
Anak laki-laki itu mulai melakukan pelacakan pada nomor plat mobil yang terlihat di rekaman. Hanya butuh waktu sekitar 5 menit sampai ia berhasil melacaknya. Ia menyunggingkan senyuman usai mendapatkan posisi mobil itu sekarang.
"Aku mendapatkannya!"
"Benarkah?" tanya Lew begitu antusias.
"Ya benar. Posisi mobil itu berada tidak jauh dari sana. Lihatlah!" anak laki-laki itu menunjukkan hasil pekerjaannya yang tampak jelas di layar laptop.
Lew langsung menatap lekat layar laptop tersebut. Di sana ia bisa melihat dimana posisi mobil itu sekarang. Sesaat kelegaan ia rasakan.
"Terima kasih. Bisakah kau kirimkan lokasinya ke ponselku? Supaya aku lebih mudah untuk menemukannya,"
Anak laki-laki itu menganggukkan kepalanya. "Mana ponsel kakak!?"
"Ini," sahut Lew yang segera memberikan ponselnya pada anak laki-laki itu.
Dalam hitungan beberapa menit, anak laki-laki itu sibuk melakukan sesuatu di laptop dan ponsel Lew. Hingga gerakan jarinya terhenti, usai memastikan hal yang di lakukannya selesai.
"Coba lihatlah, kak! Aku sudah mengirimkannya,"
Anak laki-laki itu mengembalikan kembali ponsel milik Lew. Sehingga empunya bisa melihat kiriman titik lokasi mobil itu yang akan mempermudahnya untuk sampai ke sana.
"Sekali lagi terima kasih! Bantuanmu dan juga nyonya sangat berharga untukku," ungkap Lew sembari menatap bergantian anak laki-laki itu dan perempuan paruh baya tadi.
"Sama-sama. Semoga sepupumu dapat di temukan," ucap perempuan paruh baya yang tengah berdiri di hadapannya.
"Iya, semoga saja. Kalau begitu aku pamit, nyonya! Maaf mengganggu waktu Anda!" Lew beranjak berdiri dan kemudian membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Hati-hati di jalan!"
__ADS_1
Lew hanya tersenyum tipis pada perempuan paruh baya itu. Sebelum kakinya melangkah pergi keluar dari sana dan kembali menaiki motor sport tadi. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera melajukan motor sport yang di kendarainya menuju ke lokasi dimana terdapat mobil penculik Sorn.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan bantuan ponsel, Lew tidak kesulitan untuk menemukan lokasi mobil penculik Sorn. Ia sudah bisa melihat keberadaan mobil itu dari kejauhan. Perlahan laju motornya mulai melamban dan berhenti tidak jauh dari posisi mobil itu. Lew turun dari motor, usai memastikan tidak ada satu pun orang di sekitar sana.
"Baiklah. Sepertinya penculik itu tidak menyediakan penjagaan ketat di luar sini. Tetapi, apapun bisa terjadi dan aku tetah harus berhati-hati. Jangan sampai membuat Sorn dalam bahaya!" gumamnya pelan.
Sekali lagi Lew mengamati keadaan sekitar. Di rasa aman, ia mulai berjalan mendekati rumah yang di depannya terparkir mobil penculik Sorn. Lew yakin bahwa Sorn ada di dalam rumah itu. Akan tetapi, setiap langkahnya tetap penuh perhitungan. Sedikit saja melakukan kesalahan, mungkin itu bisa membuatnya gagal menemukan Sorn dan menyelamatkannya. Tentu saja ia menghindari hal itu terjadi. Meskipun keadaan rumah itu tampak sepi, Lew tidak begitu yakin bahwa tidak ada satu pun orang di dalam sana yang berjaga.
"Cepat antarkan makanan ke sini! Kekasihku perlu makan sekarang," suara seseorang berhasil menghentikan langkah Lew yang sedang mengendap-endap masuk ke dalam rumah itu.
Sontak ia langsung mencari asal suara yang ternyata berasal dari sebuah ruangan. Lew membuka sedikit pintu ruangan itu dan mengintip ke dalam. Ada seseorang yang tengah berdiri memunggunginya sembari menerima telepon.
`Dari perawakannya—Dia memang yang menculik Sorn. Berarti Sorn benar-benar ada di rumah ini. Aku harus segera menemukannya,` batin Lew
Lew kembali menutup pintu ruangan itu dengan perlahan. Kemudian bergegas pergi mencari keberadaan Sorn. Setiap ruangan di datanginya tapi belum juga menemukan keberadaan gadis itu. Tidak berputus asa, ia semakin mempercepat pergerakannya. Tinggal satu ruangan lagi yang belum di datanginya—Sebuah ruangan kamar tidur utama di rumah itu. Baru saja ingin membuka pintu kamar itu, terdengar suara langkah kaki mendekat. Lew yakin itu adalah suara langkah kaki orang tadi. Sehingga ia harus bersembunyi terlebih dahulu di balik pot besar agar tidak ketahuan.
"Ternyata dia," gumam Lew, usai mengenali wajah orang tadi.
Lalu perlahan berjalan mendekat ke arah pintu. Terdapat celah di sana, dimana ia bisa mengintip ke dalam.
"Bangunlah, sayang! Aku tahu kamu belum makan karena sibuk bekerja. Ini aku bawakan makanan untukmu," seru orang tadi yang tidak lain adalah Charles.
Tangannya tampak menyentuh wajah Sorn yang tengah tertidur. Sentuhan itu tentu membuat sang gadis merasa terganggu. Perlahan matanya mengerjap dengan enggan. Sebelum akhirnya melihat wajah Charles yang begitu menyebalkan.
Sontak Sorn bangun dan menepis tangan laki-laki itu. "Jangan pernah menyentuhku!"
Lew yang mendengar itu, pastinya sangat kenal. Apalagi kini ia bisa melihat wajah Sorn meski sedikit terhalangi tubuh Charles.
__ADS_1
"Baiklah. Aku tidak menyentuhmu lagi. Sekarang makanlah, sayang! Aku sudah membawakan makanan untukmu," Charles tampak menjauhkan tangannya dari wajah Sorn dan menunjukkan ke arah nakas—Di sana terdapat makanan dan air minum yang tadi di bawanya. Laki-laki itu tidak ingin membuat sang gadis semakin marah padanya.
"Aku tidak ingin makan. Bawa saja pergi!" tolak Sorn bernada ketus.
"Kamu harus makan, sayang! Aku tidak mau kamu jatuh sakit nanti," ucap Charles tak menghiraukan penolakan yang Sorn berikan.
Sorn mendelik tidak senang. "Aku tidak ingin makan. Apa kau tuli heh!?"
"Kalau begitu, apa yang kamu inginkan?? Biar aku belikan untukmu," Charles bertanya dengan lembut.
"Aku ingin pulang!"
"Iya nanti kita pulang tapi bukan sekarang," sahut Charles begitu tenang.
"Tidak. Aku ingin pulang sekarang, Charles! Sekarang!" bentak Sorn.
Kesabarannya sudah habis karena laki-laki itu tidak pernah mau mengerti ucapannya. Obsesi Charles begitu besar sampai menutup mata dan juga telinganya. Oleh sebab itu, Sorn merasa sia-sia jika harus berucap panjang lebar untuk membuatnya mengerti.
"Kenapa kamu terburu-buru ingin pulang? Apa rumah ini membuatnya kurang nyaman?" tanya Charles tanpa peduli keinginan Sorn.
"Bukan rumah ini tapi kau—Charles!" jawab Sorn meninggikan nada bicaranya sembari menunjuk tajam ke arah laki-laki itu.
"Aku?" ulangnya tanpa dosa.
"Ya, kau! Seharusnya kau tidak membawaku ke sini. Tindakanmu ini membuatku sangat tidak nyaman. Arghhh—Kau terlalu gila, Charles!" seru Sorn terdengar sedikit frustasi. Bagaimana tidak frustasi? Kalau menghadapi laki-laki seperti Charles.
Bukannya tersinggung, Charles justru terkekeh mendengarnya. "Yeah. Aku sudah mengatakannya tadi. Aku memang gila. Bahkan sangat gila karena dirimu, sayang. Tetapi kamu tidak mau mengerti,"
"Kau yang tidak mau mengerti, bahwa aku tidak bisa lagi kembali padamu. Hubungan kita sudah berakhir sejak lama. Kau dengar itu, hah!?"
__ADS_1
Pembicaraan antara Sorn dan Charles tidak lepas dari pendengaran Lew. Laki-laki itu tetap tenang mendengarkan di balik pintu. Rasanya ia tidak bisa muncul sekarang. Sorn dan Charles memang perlu waktu berdua untuk menyelesaikan urusan mereka.