
Plakkk
Sorn memukul lengan laki-laki itu. Tidak terima dengan sebutan genit untuknya. "Aku tidak genit. Apa salahnya kalau aku ingin berkenalan dengannya? Hei bung, di dunia ini kita tidak hidup sendiri. Ada puluhan, bahkan ratusan juta manusia yang juga hidup bersama kita di dunia ini. Yeah. Setidaknya aku bisa mengenal beberapa dari mereka. Jadi jangan menyebutku genit lagi!"
"Begitukah? Hmmm ya sudahlah," Lew mengelus lengannya yang baru saja di pukul Sorn. Sedikit sakit tapi tidak masalah.
"Sudahlah? Kau setuju untuk mengenalkannya padaku?" tanya Sorn mengerjapkan matanya, penuh harap.
Lew menatapnya sekilas. "Hmmm nanti ku kenalkan,"
"Yeah, kau terbaik!"
Laki-laki itu berdeham ringan, sebelum beranjak pergi sambil membawa piring bekas sarapannya. Ia lebih dulu selesai sarapan dan berniat mencuci piring itu.
"Letakkan saja di sana! Nanti biar aku yang cuci. Bukankah kau harus pergi bekerja sekarang? Jangan sampai datang terlambat!" seru Sorn menghentikan gerakan Lew yang tengah berada di dekat Wastafel.
"Apa tidak masalah? Aku takut merepotkanmu,"
Sorn memutar malas bola matanya. "Tidak masalah. Aku sudah biasa di repotkan. Kau pergi saja!"
"Baiklah. Terima kasih," ungkap Lew mengalah.
"Sama-sama,"
Kemudian Lew bergegas pergi meninggalkan rumah Sorn dengan taksi online yang telah di pesan. Laki-laki hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai di toserba--Tempat kerjanya. Tampak toserba baru saja di buka oleh Cintya seorang diri. Gadis itu begitu bersemangat membuka toserba sembari bernyanyi sebuah lagu.
"Cintya!?" panggil Lew memanggil gadis itu yang sedari tadi belum menyadari kedatangannya.
Merasa namanya di panggil, Cintya berbalik badan. Raut wajahnya terkejut.
"Oh hai, Lew! Selamat pagi. Kapan kau datang? Kenapa aku tidak menyadarinya dari tadi,"
__ADS_1
"Baru saja," sahut laki-laki itu.
Cintya mengangguk-angguk pelan. "Sebentar lagi stok barang baru akan di antarkan. Kau bantu mengangkatnya nanti, ya?"
"Oke. Sekarang apa yang bisa ku bantu?" tanya Lew menawarkan diri.
"Eum... Bantu bersihkan sudut situ, ya! Aku belum membersihkannya," jawab Cintya menujuk sudut toserba yang di maksud.
Lew mengangguk mengerti dan segera melakukan seperti yang Cintya katakan. Mereka berdua mulai bekerja masing-masing. Tidak berselang lama, ada pembeli datang bersamaan dengan kedatangan Jerome. Seperti hari-hari biasanya, toserba ramai akan pembeli. Beruntung ada Lew yang kini ikut membantu melayani pembeli. Hal itu lebih meringankan beban Cintya dan Jerome. Dimana selama ini mereka berdua cukup kewalahan melayani pembeli.
"Fiuhhh akhirnya..." Cintya menghembuskan nafas lega sebab baru saja selesai melayani semua pembeli yang tadi membuat antrian sedikit panjang.
"Nih minum! Aku tahu kau pasti haus," ucap Jerome menyerahkan sebotol air minum dingin yang di ambil dari kulkas toserba kepada gadis itu.
"Heum. Sangat haus,"
Cintya mengambil sebotol air minum itu, lalu langsung meminumnya dengan cepat. Bahkan dalam sekejap mampu menghabiskan air di botol yang berukuran sedang tersebut. Pemandangan itu tidak lepas dari pandangan Lew. Ia menatap aneh gadis itu sebab baru pertama kali melihatnya. Beda hal lagi dengan Jerome yang sudah mengenalnya jauh.
"Biasa saja menatapnya. Cintya memang seperti ini. Selain cerewet, dia juga sangat ganas dalam urusan makan dan minum. Kau akan terbiasa dengan kebiasaannya ini," Jerome berbisik pada Lew agar tidak di dengar oleh gadis yang baru saja menghabiskan sebotol air minum.
"Kau haus juga, Lew? Mau minum?" tawar gadis itu, usai melepaskan dahaga yang tertahan akibat melayani para pembeli.
Spontan Lew menggelengkan kepala. "Aku tidak haus,"
"Oh yasudah," balas Cintya singkat.
Tanpa sengaja pandangannya mengarah ke luar toserba yang memang di kelilingi kaca tembus pandang. Kedua matanya tiba-tiba melotot sempurna, di sertai perubahan raut wajah menjadi panik.
"Oh astaga!!" sambungnya memekik keras. Jerome dan Lew pun spontan menutup telinga.
"Hei, kenapa kau memekik keras seperti itu!? Kau ingin membuat kami berdua tuli, ya?" cetus Jerome menatap kesal Cintya. Setenang apapun dirinya, ada saat dimana dirinya juga bisa merasa kesal.
__ADS_1
Cintya mendelik ke arah laki-laki itu. "Maaf. Lihatlah ke arah luar! Biang masalah sedang menuju kemari,"
Meski merasa sedikit kesal, Jerome mengikuti ucapan Cintya. Begitu pula dengan Lew yang sudah menurunkan kedua tangannya dari menutupi telinganya. Mereka berdua melihat seorang perempuan dewasa tengah berjalan menuju toserba.
"Kenapa tidak bilang!?" seru Jerome kembali menatap gadis itu.
"Ini aku bilang," cetus Cintya dengan polos.
Jerome mendelik tidak senang ke arahnya dan gadis itu hanya menyengir kuda. Sebelum matanya melihat perempuan dewasa itu berjalan semakin mendekat.
"Cepat kunci pintu! Jangan sampai dia masuk ke dalam!" sambungnya memerintah.
Tanpa membalas, Jerome langsung berlari mengunci pintu toserba dari luar. Di ikuti oleh Cintya dan juga Lew yang belum mengerti pembicaraan kedua teman kerjanya itu. Kini mereka bertiga berada tepat di depan pintu toserba.
"Selamat pagi, nona Reba!" sapa Cintya seramah mungkin.
"Hei, namaku Rebecca, bukan Reba. Sudah berapa kali aku mengatakannya," protes perempuan dewasa yang bernama Rebecca itu.
"Ya ya, nona Rebbeca. Ada apa nona datang pagi-pagi ke sini?" tanya Cintya memasang senyum palsu. Sebenarnya ia malas menghadapi perempuan dewasa itu.
Yah bagaimana tidak malas, Rebecca suka sekali membuat masalah di toserba. Perempuan itu selalu menyebut dirinya sebagai kekasih dari bos pemilik toserba. Nyatanya itu hanya omong kosong belaka. Bos pemilik toserba mengatakan bahwa tidak mempunyai hubungan apapun dengannya. Namun Rebecca tetap menyebut mereka memiliki hubungan kekasih. Alasan itu pula yang membuatnya semena-mena mengambil barang di toserba tanpa membayar. Dan atas perintah dari bos pemilik toserba, Rebecca tidak di perbolehkan lagi masuk.
"Aku mau beli beberapa cemilan. Kenapa kalian berdiri di sana? Bukankah toserba sudah buka?" tanya Rebecca balik.
Cintya beradu pandangan dengan Jerome. Seolah sedang berbicara lewat isyarat mata. Lew melihat itu tapi tidak mengerti apapun. Sehingga ia hanya diam mendengarkan.
"Mohon maaf, nona Rebecca. Toserba tidak di buka untuk nona. Jadi silakan pergi!" bukan Cintya yang berucap, tetapi Jerome dengan nada super tenang dan halus.
"Apa maksudnya kalian tidak membuka toserba untukku? Dan lagi, mengusirku pergi? Kalian sudah bosan bekerja, ya?" cecar Rebecca tidak terima.
"Kami hanya menjalankan perintah dari bos, nona Rebecca. Mohon pengertiannya!" seru Cintya masih berusaha ramah. Padahal dalam hatinya, ia rasanya ingin menendang pantat itu.
__ADS_1
Rebecca memicingkan matanya. Ini pertama kalinya ia tidak di ijinkan masuk. "Bohong! Kalian pasti berbohong. Mana mungkin aku tidak di ijinkan masuk olehnya,"
"Silakan kalau nona tidak percaya. Kami tidak peduli dan hanya menjalankan apa yang diperintahkan saja," celetuk Jerome mengangkat bahu.