Pernikahan Yang Sempurna

Pernikahan Yang Sempurna
Bab 8: Menginap Di Rumah Sakit


__ADS_3

"A-aku.."


"Ayo ke rumah sakit" Seperti kau memiliki barang yang berharga. Melihat  ada kesalahan sedikit saja, kau tak tahan untuk segera membawa barang itu ke tempat perbaikan.


"Tidak perlu" Hana dengan cepat menggelengkan kepalanya menolak.


Kesal karena melihat Hana yang tak menurut, tanpa basa-basi lebih jauh. Pasha langsung membopong gadis kecil itu ke atas pundaknya. Hana sontak meronta, apa-apaan pria ini?


"Pak, apa yang anda lakukan? Anda bukan mahram saya" Jerit Hana histeris. Mengundang berbagai pasang mata tertuju kearah mereka.


"Cepat turunkan saya!" Hana dengan keras memberontak untuk turun. Tapi nyeri dalam perutnya, membuat Hana tak punya kekuatan yang besar untuk melakukannya.


Pasha menolak menurunkan Hana, terus membopongnya keluar dan memasukkan gadis kecil itu kedalam mobilnya. Hana di dalam sana sudah menangis deras, tak dapat memikirkan apa-apa lagi. Nyeri dalam perutnya sungguh sangat tidak tertolong.


Mendengar raungan kecil di belakangnya yang terus merintih kesakitan, Pasha langsung menyalakan mesin mobil, menancap gas dan segera membawa gadis itu ke rumah sakit.


                               —•••—


Hana tidak akan menyangka pria itu benar-benar membawanya ke rumah sakit. Sejauh ini ia hanya memejamkan matanya lemas, membiarkan dokter wanita berkacamata itu menanganinya.


Di luar sana, tampak Pasha melipat kedua tangannya di depan dada, bersandar ke dinding dan menunggu dengan tenang. Ketika mendengar suara pintu terbuka, Pasha terus menoleh dan mendapati seorang dokter wanita yang baru saja memeriksa keadaan Hana berjalan keluar dari pintu.


"Apa dia baik-baik saja?" Sekilas raut wajah Pasha tampak acuh tak acuh.


"Anda tidak perlu khawatir pak. Adik anda hanya mengalami desminore—atau kram menstruasi yang umumnya terjadi pada beberapa perempuan yang datang bulan" Jelas dokter wanita itu.


Pasha mengetatkan rahangnya, merasa kesal dan tertekan. Dokter ini baru saja menyebut Hana adalah adiknya? Hah..


"Jadi, kenapa dia bisa merintih kesakitan begitu?" Pasha memilih tetap tenang, menjaga kewibawaannya.


"Ah, pada beberapa perempuan nyerinya itu memang sangat tidak tertahan. Seperti yang terjadi pada adik anda.." Meskipun pria yang didepannya itu terlihat dingin dan bersikap acuh tak acuh. Tapi tetap saja rasanya itu begitu manis melihat pria itu datang dengan beberapa pertanyaan mengenai kondisi adik perempuannya.


Pikir si dokter yang mengira Pasha adalah kakak lelaki dari Hana.


"Oh" Otak Pasha sudah mendidih, ketika lagi-lagi dokter wanita itu menyebut Hana sebagai adik perempuannya.


"Kalau begitu saya permisi"


Setelah dokter wanita itu pergi, Pasha membuang nafas kasar tak senang. Membuka pintu, ia langsung melangkah masuk kedalam. Melihat Hana yang terbaring lemas tak berdaya di atas ranjang dengan bibir merah ceri nya yang sudah memucat pasi.


"Saya akan menghubungi papa mu" Pasha mengeluarkan ponselnya, di dalam sana sudah ada nomor calon mertuanya.

__ADS_1


"Jangan—" Hana dengan cepat melarang, "Kakak kedua ku bisa habis di marahi, jika papa tau kami melakukan tipuan ini"


Mendengar itu, Pasha terus memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Mata elangnya yang dingin pergi menatap Hana serius, "Lalu, kau ingin aku menghubungi siapa?"


Bersamaan dengan itu ponsel Hana berdering, "Sebentar"


Melirik layar ponsel, nama yang tertera di sana adalah kakak keduanya, "Assalamu'alaikum kak kei.."


"Wa'alaikumsalam Hana, apa kamu masih di sana?" Suara di seberang terdengar gusar, "Papa baru saja pulang dan menanyakan keberadaan mu. Kakak sungguh tidak tau harus menjawab apa" Terdengar Keira menghela nafas berat.


"Kak, aku di rumah sakit"


"Apaa?"


"Bukan apa-apa, ini hanya karena kram menstruasi"


"Kakak ke sana ya. Kamu di rawat di rumah sakit apa?" Buru Keira cemas.


"Jangan kak" Tolak Hana tegas, "Kalau kakak kemari, papa akan curiga. Katakan saja pada papa kalau aku menginap di rumah Miftah malam ini karena buat tugas"


Ini sudah pukul sepuluh malam lewat. Tidak memungkinkan bagi Hana untuk pulang. Karena papanya itu pasti akan mem-berondongnya dengan berbagai macam pertanyaan.


"Terus kamu di rumah sakit sama siapa Han?" Suara di seberang terdengar cemas.


"Di sini ada banyak perawat kak. Jadi kakak gak perlu khawatir, ya?"


"Hana, maafkan kakak. Harusnya tadi kakak tidak memaksamu pergi" Keira sungguh tidak mengira adiknya sampai di larikan ke rumah sakit.


"Kau sungguh baik-baik saja kan?"


"Aku baik-baik saja. Ini hanya karena ulah seseorang aku dilarikan ke rumah sakit" Sekilas Hana melirik kearah Pasha. Tidak tau harus berekspresi seperti apa.


Mendapati itu Pasha hanya menautkan sepasang alisnya dan berkedik bahu.


"Sudah dulu ya kak, aku mau tidur nih. Obatnya bikin aku ngantuk"


Hana dengan sangat terpaksa meminum beberapa pil obat atas permintaan dokter. Nyeri dalam perutnya mereda dan sekarang kedua matanya mengantuk. Mungkin efek samping dari obat yang baru saja ia minum.


"Oke, kalau ada apa-apa terus kabari kakak ya"


"Em"

__ADS_1


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Panggilan berakhir, Hana menyelipkan ponselnya ke bawah bantal. Ia lalu menoleh kearah Pasha yang masih berdiri di sana menatapnya, "Anda sudah bisa pulang. Tidak baik jika anda terus berada semalaman di sini dengan saya.."


"Memangnya kenapa?" Pasha melipat kedua tangannya di depan dada.


"Pak, jika anda terus berada di sini orang-orang bisa salah paham" Lirih Hana, ia benar-benar tak bertenaga setelah mati-matian menghadapi nyeri di perutnya.


"Salah paham kalau kamu itu adik saya?" Persis seperti yang baru saja terjadi. Dokter wanita yang merawat Hana tadi itu mengira kalau ia adalah kakak lelakinya Hana.


Sebenarnya bukan itu yang Hana maksud. Jelas ada batas-batas tertentu antara pria dan wanita. Apa pria ini sungguhan tak mengerti atau pura-pura tak tau?


"Anda bukan mahram saya, jika semalaman disini dengan saya itu sangat membuat saya tidak nyaman"


Di samping itu bisa saja menimbulkan fitnah. Tapi Hana terlalu malas mengatakannya, ia yakin pria itu pasti tidak akan paham.


"Kau sudah menyebut dua kali kata itu" Pada saat ketika ia dengan paksa membopong Hana dan kali kedua dengan yang ini, "Mahram?"


"Jangan bilang anda tak tau?"


Pasha menggeleng.


"Hah, serius saya benar-benar ingin istirahat sekarang. Silahkan cari tau saja sendiri" Hana memperbaiki posisi kepalanya senyaman mungkin di bantal, "Anda segeralah pergi!" Ujarnya lirih. Tak berapa lama kelopak matanya jatuh terpejam dan Hana tertidur pulas.


Melihat Hana yang sudah tertidur, Pasha mengambil beberapa langkah mendekati ranjang. Ia memperhatikan seksama gadis berhijab yang tengah berbaring di atas ranjang rumah sakit itu. Tidak tau kenapa, rasa menginginkan 'permata itu' kian menjadi-jadi.


Pelan Pasha mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh keindahan tersembunyi itu. Hanya sebelum jari telunjuknya mendarat di pipi tirus Hana yang lembab, gerakannya menjadi ragu dan tangannya tertahan di udara.


Pasha memilih menurunkan tangannya dan membatalkan niat awalnya yang ingin menelusuri wajah mungil Hana.


Ponselnya berdering dan ternyata itu panggilan dari papanya.


"Bagaimana pertemuannya? Lancar kan?"


Beberapa saat Pasha diam, matanya merenungi wajah cantik Hana yang terbuai jauh dalam mimpi.


"Tidak buruk!"


                              —••—

__ADS_1


__ADS_2