
Selesai makan malam, Lew berniat untuk langsung kembali ke dalam kamarnya dan beristirahat. Namun niatnya itu terhenti kala melihat Sorn belum beranjak dari sofa ruang tamu. Gadis itu masih sibuk mengetik. Tanpa berpikir panjang lagi, ia berjalan menghampirinya.
"Kau sedang apa? Kenapa tidak pergi tidur?" pertanyaannya itu spontan membuat Sorn menoleh ke arahnya.
"Mengerjakan tugas. Sebentar lagi aku tidur setelah menyelesaikan ini. Hmmm... Kau sudah selesai makan?" tanya Sorn balik yang langsung di balas anggukan kepala Lew.
"Sekarang kenapa kau masih di sini? Ini sudah larut malam. Sebaiknya kau tidur," sambungnya.
Sorn berucap sembari mengambil cokelat yang tersedia di meja. Biasanya ia memang menyediakan beberapa cemilan untuk menemaninya. Cokelat itu berukuran sedang dengan bungkusan tipis, sehingga tidak butuh waktu lama membukanya.
"Aku belum mengantuk," sahut Lew di sela mendudukkan diri di sofa kecil yang ada di dekat Sorn.
Sorn mengangguk-anggukan kepala, sebelum mulai memakan cokelat di tangannya. "Apa teman kerjamu bersikap baik padamu? Eum--Maksudku mereka menerimamu dengan baik di sana, kan?"
"Iya. Mereka baik,"
"Syukurlah. Aku khawatir lingkungan dan orang-orang di sana membuatmu tidak nyaman," ucap Sorn bernafas lega. Ia ingin memastikan Lew merasa nyaman dengan pekerjaan barunya itu.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Aku baik dan cukup nyaman bekerja di sana," Lew tersenyum tipis. Dirinya tidak ingin membuat gadis itu khawatir. Tetapi ia juga senang di khawatirkan gadis itu. Entahlah. Lew hanya merasa sudah terbiasa dengan Sorn dan segala tentangnya.
"Yeah. Katakan saja bila kau tidak nyaman nanti! Aku bisa mencari pekel--jaan lain untukmu," Sorn berucap di sela mengunyah cokelat dalam jumlah banyak.
Cara makannya begitu blepotan. Hingga tanpa sadar membuat sudut bibirnya terdapat sedikit cokelat. Lew tertawa melihat tingkah makan Sorn yang tampak seperti seorang anak kecil. Menggemaskan.
"Fufffttt... Hahaha,"
Sorn terpaku akan tawa lepas Lew yang baru pertama kali di dengarnya. Laki-laki dingin itu tertawa? Benarkah? Sorn seakan tidak percaya. Ia mencoba mencubit tangannya sendiri dan terasa sakit. Oh tidak! Ternyata itu bukanlah mimpi, melainkan kenyataan. Sorn benar-benar tidak percaya melihat itu. Baru kali ini ia melihat Lew tertawa dan sangat memesona. Namun Ia berusaha bersikap biasa saja.
"Apa yang kau tertawakan heh?" desis Sorn dengan tatapan bingung.
Lew masih tertawa tapi tidak sekeras tadi. "Kau!"
"Aku?" ulang Sorn menunjuk dirinya sendiri.
"Kau makan cokelat seperti anak kecil saja. Sangat blepotan," celetuk Lew tanpa ragu.
Sorn mengerucutkan bibirnya. Meski tatapannya bak pisau yang siap menikam laki-laki itu kapan saja.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Ini diriku. Suka-suka aku makan seperti apa,"
"Tetapi cara makanmu yang blepotan menyisakan noda cokelat di sudut bibirmu," Lew menunjuk sudut bibir Sorn mana yang terdapat noda cokelat.
"Ah benarkah!?" sergah Sorn yang langsung menyentuh sudut bibirnya untuk membersihkan noda cokelat itu. Sayang sekali sentuhannya itu tidak tepat akibat panik.
"Bukan di situ. Ke atas sedikit," ucap Lew mengarahkan tapi Sorn tidak melakukan dengan benar arahannya.
"Di sini?"
Lew menggelengkan kepalanya. Ia merasa greget sebab sedari tadi Sorn belum juga berhasil. Lantas tangannya spontan terulur dan menyentuh sudut bibir gadis itu. Dimana terdapat noda cokelat yang ia maksudkan. Tindakannya itu membuat Sorn terkesiap. Apalagi kini wajah mereka berjarak sangat dekat. Posisi yang begitu canggung. Sorn hanya bisa mengedipkan matanya beberapa kali. Sedangkan Lew justru menatapnya dengan intens sambil membersihkan noda cokelat di sudut bibirnya.
"Sudah," singkat Lew menarik kembali tangannya usai memastikan tidak ada lagi noda di sudut bibir Sorn. Kini posisi mereka berdua kembali seperti semula.
Akhirnya Sorn pun tersadar dari rasa terkejut. "Te--Terima kasih,"
"Hmmm sama-sama," balas laki-laki itu tanpa merasa canggung seperti yang tengah Sorn rasakan. Padahal tindakannya itu tadi begitu mendadak dan lebih intim dari biasanya.
"A--Aku sudah selesai dan ingin tidur. Kau juga pergilah tidur!" seru Sorn yang langsung beranjak berdiri.
`Cepat pergi, Sorn! Cepat! Jantungmu perlu di amankan,` batin Sorn
Kepergian Sorn yang tampak sekali tergesa-gesa, tidak terlepas dari tatapan Lew. Dahinya mengernyit tapi enggan untuk membuka suara.
"Ada apa dengannya?" gumam Lew seorang diri. Sempat bingung akan tingkah Sorn barusan, Lew pun akhirnya memutuskan pergi beristirahat ke kamarnya. Ia harus bekerja lagi besok.
Sementara itu di kamar lain, Sorn tengah memegangi dadanya. Detak jantungnya masih terasa cepat.
"Ada apa dengan jantungku beberapa hari ini? Kenapa berdetak sangat cepat saat bersama Lew? Apa mungkin...."
Dengan cepat Sorn menggelengkan kepalanya. "Tidak. Ini tidak mungkin. Aku tidak boleh terbawa perasaan oleh sikap Lew. Dia hanya bersikap sesuai keadaan. Ya itu benar!"
Sorn menghembuskan nafasnya beberapa kali untuk menenangkan diri. Di rasa sudah tenang, ia segera berbaring dan memejamkan matanya. Lupakan soal menyelesaikan tugas kuliah. Sekarang ia perlu tidur, lalu melupakan soal kejadian tadi.
***
Pagi harinya, Sorn bangun lebih dulu seperti biasa. Ia sudah berkutat di dapur dengan beberapa bahan makanan. Kegesitannya dalam memasak membuat makanan cepat selesai, sebelum akhirnya Lew keluar dari kamar.
__ADS_1
"Pagi, Lew! Bagaimana tidurmu?" sapa Sorn basa-basi, seolah tidak terjadi apapun kemarin malam.
"Pagi. Cukup nyenyak," balasnya sembari duduk berhadapan dengan Sorn.
"Oh oke. Ayo sarapan! Sebentar lagi kau harus pergi bekerja,"
Lew tidak mengatakan iya ataupun menolak ajakannya. Laki-laki itu langsung mengambil piring yang berisi sarapannya. Meski sekarang ia mulai lebih banyak bicara tapi sikapnya masih saja sama. Beruntung Sorn sudah terbiasa dengan sikapnya itu. Sehingga tidak pernah terlontar kekesalan dari mulutnya.
"Ada berapa teman kerjamu?" tanya Sorn di sela mulai sarapan.
"Dua orang," jawab Lew menatap sekilas gadis itu.
"Gadis keduanya?"
Sorn bertanya sekedar untuk menghindari suasana canggung. Nyatanya sebelum memasukkan Lew bekerja di Toserba itu, ia sudah mendapat semua informasi. Termasuk siapa saja yang bekerja di sana.
"Tidak. Satu gadis, satu laki-laki,"
"Apa gadis itu cantik?" tanya Sorn sedikit menggoda.
Lew menyipitkan matanya, lalu menggelengkan kepala.
"Tidak secantik kau,"
Niatnya ingin menggoda, ternyata Sorn sendiri yang di goda balik. Senjata makan tuan gak tuh?
"Ehem. Bagaimana dengan teman laki-lakimu? Tampan tidak?" Sorn berdeham pelan untuk menetralkan perasaannya.
"Kalau tampan memangnya kenapa?"
"Boleh kali di kenalin," jawab Sorn mengedipkan matanya beberapa kali. Gemas banget.
Lew menaikkan alisnya sebelah. Berusaha tidak terpengaruh akan kegemasan gadis itu. "Aku baru tahu kalau kau genit,"
"Apa kau bilang!?" pekik Sorn melotot tajam ke arah Lew.
"Kau genit,"
__ADS_1