Pesona Si Kembar Misyel Dan Mike

Pesona Si Kembar Misyel Dan Mike
Bab 26. Perasaan Arlan


__ADS_3

Bismillahirohmanirohim.


Arlan mengeraskan rahangnya saat melihat rekaman cctv yang diambil oleh Riko sebelumnya di taman bermain anak-anak.


Jelas sekali di dalam video itu Rena memang sengaja mendorong Mike dengan sangat keras hingga Mike jatuh pingsan.


"Argh….! Kurang ajar kamu Rena!" teriak Arlan kesal.


Riko yang melihat Arlan marah hanya bisa diam saja, jika Arlan sudah marah besar seperti ini Riko juga menjadi sedikit takut, dia akan menegur Arlan jika kemarahan duda anak dua itu sudah tidak terlalu meluap-luap lagi. 


"Aku sudah salah mengira ternyata kamu iblis Rena! aku sudah memperbolehkan kamu bertemu dengan si kembar ternyata kamu sendiri yang mencelakai Mike"


"Kamu tidak pantas disebut mama! Lihat saja apa balasan yang akan kamu dapatkan karena telah berani, bermain-main dengan Arlan!" Arlan menyeringai.


Arlan masih mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat. Tapi setelah itu tiba-tiba Arlan tertawa sinis membuat Riko menjadi semakin ngeri dengan Arlan.


'Gila nih orang' umpat Riko.


"Jangan mengumpat ku dalam hatimu Riko" ucap Arlan.


Riko hanya bisa cengo kenapa sahabat sekaligus atasnya itu bisa tahu apa yang dia katakan di dalam benaknya. "Hah, pede siapa juga yang ngumpat lo" sanggah Riko tak terima.


Tapi dalam hatinya mengatakan jika Riko memang sedang mengumpat Arlan yang ekspresinya bisa berubah secara tiba-tiba.


"Serah" sambung Arlan akhirnya.


"Saya mau perempuan itu merasakan bagaimana rasanya menderita selama tinggal di negara ini"


"Beres Lan, serahkan saja sama aku, akhirnya setelah sekian lama aku kembali punya main"

__ADS_1


Arlan hanya menggelengkan kepala melihat Riko yang begitu senang saat disuruh menyiksa seseorang. Kini giliran Riko yang tersenyum misterius seakan orang itu sedang merencanakan sesuatu.


Lama kedua laki-laki yang umurnya hampir sama itu ditambah lagi keduanya masih betah melajang di usia mereka yang sudah pantas untuk membina rumah tangga kembali yang satu masih betah menduda ataukah sudah ada calonnya lagi tapi belum berani melamarnya.


Yang satu lagi masih betah melajang padahal sudah pantas untuk menikah tapi masih saja sibuk dengan pekerjaan, sampai hari ini Riko belum sama sekali terlihat akbar bersama seorang wanita manapun.


"Tapi bukankah ada yang aneh dengan Rena, lan" ucap Riko setelah keheningan yang terjadi sedikit lama diantara keduanya.


Saat ini mereka berdua sedang berada di dalam ruangan Arlan di rumah sakit milik Arlan itu, hari ini duda dua anak itu tak memiliki jadwal operasi jadi dia memiliki sedikit waktu lebih banyak hari ini.


"Apanya yang aneh?"


"Ya aneh aja gitu, kenapa dia tidak menjelaskan pada Misyel dan Mike kalau dia itu ibu kandung mereka, dilihat-lihat Rena sama sekali tidak memperjuangkan twis"


Arlan mengangkat bahunya acuh, jika dulu bukan dia yang memohon pada Rena untuk melahirkan si kembar dan tidak menggugurkan dua bayi itu mungkin sekarang Misyel dan Mike tidak ada disisi Arlan, jika dia tidak memohon pada Rena, Arlan tak tahu nasib bayinya akan seperti apa saat itu.


"Rena benar-benar tidak menginginkan Misyel dan Mike, berbeda halnya dengan Iklima, dia buka ibu dari si kembar tapi gadis itu begitu menyayangi si kembar, benar-benar perempuan idaman" Riko sengaja menambahkan kata perempuan idaman diakhir kalimatnya.


Arlan yang mendengar nama Iklima disebut merasakan getaran aneh di dalam hatinya tapi sebisa mungkin dia bersikap normal saja.


Riko semakin berulah kala tak melihat reaksi apa-apa dari Arlan. "Iklima masih singelkan jadi bisalah aku otw lamar, lagipula dia belum dekat dengan laki-laki manapun masih ada kesempatan" goda Riko semakin menjadi.


Tak tahu kenapa mendengar Riko ingin melamar Iklima Arlan merasa tidak terima. "Keluar Riko saya masih banyak perkejaan" ucap Arlan dingin.


Senyum Riko semakin mengembang dia begitu yakin jika Arlan menyukai Iklima, pengasuh dari kedua buah hati Arlan itu.


"Cemburu bro kalau suka cepat bilang atau nggak gas langsung lamar, keburu di duluin sama orang yah nyesel nantinya"


"Keluar Riko!" usir Arlan lagi.

__ADS_1


"Oke, fine aku keluar tapi inget apa yang aku bilang barusan" ujar Riko sambil berlalu keluar dari ruangan Arlan.


Arlan yang tadi pura-pura sibuk saat Riko menyebut nama Iklima, kini terdiam sejenak setelah Riko benar-benar keluar dari ruangnya. Arlan menatap lurus ke depan.


"Iklima" ucap Arlan sambil memeganggi dadanya, Arlan dapat merasakan detak jatungnya dua kali lebih cepat saat dia menyebut atau mendengar nama Iklima.


"Sepertinya aku sudah gila" lirih Arlan.


Tapi belum dia ingin membuang semua hal tentang Iklima dipikirannya, apa yang dikatakan Riko tadi terus teringat di dalam kelapa Arlan.


'Iklima masih singelkan jadi bisalah aku otw lamar, lagipula dia belum dekat dengan laki-laki manapun masih ada kesempatan'


'Cemburu bro, kalau suka cepat bilang atau nggak gas langsung lamar, keburu di duluin sama orang lain yah nyesel nantinya'


Dua kata-kata yang diucapkan Riko tadi terus saja berputar-putar di kepala Arlan. "Argh…! Sepertinya aku sudah benar-benar gila" Arlan meremas rambutnya sendiri merasa frustrasi.


"Kalau lklima menikah dengan orang lain apa masalahnya memang toh itu hal dia kenapa pula aku yang pusing" Arlan masih membantah apa yang dia rasakan.


'Tapi jika Iklima menikah dengan orang lian siapa yang akan menyayangi Mike dan Misyel, seperti Iklima menyayangi mereka' batin Arlan.


'Bohong sebenarnya kamu tidak ikhlas jika Iklima menikah dengan laki-laki lain, kamu menyukai Iklima Arlan!' bisik hati kecil Arlan.


"Tidak aku tidak menyukai gadis ceroboh itu, mana mungkin aku menyukai gadis ceroboh seperti dia" Arlan masih membantah apa yang dikatakan hatinya.


'Kamu membohongi dirimu sendiri Arlan, coba ingat bagaimana bahagianya hatimu saat Misyel dan Mike memanggilmu dengan sebutan papa setelah itu mereka memanggil Iklima bukan dengan sebutan kakak tapi mama, coaba seberapa bahagianya dirimu Arlan' bisikan hati Arlan kembali membantah apa yang Arlan katakan.


Entah sadar atau tidak Arlan terdiam sejenak mengingat kebersamaan dirinya dengan Iklima, Arlan sedikit menyunggingkan senyum dikedua sudut bibirnya.


"Astagfirullah apa yang kamu pikirkan Arlan" ucapnya pada diri sendiri Arlan cepat tersadar.

__ADS_1


Setelah itu Arlan segera menyibukkan dirinya dengan segala pekerjaannya agar tidak mengingat Iklima, Arlan memutuskan untuk tidak kembali ke kamar rawat putranya lebih dulu karena Arlan yakin pasti Iklima berada bersama kedua buah hatinya. 


Arlan saat ini berusaha untuk menghindari Iklima terlebih dahulu dia bisa benar-benar gila jika terus melihat Iklima. Mendengar namanya saja Arlan merasa jantungnya sudah tidak karuan.


__ADS_2