yang berdarah konglomerat seperti dirinya. Hana sungguh tidak menginginkan itu. Hana tidak ingin memiliki takdir yang sama seperti ibunya. Yang menikah politik dan berakhir dengan kisah rumah tangga penuh intrik.


Ibunya pergi meninggalkan dunia yang melelahkan ini ketika Hana berumur sepuluh tahun. Tidak seperti kakak pertamanya, ibunya hanya seorang wanita pecinta sastra yang terpaksa masuk ke dunia perusahaan atas tekanan keluarga. Ibunya terus mengakhiri karirnya, tepat setelah melahirkan anak. Memutuskan menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk anak dan keluarga.


Setiap kali ayahnya tiba di rumah, Hana tak pernah melihat ibunya tersenyum bahagia. Hana hanya melihat sepasang tatapan kosong ibunya yang tak ber-maya. Tanpa sepengetahuan Ratna dan Keira, pernah sekali Hana melihat ayah dan ibunya bertengkar hebat.


Sampai suatu hari ibunya terbaring sakit di atas ranjang karena maag akut. Hana tak pernah melihat sosok ayahnya ada untuk mendampingi ibunya yang lemah tak berdaya.


Pernah suatu ketika Hana keluar dari mal dengan kakak pertamanya Ratna—sebelum wanita itu terjerat dalam kesibukan yang beruntut.


"Hana, kayanya belanjaan kakak ada yang ketinggalan. Kamu tunggu kakak disini ya. Kakak mau kedalam dulu"


Hana mengangguk. Tepat setelah Ratna pergi, tanpa sengaja Hana melihat ayahnya tengah merangkul mesra wanita lain. Tidak hanya itu, Hana jelas melihat ayahnya yang berkali-kali mendaratkan ciuman ke sekujur wajah wanita muda yang berada dalam rangkulannya itu. Wanita berpakaian glamor itu tampak tertawa geli, berjinjit dan mengecup manis bibir ayahnya.


"Ugh" Tiba-tiba Hana merasa mual dan jijik. Itu terjadi tepat ketika ayahnya tanpa sengaja berpapasan dengannya.


"Hana" Arya tampak sangat terkejut melihat putri bungsunya ada di sana dan menonton aksi perselingkuhannya.


Hana menatap tanpa ekspresi pada sang ayah dan dengan dinginnya berucap, "Menjijikkan"


"Ini putri kamu?" Wanita dengan makeup tebal itu sekilas melirik kearah Hana. Arya mengangguk pelan membenarkan pertanyaan wanita itu. 


"Apa katamu tadi? Menjijikkan?" Wanita itu menatap Hana tak suka.


Hana diam tak berkutik.

__ADS_1


"Tidak sopan sekali kau mengatakan itu pada ayahmu"


Hana menoleh pada selingkuhan ayahnya dan dengan tatapan datar berujar, "Aku tak perlu sopan pada seseorang yang tak tau sopan santun" Sekilas Hana melirik dingin sang ayah.


Arya tercengang. Wanita berpenampilan glamor itu jelas tak senang dengan sikap Hana, cepat-cepat menyeret ayahnya pergi.


"Kau berbicara pada siapa tadi?" Ratna sudah kembali dengan tas belanjaannya yang sempat tertinggal.


"Bukan siapa-siapa"


Hana tidak menceritakan aksi perselingkuhan itu pada Ratna dan Keira. Tapi Hana memutuskan untuk memberitahu ibunya yang saat itu masih terbaring lemah di atas ranjang.


"Kenapa mama tidak terkejut?" Hana tidak menduga akan melihat ekspresi wajah ibunya yang seperti mati rasa.


"Mama sudah tau"


Sepasang mata Hana terbelalak lebar, "Terus mama diam saja?"


"Hah" Hana melihat ibunya menghela nafas berat. Mata sayu itu tersenyum lembut memandang Hana dan bertutur pelan, "Kau tau papamu kaya dan cukup berkemampuan. Mamamu ini tak lagi menarik di matanya, tentu saja ia mencari yang lain. Singkatnya, ini adalah konsekuensi mama menikah dengan jenis seperti papamu"


Hana melihat ibunya tersenyum sendu dan menggeleng, "Papamu tipikal yang mudah bosan dan tak pernah puas. Hal itu tentunya sudah sering terjadi"


"Kenapa mama tak menuntut cerai?"


Hana melihat sang ibu tersenyum lemah, mengambil salah satu tangannya dan menggenggamnya lembut, "Jika melakukan hal itu, orang-orang akan melihat mama sebagai wanita egois"


"Kenapa begitu?"


"Ada nama keluarga yang harus mama jaga dan ada ketiga putri mama yang membutuhkan keluarga yang lengkap"


"Lalu mama memutuskan untuk berkorban?" Hana tak senang. Sebagai putri jelas ia mengharapkan ibunya bahagia. Tapi jika seperti itu...


"Hana, terkadang pengorbanan dibutuhkan untuk mencapai hasil yang memuaskan"

__ADS_1


Hana diam. Tidak lagi berkata apa-apa. Saat itu ia tidak begitu mengerti maksud dari ucapan sang ibu. Biar begitu tatapan ibunya yang kuyu dan redup, untuk pertama kalinya membuat Hana sadar. Itu adalah hasil dari beban kesedihan yang terpupuk sejak lama.


"Dalam aliran sastra dan prosa, kerapkali cerita berakhir dengan kisah pernikahan yang sempurna"


Hana melihat ibunya menatap langit-langit, secercah senyum tipis terukir di sudut bibir yang pucat, "Dulu mama pernah memimpikan hal itu. Meskipun tak terwujud, tapi memiliki kalian bertiga, itu telah menyempurnakan hidup mama"


Hana melihat ibunya tersenyum lembut bercampur sendu bahagia, "Mama cukup bahagia dengan kehidupan yang sempurna ini. Terimakasih sayang, karena sudah hadir di hidup mama..." Tangan kurus itu perlahan terangkat, mengusap lembut belahan pipi Hana.


Tak terasa sepasang mata Hana memanas dan entah kapan air matanya sudah jatuh berurai. Tapi jemari lentik nan panjang itu segera menghapus air mata yang meluncur di pipi Hana, "Jangan ceritakan perkara ini pada kedua kakakmu"


"Kenapa ma?" Suara Hana terdengar sedikit terisak.


"Akan lebih baik jika mereka tidak tau. Mama tidak ingin melihat mereka menangis kecewa seperti mu sekarang..."


Tangis Hana pun pecah.


"Hana, kau menangis?"


Hana terkesiap. Melihat Keira yang entah kapan sudah berdiri didepannya dengan sepiring roti di tangan. Segera Hana mengusap kedua belah pipinya yang sudah basah, setiap kali mengingat hal itu Hana pasti tak tahan untuk tidak menangis.


"Katakan pada kakak, apa si bos besar toxic itu menekan mu? Apa ia mengancam mu? Apa ia melakukan sesuatu padamu?" Keira duduk di ayunan yang satunya, menghadap Hana dan terus menginterogasi adik bungsunya itu.


Hana beberapa saat bergeming, "Ah, engga"


"Jangan bohong!" Keira menatap saksama Hana, "Katakan saja pada kakak. Biar aku yang mengurusnya"


Hana merasa tersentuh. Padahal beberapa hari terakhir ini kakak keduanya itu cukup menjaga jarak dengannya, sampai Hana takut Keira berubah membencinya. Tapi ternyata...


"Kak, sebenarnya..."


"Sebenarnya apa?" Sergah Keira tak sabar.


Keira tetaplah kakaknya yang periang dan pemberani, yang selalu ada untuknya.

__ADS_1


Ya...


Kakak keduanya tidak berubah sama sekali.


__ADS_2