
..."Ayo kembali ke perkemahan dulu, untuk tanaman herbal dan obat obat itu... sepertinya harus ku buat ulang yah?" katanya diakhiri dengan tawa canggung....
...Ah! Aku lupa soal tanaman dan obatnya! "Ma- maaf Yulia! Aku melupakannya dan meninggalkan semuanya di tempat kita tadi," kataku sambil menyatukan kedua tangan di depan kepala....
..."Tidak usah dipikirkan, lagian ini salahku karena mengajakmu kemari." Meski dia bilang begitu, tapi aku tetap merasa tidak enak karena meninggalkan tanaman dan obat berharga itu di sana tau....
...___...
Hening.
Selama perjalanan hanya ada keheningan yang menemani kami. Uhuhu... ini sangat canggung. "Oh ya Naomi, saat di kita masih bersembunyi, kau menyebut monster itu dengan sebutan 'orc' kan? Apa kau tau jenis jenis monster?" tanya Yulia memecah keheningan.
"Aah, sebenarnya aku sering membaca buku manga ataupun light novel, di sana ada beberapa monster monster dan nama serta level kekuatannya.
"Aku berpikir itu mirip, jadi kata kata itu keluar begitu saja dari mulutku, ehehe," jelasku diakhiri dengan kekehan.
"Buku? Aku tidak pernah mendengar nama buku manga ataupun light novel, apakah itu buku langka ataupun kuno?"
"Tidak kok, buku itu lumayan banyak diproduksi di negaraku, bahkan sampai keluar negeri," jelasku singkat.
"Begitu yah... tapi kerajaan kami tidak pernah mendengar nama buku buku itu, apakah buku itu tidak sampai ke kerajaan Aster?"
"Yah, anggap saja begitu."
Hening kembali. Tapi kali ini, keheningan itu dipecah oleh suara burung burung yang terbang dari arah perkemahan. "Itu dari arah perkemahan, apa yang terjadi di sana?!" pekik Yulia sambil menatap arah burung burung tadi.
"Ayo percepat langkah kita." Yulia hanya mengangguk menyetujui, kami mempercepat langkah kami dan berharap semoga tidak terjadi apa apa di perkemahan.
...***...
Sesampainya di sana, hal yang tidak kami inginkan terjadi. Beberapa tenda sudah rusak karena serangan dari monster yang menemukan tempat perkemahan.
di lihat dari monster monster tersebut, sepertinya jenis monster kali ini adalah slime. Mereka memang bukan monster yang kuat tapi jika mereka menempel ke kepala dan menghalangi pernapasan, maka korbannya bisa saja mati.
__ADS_1
Aku harus bagaimana sekarang? Belatiku hilang pada saat melawan orc. Di saat kalut, aku melihat ada seorang pria yang sudah terjebak oleh serangan slime, di tangannya sudah ada tombak yang masih dipengangnya dengan erat.
Aku berlari mendekati pria itu, mengambil tombak yang dia punya lalu menusuk lingkaran hitam yang ada dalam tubuh slime, seketika slime itu mencair dan menghilang.
"Ternyata itu benar benar kelemahannya," gumamku lega. Syukurlah jika dia memiliki kelemahan yang sama seperti buku yang aku baca.
"Terimakasih..." lirih pria tersebut lalu terjatuh. Yah... aku memakluminya saja sih. Aku menyeret kaki pria tersebut dan membawanya ketempat yang menurutku aman dan tak jauh dari perkemahan tentunya, lalu menyenderkannya di sana.
Setelah memastikan keadaannya, aku kembali ke perkemahan. Tempat di mana pertarungan manusia dan slime terjadi.
Aku berlari, menusuk semua titik lemah slime yang berada di dekatku. Seketika semua slime itu mencair kemudian menghilang, "SEMUANYA! TITIK HITAM ITU ADALAH KELEMAHAN DARI MONSTERNYA! TUSUK TITIK ITU DAN KALIAN BISA MENGALAHKANNYA DALAM SEKEJAP!" intruksiku. Semua yang melawan slime mengikuti intruksiku dan berhasil membunuh semua slime dalam sekejap.
Akan tetapi... slime slime ini tidak ada habisnya sama sekali, apa mereka bisa beradak puluhan dalam hitungan detik yah? Mungkin begitu.
Kami terus melawan slime itu, berharap slime slime itu segera habis. Namun percuma, jumlahnya malah jadi makin banyak dari sebelumnya.
Kami harus bagaimana?!
"500 meter ke arah barat dari perkemahan, ada seseorang yang terus memproduksi slime slime ini dalam jumlah banyak, aku sarankan kau membunuhnya terlebih dahulu." Suara aneh itu kembali terdengar. Membisikkan suaranya ke kepalaku dan memberiku intruksi agar dapat memecahkan segalanya.
Walau menyebalkan hingga aku ingin memukulnya, tapi prioritas utamaku saat ini bukan dia melainkan orang yang terus terusan memproduksi slime itu.i
Aku terus berlari sampai akhirnya menemukan seseorang yang sedang duduk dengan tongkat bersinar membentuk sebuah lingkaran sihir. Dari lingkaran sihir itu muncul banyak slime yang terus terusan menuju ke perkemahan, dan tentu saja slime slime itu menyerang diriku.
"Hoi! Siapa kau?! Kenapa kau memproduksi banyak monster seperti ini?! Apa sebenarnya tujuanmu?!" seruku sambil memusnahkan slime yang terus terusan mencoba memperangkap kepalaku.
Dia tak menjawabku, dia bahkan tidak mengeluarkan satu patah katapun dari mulutnya. Apakah dia bisu? Kurasa bukan itu masalahnya.
"S**l*n! Slime slime ini terlalu banyak! Aku tidak bisa melawannya sendirian begini!" gerutuku kesal karena slime itu tak ada habis habisnya.
"Di belakangmu." Huh?! Aku langsung menyerong ke samping. Ternyata ada slime yang mencoba menyerangku dari arah belakang. Untunglah, mungkin suara aneh ini cukup berguna.
"Dasar slime slime s**l*n! Musnahlah kalian!" Slime slime itu aku tusuk semuanya dengan cepat. Kalau saja mayatnya tidak mencair, mungkin slime slime itu akan berubah menjadi sate slime.
__ADS_1
"ઊઠો, અંધકારના સૂતેલા આત્માઓ, અને તમારા બધાને અંધકારની સાચી શક્તિને સમર્પિત કરો."
Whut?! Dia ngomong apaan?! Baca mantra kah?! Tapi kok bahasanya kek gini. Lingkaran sihir itu berputar, berganti warna dan ukurannya jauh lebih besar daripada sebelumnya.
Dari lingkaran sihir tersebut, muncul sebuah mahluk kegelapan yang amat besar. Dia memiliki penampilan yang mirip dengan kesatria kegelapan yang sering muncul dalam buku maupun game.
"Mahluk apaan itu?! Kok dia besar benget?!" pekikku sambil mendongak. Meski tak sebesar monster yang pertama kali aku lawan di sini, tapi dia juga termasuk besar.
Dia memiliki tinggi sekitar 4 sampai 5 meter. Di sekitarnya terlihat kabut berwarna hitam pekat, di salah satu tangannya juga ada pedang besar yang siap untuk memotong apa saja. Sebenarnya siapa orang ini? Dia sampai dapat memanggil monster seperti ini?
"Musnahkan." Kudengar samar samar dia mengucapkan hal tersebut. Monster tadi bergerak, maju dan melesat bertujuan untuk menyerangku.
Aku mencoba menghindar dengan bantuan sihir angin seperti saat aku kabur dari kawanan orc, tapi karena kemampuanku belum memadai, lengan kananku terkena serangannya dan mengucurkan darah yang cukup banyak dari luka tersebut.
"Monster kali ini sama sekali bukan tandinganku, apa yang harus aku lakukan untuk mengalahkannya?" tanyaku kepada diriku sendiri. Ayolah berpikir! Jika otakmu tidak berkerja dengan cepat pada saat begini, kau mungkin bisa kehilangan nyawamu.
Sreet
Crass
Tidak bisa! Makhluk ini sama sekali tidak memberiku waktu untuk berpikir! Apakah makhluk ini punya kelemahan? Bisa bisa aku mati karena pendarahan jika terus terusan begini.
Aku terus berusaha menghindar dengan bermodalkan sihir instan yang pernah aku pelajari, tapi sepertinya percuma. Tindakanku hanya mengulur waktu, aku tak dapat menandingi monster yang satu ini.
"Ahaha, apa kali ini aku beneran akan mati?" Aku terkekeh mengingat apa saja yang sudah aku lalui. "Ternyata... aku selemah ini yah?" gumamku kecewa kepada diri sendiri yang sangat lemah.
"Sepertinya kau sudah mencapai batasmu yah? Kalau begitu, aku akan memegang kendali untuk sementara waktu."
"Ap-" Belum selesai dengan kata kataku, kesadaranku sudah hilang terlebih dulu. Pandangan ku menggelap, dan aku tidak tau apa yang terjadi setelah itu.
..."Menjadi lemah sesekali juga tak apa kok, kelemahan itulah yang akan membawamu menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya."...
...~Yulia Alexander~...
__ADS_1
BERSAMBUNG