
Sorn tidak sadarkan diri cukup lama akibat efek dari obat bius tadi. Hingga akhirnya ia mulai tersadar dan mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Ughhh. Dimana ini?" gumamnya sembari menyentuh kepalanya yang sedikit pusing.
Perlu waktu beberapa menit untuk Sorn mengumpulkan kesadarannya. Perlahan penglihatannya tampak jelas, tidak seburam awal. Alisnya saling bertautan saat melihat ke arah sekitar ruangan yang terasa begitu asing. Sontak kepalanya mulai mengingat kembali kejadian saat dirinya berdiri menunggu taksi online tadi.
"Siapa yang membawaku ke sini? Ini--" ucapan Sorn terhenti ketika pintu kamar terbuka.
Tampak seorang laki-laki berperawakan cukup tinggi berdiri tepat di pintu kamar. Senyumannya mengembang sempurna. Jika itu orang lain, mungkin mereka akan merasa terpesona dengan senyumannya itu. Namun Sorn justru terkejut dan merasa tidak suka melihatnya.
"Kau--Apa kau yang membawaku ke sini!?" Sorn tersentak saat mengenali siapa laki-laki itu.
"Tentu saja, sayang. Kamu suka kamar ini? Aku merancangnya sendiri untukmu," sahut laki-laki itu sembari berjalan menghampiri Sorn yang sedang setengah duduk di ranjang.
Sorn bergerak mundur ke belakang sampai punggungnya menyentuh bagian atas ranjang yang menyatu dengan dinding kamar. "Tidak. Aku tidak suka! Aku ingin pulang!"
"Hei, kenapa terburu-buru? Kita bahkan belum berbicara lama. Apa kamu tidak ingin duduk dan berbicara berdua lagi denganku, sayang? Aku sangat rindu melakukannya," laki-laki semakin mendekat ke arah Sorn.
"Charles--Aku ingin pulang! Cepat antarkan aku pulang dan aku akan melupakan kejadian malam ini!" seru Sorn terdengar memelas.
Laki-laki itu tersenyum manis. Ia senang namanya di sebut oleh gadis yang telah menjadi mantan kekasihnya tapi sekarang kembali di inginkannya. Entah itu karena benar cinta atau pun sekedar obsesi semata. Charles tidak peduli sama sekali. Di pikirannya hanya ada satu tujuan, yaitu mendapatkan Sorn kembali.
"Baiklah. Aku antarkan nanti. Sekarang kita duduk dan berbicara berdua dulu. Mungkin kamu akan mengingat semua kenangan indah yang kita buat bersama," ucap Charles--Tanpa di duga ia menyentuh wajah Sorn.
__ADS_1
Sorn langsung menepis tangan laki-laki itu. "Jauhkan tanganmu, Charles! Aku tidak ingin ada di sini. Antarkan aku pulang sekarang!"
"Sekarang kamu lebih galak, ya? Hmmm tapi aku semakin suka sama kamu. Bagaimana kalau kita menikah secepatnya? Supaya kamu benar-benar menjadi milikku," Charles tersenyum manis. Tetapi, Sorn justru tampak bergidik ngeri melihatnya.
"Kamu gila, ya!? Aku tidak mau menikah denganmu!" bentak Sorn dengan raut wajah merah padam.
Charles terkekeh pelan. Laki-laki itu tidak tersinggung sama sekali akan ucapan Sorn. "Ya, aku memang gila karenamu. Dan kamu harus mau menikah denganku. Ini adalah keputusanku,"
"Berhenti bersikap seperti ini, Charles! Kau tidak bisa memaksaku!" seru Sorn bernada tinggi. Sekarang emosinya hampir tidak terkontrol.
"Tenanglah, sayang. Cepat atau lambat kau harus menerima keputusanku ini. Demi kebaikan kita berdua," Charles masih bersikeras akan keputusannya yang lebih mengarah pada keinginan atau obsesinya. Tanpa memedulikan penolakan yang Sorn berikan.
"Bukan demi kebaikan kita tapi obsesimu sendiri. Kau sadar itu, Charles!? Obsesimu itu hanya akan menghancurkanmu. Berhentilah sekarang, sebelum semuanya terlambat! Jangan memaksakan aku untuk kembali, apalagi menikah denganmu. Itu tidak akan mungkin terjadi. Hubungan kita sudah berakhir sejak kau menghancurkannya. Jadi tolong mengertilah! Berhenti mengejarku! Ku mohon!" pinta Sorn berusaha membuat Charles mengerti. Sayangnya, laki-laki itu sudah di butakan akan obsesi dalam dirinya.
"Ini bukan cinta, Charles! Bukan! Ini hanya obsesimu padaku," Sorn menggelengkan kepalanya. Laki-laki itu harus mengerti mana cinta, mana obsesi.
"Tidak. Ini cintaku padamu! Dan kamu harus kembali padaku, sayang. Aku pastikan kesalahanku yang dulu tidak terulang lagi. Beri aku kesempatan untuk membuktikannya!" kini Charles menatap intens pada Sorn. Sorot matanya benar-benar penuh harap. Mungkin benar ia terobsesi tapi harapannya untuk Sorn kembali padanya, bukan palsu ataupun bohong. Ia sangat serius.
Terdengar hembusan nafas kasar keluar dari mulut Sorn. Gadis itu berusaha menetralkan emosi yang tengah meluap di hatinya. Dirinya harus tenang agar bisa memberi pengertian pada Charles.
"Kesempatanmu untuk itu sudah habis, Charles. Sekarang kau harus berhenti mengejarku! Aku sudah tidak mempunyai rasa apapun padamu. Terlebih lagi perasaanmu itu hanya obsesi semata. Oke, baiklah kalau kau mengatakan cinta padaku tapi bisakah jelaskan kenapa kau melakukan semua ini? Jika kau benar cinta padaku, seharusnya biarkan aku menjalani hidupku sendiri, begitu pula denganmu. Kehidupan kita sudah berbeda dan tidak akan bisa sama lagi. Coba mengertilah!" ucap Sorn panjang lebar dengan nada rendah tapi cukup penuh penekanan.
Bukannya mengerti, Charles justru memberinya tatapan tajam. "Kau mengatakan semua ini pasti karena laki-laki itu, kan!?"
__ADS_1
"Astaga. Kau salah paham, Charles! Aku mengatakannya bukan karenanya tapi inilah kenyatannya," Sorn menghela nafas. Bagaimana bisa laki-laki itu melibatkan Lew dalam urusan mereka berdua.
"Kenyataan apa? Laki-laki itu pasti sudah memengaruhimu!" seru Charles keras akan pikirannya yang tertuju pada Lew. Ia pikir Lew adalah orang yang membuat Sorn menolaknya.
Sorn sangat tidak habis pikir dengan pemikiran Charles. Masalah mereka berdua tidak ada sangkut pautnya dengan Lew. Namun sepertinya laki-laki itu memang tidak bisa mengerti.
"Dia tidak memengaruhiku! Aku mengatakan semua ini berdasarkan kenyataan. Kau harus mengerti, Charles! Berhentilah mengejarku! Jalani hidupmu tanpa mengganggu hidupku lagi. Kita tidak bisa bersama kembali,"
"Kenapa tidak bisa? Apa karena laki-laki itu!?" tanya Charles dengan rahang mengeras.
"Jika benar karena dia, memangnya kenapa? Dia adalah kekasihku," jawab Sorn tanpa ragu.
Tangan Charles spontan mengepal kuat. Sorot matanya tajam, bersamaan raut wajahnya memerah. Laki-laki itu tidak terima akan jawaban yang Sorn berikan.
"Aku akan membunuhnya! Kau hanya milikku dan akan selalu begitu. Lihat saja nanti!" Charles beranjak berdiri dari ranjang.
"Jangan berani menyentuhnya atau aku tidak akan pernah memaafkanmu!" seru Sorn mengancam mantan kekasihnya itu.
Mana mungkin ia membiarkan Lew terluka hanya karena sandiwara yang mereka lakukan dan berujung pada keterlibatan di antara hubungannya dengan Charles. Tetapi laki-laki itu tidak menghiraukan ancamannya. Dengan langkah cepat, Charles berjalan pergi dari kamar itu. Sorn berusaha mengejarnya secepat mungkin tapi langkahnya kalah cepat. Terlebih lagi Charles langsung menutup, serta mengunci pintu kamar dari luar. Laki-laki itu tidak ingin Sorn melarikan diri sampai keinginannya tercapai.
"Charles--Cepat buka pintu! Aku ingin pulang! Charless!" teriak Sorn sembari berusaha membuka pintu kamar. Meski usahanya itu hanya berujung sia-sia.
"Lepaskan aku, Charles! Tindakanmu ini salah! Sangat salah!" sambungnya.
__ADS_1
Pintu kamar sulit untuk Sorn buka sebab terkunci dari luar. Tidak ada benda yang bisa di gunakan untuk membuka pintu itu. Sorn tidak berputus asa dan berusaha mencari jalan keluar. Ia harus keluar dari sana, bagaimana pun caranya.