Perpect Love

Perpect Love
Eps 21. Teman Baru


__ADS_3

"Sudah," perlahan Lew berdiri, usai berjongkok cukup lama untuk memeriksa stok terakhir.


"Bagus. Sekarang keluarlah! Aku perkenalkan kau dengan temanku. Dia baru saja datang," ucap Cintya tersenyum tipis.


Lew hanya menganggukkan kepala dan langsung mengikuti langkah Cintya yang membawanya ke sudut lain toserba. Di sana tampak seorang laki-laki tengah sibuk merapikan stok barang yang sedikit berantakan. Sadar akan langkak kaki yang mendekat ke arahnya, ia pun berbalik badan.


"Rom--Ini dia teman baru kita yang tadi ku ceritakan padamu," Cintya melirik Lew sekilas, baru beralih menatap laki-laki yang sudah lama berteman dengannya.


"Oh jadi ini. Ternyata lebih tampan dari aku, ya?" celetuk laki-laki itu.


Jerome atau yang lebih sering di panggil Rom ini, lebih tua beberapa tahun dari Cintya. Berparas cukup tampan dan memiliki tinggi badan ideal untuk seorang-laki sepertinya. Jerome sama seperti Cintya--Dimana harus berjuang sendiri untuk hidup. Tidak bisa mengandalkan keluarga sebab bukan terlahir dari kalangan orang berada. Namun hal itulah yang justru membentuk sifat mandiri di diri mereka berdua. Dan dari perjuangannya selama ini, Jerome tumbuh menjadi sosok rendah hati. Ia tidak segan menolong apabila memang di perlukan. Oh satu hal lagi. Berbanding balik dengan sifat Cintya yang cerewet, ia lebih bersifat tenang dan terkadang bisa juga humoris.


"Ya benar sekali," timpal Cintya terkekeh pelan. Rupanya temannya itu sadar diri, sebelum di sadarkan wk.


Rom mendelik ke arah Cintya. Sebelum matanya kembali tertuju pada Lew yang belum membuka suara.


"Ku rasa kita perlu berkenalan dulu, benarkan?" tanyanya.


"Hmmm ya," jawab Lew begitu dingin.


Beruntung sebelumnya Jerome sudah di beritahu Cintya akan sifat dingin Lew. Jika tidak--Mungkin ia akan terkejut dan merasa jengkel. Tetapi lucu juga kalau ia mengingat keadaan sekarang. Dimana toserba memiliki pegawai lengkap secara jumlah dan sifat. Yeah. Dari awal memang seharusnya toserba itu memiliki 3 orang pegawai agar pekerjaan tidak berantakan. Sekarang jumlahnya sudah lengkap, di tambah sifat mereka cukup berbeda. Cintya si cerewet, Jerome si tenang dan Lew si dingin. Sangat lengkap, bukan?


"Aku--Jerome. Panggil saja Rom!" seru Jerome mengulurkan tangan ke arah Lew.


Sesaat Lew terdiam menatap uluran tangan Jerome. Tetapi, kemudian ia membalasnya.


"Lew," singkatnya yang menarik kembali tangannya.


"Berapa umurmu? Sepertinya kita seumuran," Jerome lanjut bertanya tanpa mempermasalahkan jawaban Lew yang singkat.


"Umurku..." Lew tampak bingung harus menjawab apa. Ia sendiri tidak ingat umurnya berapa.

__ADS_1


Cintya mengerti kebingungan laki-laki itu. Bossnya sudah memberitahukan bahwa Lew mengalami amnesia total. Dimana ia tidak mengingat apapun tentang dirinya atau kehidupannya selama ini.


"Umurnya 23 tahun. Sudahlah, Rom! Jangan banyak bertanya! Kau seperti wartawan saja," timpal Cintya ingin menyudahi pertanyaan Jerome pada Lew. Ini di karenakan ia belum memberitahu soal Lew yang hilang ingatan.


Jerome berdecak pelan. "Ck. Aku baru bertanya! Bagaimana bisa kau menyebutku seperti wartawan? Bukankah sebaliknya?"


"Apa maksudmu?" sorot mata Cintya horor dan tajam seperti ingin menusuk laki-laki itu.


"Kau pasti mengerti maksudku. Dan lagi... Berhent menatapku seperti itu! Rasanya seperti aku baru bertemu hantu saja," cetus Jerome tanpa rasa takut.


Terkadang ada saatnya Jerome menjahili Cintya seperti sekarang. Kalau tidak begitu, pertemanan mereka mungkin akan membosankan.


"Yah. Aku hantu berwajah cantik!" seru Cintya menyombongkan diri di tengah kekesalannya.


"Kendalikan percaya dirimu yang berlebihan itu, Cintya! Jangan sampai orang lain mendengarnya dan menertawakanmu," tegur Jerome bernada meledek.


Plakk...


Sebuah pukulan keras melayang ke lengan Jerome. Pelakunya tentu saja Cintya yang kesal terhadap laki-laki itu.


"Kau pantas menerimanya. Ayo kita bekerja, Lew! Rom lagi kumat penyakit menyebalkannya," Cintya menatap Lew yang sedari tadi diam memperhatikan mereka.


Lew mengernyitkan dahinya. Tidak mengerti maksud dari kalimat terakhir yang Cintya ucapkan. Namun ia juga tidak tertarik untuk tahu dan memilih menyetujui ajakan perempuan itu.


"Iya baiklah," sahutnya.


Cintya dan Lew segera berjalan pergi ke sudut lain toserba.


"Hei! Aku bisa melaporkanmu atas tuduhan KDRT karena telah memukulku!" teriak Jerome dari arah belakang.


Sontak langkah Cintya terhenti dan berbalik badan. Tangannya berkacak pinggang. "Laporan itu hanya untuk yang sudah menikah. Berbeda kasusnya dengan kita yang tidak menikah. Jadi kau tidak bisa melaporkanku,"

__ADS_1


"Tetap saja kau harus bertanggung jawab. Pukulanmu sangat keras," seloroh Jerome.


"Ck. Itu deritamu! Aku tidak peduli!" Cintya menjawab dengan ketus. Sebelum lanjut berjalan bersama Lew.


Sepeninggal Cintya dan Lew yang mulai lanjut bekerja, Jerome menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh. Kemudian baru melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti.


***


Di hari pertama bekerja, Lew tidak merasa kesulitan. Ia mudah mengerti dengan apa yang Cintya atau Jerome jelaskan. Selain itu, ia juga bisa mengerti sifat dari kedua teman barunya. Yeah teman di lingkungan kerja. Mereka memiliki sifat berbanding  balik tapi selalu kompak dalam membuat keputusan bersama. Seru.


"Sampai jumpa besok, Lew!" seru Cintya melambaikan tangan ke arah laki-laki itu.


Lew menganggukkan kepala. Cintya pun bergegas berjalan menuju arah pulang. Rumahnya berada tidak jauh dari Toserba, oleh karena itu ia berjalan saat berangkat dan pulang kerja.


"Rumahmu dimana, Lew?" tanya Jerome yang baru saja menutup toserba.


"Dekat dari sini," jawab Lew tidak menyebutkan letak tempat tinggalnya secara jelas.


"Oh baiklah. Aku pulang duluan, ya!" pamit Jerome.


Lew menganggukkan kepalanya. Lantas Jerome pun pergi menggunakan motor sederhana miliknya. Laki-laki itu membelinya dengan hasil menabung. Meski tidak keren atau mewah, setidaknya bisa di gunakan untuk pergi kemana pun. Tidak berselang lama setelah kepergian Jerome, sebuah taksi online berhenti di hadapan Lew. Taksi itu di pesan olehnya. Lew langsung masuk dan sopir segera melajukan taksi itu menuju alamat yang telah di sebutkan.


Tepat jam setengah 10 malam, Lew sudah sampai di rumah Sorn. Lampu di dalam rumah tampak masih menyala. Mungkin Sorn belum tidur, pikirnya. Dan ternyata benar--Gadis itu tengah duduk di sofa ruang tamu sembari fokus mengetik sesuatu di laptopnya. Fokusnya baru teralihkan saat Lew berjalan mendekat.


"Bagaimana pekerjaanmu? Apa semuanya berjalan lancar?" tanya Sorn penasaran.


"Iya lancar," jawab Lew singkat tersenyum tipis.


"Bagus. Sekarang bersihkan tubuhmu dulu dan makan malam setelahnya. Aku tahu kau belum makan, kan? Jadi tadi aku sempat membuatkan makan malam setelah pulang bekerja," ucapnya ikut tersenyum.


"Terima kasih. Maaf merepotkan," ungkap Lew, di balas anggukan kepala Sorn.

__ADS_1


"Tidak masalah. Pergilah!"


Kemudian Lew langsung pergi ke kamarnya. Ia membersihkan dirinya, usai bekerja seharian penuh. Baru setelahnya ia keluar kamar dan pergi ke dapur. Di sana sudah terdapat makan malam yang tadi Sorn siapkan. Tanpa menunda waktu lagi, dirinya mulai makan dengan lahap.


__ADS_2