
...Aku berpikir sejenak. "Bukankah lebih baik jika kalian mengajari mereka teknik beladiri? Dasar juga tidak apa apa lho, itu bisa melindungi mereka dari monster monster lemah, mereka jadi tidak terlalu bergantung kepada kalian lagi kan?" usulku. Yah... ini terserah kalian sih, lagian ini bukan hak ku untuk memerintah....
...____...
"Hm... benar juga yah, pasti akan lebih mudah jika mereka dapat menjaga diri sendiri," gumam Axel yang masih dapat kudengar.
"Jadi? Apa kita harus berdiskusi dengan yang lain dulu?" tanyaku sambil berdiri. Dia hanya mengangguk dan ikut berdiri, kemudian kami menuju tenda tempat aku dan Yulia tidur.
Gubrak!
"Apa itu?!" pekik Axel panik dan langsung membuka tenda. Aku sendiri juga kaget dan memilih untuk mengikuti dari belakang.
"Yulia?! Kau baik baik saja ka—" ucapan Axel terpotong. Kami mematung melihat pemandangan yang ada di hadapan kami. Dapat dilihat Dean dan Yulia dengan posisi yang sedikit 'ambigu'.
"Ekhem! Jangan pedulikan kami," ucapku sambil memalingkan wajah.
"KA- INI SALAH PAHAM!!" pekik Dean dengan semburat merah di pipinya. Begitupun juga Yulia yang sudah tidak bisa berkata kata lagi, wajahnya merah bagaikan tomat.
......***......
"Jadi, pangeran melindungi adikku dari rak obat yang jatuh, begitu?" Dean hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Axel bagai introgasi.
"Yah~ padahal kirain..." ucapku kepada Yulia diakhiri dengan senyum penuh arti. Dapat di lihat wajah Yulia kembali memerah. Yah... tak dapat dipungkiri sih itu merupakan hal yang memalukan.
"O— oh ya, kenapa kalian pergi ke tenda? Apakah kalian terluka?" tanya Yulia mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Tidak, kami tidak terluka kok. Kami cuma mau mencari kalian," kataku dengan senyum ramah. mereka berdua hanya menampilkan wajah bingungnya. Karena tidak ingin canggung aku mulai menjelaskan tentang rencana mengajari masyarakat agar bisa menguasai teknik beladiri, minimal mereka bisa dasar-dasarnya.
"Hm... rencanamu memang bagus tapi apakah yang lain akan setuju? kita juga kekurangan orang untuk mengajari mereka," komentar Dean sedikit tidak setuju mungkin?
"Yah... bener juga sih tapi bukankah itu lebih baik daripada kita harus terus melindungi para penduduk tanpa mengajarinya teknik bela diri sendiri? kita juga tidak bisa membiarkan mereka terus-terusan bergantung kepada kita," sanggahku.
"kau benar, kita tidak bisa terus-terusan melindungi mereka." akhirnya Dean menyetujui rencana kami. kami mulai mencari orang-orang yang bisa beladiri dan dapat mengajari yang lainnya.
Tidak kusangka pencarian itu memakan waktu hampir seharian, tapi berkat itu kami jadi tahu siapa saja yang bisa melindungi dirinya sendiri dari monster dan dapat mengajari orang lain juga.
__ADS_1
Sekarang kami, calon pengajar sedang berkumpul di tempat yang tidak terjauh terlalu jauh dari perkemahan. Kami berdiskusi metode apa yang cocok untuk mengajari para masyarakat dengan cepat dan efisien tapi tidak membebani tubuh mereka.
"Bu— bukankah lebih baik jika kita mengajari mereka olahraga ringan terlebih dahulu? Jika kita langsung mengajari mereka hal yang berat tanpa tahu dasarnya bisa saja tubuh mereka kaget bukan?" kata Brandon, pria yang mahir dalam menggunakan tombak.
"Kau benar, dan aku sudah memikirkan metode yang tepat untuk mereka," ucapku antusias. Aku mulai menjelaskan metode yang biasa aku gunakan ketika aku masih berada di bumi.
Setelah rapat dadakan itu, keesokan harinya kami memulai pelatihan. Banyak yang menentang pelatihan tersebut, tapi tidak sedikit juga yang mengikuti pelatihan tersebut.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, sudah dua bulan berlalu semenjak aku tiba di dunia yang asing ini. Aku juga sudah bisa mempelajari sihir-sihir dasar ya walau tidak terlalu kuat sih.
Hubunganku dengan para masyarakat juga tidak terlalu buruk, aku sering membantu mereka dalam berlatih dan juga memburu monster di dekat perkemahan.
"Oi Naomi, jangan terus-terusan melamun! jika kau terus melamun seperti itu kita tidak bisa mengumpulkan tanaman herbal," seru Axel mengejutkanku.
"Ah—hahaha, be—benar juga ya, ayo kumpulkan ini dengan cepat, Aku juga ingin segera istirahat sih," kataku sedikit canggung.
Aku memfokuskan diriku untuk mencari tanaman herbal, yah... Aku sudah di sini selama dua bulan sih, jadi aku sudah hafal beberapa tanaman-tanaman herbal yang biasa dibutuhkan oleh Yulia.
"Kau sudah mengambil apa yang kita butuhkan?" tanya Axel yang hanya ku jawab dengan anggukan. "Kalau begitu, ayo kita kembali."
"KAKAK! NAOMI! GAWAT! PERKEMAHAN KITA DISERANG LAGI!" Sesampainya di perkemahan kita berdua sudah disambut dengan pemandangan mengerikan. Dapat dilihat tenda-tenda sudah hancur dan banyak yang terluka.
Aah... padahal dalam 2 bulan ini tidak ada monster kuat yang menyerang perkemahan. Tapi kenapa ini malah terjadi? Padahal aku baru merasa santai.
"Naomi, bantu aku mengobati orang-orang yang terluka di sini," seru Yulia. Aku mengangguk dan mengikuti Yulia dengan membawa tanaman herbal yang sudah aku dan Axel cari.
"Ka— kalian, apa kalian baik baik saja?" tanya Brandon dengan memegang tombaknya yang sudah dilumuri dengan darah monster. "Na— Naomi, kau sudah kembali? apa tadi kau dan Axel diserang oleh monster?"
aku hanya menggeleng, bagaimanapun tidak ada monster yang menyerang kami saat berjalan menuju perkemahan. "aku dan Axel tidak diserang sama sekali," ungkapku singkat.
"YAMI!! LIHAT INI!! ORANG ANEH YANG MEMBAWA MONSTER ITU MENYERAHKAN INI KEPADAKU!!" Aku dikejutkan oleh suara melengking khas Wendy, dia berlari ke arahku dengan membawa sebuah amplop yang terlihat kusut.
"katanya ini harus sampai pada pangeran Dean apapun yang terjadi, aku memang mencurigai orang yang membawa monster itu. Pasti dia merencanakan hal yang tidak baik!" kata Wendy disertai dengan gerutuan.
"Tapi, bagaimanapun orang itu menyuruhku menyampaikan ini, bisa saja ada hal penting yang tersimpan dalam amplop ini. Aku memang mau menyerahkannya pada pangeran, tapi aku tidak menemukannya sama sekali. Bukankah kau dan Yulia dekat dengan pangeran? Jadi aku serahkan ini pada kalian saja yah."
__ADS_1
"Makasih, Wendy."
"sama-sama," katanya dengan disertai senyuman lebar khas miliknya. "Aku bergabung dengan yang lain dulu yah." aku mengangguk.
"Apa kita buka saja? Bagaimana menurutmu Yulia?" tanyaku pada Yulia yang sedari tadi diam. Yulia tidak menjawab, aku rasa dia tak tau harus menjawa apa.
"Surat ini memang untuk Pangeran Dean, tapi tidak ada salahnya kita melihat bukan? Aku juga penasaran sih, hehehe."
Aku memutuskan untuk membuka amplop itu dan ternyata amplop itu berisikan sebuah surat yang ujungnya telah terlumuri darah. Aku sedikit terkejut, tetapi aku harus tetap membaca surat yang dikirim oleh orang misterius tersebut.
Kalian sudah terlalu lama bersembunyi. Bukankah ini waktu yang tepat untuk kalian menampakan diri? Ingat, kedua Putri tersayang kalian itu sedang disandera oleh kami. Apakah kalian mau Putri yang rapuh itu kami hancurkan berkeping-keping.
Kalian bisa pergi ke kastil ku jika kalian ingin menyelamatkan putri rapuh itu. Ingat, kalian hanya memiliki waktu 3 bulan, jika kalian terlambat siap-siap saja potongan-potongan tubuh putri-putri itu akan sampai kepada kalian.
^^^Tertanda: Kehancuran^^^
Tanpa sadar aku meremas surat tersebut. entah kenapa aku merasa geram dan kesal dengan orang yang menyebut dirinya kehancuran tersebut.
..."Dunia hanyalah sebuah permainan, permainan yang mana nyawa yang menjadi taruhan."...
...~Kehancuran~...
BERSAMBUNG
Maaf jika ceritanya tidak seru, gaje, dan lain sebagainya🙏
susah susah ambil mangga
eh malah diambil teman
tekan like jika suka
komentar jika ada saran
Awokawok gaje
__ADS_1
^^^~See You Next Time~^^^