Perpect Love

Perpect Love
Eps 27. Kau Ada Dimana?


__ADS_3

"Ponselku—Dimana ponselku?" Sorn mencari-cari ponselnya tapi tidak di temukan dimana pun. Kemungkinan besar ponselnya terjatuh di depan cafe tadi atau di ambil oleh Charles.


"Arghhh. aku harus bagaimana sekarang!?" umpatnya kasar.


Meski mulai merasa putus asa karena harapan untuknya berhasil keluar dari kamar itu sangat kecil. Apalagi jendela yang ada di kamar itu tidak bisa di bukanya. Charles sepertinya sengaja menutup semua akses yang bisa di gunakannya untuk kabur. Ternyata laki-laki itu sudah penuh persiapan, pikirnya. Namun Sorn tidak ingin menyerah begitu saja. Ia harus bisa keluar dari kamar itu dan pulang ke rumah.


"Ayolah, Sorn! Tenang. Pikirkan dengan tenang cara untuk berhasil keluar sini," ucap Sorn berusaha menenangkan pikiran, serta dirinya.


Sorn mendudukkan dirinya kembali ke pinggiran ranjang. Kedua matanya fokus menatap sekitar kamar, sembari mencari cara dan celah agar bisa keluar. Tanpa terasa 1 jam berlalu tapi ia belum menemukan cara, maupun celah di sana. Sekarang matanya mulai mengantuk. Hingga tanpa sadar ia berbaring, lalu matanya terpejam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di rumah Sorn, Lew belum juga tidur. Ia masih menunggu gadis itu pulang. Padahal malam sudah sangat larut dan matanya juga sedikit mengantuk. Tetapi, ia terbiasa tidur setelah melihat Sorn pulang. Di tambah perasaannya begitu tidak nyaman. Lew merasa khawatir akan keadaan gadis itu yang tidak pernah terlambat pulang seperti malam ini.


"Kenapa dia belum pulang juga? Malam sudah sangat larut? Seingatku dia pernah mengatakan kalau cafenya tutup jam 10 malam. Sekarang sudah jam 1 malam. Mungkinkan dia lembur? Biasanya dia akan mengkabariku lebih dulu. Ponselnya juga tidak aktif. Hmmm sepertinya ada yang tidak beres," ucap Lew yang sedari tadi duduk dengan tidak tenang. Kedua matanya tidak lepas dari layar ponselnya, berharap ada panggilan balik atau setidaknya pesan dari Sorn.


Perasaannya yang semakin tidak nyaman itu, akhirnya membuat Lew memutuskan untuk segera pergi mencari Sorn. Lew pergi menggunakan motor sport yang di pinjam dari tetangga sebelah. Tidak sulit untuknya melakukan itu. Dengan insting yang ia miliki, Lew mulai mengendarai motor sport itu. Entah kenapa Lew merasa begitu mahir mengendarainya, padahal ini baru pertama kalinya. Itu pun di dorong perasaan khawatir pada Sorn. Jika tidak—Mana mungkin ia berani mengendarai motor sport, di tengah malam pula. Rasanya hal itu terlalu berani untuk seorang pemula sepertinya.


Lew mengendarai motor sport itu dengan kecepatan sedang. Meski merasa sudah begitu mahir, tetap saja harus hati-hati. Jangan sampai dirinya terjatuh atau menabrak orang, bisa panjang urusannya. Terlebih lagi tujuannya mencari Sorn bisa batal kalau hal itu sampai terjadi. Sehingga ia harus berhati-hati dalam berkendara. Keadaan jalanan tampak tidak begitu ramai lagi dan Lew bisa mengendarai motor sport itu dengan lebih leluasa. Butuh waktu sekitar 15 menit untuknya sampai di cafe tempat Sorn bekerja. Ia tahu alamatnya dari mulut gadis itu sendiri dulu dan tidak sulit menemukannya karena di bantu aplikasi petunjuk arah.


"Benar ini tempatnya tapi terlihat ada siapapun lagi dalam. Berarti memang tutup tepat waktu. Lalu dimana Sorn?" Lew berucap sembari turun dari motor sport itu.


Keadaan tempat kerja Sorn gelap. Menandakan bahwa memang sudah tutup. Lew merasa bingung sekarang. Tidak terlihat tanda-tanda keberadaan Sorn di sana ataupun sekitarnya. Tetapi, ia tetap mencoba melihat lebih dekat ke dalam cafe. Siapa tahu Sorn masih di dalam, pikirnya. Baru beberapa langkah berjalan, kakinya terasa seperti menginjak sesuatu. Sontak ia melihat ke arah bawah dan melihat sebuah ponsel yang sedang di injaknya.


"Ponsel?"


Lew segera mengambil ponsel itu, lalu memeriksanya. Tampak alisnya saling bertautan saat mengenali ponsel siapa itu.

__ADS_1


"Ponsel Sorn? Ini benar punya Sorn. Kenapa bisa ada di sini?" sambungnya.


Makin besar rasa kekhawatiran di hati Lew. Laki-laki itu bergegas memeriksa cafe tapi memang tidak ada siapapun lagi sana. Tidak cukup sampai di situ saja, ia juga bertanya pada orang sekitar soal Sorn. Sayangnya, tidak ada satu pun orang yang melihatnya.


"Sebenarnya dia kemana? Bagaimana bisa ponselnya terjatuh di sini? Pasti ada sesuatu yang sudah terjadi. Sekarang aku harus mencarinya kemana?" ucap Lew merasa kebingungan dan khawatir, meski raut wajahnya tidak tampak jelas .


"Sorn—Kau ada dimana?" lirihnya pelan.


Di tengah kebingungan yang bercampur aduk dengan kekhawatirannya, tanpa sengaja kedua matanya menangkap sebuah CCTV di dekat cafe. Spontan kebingungan Lew terpecahkan. Ia pun langsung pergi menemui orang yang memiliki kendali atas CCTV itu.


Ting Tong... Ting Tong...


Beberapa kali Lew menekan bel rumah yang terpasang CCTV itu. Tidak berapa lama pintu rumah terbuka dan memperlihatkan seorang perempuan paruh baya.


"Kenapa datang tengah malam begini? Apa ada yang ingin kamu perlukan?" tanya perempuan paruh baya itu bernada rendah.


"Baiklah, tidak apa-apa! Kamu perlu apa?"


"Saya perlu rekaman CCTV rumah Nyonya pada 3 jam yang lalu. Bisakah saya melihatnya?" pinta Lew sedikit memohon.


Perempuan paruh baya itu mengernyitkan dahinya. "Untuk apa rekaman itu?"


"Untuk melihat kemana sepupu saya pergi, Nyonya. Dia belum pulang sampai sekarang. Makanya saya merasa khawatir," Lew menjelaskannya agar perempuan paruh baya itu mengijinkannya.


Sesaat perempuan paruh baya itu terdiam. Dari sorot matanya, ia tampak sedang menelusuri perasaan yang di pancarkan dari tatapan Lew. Namun yang di temukannya di sana tidak lain adalah kejujuran, bukan kebohongan.


"Masuklah! Saya akan menunjukkan rekaman CCTV yang kamu inginkan," seru perempuan paruh baya itu mempersilahkan Lew masuk.

__ADS_1


"Terima kasih, Nyonya!" Lantas Lew langsung masuk mengikuti langkah kaki perempuan paruh baya itu.


Kemudian ia duduk di ruang tamu seraya menunggu perempuan paruh baya itu kembali dengan membawa rekaman CCTV yang di inginkannya. Tidak berselang lama, perempuan paruh baya itu datang menghampirinya bersama seorang anak laki-laki.


"Cepat tunjukkan padanya rekaman CCTV tadi!" titah perempuan paruh baya itu pada anak laki-laki yang datang bersamanya.


"Iya, Ma,"


Anak laki-laki itu segera duduk di dekat Lew dan mulai sibuk melakukan sesuatu pada laptop yang di bawanya. Cukup serius. Hingga gerakan jarinya berhenti usai beberapa menit berlalu.


"Ini rekaman 3 jam lalu, kak!" serunya pada Lew.


Lew pun mendekatkan tubuhnya dengan anak laki-laki itu. Baru ia bisa melihat jelas rekaman yang tengah di putar di layar laptop. Tidak sempat 10 menit berlalu, terlihat rekaman Sorn yang sedang bermain ponsel di depan cafe. Lew serius memperhatikan rekaman itu sampai akhirnya matanya membulat sempurna. Bagaimana tidak? Ia menyaksikan seseorang yang membekap mulut serta hidung Sorn. Dari rekaman itu jelas sekali bahwa Sorn di culik.


"Stop!"


Anak laki-laki itu langsung menghentikan rekaman CCTV itu, tepat pada saat Sorn di bawa masuk ke dalam sebuah mobil hitam. Dimana platnya tampak jelas.


"Apa kakak ingin aku melacak mobil ini?" tanya anak laki-laki itu, seolah bisa mengerti isi pikiran Lew.


"Kau bisa?" tanya balik Lew.


"Tentu saja. Aku bisa melakukannya. Ini hal mudah," jawabnya begitu percaya diri.


"Percayakan saja padanya. Dia bisa melakukannya untuk membantumu," timpal perempuan paruh baya yang tidak lain adalah adalah ibu dari anak laki-laki itu.


"Baiklah. Kalau begitu terima kasih. Aku harus segera menemukan sepupuku,"

__ADS_1


__ADS_2