
Bismillahirohmanirohim.
keheningan masih terjadi di dalam mobil sampai mereka tiba di Zumba, Arlan tidak tahu kenapa mulutnya begitu kaku untuk berbicara dengan Iklima.
Padahal dia sudah menyiapkan kata-kata untuk meminta maaf pada iklim mata kita tahu kenapa kata-kata itu seakan begitu susah keluar dari mulutnya.
Misyek dan Mike akhirnya membuka kedua bola mata Mereka ternyata mereka hanya pura-pura tidur dan mereka sama sekali tidak mendengar Pembicaraan apa-apa dari Iklima dan Arlan.
"Mama sudah sampai?" tanya Misyel dengan suara yang dia buat-buat seperti orang baru saja bangun tidur. tidak lupa Misyel berpura-pura mengucek kedua matanya seperti orang yang baru saja bangun tidur.
Mika tidak melakukan hal yang sama apa yang dilakukan oleh Misyel, anak laki-laki itu langsung turun tanpa berbicara sepatah kata pun.
" Ayo turun, Mik sudah turun lebih dulu" ajak Iqlima pada Misyel.
dan dugaan Arlan benar saja Iqlima sama sekali tidak menoleh padanya bahkan sedari tadi itu mah selalu menatap urus ke depan dan saat menoleh ke belakang dia langsung saja menoleh pada Misyel.
Alan pun ikut keluar menyusul mereka semua apalagi putranya itu sudah lebih dulu keluar dari dalam mobil.
' Jika seperti ini terus Papa dan Mama tidak akan bisa bersama saling diam-diam aku akan pura-pura marah agar mereka mau saling memaafkan' batin Mike di dalam hatinya, itu rencana yang dia buat sendiri tanpa mengajak Mesyel.
" Miko Tunggu saya jangan pergi dulu" cegah Iklima saat melihat Mike ingin berjalan lebih dulu dari mereka bertiga dan tak mau menunggu mereka.
melihat hal itu Harlan cepat mencegah putranya itu agar tidak mendahului mereka dan Arlan berhasil membawa Mike ke dalam gendongannya namun wajah anak laki-laki itu terlihat seperti ditekuk dan dia pun tidak berbicara sepakat ataupun.
mulut Mika benar-benar bungkam Arlan menatap putranya itu dengan tatapan terheran-heran.
"Kamu Kenapa Mike, ayo kita berkebun"
Mike tidak menjawab tapi dia memberontak ingin diturunkan dari gendongan Arlan, anak laki-laki itu benar-benar melipat mukanya tanda Dia sedang marah.
Melihat hal itu iklima pun mau tak mau ikut bersuara dan berusaha mengambil dari gendongan Arlan, sementara saudara kembarnya menatap curiga pada Mike, Misyel tahu sekali seperti apa watak sang saudara kembar.
__ADS_1
'Apa yang sedang direncanakan Mike, kenapa dia tidak mengajakku' marah Misyel dia menatap Mike dengan sebal.
Mika yang melihat kembarannya marah seperti memberikan isyarat yang hanya diketahui oleh mereka berdua Mike seperti mengisyaratkan Misyel agar sabar dulu nanti dia akan memberitahu apa rencananya.
Melihat kode yang diberikan Mike kepadanya Misyel pun mengerti dan dia pura-pura mengikuti akting yang dibuat oleh Mike.
"Mike kenapa sini" Iklima berusaha mengambil Mika dari gendongan Arlan Tapi anak itu kembali memberontak dia tidak ingin digendong Alan maupun Iklima.
" Mika mau sendiri!" bentaknya.
" Mike tak boleh berbicara keras pada yang lebih tua" peringat iklima dengan hati-hati.
" maaf" misalnya.
" sudah sudah ayo lebih baik kita segera pergi untuk berkebun" ajak Arlan yang sudah menurunkan Mike dari gendongannya.
tanpa menunggu Arlan dan Iqlima kedua bocah itu berjalan lebih dulu mau tak mau iklima hanya bisa mengikuti Arlan karena dia baru pertama kali ke tempat Zuma.
" Mama Papa ayo kita ke sana" lagi-lagi Miko menarik tangan Erlan dan Iqlima secara bersama.
Iklima tidak mau Arlan salah paham dengan semua ini Tapi yang belum Iklima ketahui jika Arlan sudah membiarkan saja kedua anaknya itu memanggil Iklim, Arlan sudah menerima semua itu bahkan Arlan merasa senang karena Iklim Mau dipanggil mama oleh kedua anaknya.
Sejak ke pulangan Mike dari rumah sakit Iqlima pasrah karena kedua anak kembar itu selalu memanggilnya dengan sebutan Mama mereka tidak mau memanggil Iklima lagi dengan sebutan kakak ataupun Mbak Iqlima.
sampai di sana mereka memilih satu kebun yang tidak terlalu besar bisa ditanami berbagai buah Alan memang sengaja memilih tanaman buah-buahan.
" Papa ayo kita lomba aku dengan Misyel Papa dengan Mama, kita lomba berkebun yang paling cepat dan rapi, Siapa yang menang berhak meminta apapun pada yang kalah" pantang Mike.
tanpa berpikir panjang adalah langsung menyetujui tantangan anaknya itu Bahkan dia melupakan jika saat ini dirinya dengan Iqlima masih sama-sama bersikap dingin.
" Oke Papa setuju"
__ADS_1
Padahal tadi Mike masih marah pada Alan dan Iqlima karena kejadian di mobil sudah diberi waktu tapi keduanya tidak memulai percakapan sama sekali.
" Aku dan Misyel di sebelah kiri Papa dan Mama di sebelah kanan Deal"
"De"
saat Arlan ingin mengatakan Deal pada Mike tiba-tiba iklima suara Iqlima membuat Arlan menggantung kata-katanya.
" Kita tidak usah berlomba ya kita kita langsung berkebun saja bagaimana" pinta Iklima.
Alan sekarang baru sadar Jika dia mengambil keputusan sendiri pasti ikhlas sudah salah paham pikir Arlan begitu.
" no no! aku dan Mike ingin berlomba Mama please mau mau ya" kini anak perempuan Arlan itu yang sedari tadi berdiam airnya angkat bicara juga.
" Ayo Mah please please" mohon Miseyel.
Entah kenapa tiba-tiba Iklima menatap curiga kepada kedua anak asuhnya seperti merasa ada yang sudah mereka berdua rencanakan tanpa sepengetahuan dirinya.
"Oke fine jika mama tidak mau aku akan marah pada mama dan aku akan mogok makan behari-hari" Ancam Mike.
mendapat ancaman dari Nike membuat iklim mata percaya bagaimana bisa anak yang umurnya sebentar lagi 5 tahun mengancam dirinya.
" kalian menang dan sekarang ayo kita berlomba" lagi-lagi sekolah dengan anak kecil.
"Yes!" ucap Misyel dan Mike hampir bersama.
" sepertinya ini akan berhasil Mika membuat Papa dan Mama berbaikan Setelah itu kita menyusun rencana agar Papa segera melamar mama" bisik-bisik kedua anak kembar itu.
Arlan maupun Iqlima sama sekali tidak dapat mendengar apa yang sedang dibicarakan kedua anak kembar itu mereka terlalu cerdik membuat Iklima kadang kewalahan sendiri dengan kecerdikan dan kepintaran mereka.
" Dalam hitungan ketiga kita mulai, Aku Yang Akan menghitungnya sendiri"
__ADS_1
mereka semua mengangguk setuju dengan peraturan yang dibuat oleh Mike sendiri, setelah itu mulut Mika mulai bergerak untuk menghitung mundur 1 sampai 3.
" 1 2 3 mulai!" saat Mika sudah mengucapkan kata tiga tangan mereka bergerak masing-masing melakukan apa yang harus mereka lakukan dan saat ini Iqlima dan Alan bersebelahan membuat jarak mereka yang sedikit terlalu dekat.