Perpect Love

Perpect Love
Eps 29. Membawa Pergi


__ADS_3

"Memang benar hubungan kita sudah berakhir sejak lama. Sekarang aku ingin membangun hubungan yang baru denganmu. Hubungan yang akan mengikat kita selamanya," sahut Charles tenang dan tidak terdengar emosi sedikit pun.


"Aku tidak mau. Sekalipun itu hanya dalam mimpi!" sergah Sorn menatap tajam laki-laki itu.


Charles hanya tersenyum tipis. Semakin Sorn menatapnya dengan tajam, ia justru menyukainya. Tatapan Sorn begitu menghipnotis.


"Kamu boleh mengatakan apapun tapi makanlah dulu! Bukankah bicara juga perlu tenaga?"


"Apa pedulimu, heh!?" Sorn mendengus kesal.


"Tentu aku peduli," sahut Charles seraya ingin menyentuh wajah Sorn. Gadis itu langsung menepisnya dengan kasar.


"Jika kau peduli—Maka antar aku pulang sekarang!"


Laki-laki itu terdiam sesaat, sebelum beranjak berdiri. "Makanlah! Aku pergi dulu,"


"Charles—Kau harus mengantarku pulang atau biarkan aku pergi dari sini!" Sorn makin meninggikan nada bicaranya.


Tetapi tidak peduli seberapa keras dan tinggi Sorn berucap, Charles tampak tak peduli. Laki-laki itu melangkah pergi dengan cepat menuju pintu. Melihat hal itu, tentunya Lew juga bergegas kembali bersembunyi. Charles keluar dari kamar dan tidak lupa pula mengunci pintu. Baru setelah itu ia berjalan pergi entah kemana.


"Sekarang aku harus cari cara untuk membuka pintu itu," gumam Lew pelan.


Lew melihat-lihat ke arah sekitar. Siapa tahu ada benda yang bisa di gunakannya untuk membuka pintu kamar. Namun tidak ada yang bisa ia gunakan. Sampai terbesit sebuah ide atau mungkin satu-satunya cara untuk membuka pintu itu.


"Tidak ada cara lain lagi. Sepertinya aku memang harus mendobraknya,"


Tanpa membuang waktu lagi, Lew mulai bersiap untuk mendobrak pintu itu. Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar, sebelum akhirnya mendobrak pintu itu dalam satu kali gerakan.


Brakkk!


Pintu kamar berhasil di buka. Kejadian itu tidak lepas dari rasa keterkejutan Sorn. Keterkejutannya makin bertambah saat melihat siapa orang yang baru saja mendobrak pintu.


"Lew!?" pekiknya tidak percaya. Bahkan ia menutup mulutnya yang sempat terbuka.


"Pelankan suaramu! Dia bisa mendengar nanti," ucap Lew mengingatkan seraya berjalan mendekati Sorn.

__ADS_1


Gadis itu spontan mengangguk patuh, usai mengingat bagaimana situasi di sana. "Maaf—Bagaimana bisa kau tahu aku di sini?"


"Nanti ku ceritakan. Sekarang kita harus segera pergi dari sini!"


"Ah benar—Ayo pergi!" Sorn sempat tersentak, sebelum beranjak berdiri.


Hal yang tak terduga terjadi. Dimana Lew tiba-tiba menggenggam tangannya. Tindakan laki-laki itu kembali mengejutkan Sorn. Kedua matanya mengerjap beberapa kali.


"Jangan lepaskan tanganku! Kau harus tetap berada di dekatku. Ini jauh lebih aman,"


"Ba—Baik," sahut Sorn tergagap.


Lew bergegas membawa pergi Sorn dari kamar itu dengan langkah hati-hati. Pergerakan mereka tidak boleh sampai di dengar, maupun di lihat oleh Charles yang entah berada dimana sekarang. Jika itu terjadi—Mungkin Lew harus terlibat pertarungan dengan mantan Sorn tersebut. Entah itu pertarungan secara one by one atau main keroyokan.


"Kenapa rumah ini sangat besar? Kita bahkan belum berhasil mencapai pintunya," lirih Sorn di sela berjalan bersama Lew.


"Tenanglah! Sebentar lagi kita akan keluar," ucap Lew pelan tapi terdengar jelas di telinga Sorn.


Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya. Ia percaya dengan ucapan Lew. Sekarang dirinya hanya perlu mengikuti apa yang Lew ucapkan. Berjalan cepat dan hati-hati dalam melangkah. Sayangnya, pergerakkan mereka tanpa sengaja di lihat Charles.


Sontak langkah Lew dan Sorn terhenti. Mereka berdua menatap ke arah asal suara. Dimana tampak rahang Charles mengeras, begitu pula raut wajahnya yang merah padam. Dapat di pastikan laki-laki sangat marah. Sorn mengeratkan genggamannya pada Lew.


"Biarkan aku pergi, Charles! Aku tidak ingin ada di sini bersamamu," ucap Sorn lebih dulu.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi, sayang! Kamu harus tetap di sini," erang Charles sembari berjalan mendekati mereka berdua.


"Dan kau—Cepat lepaskan tangannya! Sebelum ku patahkan tanganmu itu," sambungnya menatap Lew dengan tajam.


Bukannya melepas, Lew justru semakin menggenggam erat tangan Sorn. Lalu menatap datar laki-laki itu. "Dia bilang tidak mau. Kenapa harus di paksa?"


"Ini bukan urusanmu! Jangan ikut campur dan cepat lepaskan tanganmu dari tangan Sorn!" hardik Charles yang semakin memanas melihat pemandangan tersebut.


"Kau lupa atau memang perlu ku ingatkan? Sekarang Sorn adalah kekasihku. Jadi apapun yang menyangkut soal dirinya, berarti juga menjadi urusanku. Termasuk masalahnya denganmu," cetus Lew santai tapi terdengar begitu menohok di telinga Charles.


"Kekasih apanya, hah!? Sorn itu milikku. Kau tidak bisa merebutnya dariku,"

__ADS_1


"Aku bukan milikmu! Kau harus tahu itu, Charles!" seru Sorn mempertegas.


Lew tersenyum sinis ke arah Charles. "Bagaimana? Apa masih kurang jelas?"


"Tidak. Kamu adalah milikku, sayang! Hanya milikku!" tampik Charles tidak terima. Bahkan ia dengan kasar menarik tangan Sorn yang lain.


"Lepaskan! Kau menyakitiku," Sorn menjerit sembari berusaha memberontak. Namun Charles justru tidak peduli.


"Apa kau tuli? Dia bilang lepaskan, berarti lepaskan!" seru Lew yang kemudian melepas paksa tarikan Charles pada tangan Sorn.


"Sialan!" umpat Charles semakin marah.


Laki-laki itu langsung melayangkan pukulan ke arah Lew. Beruntung Lew cepat menghindar, sehinga pukulan itu tidak berhasil mengenai wajahnya. Namun tidak di ungkiri kalau Sorn di buat terkejut, sekaligus degdegan.


"Ingin berkelahi? Boleh saja. Aku pikir cara ini akan membuatmu sadar," Lew berucap tanpa keraguan sedikit pun.


Charles menunjuk tajam Lew. Dari raut wajahnya tidak hanya ada kemarahan, melainkan ada juga perasaan merendahkan. "Berani menantangku? Baiklah. Kita lihat siapa yang nantinya akan sadar, kau atau aku!?"


"Lew—Jangan berkelahi dengannya! Kita pergi saja," cegah Sorn yang tentu tidak akan membiarkan Lew terlibat pertarungan dengan Charles.


Gadis itu khawatir Lew terluka. Apalagi mengingat betapa brutalnya Charles bila sudah emosi. Dimana laki-laki itu akan sulit untuk di hentikan dan akan terus menyerang sampai berhasil melukai orang yang menjadi lawannya. Dan Sorn tidak ingin hal itu terjadi pada Lew. Keadaannya jauh lebih penting, daripada berkelahi dengan Charles.


"Kamu mengajaknya pergi? Apa karena kamu takut dia akan kalah dariku, sayang?" Charles menyindir Lew secara tidak langsung.


"Jangan dengarkan dia! Ayo kita pergi sekarang!" ajak Sorn sekali lagi tanpa menghiraukan pertanyaan Charles yang terdengar menyindir Lew.


Sorn menarik Lew untuk pergi dari sana, tetapi laki-laki itu tidak bergerak sama sekali.


"Tidak untuk hari ini. Sesekali dia harus di beri pelajaran agar sadar dan berhenti mengejar mu," ucapnya.


“Heh kau terlalu percaya diri," Charles mendecih pelan.


"Tapi—" Sorn hendak memprotes, Lew justru menyelanya lebih dulu.


"Tenang saja. Aku bisa melakukannya!"

__ADS_1


Lew menatap sekilas Sorn dengan intens dan dalam. Seolah ada sihir dari tatapannya, Sorn tanpa sadar menganggukkan kepala. Lew melepaskan genggaman tangannya dan sempat menepuk pelan punggung tangan Sorn.


__ADS_2