
Aku sudah tak tahan, rasanya sangat mengantuk. Akupun mulai memejamkan mataku, "Naomi!! Bertahanlah sebentar lagi!!" Kudengar samar samar dia berbicara lagi. Tapi terserahlah, aku pun memejamkan kedua mataku dan aku tak tau apa yang terjadi setelahnya.
...____...
Di suatu tempat, aku mengerjapkan mataku dan melihat atap dari tenda berwarna coklat, apa ini tempat Yulia? Akupun duduk dan melihat sekeliling, ini memang tempat Yulia.
Tak lama kemudian aku melihat seseorang memasuki tenda dengan membawa beberapa tanaman herbal. Dia sangat terkejut ketika melihatku sudah sadar.
"Halo," kataku canggung dengan melambaikan tangan.
"Nona?!! Anda sudah sadar?!!" Tanyanya dengan sedikit berteriak.
"Lah, kalo saya belom sadar yang duduk siapa dong?" Aku mendegus. Yulia— yap! Yang ada di hadapanku adalah Yulia. Dia mendekatiku kemudian memeriksa seluruh tubuhku. Apa ada yang salah?
"Syukurlah kalau anda sudah sadar, saya khawatir anda tidak bisa bangun lagi tadi." Dia menghela nafasnya lega. Lah? Apa lukaku memang separah itu? Aku memang merasa sakit tapi sepertinya tidak separah itu deh.
"Ngomong-ngomong, aku tidak suka dengan bahasamu yang sangat baku tau! Kamu bisa memanggilku Naomi saja dan jangan menggunakan kata saya ataupun anda!" Aku akhirnya mengatakan hal yang ingin aku katakan. Yah... walau terdengar sangat tidak sopan sih, mungkin setelah ini aku akan di cap gadis tak tau malu.
"Eh— ah baiklah, nama sa— namaku Yulia Alexander. Kalau begitu sa— aku akan memanggilmu dengan sebutan Nona Naomi." Dia sempat beberapa kali salah dalam penyebutan, imutnya.
"Jangan pakai Nona lagi, panggil saja Naomi atau Naonao."
"Tapi... bukankah itu tidak sopan?"
"Ga papa, anggep sebagai teman." Aku tersenyum. Aku melihat ekspresinya sedikit terkejut.
Dia terdiam sejenak kemudian angkat bicara, "Baiklah, Naomi." Dia tersenyum.
'Uh damagenya bukan maen!'
__ADS_1
"Oh ya Naomi, aku kesini untuk melihat keadaanmu sekalian mengobati beberapa luka gores yang ada di tubuhmu." Luka? Aku tidak ingat bahwa aku terluka. Apa aku terluka saat melawan makhluk aneh itu? mungkin juga sih.
"Oh oke," kataku. Dia mulai membantuku mengolesi salep di luka yang ada di tubuhku.
'Uh! Perih!'
Aku menggigit bawah bibirku karena merasa sakit. Yulia sepertinya menyadari hal itu karena dia lebih memperlembut gerakannya.
"Nah, sudah selesai. Kau tidak boleh ceroboh seperti tadi yah Naomi, kau bisa saja mati melawan monster itu lho," katanya. Dia malah menceramahiku dengan panjang lebar, ugh! telingaku terasa panas.
"Kasihan kakak yang tidak tidur gara gara menjagamu semalaman, kalau saja dia tidak ku suruh istirahat mungkin dia masih ada di sini." Eh? Apa katanya? Kakaknya? Maksudnya Axel?
"Ano... kakak kamu itu Axel kah?" tanyaku. Dia mengangguk dengan cepat. Uwaw dia bisa merasa khawatir juga yah. Eh tapi kalau di pikir pikir lagi saat di danau dia juga mengkhawatirkan diriku.
"Karena lukamu sudah di obati, aku akan pergi sebentar untuk mengobati yang lain sekalian membuat ramuan agar kau jadi merasa lebih baik," katanya sambil berdiri. "Oh ya jika kau mencari kak Axel, dia ada di tenda warna orange kemerahan, letaknya ada di paling akhir. kau cari saja soalnya cuma tenda kakak yang berwarna itu. Selebihnya berwarna biru tua." Aku hanya mengangguk. Dia pun pergi keluar lalu di susul oleh diriku.
'Oh ya? Kata Yulia Axel menjagaku semalaman, berarti aku tidak sadarkan diri sehari semalam dong. Uh! Sepertinya aku sangat tidak berguna.'
Axel kemudia keluar dari tendanya dengan mata yang sedikit sembab, apakah dia menangis? Entahlah. Saat dia melihat diriku, tanpa berpikir panjang dia langsung memelukku begitu saja.
'Eh eh? Ada apa ini?!'
"Jangan melakukan hal berbahaya seperti itu!! Aku takut kau mati tau!!"
'Eh? Bagaimana? Kita baru kenal kemarin lho, kok kamu udah mengkhawatirkanku sampai sebegitunya.'
"A— ano... bisa kau lepaskan pelukanmu? Lukaku bisa terbuka lagi," kataku dengan sedikit sungkan. Dia langsung melepaskan pelukannya kemudian mengalihkan pandangannya dariku. Kulihat samar telinganya memerah, imutnya.
"A— aku hanya khawatir tidak bisa menjaga rakyat dengan baik yah, bu— bukan berarti kau spesial untukku." Hei, saat kau bicara begitu bukankah perasaan aslimu sudah ketahuan? Haah~ dasar.
__ADS_1
"Terserah," kataku cuek. "Yang terpenting adalah, bagaimana Kerajaan Aster hancur begini?! Kau harus menepati janjimu yah!!"
Axel terperanjat, "Ka— kau masih mengingatnya?" Tentu saja bukan? Aku hanya pingsan, bukan hilang ingatan.
"Tentu saja lah! Kamu pikir aku hilang ingatan?" kataku jengah. Astaga!! Ekspresimu sangatlah jelek!
"Ayolah, kau sudah berjanji padaku!! Jangan bilang kau akan mengingkari janji?" kataku dengan mengangkat salah satu alisku. Tolonglah, aku sangat penasaran!! Bagaimanapun aku adalah anak 17 tahun yang sangat suka petualangan.
Dia tampak terdiam. Oh halo! Aku bukan tipe orang yang sabar untuk menunggu setiap saat yah, "Oh halo!! Aku sudah cukup menunggu cukup lama yah!! Aku ga mau nunggu lagi jadi ayo ceritakan!!" Ah aku malah membentaknya, aku kesal sih.
Dia tampak mengeryitkan dahinya, "Bukannya itu baru dua hari? Dan lagi, kau tak sadarkan diri sehari semalam jadi itu baru sebentar."
"Oh astaga, apakah kau tidak tau rasanya orang penasaran? Satu jam itu berasa 1 abad tau ga sih?!" Tolonglah diriku, mungkin setelah ini aku akan darah tinggi.
Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain, "A— aku sudah di panggil oleh Yulia, mungkin nanti saja." Saat dia akan pergi, dengan sigap aku menghalangi dirinya.
"Jangan bermain main denganku yah," kataku. "Aku tidak mendengar Yulia memanggilmu, jika dia benar memanggilmu, maka aku akan menjelaskan semuanya padanya setelah kau selesai bercerita. Jadi jangan mengelak!"
"Ta— tapi kan..." katanya dengan nada murung. Oh ayolah! Jangan memasang wajah sedih, kau membuagku terlihat seperti gadis yang jahat.
"Arg!! Ayolah! Aku sangat emosi!! Bisa bisa aku malah terkena serangan darah tinggi gara gara kau!!" Aku sangat kesal dengan ini, ingin sekali rasanya aku menonjok mukanya. Tapi sayang, bisa bisa ketampanannya luntur karena aku tonjok.
"Tapi aku tidak ingin menceritakannya..." katanya murung. Dia menundukkan kepalanya dan sialnya itu membuatku merasa sangat bersalah.
"Haah~" Aku menghela nafas kasar, "Baiklah, kau harus menceritakan tentang bagaimana Kerajaan Aster hancur dan akan kuceritakan kenapa aku bisa tidak mengingat semua yang ada di sini." Aku menyerah.
Kini wajah Axel lebih ceria, dia nampak berpikir lalu kemudian mengangguk, "Baiklah, akan kuceritakan semua yang aku tau." Yey!! Waktunya mendengarkan kisah baru.
Bersambung
__ADS_1
Maaf banget kalo ceritanya ga jelas, maklum lah masih pemula.
See you next time