
"Jelas saja sakit, sialan! Arghhhhh," teriak si botak penuh kemarahan di sela merintih kesakitan.
"Padahal aku baru pemanasan tadi. Ternyata kekuatan kalian hanya segitu. Tubuh doang kekar dan bertato, aslinya lemah. Ck--Bagaimana bisa orang seperti kalian menindas orang lain? Mau jadi sok jagoan biar semua orang ketakutan heh? Sana ngaca dulu ke cermin! Biar sadar diri," cecar Sorn menyindir.
"Kau!!" orang yang memiliki jahitan di keningnya tadi hendak berdiri tapi sebelum itu terjadi, Sorn sudah lebih dulu menginjak dadanya.
"Aku sudah memberi peringatan pada kalian! Jangan pernah mencoba menyentuhnya tetapi kalian tidak mendengarku. Jadi jangan salahkan aku karena kalian berakhir dengan babak belur seperti ini!" seru Sorn menatap tajam sekelompok Gangster yang masih tersungkur di tanah.
"Kali ini kau berhasil mengalahkan kami tapi tidak dengan lain kali! Kami akan kembali untuk membalasmu atas semua ini!" kecam si botak dengan penuh keyakinan.
Sorn tersenyum sinis. "Namun sayangnya kalian harus mendekam dulu di penjara. Anggap saja sebagai bentuk kompensasi dariku karena telah membuat kalian terluka. Mungkin di penjara nanti, proses pemulihan kalian lebih maksimal!"
Bersamaan dengan ucapannya, dua buah mobil polisi datang. Para polisi itu segera turun dan menghampiri Sorn.
"Apa benar nona yang memanggil kami?" tanya seorang polisi.
"Benar. Tolong tangkap mereka atas tindakan yang mengganggu dan melukai orang lain! Ada banyak orang yang sudah menjadi korban mereka. Hanya saja tidak berani melapor. Soal buktinya bisa kalian dapatkan lewat cctv yang terpasang di sekitar sini," jawab Sorn mempertegas.
Para polisi itu langsung melihat sekelompok Gangster itu. Mereka cukup terkejut sebab bagaimana bisa seorang gadis mengalahkan orang sebanyak itu? Tetapi, mereka juga senang akan keberanian Sorn dalam mengalahkan sekelompok Gangster itu dan melaporkannya pada polisi.
"Baik, nona. Kami akan segera memproses penahanan mereka!" sahut polisi tadi.
"Lebih cepat, lebih baik. Terima kasih," timpal Sorn tersenyum tipis.
"Sama-sama,"
Para polisi itu langsung membawa sekelompok Gangster yang tidak bisa melakukan perlawanan. Bertarung dengan Sorn membuat tubuh mereka terluka cukup parah. Bahkan untuk berdiri saja mereka sangat kesulitan. Hal itu justru mempermudah para polisi untuk membawa mereka.
"Kami pergi dulu, nona!"
Sorn mengangguk pelan. Kemudian kedua buah mobil polisi itu pergi dari hadapannya. Kini ia berbalik badan menghadap Lew yang masih diam. Laki-laki itu menatapnya dengan intens.
"Kenapa menatapku seperti itu!? Ayo pulang!" ketus Sorn, sebelum berjalan pergi dari sana.
Lew tidak membalas dan segera berjalan menyusul Sorn. Di sepanjang jalan tidak terjadi pembicaraan apapun. Sorn sangat marah kepada laki-laki itu tapi meredam amarahnya terlebih dahulu. Sementara itu Lew masih terkejut akan sisi lain dari Sorn tadi, sekaligus merasa bersalah. Ya, ia merasa bersalah sebab tidak menuruti ucapan Sorn. Dimana dapat di pastikan bahwa gadis itu pasti sangat marah padanya.
Drttt... Drttt...
Ponsel Sorn berbunyi, menandakan sebuah panggilan masuk. Si empunya langsung mengangkat panggilan itu.
__ADS_1
"Halo, Key!" sapanya pada si pemanggil yang tidak lain adalah Key--Tetangganya tadi.
[Key📞: Kau dimana? Apa kau sudah menemukan saudara sepupumu itu?]
Sorn tampak berdecak pelan. Hampir saja ia lupa bahwa Key juga ikut membantunya mencari Lew.
"Aku sudah menemukannya. Sekarang kami sedang menuju pulang. Maaf karena hampir lupa kalau kau juga ikut membantuku tadi," ungkap Sorn merasa sedikit bersalah.
[Key📞: Oh baguslah. Tidak apa-apa. Aku juga sudah menuju pulang]
"Sekali lagi maaf, Key. Dan terima kasih sudah mau membantuku,"
[Key📞: Iya tidak apa-apa. Sesama tetangga harus saling membantu, bukan? Jadi katakan saja bila perlu bantuan! Tidak perlu merasa sungkan. Oke?]
"Oke,"
Setelahnya panggilan itu berakhir. Tepat bersamaan dengan Sorn memasuki kawasan rumahnya. Belum juga berhasil sampai ke sana, beberapa tetangga Sorn datang menyapa.
"Hai, Sorn! Kalian berdua habis datang dimana?" tanya gadis yang berambut pendek sebahu.
Jujur saja rasanya Sorn malas bertemu mereka yang pastinya banyak drama. Tetapi, kini sudah terlanjur dan ia terpaksa harus meladeni mereka.
"Wah benarkah? Kok gak ajak kita sih? Biar lebih seru gitu," celetuk gadis yang berbaju seksi.
"Iya nih. Kita juga mau jalan sama kalian berdua!" timpal yang lainnya.
Rasanya Sorn ingin muak mendengar itu. Mana mungkin para tetangganya berkata seperti itu kalau bukan karena keberadaan Lew.
`Modus. Bilang aja mau jalan sama Lew huuuuu!` batin Sorn
"Saudara sepupuku cuma mau berjalan berdua. Kalau rame, berisik katanya. Benarkan?" Sorn menyenggol lengan Lew dan sepertinya laki-laki itu mengerti.
"Hmmm benar," sahutnya.
"Yah kok gitu. Kita bukannya bikin berisik tapi seru, tau!? Coba deh nanti kamu jalan-jalan sama kita. Pasti gak bakal nyesal. Ya, kan guys?" gadis berbaju seksi tadi berucap penuh percaya diri.
"Iya banget. Pokoknya kamu harus coba jalan sama kita. Oke!?"
"Aduh. Maaf nih harus mengecewakan kalian. Saudara sepupuku tidak suka jalan sama orang yang tidak di kenalnya," ungkap Sorn pura-pura memasang raut wajah menyesal.
__ADS_1
"Kalau begitu kami bisa kenalan dulu. Aku--Jasmine. Gadis paling seksi di kawasan ini," ucap gadis yang berbaju seksi tadi mengulurkan tangannya ke arah Lew.
Tentu saja Sorn langsung menepisnya dengan halus. "Saudara sepupuku alergi pada gadis sepertimu. Kulitnya suka memerah kalau ada gadis seksi menyentuhnya,"
"Dan satu hal lagi. Kami harus segera pulang sebab kepala saudara sepupuku terasa sakit. Jadi nanti saja kalian berkenalannya," sambungnya.
Bohong. Sorn kembali berbohong demi menyelamatkan Lew dari kegilaan para tetangganya yang di dominasi gadis nakal dan genit itu.
"Tapi..." gadis berambut pendek hendak menyela tapi di dahului Sorn.
"Kami permisi. Dah!"
Sorn bergegas menarik tangan Lew dari para tetangganya itu. Ia paling tidak ingin berurusan lebih lama dengan mereka. Sungguh!
Ceklek...
Pintu rumah berhasil Sorn buka dan mereka berdua langsung masuk.
"Huffft selamat..." ucap Sorn menghela nafas lega dan melepaskan tangan Lew.
Lew mengernyitkan dahinya. "Kenapa?"
"Kenapa apanya? Kau belum tahu seperti apa mereka itu! Bersyukurlah karena aku menyelamatkan kau dari kegilaan mereka," Sorn berkacak pinggang. Heran dengan Lew yang masih mempertanyakan tindakannya tadi. Padahal dari penampilan saja, jelas bahwa para tetangganya itu adalah para gadis nakal dan genit.
"Terima kasih," ungkap Lew pelan. Meski belum mengerti maksud dari ucapan Sorn barusan.
"Ini belum berakhir. Apa kau sadar kesalahanmu hari ini, Lew!?" seru Sorn menatap tajam. Terdapat kemarahan dari sorot matanya.
Lew menundukkan kepala. Seolah tidak berani menatap kedua mata Sorn. "Aku tahu,"
"Coba katakan!" titah Sorn dengan nada tegas. Tidak ada sedikit pun terdengar nada ramah atau pun menghangat seperti biasa.
"Aku tidak menuruti ucapanmu dengan pergi keluar rumah," lirih Lew--Kepalanya masih tertunduk.
"Angkat kepalamu, Lew! Jangan berbicara pada orang dengan kepala tertunduk!" kini nada bicara Sorn sedikit meninggi dan terdengar mengerikan.
Perlahan Lew mulai mengangkat kepalanya. Dengan ragu ia menatap Sorn yang tengah meluapkan amarah.
"Sekarang ulangi lebih jelas ucapan kau tadi!" sambungnya.
__ADS_1
"Aku tidak menuruti ucapanmu dengan pergi keluar rumah. Lalu membuatmu merasa khawatir,"