Pernikahan Yang Sempurna

Pernikahan Yang Sempurna
Bab 15: Melamar Putri Anda


__ADS_3

"Mana ponsel mu?" Pasha mengacuhkan perkataan Hana sebelumnya.


"Hah?" Hana tentu saja terkejut karena Pasha tiba-tiba menanyakan ponselnya. Memangnya apa yang pria itu ingin lakukan dengan ponselnya, "Kenapa anda menanyakan ponsel saya? Anda ingin menghubungi seseorang tapi tidak ada pulsa?"


Beberapa saat berlangsung dalam keheningan. Terdengar deringan ponsel yang begitu jelas dari dalam mobil. Yang tak lain itu adalah ponsel Hana. Membuka pintu pengemudi, Hana langsung mengambil ponselnya yang ada di atas dasbor mobil.


Sebelum pergi mengangkatnya, Hana melihat nomor panggilan itu yang ternyata dari ayahnya, "Assalamu'alaikum Pa.."


"Hana, kamu pergi kemana sudah tengah malam seperti ini masih belum pulang?" Terdengar suara cemas sang ayah dari seberang.


Hana memijit pelipisnya rumit, bingun harus mengutarakan kondisinya. Jika menjelaskan yang sebenarnya, ia takut ayahnya akan memarahi kakak keduanya. Namun berbohong pun, ia jelas pasti langsung ketahuan, "Itu Pa, ini Hana udah mau pul—"


Siapa sangka seseorang akan merebut ponsel dari tangannya. Hana terkejut melihat Pasha yang sudah meletakkan ponsel itu di ambang telinga dan berbicara, "Kedua putri anda baru saja keluar dari bar"


"Pak Pasha, apa yang anda lakukan?" Hana membelalakkan matanya tak percaya, "Cepat sini kemari kan ponsel saya!" Hana pergi berjinjit, hendak mengambil ponselnya dari tangan Pasha.


Tapi Pasha yang bersikap acuh tak acuh itu, menjauhkan benda pipih itu dari jangkauan Hana dan kembali berkata melalui saluran yang masih tersambung, "Putri bungsu tersayang anda nyaris saja hampir di lecehkan oleh seseorang tapi beruntung saya ada di sana dan membersihkan kekacauan"


"Pak Pasha..." Hana merasa benar-benar geram dengan pria berkepala tiga didepannya. Kenapa pria itu tampaknya hobi sekali mencampuri urusannya?


"Baik, saya akan mengantar pulang kedua putri anda ke rumah"


Panggilan di tutup. Pasha dengan pesona acuh tak acuhnya menoleh pada Hana yang tampak masih kesal karena sikapnya tadi yang sembarang saja merebut ponsel gadis itu, "Mana kunci mobil mu?"


"Apaan lagi sih Pak?" Tadi ponselnya dan sekarang kunci mobil?. Pria di depannya ini benar-benar...


"Papa mu meminta saya untuk mengantarmu pulang ke rumah"


"Engga perlu pak, saya bisa sendiri" Hana lagi-lagi berjinjit, berjuang keras untuk mengambil ponselnya dari tangan Pasha.


"Tidak bisa" Pasha langsung merebut kunci mobil Hana yang berada tepat dalam genggaman tangan kiri gadis itu, "Saya sudah bilang 'iya' pada papamu untuk mengantarkan kedua putrinya pulang" Rentetan kata yang keluar dari bibir Pasha yang merah gelap itu terdengar kaku tanpa emosi.


"Pak Pashaa.." Geram Hana. Tapi suaranya yang kecil itu benar-benar terdengar menggemaskan. Membuat Pasha rasanya tak tahan untuk tidak mencubit pipi Hana detik itu juga.

__ADS_1


Tapi Pasha menahan diri setelah mengetahui makna dari kata 'mahram' yang terus diulang-ulang oleh Hana ketika di rumah sakit. Bukannya ia tidak tau apa arti kata itu secara bahasa, hanya secara harfiah yang merupakan makna yang di maksud Hana. Ia baru saja mengetahuinya.


"Ayo masuk" Pasha menarik pintu mobil dan langsung duduk di bangku pengemudi.


Hana dengan langkah kesal, mau tak mau pergi membuka pintu belakang dan mendapati Keira yang sudah terkapar itu berbaring menguasai sepanjang tempat duduk. Hana mendesah berat, tidak punya pilihan lain, ia terpaksa pergi duduk tepat bersampingan dengan pria menyebalkan itu.


"Ponsel saya pak" Tagih Hana setelah memasang sabuk pengamannya.


"Sebentar" Pasha mengetikkan nomornya di ponsel Hana dan langsung menekan tombol panggil. Tak berapa lama panggilan itu terus tersambung ke ponselnya. Pasha membuka ponselnya dan terus menyimpan nomor ponsel Hana.


Lalu setelahnya ia pergi mengembalikan ponsel gadis itu, "Itu kontak saya"


Pasha mulai menyalakan mesin mobil, "Jangan di hapus!"


Hana baru saja berniat untuk menghapusnya, karena berpikir ia tidak perlu memiliki nomor pria dingin itu. Tepat ketika jempolnya hendak menekan kata 'hapus'...


"Kalau kamu berani hapus nomor saya, percaya atau tidak saya akan menyuruh seseorang untuk mengambil ponsel kamu"


Hana cukup terkejut mendengar pernyataan itu. Tapi peduli apa, pria sibuk seperti Pasha apa punya waktu mengurusi hal kecil seperti itu? Hana tanpa ragu menghapus nomor itu.


"Ada dua orang bodyguard saya. Mobil saya aman dengan mereka " Mobil Porsche merah itu perlahan mulai berjalan pergi meninggalkan bar.


                              —••—


"Apa-apaan ini Hana, kamu datang seorang diri ke tempat seperti itu?"


Sesampai di rumah besarnya, Hana langsung mendapat teguran keras dari sang ayah yang tampak begitu marah karena mencemaskannya. Di samping itu Ratna bergegas memapah Keira yang setengah sadar itu, membawanya masuk kedalam kamar.


"Hana pergi jemput kak Keira Pa.." Kepala Hana tertunduk kebawah menatap lantai. Hana terlalu takut melihat penampilan ayahnya yang sedang marah besar itu.


"Ya tapi kan enggak sendiri juga Hana. Kamu tau sendiri kan bar malam itu seperti apa?" Arya membuang nafas kasar. Tak habis pikir dengan putri bungsunya itu.


Hana diam, tidak menjawab apa-apa.

__ADS_1


"Tadi kata Pasha kamu hampir dilecehkan, benar?" Sekalipun Arya dalam keadaan marah penuh emosi, tapi itu tak dapat menutupi guratan cemas yang tergambar jelas di wajahnya. Terang saja, Arya sangat khawatir ketika mendengar kabar itu dari Pasha melalui telepon.


"Engga kok Pa" Hana menggelengkan kepalanya cepat.


"Putri bungsu anda sama sekali tidak sadar kalau seseorang berniat buruk padanya" Sambung Pasha, wajahnya yang arogan itu benar-benar membuat Hana kesal.


"Pak Pasha anda—"


"Band*t tua yang di bar tadi apa kau tak ingat?" Mata elang Pasha menoleh kearah Hana, menata gadis mungil itu dingin.


"..."


"Pria tua itu mencoba menyentuhmu, tapi sepertinya kau tak sadar"


Hana kali ini benar-benar mati kutu di tempat. Wajah cantiknya terus saja memucat, benarkah apa yang dikatakan Pasha?


"Terimakasih, karena sudah menyelamatkan putri ku dari gangguan" Ucapan Arya itu terus menarik perhatian Pasha untuk pergi menatap lurus kearahnya.


"Anda tidak perlu sungkan" Pasha memasukkan kedua tangannya ke dalam saku seluar, "Saya hanya melakukan kewajiban saya sebagai calon suami Hana"


"Calon suami?" Sepasang alis Arya bertaut tak suka. Meskipun pertemuan makan malam hari itu di datangi oleh Hana, bukan berarti ia mengubah keputusannya. Ia tetap tidak akan setuju jika putri bungsu kesayangannya jatuh di tangan pria berdarah dingin seperti Pasha.


"Kenapa? Jangan bilang anda tidak tau?"


Hana mengepalkan tangannya. Pria arogan itu tidak hanya memiliki aura dingin yang menakutkan, tapi sikapnya yang suka semaunya itu benar-benar membuat orang naik pitam.


"Hana, kau tidak bilang pada papamu kalau kau akan bertanggungjawab dengan menikahi ku sebagai gantinya?"


"I-tu—" Hana terus gelagapan, matanya takut-takut melirik kearah sang ayah, "Bukan begitu Pa. Kejadian malam itu Hana memang sudah bertekad untuk bertanggungjawab, tapi bukan dengan menikahi Pak Pasha" Jelas Hana. Lalu ia dengan kesal menoleh kearah Pasha, "Saya tidak pernah bilang untuk bertanggungjawab dengan menikahi anda ya. Tapi anda sendiri yang meminta saya untuk itu" 


Pasha tersenyum dingin, melihat gadis mungil didepannya yang tampak gemetaran karena marah tapi tidak seperti marah, "Saya akan segera menyiapkan hari, untuk pergi melamar putri anda Pak Arya" Pasha menoleh pada Arya, sekilas tersenyum penuh percaya diri.


Hana melongo di tempat, sulit mempercayai apa yang baru saja didengarnya dan Arya diam— jelas tak senang dengan hal itu.

__ADS_1


                             —••—


__ADS_2