
"Tentu saja benar. Aku sudah menyaksikan banyak gadis masuk rumah sakit gara-gara sepupuku itu. Keadaan mereka sangat menyedihkan. Wajah yang awalnya putih mulus berganti menjadi jahitan benang bekas operasi. Aku sangat menyayangkan sikap sepuku itu," Sorn semakin menambah karangan ceritanya. Bahkan raut wajahnya tampak sangat mendukung agar Illesa percaya.
Glek...
Tampak dengan susah payah Illesa menelan salivanya. Gadis itu juga menyentuh wajahnya yang dapat di akui putih mulus. Sorn tersenyum samar. Ia tahu kalau gadis itu pasti sedang memikirkan ucapannya barusan.
`Kena kau. Xixixi,` batin Sorn
"Tapi jika kau cukup percaya diri untuk mencoba berteman dengannya, ya silakan saja! Aku tidak melarang. Mungkin sepupuku akan bersikap berbeda padamu," sambungnya.
Illesa menggelengkan cepat kepalanya. "Ah lain kali saja deh. A--Aku baru ingat kalau ada pekerja yang harus ku selesaikan. Dah, Sorn!"
Gadis itu bergegas pergi dari sana tanpa mendengarkan balasan dari Sorn.
"Fuffft... Dia pasti ketakutan karena mendengar ceritaku. Aduh Sorn--Kau sangat pintar," Sorn tertawa kecil melihat Illesa pergi dengan langkah cepat. Namun ia sangat lega gadis itu tidak jadi masuk ke rumahnya.
Cukup puas tertawa, Sorn pun segera pergi ke kampus menggunakan taksi online yang sudah di pesannya tadi. Taksi online itu melaju sedang sesuai permintaan dari Sorn sendiri. Ia masih punya banyak waktu sebelum mata kuliah pertamanya berlangsung. Sehingga ia tidak pergi terburu-buru.
***
Jam 13.00 siang
Sorn telah tiba di kampusnya. Dimana tampak banyak mahasiswa yang juga baru saja berdatangan. Ia bergegas ke ruangannya agar bisa mendapatkan tempat duduk paling depan. Beruntungnya Sorn berhasil mendapatkannya di banding mahasiswa lain.
"Fiuh... Syukurlah," gumam Sorn seraya meletakkan beberapa buku yang di bawanya ke atas meja.
Di sebelahnya sudah di duduki mahasiswa lain. Begitu pula dengan tempat duduk yang masih kosong mulai di duduki. Sampai akhirnya penuh dan suasana ruangan menjadi begitu ramai. Masih ada beberapa menit tersisa sebelum Dosen masuk. Para mahasiswa menggunakan itu untuk berbagai kegiatan, seperti bercengkrama dengan satu sama lain. Tidak hanya suara yang terdengar tapi juga tawa. Benar-benar sangat ramai.
"Sorn!" panggil mahasiswa yang duduk di belakang gadis itu.
Mendengar namanya di panggil, lantas Sorn langsung menengok ke belakang. "Oh hai, Naeun!"
Naeun--Salah satu mahasiswa satu fakultas dengan Sorn dan berusia 20 tahun. Dari namanya saja, jelas bahwa ia adalah gadis berkebangsaan korea. Semakin jelas lagi saat melihat bagaimana bentuk wajahnya yang cantik sempurna. Benar-benar keturunan Korea Asli. Naeun mendapatkan beasiswa untuk kuliah di sana berkat kepintaran yang dirinya miliki.
"Annyeong haseyo, Sorn!" balas Naeun melambaikan tangannya, di sertai senyuman manis.
"Kau tampak bahagia sekali," celetuk Sorn dengan mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Heum. Nih aku mau memberikan ini padaku!" seru Naeun sembari mengeluarkan sebuah kertas dari tasnya. Bukan kertas biasa tampak seperti undangan.
Sorn pun langsung menerimanya dan membacanya sekilas. Kedua bola matanya membulat sempurna. Bahkan tangannya menutup mulutnya yang sedikit terbuka.
"Ini serius?" tanyanya di sela menatap kertas di tangannya dan Naeun secara bergantian.
Naeun menganggukkan kepalanya. "Datang, ya!? Awas kalau tidak datang,"
"Tunggu dulu! Aku masih terkejut. Kau sungguh akan bertunangan 1 minggu lagi!?" tanya Sorn sekali lagi untuk memastikan.
"Iya, Sorn. Aku dan pacarku memutuskan untuk segera bertunangan," jawab Naeun tersenyum malu.
Benar. Kertas itu berupa undangan pertunangan Naeun bersama Seungmin--Pacarnya. Berita yang tentunya sangat mengejutkan Sorn.
"Oh my gosh! Kau mengejutkanku. Bagaimana bisa selama ini aku tidak tahu kalau kau punya pacar dan akan segera bertunangan?"
"Itu... Kami sengaja merahasiakannya," sahut Naeun pelan tapi masih terdengar di telinga Sorn.
"Begitukah? Pantas saja aku tidak tahu. Hmmm tapi aku ucapkan selamat padamu!" ungkap Sorn ikut berbahagia atas kabar pertunangan Naeun.
Sorn berpikir sesaat. Naeun adalah gadis berkebangsaan Korea. Pasti akan menggelar pesta pertunangan di tempat asalnya. Bagaimana bisa ia pergi ke sana nanti? Tiket dan semua keperluan keberangkatan perlu banyak biaya. Sedangkan dirinya tidak punya cukup uang untuk itu. Mungkin ia harus jujur, meski hal itu mungkin akan membuat Naeun sedikit kecewa.
"Em gimana ya, Naeun? Aku tidak punya cukup uang untuk pergi ke Korea. Jadi maafkan aku karena harus mengecewakanmu," Sorn memasang raut wajah sedikit menyesal.
Padahal selama ini Naeun cukup sering membantunya dalam hal apapun. Lalu apa yang ia lakukan sekarang? Naeun hanya meminta untuknya datang tapi ia justru memberi jawaban yang mengecewakan.
Naeun terkekeh mendengar itu. "Kata siapa acara pertunanganku di Korea?"
"Kalau bukan di Korea, lalu dimana?" tanya Sorn balik.
"Ya, di sini. Pacarku bersedia mengadakan pesta pertunangan kami di sini. Baru nantinya kami menikah di Korea," jawab Naeun masih terkekeh.
"Benarkah?"
"Coba baca bagian bawah undangan!" titah Naeun dengan tatapan mengarah pada undangan yang ada di tangan Sorn.
Sorn langsung melakukan yang di perintahkan Naeun. Tepat di bagian bawah undangan itu, tertera tempat dimana acara pertunangan Naeun akan di lakukan. Ia berdecak pelan sebab melewatkannya saat membaca tadi.
__ADS_1
"Ck--Aku tidak membacanya tadi,"
"Jadi kau akan datang, bukan?" tanya Naeun penuh harap.
"Tentu saja. Aku pasti datang nanti," jawab Sorn bersemangat.
"Kau harus membawa pasangan, oke!?"
Permintaan Naeun barusan membuat tenggorokan Sorn gatal. Jangankan pasangan, teman laki-laki saja tidak punya.
"Akan aku usahakan," sahut Sorn ragu.
"Harus, Sorn!" seru Naeun menegaskan.
Beruntung Dosen datang, sehingga Sorn bisa bernafas lega. Hampir saja ia kehabisan kata untuk menjawab permintaan Naeun. Namun tetap saja permintaan gadis itu membuat Sorn sedikit merasa pusing. Kemana ia harus mencari pasangan nanti? Ah sudahlah. Sorn menyingkirkan kepusingannya itu dulu dan fokus pada Dosen yang mulai mengajar.
***
Hari ini Sorn hanya mempunyai 2 mata kuliah. Waktunya pun terbilang tidak lama. Sehingga ia bisa cepat pulang sebelum jam 5 sore. Namun dirinya menyempatkan untuk membeli makanan lebih dulu di tengah jalan.
"Lew! Kau dimana!?" seru Sorn memanggil laki-laki itu, usai masuk ke dalam rumah.
Tidak ada juga terdengar balasan. Hal itu membuat Sorn berpikir untuk mencarinya di kamar.
Tok... Tok... Tok...
"Apa kau di dalam, Lew!?" tanya Sorn di sela mengetuk pintu. Tetap saja tidak mendapatkan balasan apapun.
Sekali lagi Sorn mengetuk pintu dengan lebih keras. "Lew keluarlah! Aku bawa makanan nih!"
Dan laki-laki itu masih tidak membalas. Entah kenapa Sorn menjadi merasa sedikit khawatir. Tanpa menunggu lagi, ia langsung membuka pintu kamar Lew. Ternyata pintu kamar laki-laki itu tidak terkunci. Sorn pun masuk perlahan ke dalam. Laki-laki itu tidak terlihat di dalam sana. Bahkan di kamar mandi pun tidak ada.
"Mungkin dia sedang ada di ruangan lain," gumamnya berusaha berpikir positif.
Usai mencari di kamar, kini Sorn berjalan menelusuri rumahnya. Tetapi, tidak ada tanda-tanda keberadaan Lew. Sorn pun segera mencari ke belakang rumah--Tempat terakhir yang kemungkinan besar ada Lew di sana. Namun hasilnya juga nihil. Laki-laki itu tidak ada dimana pun.
"Sebenarnya dia kemana!? Bukankah aku sudah memintanya untuk tidak pergi kemana-mana," Sorn mulai panik mencari keberadaan Lew.
__ADS_1