
Yulia menggeleng, "Ahaha tidak sama sekali kok, pangeran Dean kini sedang mencari seseorang yang dapat mengalahkan raja monster dan juga membebaskan kedua adiknya." Entah kenapa saat aku melihat raut wajah murungnya aku jadi merasa bersalah.
..._____...
"Oh ya! Apa kau dan kakak bisa mencari tanaman herbal untukku?" tanya Yulia dengan menepuk tangannya sekali. "Ini daftarnya, kakak tau semua bentuk tanaman yang ada di sini jadi tolong yah."
Eh? Gimana? Aku harus mencarinya dengan Axel gitu? Oke oke aja sih, "Baiklah, kemarikan daftarnya. Aku akan meminta Axel menemaniku." Dia kemudian menyerahkan daftarnya padaku.
"Tolong yah."
"Baiklah," kataku sambil melihat daftar. "Oh ya! Aku penasaran berapa umur kalian?"
"Kami? Umur kami hanya beda 1 tahun, kakak berumur 17 dan aku 16." Perkataannya sontak membuatku tersentak kaget sampai sampai aku ingin terjungkal. Bagaimana tadi? 17? Dia seumuran denganku dong?!
"HA?!! Serius?!! Aku sama dia seumuran?!!" Aku sampai kelepasan berteriak dengan suara yang tak terlalu keras. "A— ahahaha maafkan aku." Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal.
"Tak apa, tapi? Kau bilang kau seumuran dengan kakakku? Serius?" Aku mengangguk dengan cepat. Kulihat ekspresinya berubah menjadi terkejut, "Wah!! Aku tak menyangka akan hal itu, aku pikir kau masih 13 tahun karena kau pendek." Ah sialan! Meski aku pendek tapi jangan di perjelas juga kali.
"Ahaha, aku pergi ke tenda kakakmu dulu yah, jaga diri baik baik." Dia mengangguk. Akupun beranjak pergi dari tenda menuju kearah tenda Axel.
...***...
Di depan tenda, aku sudah menemukan Axel yang sedang mengeluarkan semua kekesalannya dan memaki serta mengutukku dari belakang. Sialan memang!
"Oi, kalau mau mengutukku, kutuk di depan orangnya dong, jangan malah ngutuk di belakang orangnya, entar kutukannya ga berfungsi." Dia terlonjak kaget saat aku sudah ada di belakangnya dan secara refleks membalikkan badan ke arahku.
"E— eh?" Karena saking kagetnya, dia malah linglung. Wkwkwkwk aku ingin tertawa keras tapi takut dosa.
"Hoi! Jangan malah bengong, kita di suruh mencari tanaman herbal untuk Yulia." Aku menunjukkan kertas daftar yang sudah di berikan Yulia padaku tadi. Axel langsung mengambilnya begitu saja tanpa mengatakan apapun. Huft~ kalau bukan anak orang udah aku tendang kepalanya sampe lepas.
__ADS_1
"Baiklah, ayo pergi sekarang." Dia malah langsung pergi tanpa menungguku terlebih dahulu.
'Dasar anak sialan! Kepar*t! Bangs*t!'
Aku mengerjarnya dan berjalan di sebelah dirinya. "Memangnya kita akan mencari tanaman herbal di mana?" tanyaku penasaran. Apakah akan ada petualangan lagi? Jika iya aku sangat menantikannya.
"Kita akan mencarinya di hutan sebelah danau," katanya tanpa menoleh ke arahku.
"Danau? Oh? Apakah danau tempat kita bertemu?" Dia hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun. Apa dia marah padaku karena aku tak menceritakan tentang kenapa aku tidak mengingat semuanya? Hmph!! Tidak keren sama sekali.
...***...
Setelah beribu-ribu abad berjalan, akhirnya kita sampai di hutan tempat tanaman herbal berada. Apakah Yulia berjalan sejauh ini setiap hari? Wah Yulia kuat sekali yah.
"Akhirnya!! Apakah kau sudah menemukan obat herbal yang di butuhkan Yulia?!" tanyaku dengan nada ngegas. Biasalah, kalau lelah bawaannya pengen marah mulu.
Axel mendengus, "Jangan enak bicaranya saja! bantu aku mencari tanaman herbalnya!" Lah? Gimana mau nyarinya? Orang aku sendiri ga tau bentuknya kayak gimana.
"Sialan kau!" umpatnya dengan nada rendah tapi masih terdengar di telingaku. Fufufu, membuatnya kesal adalah hobi baruku semenjak aku nyasar kesini.
'Oke, aku ingat ingat lagi, kenapa aku bisa ada di sini? Seingatku aku sedang membaca buku paket dan baru halaman pertama aku langsung tertidur.
'Setelah itu aku mengalami mimpi aneh sebelum akhirnya aku terbangun di dalam danau, mimpi apa yah? Apakah ada kaitannya dengan ini?'
"Naomi!!" seru Axel yang berhasil membuatku tersentak dan tersadar dari lamunanku. Dasar anak sialan! "Aku sudah mendapat semua yang di butuhkan jadi jangan melamun dan ayo kembali!"
Ugh, sialan! Aku tidak ingin berjalan jauh lagi, tapi yah sudahlah. Aku kembali berjalan menyusuri jalan yang sama. Baru setengah jalan, kami sudah di hadang oleh sekumpulan monster monster yang aku kenali namanya.
"Goblin?!!" kataku keceplosan. Ya, yang ada di hadapan kami adalah sekelompok goblin yang sudah membawa senjata lengkap.
__ADS_1
"Goblin?" Sepertinya Axel tidak tau menau tentang goblin atau sebagainya. Aneh, apakah mereka tidak mengenal monster yang sangat populer jika di novel dunia lain seperti ini? Padahal hampir semua dunia lain memiliki goblin, terutama jika temanya petualangan.
Kelompok goblin tersebut langsung menyerang kami dengan senjata mereka. Ada yang menembaki kami dengan pistol, dan ada yang mencoba menusuk kami dengan pedang. Kami yang di targetkan itupun menghindar dan menyerang balik. Kan ga mungkin kami diam saja dan terima terima saja saat mau di bunuh.
"Goblin sialan! Mati saja sana! wajahmu itu merusak pemandangan!" kataku sambil menendang salah satu wajah goblin itu. Kulihat dia kesakitan dan keluar cairan hijau dari hidungnya. Mirip ingus tapi ga kentel wkwkwk.
"Eww jijiq tau!!" Aku mundur beberapa langkah menghindari cairan yang hampir mengenai kakiku.
Door!
Aku sangat terkejut saat melihat kepala goblin yang ada di depanku sudah hancur karena tembakan orang asing. "Saha?! Siapa weh?! Apakah super hero?! Kalo iya, musnahkan semua monster ini yah, ntar aku kasih sendal jepit bekas," kataku dengan entengnya.
"Pangeran Dean?!" seru Axel yang sontak membuatku terkesiap. Astojim!! Aku baru saja memerintah seorang pangeran? Ntar kepalaku aman ato engga?!!
"Yo Axel, sepertinya kau sudah bertumbuh besar yah." Mereka malah berniat berbincang saat ada sekelompok goblin yang menyerang.
"WOI BICARANYA NANTI AJA KALI!! KALAHIN DULU MONSTERNYA, BISA BISA KITA MATI GARA GARA DI SERANG MONSTER ITU!!" kataku geram. Aku memang bisa menyerang goblin itu, tapi berhubung aku tak punya mana jadi aku tak bisa mengalahkannya dengan cepat.
Dean hanya mengangguk mengerti lalu menembaki semua goblin. Wuih, keren. Semua goblin mati dalam sekejap. Patut diacungi jari tengah, eh maksudnya jempol.
"Nah udah, Axel? Dia siapa sih? Dia tak punya sopan santun sekali yah dengan seorang pangeran." Ugh! kata kata itu malah membuatku kesal.
"Heh Jamal! Aku tidak peduli yah, mau kamu pangeran kek, putri kek, raja kek, kaisar kek, emangnya aku peduli?" kataku kesal. Urusan kepala aku akan pikirkan nanti. Kalo kepala pisah dari badan yah pasrah aja deh.
"Ha?!! Siapa yang kau panggil Jamal sialan?! Namaku Dean, Dean de Aster!!"
...Jika kalian ingin membuat masalah denganku, pikirkan dulu. Karena aku tidak akan segan segan berbuat kasar pada kalian....
...~Naomi Yashiro~...
__ADS_1
Bersambung
maaf kalau tidak menarik yah