Petualangan Di Dunia Lain (Lytopia)

Petualangan Di Dunia Lain (Lytopia)
Chapter 12 {}


__ADS_3

...Tapi... Sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku karena ada Dean di depanku. "Kalian, jangan mengabaikanku dong," kataku kesal. Haah~ aku paling tidak suka diabaikan. Itu menyebalkan....


...___...


"Nao- mi?" lirih Axel mematung.


"Ya? Napa? Kangen yah?" tanyaku sambil menyilangkan tangan.


Grep


"Eh?!" Aku tersentak. Apa apaan pria satu ini?! sangat tidak sopan!! Aku mencoba mendorongnya, tapi percuma. Dia tidak bergerak barang sedikitpun.


"Aaa!! Aku sesak!! Lepaskan aku!!" seruku kesal. "Tubuhku ini masih sakit semua tau! jangan membuatku tambah sakit karena pelukan mautmu!" tambahku.


Dia melepas pelukannya dan menunduk seakan menyesal. "Maaf," lirihnya. Ugh, jangan membuatku menjadi seperti orang jahat begini dong.


"Kalian, sudah reuniannya? jika sudah, kita harus menghadapi masalah utama kita." Dean yang sedari tadi diam membuka suaranya. Dia menunjuk pengguna boneka iblis, dia tampak seperti tidak memiliki jiwa, setidaknya menurutku begitu.


Aku mendekatinya, "Oi, hati hati. Dia bisa saja lepas kendali dan menghancurkan ikatannya." Aku hanya mengangguk, mengiyakan perkataan Axel.


"Pengendali boneka iblis, bisakah kau ceritakan semuanya kepadaku?" Aku memegang kedua bahu pengendali boneka iblis itu.


"Oi!!" Kudengar mereka berdua berseru bersama. Aku menoleh, menunjukkan ekspresi yang seakan bertanya 'ada apa?' pada mereka.


"Padahal sudah kusuruh hati hati..." gumam Axel yang masih dapat kudengar. Ah... ternyata segini masih belum hati hati yah? padahal aku sudah waspada.


Dia mendongak, menatap ke mataku. "To- long se- semuanya..." lirihnya yang sepertinya hanya aku yang dapat mendengar itu. "Hanya kau, yang terpisah..." Terpisah? Apa maksudnya?


"Hoi apa mak-" Kata kataku terpotong karena dia tiba tiba tumbang. "Oi! Apa yang terjadi!!" Aku menggoyangkan tubuhnya, tanpa sengaja aku melihat wajahnya.


Aku tersentak. Padahal tadi wajahnya masih baik baik saja, tapi kenapa sekarang wajahnya jadi membusuk? Bayaran karena telah mengendalikan boneka iblis? Tapi, kenapa dia malah meminta tolong padaku?


Aku memukul kepalaku sendiri agar dapat fokus. Ayolah Naomi!! Berpikirlah! Temukan celah dari semua misteri ini! Apa yang terjadi saat kau tertidur?!


Otak s**l*n! Disaat genting begini, kenapa kau malah tidak bekerja dengan baik?!


"Oi gadis aneh, pengguna boneka iblis nya lenyap tuh," sahut Dean membuatku tersentak dan langsung menatap kearah kursi yang sekarang hanya tinggal jubah milik pengguna boneka iblis.


"Huh? Apa ini?" gumamku sambil mengambil sebuah kertas yang sebagian besar tertutupi oleh darah. "Apa kau bisa membersihkannya? Mungkin kita akan mendapatkan informasi ataupun sesuatu dari kartu ini," jelasku sambil menyodorkan kertas tadi kepada Axel dan juga Dean.


"Hm... mungkin aku bisa membersihkannya dengan sihir, boleh kucoba dulu?" Aku hanya mengangguk menanggapi perkataan Dean. Aku menyerahkan kertas tersebut dan Dean mulai membersihkannya dengan sihir miliknya.

__ADS_1


"Bukannya ini kertas mantra yah? Sepertinya dia menggunakan itu untuk memanggil boneka iblis," kata Dean setelah membersihkan kertas tersebut.


"Singkat kata, tidak berguna yah?" ucap Axel diiringi helaan napas. Aku pikir itu adalah kertas berguna, sepertinya aku salah yah?


"Apa aku bisa meminjamnya?" Dean hanya mengangguk dan menyerahkan kertas itu kepadaku. Aku membalik kertas tersebut dan melihat ada tulisan jepang yang tidak beraturan. "Pesan?" gumamku ragu.


Dean dan Axel mendekatiku dan ikut melihat tulisan dalam kertas tersebut. "Tulisan apa ini? Aku belum pernah melihatnya," kata Axel yang memperhatikan tulisan jepang yang ada di kertas.


Aku kembali memfokuskan pandanganku pada kertas itu. Mencoba membaca dan mencerna tulisan yang ada dalam kertas tersebut.


-


Bagai dilahap kegelapan


Semua yang terang menjadi gelap dalam sekejap


Setiap kegelapan, pasti ada secercah cahaya


Cahaya pasti akan menyalurkan cahayanya


menyinari kegelapan yang ada disekitarnya


Jikapun ada pengorbanan


Bebaskan kami


Kembalikan kami


Ketempat seharusnya kami berada


-


Apa maksudnya ini? Apakah ada peristiwa yang tidak aku ketahui? Apakah ada hal yang aku lewatkan selama aku tidur? Kenapa semuanya jadi serumit ini?!


Ayolah! Apakah ada ingatan yang bisa membantuku dalam hal ini?! Setidaknya walau hanya secuil informasi berguna, itu akan sangat membantuku.


Apa maksud dari kegelapan? Apakah itu ada kaitannya dengan pria yang menculik putri Lucia dan Lilia? Ada kemungkinan begitu.


Lalu, secercah cahaya. Apa cahaya itu? Apakah aku harus mencari sesuatu yang dapat membebaskan 'kegelapan'?


Eh? Masih ada tulisan kecil lagi di ujung kertas.

__ADS_1


-


Kami berharap siapapun yang menemukan dan membaca ini dapat menjadi cahaya untuk kami. Selamatkan kami dari belenggu ini.


-


"Aargh! Ini membuatku pusing!!" pekikku kesal. Setidaknya kalau mau memberi informasi, jangan pakai teka teki seperti ini dong!! Aku bukan seseorang yang punya otak encer.


"Kau bisa membacanya Naomi?" Aku mengangguk menanggapi pertanyaan Axel. Informasi berputar dalam kepalaku. "Apakah kau bisa membacakannya untuk kami?" Aku kembali mengangguk lalu mulai membacakan apa yang aku baca tadi.


Keduanya terdiam sejenak, memikirkan kata kata itu. "Kegelapan, mungkin ada kaitannya dengan orang yang menyebabkan semua ini," kata Dean serius. Yah... aku juga berpikir seperti itu sih. "Lalu secercah cahaya di tengah kegelapan, mungkin maksudnya setitik harapan di tengah keputusasaan," lanjutnya.


Benar juga yah, aku tidak kepikiran sampai situ. "Lalu yang terakhir... 'bebaskan kami, kembalikan kami, ke tempat seharusnya kami berada' itu apa?" Kami kembali merenung sejenak. Aku memang punya perkiraan tapi...


"Apakah itu maksudnya mereka ingin dikembalikan ke tempat yang seharusnya?" tebak Axel yang diangguki oleh Dean.


"Haah~ kita kesampingkan sulu tentang ini," kata Dean diiringi dengan helaan napas gusar. "Lagian, bisa bisa otaknya menguap jika digunakan terus menerus," lanjutnya sambil menunjukku.


"Siapa yang kau bilang otaknya akan menguap hah?!"


"Yang merasa."


S**l*n! Sama sekali tidak mencerminkan seorang pangeran. "Daripada pusing, ayo kita mengisi perut dulu, aku juga sudah lapar sih," katanya sambil merangkulku dan Axel.


"Dih, sok asik," ejekku.


"Oi!"


"Kalian! Berhenti bertengkar dan ayo pergi." Uwah... kenapa nada bicaranya dingin sekali. Apa ada yang salah? Padahal tadi menyerangku dengan pelukan maut.


...***...


Singkat kata, kami kembali dan sekarang sedang memakan makanan yang dimasak oleh Yulia. Ini enak banget! Walaupun bahan bahannya terbatas, tapi dia bisa membuatnya sampe seenak ini? hebat! Dan lagi, dia membuatnya untuk semua orang. Kau hebat sekali Yulia!!


"Oh ya, saat melawan slime saat itu, sebagian besar tidak dapat bertarung yah? Apakah mereka tidak diajari bela diri ataupun sihir gitu?" tanyaku kepada Axel. Lagian, cuma dia yang ada di samping aku sekarang. Dean? Keluyuran ga jelas.


"Sebagian besar orang orang di sini adalah rakyat biasa, mereka tidak diberi pembelajaran tentang bela diri dan lebih fokus ke ekonomi, jadi saat ada insiden seperti tadi yah... sebagian besar masyarakat tidak dapat berbuat apa apa," jelas Axel.


Aku berpikir sejenak. "Bukankah lebih baik jika kalian mengajari mereka teknik beladiri? Dasar juga tidak apa apa lho, itu bisa melindungi mereka dari monster monster lemah, mereka jadi tidak terlalu bergantung kepada kalian lagi kan?" usulku. Yah... ini terserah kalian sih, lagian ini bukan hak ku untuk memerintah.


..."Ditengah keputusasaan pasti ada harapan, jikapun tidak ada, kau bisa menjadi sebuah harapan tersebut"...

__ADS_1


...~Pengendali Boneka Iblis~...


Bersambung


__ADS_2