
..."Sifatmu yang mudah marah bisa sangat berbahaya, lebih baik kau kurangi sifat tersebut agar kau bisa terhindar dari bahaya yang akan datang."...
...___...
"Heh!! Memangnya karena siapa aku jadi sekesal ini hah?!! Dan juga yah, siapa sih dirimu?!! Kenapa kau terus membisikkan suaramu seakan masuk kedalam kepalaku."
"Kau tak perlu tau akan hal ini, lebih baik kau turuti perkataanku jika kau ingin selamat dalam dunia yang sudah hancur ini."
Sialan! Memangnya kau itu apa?!! Padahal kau hanya seseorang yang tak jelas asal usulnya tapi kau belagu sekali mengatakan hal itu padaku.
"Terserahlah, kau memang tidak bisa diajak bicara." Aku kesal. Namun rasa kesal itu berganti setelah aku mendengar suara rintihan kecil dari orang disebelahku.
"Yulia, kau sudah bangun?!" Astaga!! Aku sempat lupa dengan Yulia karena suara dari orang menyebalkan itu.
"Kau bicara dengan siapa, naomi?" Dia memposisikan duduknya supaya menjadi nyaman, menatapku seakan sudah melakukan kejahatan fatal.
Mampus! Apa Yulia menganggapku gila karena mengoceh sendiri? Aaah, kurasa memang begitu, "Ti- tidak, aku hanya bicara sendiri kok, ah ha ha ha." Aku mencoba tertawa agar dapat menghilangkan rasa canggung ini, tapi kok malah makin kerasa canggung?!
Aku berkeringat dingin, tatapan selidik Yulia membuatku merasa seperti sedang diintrogasi. "Yah... terimakasih sudah menyelamatkanku," katanya sambil menghela napas. Syukurlah.
"Oh ya Yulia, aku sebenarnya ingin menanyakan sesuatu, apakah boleh?" tanyaku. Yulia hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaanku. "Sebenarnya, 'mana' itu di miliki semua orang atau hanya beberapa orang tertentu? Apa ada tingkatan tingkatan yang harus aku ketahui?" Itulah pertanyaanku. Jujur saja, aku penasaran, aku juga harus lebih mengetahui pengetahuan umum yang ada dalam dunia ini.
"Oh, maksudmu seperti dasar dasar sihir yah?" Aku langsung menanggapinya dengan anggukan. "Hm... bagaimana cara menjelaskannya yah...?" gumam Yulia bingung.
Dia nampak termenung sejenak, sepertinya dia memikirkan harus menjelaskan mulai dari mana. Aku yang tidak mau menunggu pun akhirnya membuka suara, "Kalau begitu, bisa berutahu apa itu mana?" Dia menoleh kearahku lalu menganggukkan kepala.
"Mana adalah hal yang paling kita butuhkan, mana ini ada di udara layaknya oksigen namun hanya beberapa orang saja yang mampu melihat mana. Semakin banyak mana yang kau punya akan semakin besar sihir yang bisa kau ciptakan.
__ADS_1
"Orang orang sendiri memiliki tingkatan berbeda berdasarkan mananya. Yang pertama, 'Normal', tingkatan ini biasa di miliki oleh rakyat biasa, mana dari tingkatan normal sangatlah sedikit dan hampir tidak memiliki mana, jadi orang yang memiliki tingkatan normal tidak dapat menggunakan sihir.
"Yang kedua, 'Elite', elite adalah tingkatan yang lebih tinggi dari normal. Orang yang memiliki tingkatan elite biasanya dapat menggunakan sihir dasar sampai menengah, yah intinya sih penyihir lemah sampai rata rata.
"Yang ketiga, 'Master', biasanya tingkatan ini dimiliki oleh orang yang punya sihir mengengah keatas, penyihir ini biasanya sih bekerja sebagai petualang ataupun pengawal orang orang kaya.
"Yang keempat, 'Grandmaster' penyihir tingkat atas yang biasanya menjadi pengawal ataupun pegawai kerajaan. Kelima, 'Heroin' penyihir jenius yang mungkin hanya sedikit orang yang memiliki tingkatan itu.
"Dan yang terakhir, 'Legendary' tingkatan ini sudah tidak diketahui orang umum karena tidak ada yang memiliki gelar ini selama beberapa ratus tahun."
Waw, padahal baru tingkatan, tapi dah panjang banget euy penjelasannya. "Kau dan yang lainnya sih peringkat apa? Apa ada orang yang bisa sihir selain kalian yang ada di perkemahan?"
"Hm... di tenda memang memiliki beberapa orang yang berbakat dalam hal sihir sih, tapi kebanyakan memiliki tingkat normal ataupun elite. Aku sendiri mempunyai tingkat master dan hampir mencapai grandmaster, kak Axel grandmaster dan pangeran Dean Heroin."
Mataku terbelalak mendengar penjelasannya, pangeran rese itu memiliki tingkat heroin? serius? axer dan yulia juga memiliki tingkat tinggi. Aku jadi merasa tertinggal sendiri nih.
"Mana bisa ditingkatkan dengan beberapa cara, yang pertama adalah latihan menyerap mana yang ada di udara, yang kedua adalah meminum potion penambah mana, biasanya potion ini di beli oleh orang orang yang menginginkan mana instan, harganya juga sangat mahal."
Aku mengangguk angguk menandakan aku memahami apa yang dijelaskan oleh Yulia. "Terima kasih sudah mau menjelaskannya padaku yah, Yulia," kataku menarik kedua sudut bibirku hingga membuat sebuah senyuman.
"Sama sama." Dia menjawabnya dengan senyum manis seperti biasa. "Ngomong ngomong, sebenarnya kita ada di mana? Aku ingat terakhir kali kita melawan monster dan pingsan."
Aku terdiam, tak langsung menjawab pertanyaannya. Bagaimana aku harus menjelaskannya yah? Apa aku bilang langsung saja kalau aku kabur dengan bantuan sihir angin? Okelah. "Aku membawamu kabur dengan bantuan sihir angin, aku membawamu ke arah yang berbeda dengan perkemahan, jaga jaga saja kalau orc itu mengejar kita," jelasku apa adanya. Yah... Walau aku menyembunyikan hal tentang suara aneh itu sih.
"Begitu yah..." gumamnya. "Tapi bukankah kau tidak bisa menggunakan sihir yah?" Mampus! Aku lupa soal itu!
"E- eeh... aku tidak pernah bilang bahwa aku tak bisa sihir tuh," elakku sambil memalingkan wajah. Ya... aku kan tidak pernah bilang bahwa aku tidak bisa menggunakan sihir, setidaknya sesuai ingatanku begitu.
__ADS_1
"Itu memang benar sih... soalnya kau tidak mengeringkan dirimu sendiri saat pertama kita bertemu, padahal pengeringan cuma sihir tingkat dasar, jadi aku kira kau tidak bisa menggunakan sihir sama sekali, maaf yah."
Jangan minta maaf, kamu ga salah sama sekali kok Yulia. Maaf membohongimu.
"Ahaha... aku lupa bisa sihir saat itu." Aku tersenyum canggung sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal. Aku merasa bersalah karena membohongi Yulia seperti ini.
Tapi, akan aneh jika aku jujur dan bilang bisa sihir karena ajaran instan dari suara aneh yang ada dalam kepalaku. Jadi, lebih baik aku diam saja lah soal itu.
Aku berdiri dan melihat ke sekitar, sepertinya orc itu tidak mengejar kita, syukurlah. "Sepertinya orc tidak mengejar kita, apa kita akan kembali ke perkemahan sekarang?" tanyaku yang hanya diangguki Yulia.
"Apa kau baik baik saja? Masih kuat berjalan kan? Jika kau mau aku bisa menggendongmu kok."
"Tidak perlu kok, lagian ini cuma luka kecil jadi jangan terlalu di pikirkan," tuturnya menolak tawaranku dengan halus. Dia berdiri dan membersihkan bajunya yang terkena tanah.
Apa bajuku juga kotor yah? Ah ga peduli, lagian ga ngaruh sama tubuh juga.
"Ayo kembali ke perkemahan dulu, untuk tanaman herbal dan obat obat itu... sepertinya harus ku buat ulang yah?" katanya diakhiri dengan tawa canggung.
Ah! Aku lupa soal tanaman dan obatnya! "Ma- maaf Yulia! Aku melupakannya dan meninggalkan semuanya di tempat kita tadi," kataku sambil menyatukan kedua tangan di depan kepala.
"Tidak usah dipikirkan, lagian ini salahku karena mengajakmu kemari." Meski dia bilang begitu, tapi aku tetap merasa tidak enak karena meninggalkan tanaman dan obat berharga itu di sana tau.
..."Saat emosi menguasai, maka akal sehat dan logika tak dapat digunakan lagi."...
...~Suara Misterius~...
BERSAMBUNG
__ADS_1