
Di tengah kepanikannya, Sorn mengingat satu hal. "Ponsel--Ya aku bisa menghubunginya,"
Sorn langsung mengambil ponselnya dan mencari nomor ponsel Lew. Untungnya ia sudah menyimpan nomornya lebih dulu. Sehingga bisa di pergunakan untuknya menghubungi laki-laki itu.
Tut... Tut...
Beberapa kali Sorn mencoba menghubungi laki-laki itu tapi belum juga tersambung. Sorn tidak menyerah begitu saja. Ia kembali menghubunginya untuk yang ke sekian kali. Namun tetap saja tidak di angkat.
"Shittt! Dia kemana sih!? Di telepon tidak di angkat. Aku harus mencarinya ke mana sekarang!?" seru Sorn sembari mondar-mandir di ruang tamu.
Cukup. Sorn merasa tidak ada gunanya mondar-mandir di ruang tamu dan bergegas pergi mencari keberadaan Lew. Mungkin saja laki-laki itu sedang berada di luar rumah. Sorn menelusuri kawasan sekitar rumahnya tapi Lew masih belum di temukan. Hingga seorang tetangganya datang menghampirinya yang tengah panik.
"Hai, Sorn! Tumben berdiri di sini. Biasanya kau berdiam di dalam rumah saja," sapa tetangganya itu yang merupakan seorang laki-laki seusianya bernama Key.
Key bekerja paruh waktu di sebuah caffe. Ia sosok laki-laki yang ramah. Yah juga tidak di ungkiri bahwa wajahnya cukup tampan. Tetapi, Sorn tidak sedikit pun tertarik. Ia mengganggap Key sebatas tetangga, begitu pula sebaliknya.
"Ah--Ini, aku sedang mencari saudara sepupuku. Apa kau ada melihatnya?" tanya Sorn penuh harap.
"Kau punya saudara sepupu?" tanya Key balik.
Sorn kembali berdecak. Dirinya lupa bahwa Key belum pernah melihat sosok Lew. Wajar saja laki-laki itu bertanya.
"Iya. Dia saudara sepupu jauhku," jawab Sorn tersenyum kikuk.
"Wah benarkah?"
"Heum. Jadi apa kau ada melihatnya?" Sorn mengulang pertanyaan untuk yang kedua kalinya.
Key tampak terkekeh. "Jika pun aku melihat, aku mana kenal dengan saudara sepupumu itu!"
"Ah benar juga. Saudara sepupuku itu bertubuh tinggi. Kulitnya putih dan memiliki wajah tampan. Em.. Tapi di beberapa bagian tubuhnya terdapat balutan perban, terutama kepalanya. Dia sedang dalam masa pemulihan. Seharusnya tidak pergi ke mana pun. Apalagi dia belum mengenal tempat ini," terang Sorn secara singkat.
"Dan itulah sebabnya kau tampak panik mencari keberadaannya," timpal Key menyimpulkan keterangan Sorn.
Sorn menganggukkan kepalanya. "Aku khawatir terjadi sesuatu padanya,"
__ADS_1
"Tenanglah, Sorn! Mungkin sepupumu itu sedang berjalan-jalan di dekat sini. Aku akan membantumu mencarinya," ucap Key berusaha menenangkan Sorn agar tidak panik.
"Terima kasih,"
Kemudian Sorn lanjut mencari keberadaan Lew di bantu Lew. Tidak hanya menyusuri kawasan rumah saja, mereka juga pergi ke tempat-tempat yang jaraknya cukup dekat dari sana. Mereka berdua memutuskan untuk berpencar. Lumayan lama Sorn berjalan menelusuri semua tempat itu, hingga kedua matanya menangkap satu objek di seberang jalan.
"Lew?" lirihnya pelan sembari memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.
Tidak berselang lama, bola matanya membulat sempurna. Laki-laki itu memang benar adalah Lew hanya dengan melihat bagian kepalanya yang terbalut perban.
"Benar. Itu adalah Lew! Ck. Dia dalam masalah sekarang. Aku harus menolongnya!"
Sorn bergegas menyebrang jalan untuk bisa menghampiri Laki-laki itu. Dimana Lew tampak sedang di kerumuni sekelompok laki-laki bertato dan bertubuh kekar. Dapat di pastikan bahwa mereka adalah gangster di daerah itu.
"Serahkan semua barang-barang lo!" seru laki-laki yang memiliki sayatan di dekat keningnya.
"Tidak. Aku tidak mau," tolak Lew bernada dingin.
Penolakannya mendapat reaksi kurang bersahabat dari sekelompok laki-laki itu. " Kau berani menolak kami, heh!?"
"Karena ini wilayah kami! Siapapun yang lewat sini harus memberikan semua barang miliknya. Jika tidak--Kami akan membuatnya celaka. Kau mau celaka heh!?" bentak salah seorang dengan kepala botak.
"Memangnya kalian berani melakukannya?" tanya Lew yang terdengar jelas sedang menantang.
"Wah kau berani nantang kami!?"
"Jika iya, kenapa?" tanya Lew lagi. Tidak terlihat raut ketakutan di wajahnya.
"Sial! Semuanya buat dia menyesal karena berani menantang kita!" seru orang yang memiliki jahitan di keningnya tadi.
"Berani menyentuhnya, ku pastikan kalian babak belur!" tiba-tiba Sorn datang dari arah belakang mereka. Nada bicaranya meninggi dan dingin.
Sontak Lew dan sekelompok gangster menatap ke arahnya. Dengan langkah santai, Sorn menghampiri mereka. Tatapannya datar. Sangat berbeda dengan yang sebelumnya dan Lew menyadari hal itu. Muncul beberapa pertanyaan di kepalanya.
Apakah perempuan itu benar Sorn yang telah menyelamatkannya? Jika iya, lalu dimana nada bicaranya yang ramah dan tatapan hangat? Lew merasa Sorn menjadi sosok perempuan berbeda.
__ADS_1
"Siapa kau!? Jangan ikut campur di sini!" si kepala botak memberikan peringatan sembari menunjuk tajam ke arah Sorn.
"Eh botak. Aku mau ikut campur atau tidak, itu urusanku. Dan lagi--Aku tidak suka di tunjuk tajam," celetuk Sorn bersamaan menepis tangan si botam yang tadi menunjukkan.
"Kau menyebutku botak!?" pekik si botak memasang raut wajah tidak terima.
Sorn berbalik badan. Kini ia berdiri di hadapan sekelompok Gangster itu. Sedangkan Lew telah berdiri di hadapannya.
"Memang benar kepalamu botak, kan? Ada yang salah?" tanya Sorn tanpa dosa. Kedua tangannya bersedekap dada.
Tangan si botak itu mengepal. Jelas ia tidak terima dengan panggilan yang Sorn berikan. "Berani sekali menyebutku botak!? Apa kau tidak takut kalau nantinya mulutmu ku robek, hah!!?"
"Aku tidak takut dengan sesama manusia. Jadi kau tidak perlu mengancamku," Sorn tersenyum sinis.
"Beri dia pelajaran karena telah berani menghinaku!" perintah si botak pada teman-temannya.
"Ya tentu saja. Dia menghinamu, berarti juga telah menghina kami!"
Si botak dan teman-teman satu kelompoknya berjalan mengelilingi Sorn yang tengah berdiri di hadapan Lew. Mereka sudah bersiap untuk menyerang.
"Kau diam saja! Jangan bergerak sedikit pun!" seru Sorn pada Lew tanpa menatapnya.
"Baik," sahut Lew singkat.
Bersamaan dengan itu, sekelompok Gangster tadi mulai menyerang. Sorn tentu tidak membiarkan serangan mereka berhasil. Dengan gerakan yang sangat gesit, Sorn menghindari serangan mereka. Tidak hanya menghindar saja, ia juga memberikan serangan balasan. Namun Sorn memastikan Lew tetap aman di dekatnya. Ia tidak membiarkan satu serangan pun berhasil mengenai tubuh Lew.
Pertarungan mereka tampak sengit. Meski jumlahnya tidak seimbang tapi Sorn sendiri pun sudah cukup untuk melawan sekelompok Gangster itu. Selama dua tahun ia belajar beladiri sebagai bentuk perlindungan diri. Di saat-saat genting seperti sekarang, beladiri yang di pelajarinya berguna. Buktinya Sorn bisa dengan cepat mengalahkan satu-persatu Gangster itu. Tendangan dan pukulannya begitu mendominasi. Seolah gerakannya tidak pernah habis. Lew yang sedari tadi diam memperhatikan merasa tidak percaya bahwa gadis seperti Sorn sangat ahli beladiri.
Bruk...
Si botak menjadi orang terakhir yang berhasil Sorn kalahkan. Tendangan brutal Sorn mengenai bagian kepala, perut dan area bawahnya.
"Arghhh!" rintihnya kesakitan sembari memegangi bagian yang sakit secara bergantian.
"Aduh. Aku sepertinya terlalu berlebihan. Kalian kesakitan, ya?" tanya Sorn bernada sok polos.
__ADS_1