
Keesokan harinya, Sorn terbangun lebih awal karena tadi malam ia tidur cepat. Bahkan ia tidak keluar kamar lagi, sejak membantu Lew mengganti perban. Sorn merenggangkan kedua tangannya yang terasa kaku akibat tidur.
"Sebaiknya aku pergi berbelanja hari ini sebeum pergi ke kampus," gumamnya.
Sorn segera beranjak berdiri usai merenggangkan otot kedua tangannya dan pergi menuju kamar mandi. Dirinya akan menyegarkan diri terlebih dulu, sebelum pergi bebelanja kebutuhan rumahnya. Kemarin tidak sempat karena masuk kuliah di pagi hari. Sedangkan hari ini, ia cukup santai. Nanti siang baru ada mata kuliah yang perlu di masuki. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Sorn menyegarkan dirinya. Gadis itu keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono yang sudah membalut tubuhnya. Rambutnya yang basah di biarkan terurai begitu saja.
"Hmmm, pakai apa ya?" deham Sorn sembari melihat-lihat isi lemari pakaiannya.
Sorn berpikir sejenak, hingga pilihannya jatuh pada setelan hodie berwarna biru muda. Ia pun langsung memakainya. Usai memakai setelan hodie itu, Sorn berlanjut dengan memoles make up tipis dan rambutnya sedikit di keringkan sebelum di ikat rendah. Dan--Kakinya terpasang sandal bermotif kucing yang menggemaskan. Kemudian ia bergegas turun ke lantai bawah, tepatnya ke kamar Lew.
Tok.. Tok... Tok...
"Lew!" panggil Sorn di sela mengetuk. Cukup lama ia mengetuk tapi belum juga mendapat balasan dari laki-laki itu.
"Lew! Apa kau belum bangun?" sekali lagi Sorn memanggil dan mengetuk pintu, tetap saja tidak mendapat balasan.
Akhirnya Sorn berhenti mengetuk pintu. "Mungkin dia memang belum bangun. Ya sudahlah. Aku pergi juga sebentar saja,"
Gadis itu langsung berjalan pergi dari depan pintu kamar Lew. Ia memeriksa terlebih dulu isi dapurnya dan baru pergi setelah mencatat semua yang perlu di beli. Sorn pergi ke supermarket tidak jauh dari rumahnya. Hanya perlu waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke sana. Setibanya di sana, ia mulai mendorong keranjang belanjaan dan mengitari supermarket. Ia membeli seperlunya saja sebab untuk menghemat uangnya yang tersisa tidak banyak.
"Aku rasa ini sudah cukup," ucap Sorn saat mengambil beberapa bungkus cemilan.
Setelah itu Sorn pergi menuju kasir supermarket untuk membayar belanjaannya.
"Terima kasih," ungkapnya pada perempuan yang bertugas sebagai kasir di sana.
"Sama-sama,"
Sorn membawa semua kantong belanjaannya dan berjalan keluar dari supermarket. Dirinya berpikir untuk langsung pulang tapi tanpa sengaja, terlintas kejadian kemarin. Yeah. Ia pikir Lew perlu ponsel agar bisa menghubunginya bila ada apa-apa. Tidak melakukannya sendiri. Kemarin mungkin dapurnya yang berantakan, entah apa lagi nantinya. Tidak. Sorn tidak mau laki-laki itu membuat kekacauan lagi di rumahnya.
"Hmmm mungkin uangku masih cukup untuk membelikan Lew ponsel," Sorn memeriksa saldo atm-nya dan benar, uangnya masih cukup.
Tanpa menunggu lagi Sorn segera memesan taksi online yang lokasi berada tidak jauh darinya. Taksi online itu sampai di sana, tepat sekitar 5 menit berlalu.
"None Sorn Akarin?" tanya sopir taksi tersebut tanpa turun dari mobil.
"Iya benar," jawab Sorn membenarkan.
__ADS_1
Sorn bergegas masuk ke dalam taksi tersebut yang kemudian melaju menuju ke tempat sesuai dengan arahannya. Tempat itu berupa toko ponsel yang cukup besar. Letaknya tidak terlalu jauh dari supermarket tadi.
"Tunggu sebentar, pak! Saya ke dalam dulu," seru Sorn pada sang sopir taksi.
"Baik, nona!"
Sorn berjalan turun dari taksi tersebut dan masuk ke dalam toko ponsel itu. Di sana tidak terlalu ramai. Sehingga Sorn tidak perlu berdesakan untuk melihat-lihat sederet ponsel yang terdapat di etalase khusus. Cukup lama ia melakukannya sampai pilihannya jatuh pada sebuah ponsel hitam dengan harga yang tidak mahal. Ia mengambil ponsel itu dan membayarnya. Setelah itu, ia kembali masuk ke dalam taksi online tadi.
"Pulang, pak!" serunya.
Sopir taksi tersebut menganggukkan kepalanya. Taksi tersebut kembali melaju dengan kecepatan sedang. Tentu mengarah ke rumah Sorn, sesuai arahan dari gadis itu sendiri. Hingga akhirnya taksi tersebut berhenti di depan rumah Sorn.
"Ini uangnya, pak! Terima kasih!" seru Sorn sembari menyerahkan uang sesuai dengan nominal yang tertera.
"Sama-sama, nona!"
Setelahnya Sorn turun dari taksi tersebut. Ia bergegas masuk ke dalam rumahnya, sedangkan taksi tadi sudah kembali melaju.
"Datang dari mana?"
"Astaga! Kau mengejutkanku, Lew!" pekik Sorn pada Lew yang tengah berdiri di belakangnya.
"Hufft... Baiklah. Tidak apa-apa. Lain kali jangan membuatku terkejut. Beruntung aku tidak punya riwayat penyakit jantung" Sorn mengelus dadanya sendiri untuk menetralkan rasa terkejutnya tadi.
"Iya. Jadi kau datang dari mana?" tanya Lew sekali lagi.
Sorn memperlihatkan bungkusan belanjaan di tangannya. "Belanja keperluan,"
"Kenapa tidak mengajakku?"
"Ck. Kau tadi belum bangun tidur. Bahkan aku sempat beberapa kali mengetuk pintumu itu tapi tetap saja tidak mendapat balasan," Sorn berdecak pelan sembari mengeluarkan satu-persatu isi belanjaannya.
"Hmmm begitu," singkat Lew yang sudah bingung berbicara apa lagi.
Tetapi, ia berpikir untuk membantu Sorn menata belanjaannya. Lantas dirinya langsung menghampiri gadis itu dan mulai membantunya menata belanjaan.
"Eh... Apa yang kau lakukan?" sentak Sorn dengan tindakan laki-laki itu.
__ADS_1
"Membantumu," sahut Lew tanpa menatap arah lawan bicaranya.
"Tidak perlu! Kau duduklah! Aku bisa melakukannya sendiri," Sorn menolak bantuan Lew sebab memikirkan keadaan laki-laki itu yang belum pulih. Lagian ia juga sudah biasa melakukan semuanya sendiri.
Lew menggelengkan kepalanya. "Aku ingin membantu. Please!"
Pada akhirnya Sorn hanya bisa pasrah membiarkan laki-laki itu membantunya. Kini mereka berdua bekerjasama dalam menata semua belanjaan ke tempatnya dan tidak memakan waktu yang lama.
"Selesai!" seru Sorn menepuk-nepuk kedua tangannya.
"Belum. Ini masih ada satu bungkus belanjaanmu," timpal Lew menunjuk ke sebuah bungkusan yang tersisa.
Sorn melihat ke arah yang Lew tunjukkan dan benar, masih ada satu bungkusan. "Oh iya. Aku hampir lupa. Bungkusan itu untukmu!"
Tampak dahi Lew mengerut. "Untukku?"
"Iya untukmu. Bukalah!"
Laki-laki itu segera mengambil bungkusan itu. Dengan ragu ia membukanya dan terdapat sebuah ponsel yang tadi Sorn beli.
"Ponsel?"
"Heum. Ponsel untukmu agar kita lebih mudah berkomunikasi saat aku keluar rumah," sahut Sorn tersenyum tipis.
"Apa ini tidak berlebihan?" tanya Lew ragu.
"Ck ini sama sekali tidak berlebihan. Kau terima saja!" jawab Sorn berdecak singkat. Sebelum pergi meninggalkan laki-laki itu di sana--Di dapurnya.
"Emm kau--"
Sorn berbalik badan sembari bersedekap dada. "Namaku Sorn Akarin. Panggil saja Sorn!"
"Sorn... Terima kasih," ungkap laki-laki itu pelan. Dengan senyuman tipis yang baru kali ini ia perlihatkan.
Bahkan Sorn terkesiap melihat itu. Benarkah laki-laki itu tersenyum padanya? Oh My Gosh. Itu sangat memesona.
"Engh... Sama-sama. Kau masih ingat kan bagaimana cara menggunakannya?"
__ADS_1
Lew menganggukan kepalanya. Dimana setelahnya Sorn lanjut berjalan pergi, sebelum makin terpesona dengan senyuman laki-laki itu.