
..."Sepertinya kau sudah mencapai batasmu yah? Kalau begitu, aku akan memegang kendali untuk sementara waktu."...
..."Ap-" Belum selesai dengan kata kataku, kesadaranku sudah hilang terlebih dulu. Pandangan ku menggelap, dan aku tidak tau apa yang terjadi setelah itu....
...___...
Aku membuka mata, melihat ke sekitar yang sepertinya aku sedang ada di tenda umum, soalnya warnanya biru tua sih. "Apa yang terjadi setelah kesadaranku hilang yah?" Aku memegang kepalaku, rasanya pusing. Apakah suara misterius itu mengambil alih tubuhku saat itu? Sepertinya sih begitu.
"Haaah~ makin lama ini akan menjadi sangat membingungkan." Ku gunakan lengan kananku untuk menutupi kedua mataku. Entah kenapa rasanya lelah, lelah karena ada banyak hal yang belum bisa ku cerna. Tapi di sisi lain, aku juga tambah ingin tau tentang monster dan bagaimana cara mengalahkannya.
Aku itu bodoh kan yah? sepertinya sih begitu. Jika orang lain menghindari bahaya, tapi aku malah ingin menghadapi bahaya tersebut. Ahaha, pikiranku makin lama makin sinting.
"Haah~ kenapa dia tidak bangun bangu-" Aku membuka mata, melihat ke sumber suara. "Ternyata dia adalah Pangeran pemarah mau datang menjengukku yah?" Aku duduk dan tersenyum simpul melihat kedatangan pangeran Dean si pangeran pemarah.
"Siapa yang kau bilang pemarah hah?!" serunya sedikit keras.
"Tuh kan, baru dipancing sedikit udah emosi aja, asal kau tau yah... jika emosimu labil begitu, kau jadi mudah dimanfaatkan tau," kataku sekalian menasehati. Harusnya sih nasehat dulu baru ngejek, tapi ga papa lah.
"Aku tau itu." Dia duduk di sebelah diriku, menyilangkan kedua tangannya. "Tapi, mau ditahan pun aku sering kelepasan, jadi aku biarkan saja," lanjutnya dengan senyum sumringah.
Satu kata untuknya, "Aneh."
"Apa kau bilang?!" Gawat! Aku keceplosan.
Karena sudah keceplosan, lanjutin aja lah. "Yah... seperti yang kau dengar," kataku memanas manasi. Hehe, memanas manasi orang yang mudah emosi itu menyenangkan yah. Lihat saja wajah tak terimanya yang terpampang di wajahnya.
Dia menghela napas gusar, "S**l*n, aku jadi ingin memukulmu." Dia mengacak acak rambutnya. Ahahaha, melihatnya frustasi membuat hati kecilku menari kegirangan.
"Lagian, kenapa kau sok sokan melawan salah satu boneka iblis padahal tubuhmu itu sudah hampir mencapai batas? Kalau Yulia tidak memberimu pertolongan pertama mungkin kau akan mati lho." Aku sedikit tersentak. Berarti setelah aku tidak sadarkan diri, suara misterius itu memang mengendalikan tubuhku untuk sementara waktu.
__ADS_1
Eh, tapi apa katanya tadi? "Boneka iblis?"
"Apa kau tak tau apa itu boneka iblis? Kalau tidak tau, kenapa kau malah sok sok an melawan sih. Ternyata kau itu cukup bodoh ya," katanya di selingi ejekan. Uuh, pangeran satu ini menjadi sedikit menyebalkan. Aah! Akhir akhir ini, aku jadi sering keceplosan.
"Yah... di sini terlalu membosankan, mungkin aku akan jalan jalan sebentar?" kataku sambil berdiri.
"Hoi hoi! Kau itu sedang masa pemulihan! Kau harus banyak istirahat tau! Kau ingin menyiksa tubuhmu?!" pekik Dean menentang keputusanku. Yah... benar juga sih, aku juga baru sadar.
Tapi, "Tidak masalah merasakan sedikit sakit daripada merasa kebosanan, ehehe." Tanpa mau mendengar balasan Dean, aku langsung keluar dari tenda.
Hm? Pemandangan di sekitar tenda berubah, apakah kita pindah? Tapi kenapa?
"Kita pindah karena sepertinya tempat itu sudah tak aman lagi tau, di sana sudah sering terkena serangan monster, jadi lebih baik kita pindah lokasi," jelas Dean di belakangku. Waw... Apakah dia cenayang?
Aku menatapnya lekat seolah meminta penjelasan, "Kau saja yang mudah ditebak." Jawabannya sama sekali tidak sama dengan apa yang aku harapkan!
"Oh ya, sepertinya kau Axel itu dekat yah?" tanya Dean sambil melirikku sebentar.
"Naomi, ternyata kau sudah sadar yah? Apa kau lapar? Kau tidak sadarkan diri lebih dari seminggu lho," kata Yulia sambil menyodorkan keranjang buahnya ke hadapanku.
Tapi tunggu... "Eh?! Aku sudah tidak sadarkan diri selama itu?!" pekikku kaget. Kok bisa?!
"Kau tidak sadarkan diri sangat lama sampai sampai kami mengkhawatirkan mu lho," tutur Yulia dengan senyum manis biasanya.
"Ya, lebih tepatnya 12 hari, hampir 2 minggu kau tidak sadarkan diri," ucap Dean yang sedari tadi diam. "Kau sudah sekarat saat aku menemukanmu," lanjutnya dengan senyum seringai.
"Oh ya, bagaimana keadaan dari pemilik boneka iblis itu? sebenarnya apa itu boneka iblis?" Aku menatap Dean, meminta penjelasan yang aku butuhkan darinya.
"Boneka iblis adalah pion yang berasal dari dunia bawah, mereka tidak lebih dari seorang boneka yang dikendalikan oleh tuannya. Perlu pengorbanan untuk dapat memanggil boneka iblis. Karena bagaimanapun, iblis tetaplah iblis," jelas Dean diakhiri dengan nada tegas. Dia pasti sangat membenci bangsa iblis yah? Yah, mengingat adik adiknya itu, aku bisa memakluminya.
__ADS_1
"Singkatnya sih, boneka iblis cuma pion yang kuat, saking kuatnya, penggunanya harus menyerahkan pengorbanan dengan tubuh maupun jiwanya," tambah Yulia.
"pengorbanan tubuh ataupun jiwa..." gumamku. Apakah jiwa mereka akan dimakan oleh boneka iblis? Mungkin begitu.
"Kalau penasaran, bukannya lebih baik kau lihat saja kondisi pengendali boneka iblis itu?" Tanda tanya besar seperti muncul di atas kepalaku, apa maksudnya?
"Saat aku menemukanmu, boneka iblis dan penggunanya sudah melemah, jadi aku mengalahkannya dan membawanya untuk diintrogasi, tapi sepertinya dia tidak akan bisa membuka mulutnya lagi," jelas Dean serius.
"Hee, kalau begitu, tolong antar aku yah," kataku dengan senyum seringai. "Yulia, aku ambil satu buah ini yah, aku lapar sih." Aku mengambil satu buah apel dari keranjang Yulia. Dia hanya menanggapi dengan anggukan disertai kekehan.
"Ayo!" Aku menarik tangan Dean, tidak memperdulikan sumpah serapah yang dia keluarkan.
...***...
Kami sampai si sebuah tenda yang sedikit jauh dari perkemahan, mereka memasangnya di sini agar jika pengguna boneka iblis itu menyerang, serangannya tak langsung ke perkemahan yah?
"Dasar s**l*n! Kau punya mulut bukan! Buka mulutmu itu dan katakan sesuatu yang berguna!" Di dalam tenda, aku mendengar suara yang familiar. Axel?
"Ayo masuk, jangan membuatku repot nantinya." Uh! Kata katanya kadang sering membuatku emosi.
Kami memasuki tenda, di sana terlihat Axel dan seseorang yang memiliki boneka sihir itu. Dia diikat di sebuah kursi dengan tali menyala, tali sihir yah?
"Oi oi, jangan emosi begitu, lagian orang yang kau khawatirkan baik baik saja tuh," kata Dean yang hanya ditanggapi tatapan datar Axel. Waw! Aku tak pernah melihat Axel berekspresi seperti itu. Tapi, apakah dia mengkawatirkanku? Entahlah.
Tapi... Sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku karena ada Dean di depanku. "Kalian, jangan mengabaikanku dong," kataku kesal. Haah~ aku paling tidak suka diabaikan. Itu menyebalkan.
..."Jangan iri karena pangkat mereka lebih tinggi, irilah jika mereka memiliki kekuatan yang lebih tinggi."...
...~Yashiro Naomi~...
__ADS_1
BERSAMBUNG