Perpect Love

Perpect Love
Eps 24. Biang Masalah


__ADS_3

Rebecca semakin mengeram kesal akan perlakuan Cintya dan Jerome. "Huh baiklah! Aku pergi sekarang. Tetapi ku pastikan kalian di pecat setelah ini. Lihat saja nanti!"


Perempuan itu menunjuk tajam ke arah mereka berdua. Sebelum berjalan pergi dengan kekesalan membuncah.


"Huffft... Syukurlah dia pergi tanpa banyak bicara," Cintya menghela nafas lega saat melihat kepergian Rebecca meninggalkan toserba.


"Memangnya kenapa? Kalian begitu panik saat melihat perempuan itu datang,"


Pertanyaan itu di ajukan oleh Lew yang sedari tadi diam. Cintya menatapnya, begitu pula dengan Jerome. Mereka berdua hampir lupa akan keberadaan Lew.


"Kau harus tahu kalau perempuan itu biang masalah. Setiap kali datang ke sini, dia selalu saja berulah dan membuat kami berdua frustasi.  Terutama pada saat mengambil banyak camilan atau barang tanpa membayar sepeser pun. Dia terus menyebut dirinya sebagai kekasih dari , sehingga kami ragu untuk menagih bayaran semua barang yang di ambilnya. Namun pada akhirnya kami sudah tidak tahan lagi akan sikapnya yang semena-mena. So, aku melaporkannya pada bos dan kami baru tahu kalau dia berbohong," beber Cintya panjang lebar.


"Kemudian kami di perintahkan untuk melarangnya masuk ke dalam toserba seperti yang tadi kau lihat," timpal Jerome bersedekap dada.


Lew mengangguk-anggukan pelan kepalanya. "Aku mengerti,"


"Yeah. Semoga setelah ini dia tidak datang lagi ke sini. Itu hanya akan merepotkan kita saja nanti," cetus Cintya yang sangat enggan melihat kedatangan Rebecca lagi ke sana.


"Heum--Ya semoga saja," Jerome berdeham ringan tapi mengharapkan hal sama seperti gadis itu.


Pembicaraan mereka berakhir saat ada pembeli datang. Jerome kembali membuka pintu toserba yang sempat di kunci. Mereka bertiga segera masuk ke dalam toserba, di iringi pembeli tadi. Kegiatan bekerja untuk melayani pembeli pun langsung di mulai. Hal itu terus berlanjut sepanjang hari. Namun mereka bertiga akan bersantai di saat tidak ada pengunjung. Cintya--Si paling cerewet, tentu juga menjadi orang yang paling banyak bicara atau memulai buka suara. Sehingga suasana toserba tidak hening, apalagi saat Jerome melontarkan candaan pada Cintya. Lew sesekali ikut bersuara saat di tanya oleh kedua orang itu.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


"Sorn!" panggil seseorang pada Sorn yang tengah sibuk membuatkan minuman.


Gadis itu baru saja bekerja, usai menyelesaikan mata kuliah terakhirnya hari ini. Pekerjaannya tidak menentu di kafe itu. Terkadang membuatkan minuman, mengantarkan makanan atau pun membereskan meja bekas pengunjung. Begitulah pekerjaan Sorn setiap hari dan ia cukup menikmati proses kehidupan yang telah di tekuni dari beberapa tahun lalu.


"Ya, ada apa?" sahutnya sembari menatap orang yang baru saja memanggil namanya.

__ADS_1


"Sibuk?" tanya orang itu.


Sorn menggelengkan kepalanya. "Tidak. Ini pesanan terakhir yang harus ku buat. Kenapa? Apa kau memerlukan bantuanku?"


"Bagus! Aku memang sedang memerlukan bantuanmu," jawab orang itu tersenyum antusias.


"Apa?"


"Eum--Bantu aku menghilangkan kegalauan di hatiku dengan suara merdumu itu. Mau, ya? Pleaseee!" pinta orang itu mengerjapkan matanya dengan raut wajah memelas dan penuh harap.


Sorn terkejut mendengar itu. "Memangnya kau sedang galau gara-gara apa? Di putusin pacar? Ini rasanya tidak mungkin. Setahuku kau masih sendiri sampai saat ini,"


"Ck.  Kau tidak perlu mengatakannya. Aku cukup sadar diri sebelum kau sadarkan. Dan lagi--Aku galau memang bukan karena di putusin pacar," orang itu berdecak pelan. Bibirnya mengerucut mendengar ucapan Sorn yang bak pisau tajam. Meyakitkan.


"Lalu apa yang membuatmu galau, Mitha?"


Mitha--Teman kerja Sorn di Kafe. Mereka berdua memiliki usia yang sama. Gadis itu sangat humoris membuatnya mudah berteman dengan siapa saja. Sorn berteman dengannya dari sejak pertama kali masuk bekerja. Ia di kenal juga sebagai gadis yang giat bekerja dan disiplin waktu. Kerja kerasnya selama ini di peruntukkan untuk sang Ayah yang sudah tua. Namun Mitha juga tidak melupakan kebahagiaannya sendiri. Gadis itu--Ah dia begitu sangat luarbiasa.


"Benarkah?" Sorn bertanya seolah terkejut. Padahal ia sendiri tahu kalau gadis itu hanya berbicara sembarangan.


Mitha mendelik kesal ke arahnya. "Sudahlah. Aku tidak galau karena apapun, termasuk tagihan kredit banyak. Itu bukan gayaku. Kau tahu? Aku hanya rindu suaramu yang merdu. Jadi cepatlah menyanyi untukku, ya!?


"Lain kali saja. Aku mau antarkan minuman ini dulu dan membereskan meja," tolak Sorn dengan halus sembari berjalan pergi membawa nampan berisi dua gelas minuman pesanan terakhir.


"Oh ayolah, Sorn! Kau sudah lama tidak menyanyi untukku. Masa kau tega membiarkan temanmu ini rindu berat. Merindu seperti ini tidak enak. Demi temanmu ini, Pleaseee!" rengek Mitha di sela mengiringi langkah Sorn.


"Ini masih jam kerja. Nanti bos marah kalau aku menyanyi, bukannya bekerja. Aku tidak mau itu terjadi," ucap Sorn tetap pada penolakannya. Ia memberikan pesanan minuman terakhir tadi pada pengunjung yang memesan.


Mitha memegang tangan Sorn yang hendak membereskan meja lain. "Aku sudah minta ijin pada bos. Kau di perbolehkan menyanyi untuk menghibur pengunjung. Jadi kau tidak ada alasan lagi untuk menolakku!"

__ADS_1


"Kau pasti berbohong!" elak Sorn tidak percaya.


"Ayo kita temui bos! Dan lihat, ucapanku ini benar atau tidak," Mitha sudah tidak bisa menahan diri lagi. Sangat greget terhadap Sorn yang tidak mempercayai ucapannya.


Tanpa persetujuan Sorn, ia langsung menariknya untuk menemui bos mereka.


"Mitha--Pekerjaanku masih belum selesai!" seru Sorn tapi membiarkan Mitha menarik tangannya.


"Masih ada yang lain. Mereka bisa melanjutkan pekerjaanmu," sahut Mitha tidak mendengarkan apapun yang Sorn ucapkan.


Sekeras kepalanya Sorn, terkadang lebih keras kepala Mitha. Contohnya seperti yang saat ini sedang terjadi. Sorn tidak bisa berucap apa-apa lagi, selain pasrah mengikuti Mitha menemui bos mereka.


Tok... Tok... Tok...


Mitha mengetuk pintu ruangan bos mereka yang berada di belakang kafe.


"Masuk!" titah si pemilik ruangan.


Mendengar perintah dari pemilik ruangan, Mitha langsung membuka pintu. Ia dan Sorn berjalan memasuki ruangan bos mereka. Ukurannya cukup besar untuk ruangan seorang bos pemilik kafe. Terdapat beberapa benda pendukung di sana, terutama meja kerja lengkap dengan kursinya. Di  sana tampak seorang laki-laki dewasa tengah sibuk memeriksa sebuah berkas.


"Maaf mengganggu bos!" seru Mitha lebih dulu, kebiasaan yang telah biasa di lakukannya dan para pelayan lain.


Laki-laki dewasa itu mendongakkan kepalanya, menatap dua orang gadis yang cukup lama bekerja di kafe miliknya.


"Ya, ada apa?"


"Begini bos, Sorn tidak percaya kalau bos mengijinkannya untuk menyanyi. Jadi saya membawanya ke sini agar bos mengatakannya sendiri," jawab Mitha terus terang dan Sorn hanya diam di sebelahnya sambil tersenyum kikuk.


"Oh ternyata begitu. Ya, Sorn--Saya mengijinkan kamu menyanyi untuk menghibur para pengunjung. Saya pernah dengar kamu menyanyi dan suaramu sangat bagus," ucap bos pemilik kafe memuji suara yang Sorn miliki.

__ADS_1


"Nah sudah dengar, kan?" Mitha menyenggol lengan Sorn yang sempat terkejut mendengar pujian dari bos mereka.


"Te--Terima kasih, bos" ungkapnya tergagap.


__ADS_2