
Hana membuka matanya ketika samar-samar sinar matahari pagi mendominasi wajahnya. Terdengar suara tarikan tirai yang di geser. Hana menoleh dan mendapati seorang perawat baru saja menyingkap tirai jendela. Hana rasanya seperti baru terjaga dari mimpi. Ia tidak akan pernah mengira ada hari dimana ia dilarikan ke rumah sakit hanya karena kram menstruasi.
Mengingat kejadian semalam, rasanya Hana ingin menangis karena malu.
"Pagi, anda sudah bangun?" Sapa perawat cantik itu ramah.
"Pagi, Sus" Hana mengangguk sopan, "Ya, baru saja"
"Ah, kakak lelaki anda baru saja pergi membeli sarapan. Ia berpesan pada saya jika anda bangun untuk meminta anda menunggunya"
"Kakak lelaki?" Hana mengerutkan keningnya bingung. Sejak kapan ia punya kakak laki-laki? Ia hanya punya dua orang kakak perempuan.
"Em" Perawat itu mengangguk dan tersenyum, "Kalau begitu saya permisi"
Setelah kepergian perawat itu, Hana tanpa sengaja menoleh kearah sofa yang ada di bangsal tempatnya di rawat. Di sana tergelak jas hitam yang sama sekali tidak asing di matanya.
Sontak Hana terkejut, "Jangan bilang dia semalaman penuh menunggu ku di sana?"
Hana mendesah berat, menepuk jidatnya tak tau harus menyikapi situasi itu seperti apa. Hana yang tak berdaya itu, hanya berharap dengan sangat pria itu tidak melakukan hal-hal aneh semalam padanya ketika ia terbuai jauh dalam bunga tidur yang panjang.
Menyingkap selimut dari tubuhnya, Hana melangkah turun dari ranjang. Ia berniat ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Bersamaan dengan itu pintu terbuka dan seorang pria masih dengan pakaiannya yang semalam berjalan masuk kedalam.
"Kau sudah bangun?" Pasha meletakkan barang-barang yang baru saja dibelinya di atas meja. Ada dua botol air mineral, bubur dan roti.
Jujur, Hana merasa tak nyaman dengan keberadaan Pasha. Bagaimanapun mereka baru saja bertemu semalam. Tapi Pasha bersikap sesantai itu padanya— tidakkah rasanya cukup mengganjal? Belum lagi fakta bahwa pria itu bukanlah mahramnya. Hana menghela nafas berat.
"Semalaman bapak tidur di sini?"
"Ya" Pasha menjatuhkan punggungnya ke sofa dan duduk bersila kaki.
"Kan saya sudah bilang untuk pergi. Kenapa bapak tetap kekeuh tinggal semalaman di sini. Bapak tau kan saya tidak nyaman?" Hana mungkin pribadi yang lembut, tapi di saat kesal akan sesuatu, ia bisa berkata begitu tegas.
"Apa seperti ini perlakuan mu pada seseorang yang menolong mu?" Mata elang Pasha berkilat dingin tak senang. Gadis itu tidak hanya membuang tiga puluh lima menitnya yang berharganya, tapi juga waktu tidurnya yang berkualitas. Tapi seperti ini balasan yang ia dapat?
"Pak, apa anda mengerti dengan maksud tidak nyaman yang saya maksud?" Hana membuang nafas kasar, "Dan asal bapak tau, semalam itu saya gak minta di antar ke rumah sakit loh. Tapi bapak yang seenaknya bopong saya dan membawa saya kemari"
Kening Pasha berkerut, menatap Hana dengan ekspresi yang tak terungkapkan. Semalam rasanya ia melihat Hana seperti gadis jelmaan salju. Lembut dan begitu halus. Tapi kenapa pagi ini...
__ADS_1
"Saya tidak terbiasa bersimpati pada orang lain. Tapi semalam saya melakukan semua itu, kau tau kenapa?"
Hana membungkam rapat bibirnya, diam.
"Karena saya punya tanggung jawab terhadap barang yang kelak akan saya miliki"
"Hah?" Hana menjepit sepasang alisnya tak mengerti.
Pasha menepuk lengan sofa dan perlahan bangkit dari duduknya. Terus ia mengambil beberapa langkah mendatangi Hana, "Kau tidak lupa kan dengan pertanggungjawaban mu?"
"Pertanggungjawaban?"
"Kau akan menikah dengan ku"
"Apaa?" Hana memekik kaget, "Engga, saya gak mau"
"Saya tidak menyiapkan opsi kedua untuk itu"
"Pokoknya saya gak mau, titik" Kekeuh Hana dan terus beranjak ke kamar mandi.
Pasha tertawa dingin. Melihat sikap Hana tadi, rasanya agak tidak memenuhi ekspektasinya. Tapi tatkala mengingat penampilan gadis itu semalam, yang seakan bisa retak hanya dengan sekali sentuhan. Hasratnya untuk memiliki kian memuncak.
Pasha berbalik badan, tanpa sengaja pandangannya jatuh tepat di atas ranjang tempat Hana berbaring. Di sana ia menemukan noda darah di atas kain seprai yang bewarna biru pudar itu.
Hana keluar dari kamar mandi dan mendapati Pasha yang mendekati ranjangnya, "Bapak mau buat apa di sana?" Selidik Hana.
"Apa ada bagian dari tubuh mu yang terluka?" Pasha tidak suka mendapati kerusakan, baik itu besar ataupun kecil pada barangnya yang berharga.
"Tidak ada"
"Lalu ini darah apa?"
Sontak Hana terkejut, berlari cepat mendatangi ranjang. Dengan gesit Hana menyembunyikan noda merah itu di bawah selimut. Karena ia memakai baju rumah sakit yang bewarna biru muda, tentu warna darahnya akan tampak cukup mencolok.
"Bagian belakang mu penuh darah, apa kau ambeien?"
Hana mendadak menjadi lemas, terus naik ke atas ranjang menyembunyikan bagian belakangnya. Wajah Hana yang sudah memerah padam karena malu itu, tidak tau harus di larikan ke mana. Sungguh, sepanjang ia datang bulan, itu adalah kali pertama ia terjebak dalam situasi memalukan yang sangat-sangat tidak tertolong!
__ADS_1
"Aku akan panggilkan dokter"
"Jan—"
Pasha sudah lenyap, secepat kilat meninggalkan ruang tempat Hana di rawat untuk bergegas memanggil dokter.
Hana tertunduk lesu dan menenggelamkan wajahnya kedalam kedua telapak tangannya dengan perasaan frustasi, "Ah, ini benar-benar memalukan!"
Seorang dokter wanita berjalan masuk kedalam. Itu adalah dokter berkacamata yang merawatnya semalam. Hana menggigit bibir bawahnya, malu dan tertekan. Wajahnya yang memerah padam itu benar-benar terasa panas. Seandainya saja ia bisa menyembunyikan dirinya di suatu tempat. Ia pasti akan melakukannya.
"Boleh saya perik—"
"Dok, ini hanya kesalahpahaman" Hana meremas erat selimut yang bewarna senada dengan seprai.
"..." Dokter berkacamata itu menatap Hana tak mengerti.
Bersyukurlah itu dokter wanita, jadi Hana dapat dengan tenang mengatakan apa masalahnya.
"Ah, kakak lelaki anda benar-benar lucu sekali!" Dokter wanita itu tertawa kecil.
"Itu bukan—"
"Kalau begitu saya permisi ya"
Belum sempat Hana mengatakan kalau Pasha bukanlah kakak lelakinya, dokter berkacamata itu sudah berjalan pergi keluar.
"Hah.." Hana menghela nafas berat. Jika ini adalah mimpi, Hana sungguh tak sabar untuk segera terbangun.
"Lebih baik, sekarang anda pergi untuk membelikan pembalut untuk adik perempuan anda" Ujar dokter kacamata itu pada Pasha sembari mengulas senyum sumringah.
"Pembalut? Apa di rumah sakit tidak ada?"
Sontak dokter wanita itu tergelak, "Yang saya maksud bukan pembalut luka. Tapi pembalut wanita"
"..." Pasha diam tak paham.
"Pergi saja ke minimarket yang ada di seberang rumah sakit. Tanyakan saja pada karyawati di sana, ya!" Setelah mengatakan itu, dokter kacamata itu terus melangkah pergi untuk memeriksa pasien lainnya.
__ADS_1
—••—