
"Haah~" Aku menghela nafas kasar, "Baiklah, kau harus menceritakan tentang bagaimana Kerajaan Aster hancur dan akan kuceritakan kenapa aku bisa tidak mengingat semua yang ada di sini." Aku menyerah.
Kini wajah Axel lebih ceria, dia nampak berpikir lalu kemudian mengangguk, "Baiklah, akan kuceritakan semua yang aku tau." Yey!! Waktunya mendengarkan kisah baru.
...______...
Kini aku dan Axel sedang duduk dekat sungai tempat aku bertemu dengan monster aneh kemarin, "Oke, aku akan menceritakannya jadi kamu harus mendengarkannya dengan baik yah!" Aku mengangguk cepat dengan mata penuh harap.
Axel POV
Haah~~ sekarang aku harus menceritakan tentang awal mula Kerajaan Aster hancur, menyebalkan! Tapi entah kenapa aku tidak bisa menolaknya, "Oi!! Cepatlah!! Aku sudah sangat penasaran!!" Dia kini berhasil membuatku tersentak, dasar gadis barbar.
"Baiklah." Akupun mulai menceritakan kenapa Kerajaan Aster bisa hancur. Dan di saat bersamaan aku mengingat bagaimana kejadian hancurnya Kerajaan Aster.
Flashback on
Setengah tahun yang lalu, Kerajaan Aster masih damai seperti biasanya. "Tuan Muda Axel, anda di panggil oleh duke ke ruang kerjanya, katanya anda harus segera ke sana," kata kepala pelayan. Ya, aku memang anak dari duke Alexander.
"Baiklah, aku akan segera kesana." Aku mengangguk, dan kini kepala pelayan itu sudah pergi.
Aku beranjak dari tempatku duduk dan berjalan menuju ke ruang kerja ayahku, sebenarnya ada apa sih? Entah kenapa aku malas saat di suruh ke ruangannya.
Sesampainya di depan ruang kerja ayah, aku mengetuk pintu ruangan tersebut. "Ayah, ini aku, Axel, apa aku boleh masuk?" kataku dengan sedikit berteriak.
"Silakan masuk!" Terdengar suara ayah dari dalam ruangan. Aku pun memasuki ruangan tersebut dan di sana sudah ada Yulia yang berdiri di depan meja ayah.
"Ada apa ayah sampai memanggil kita berdua? Apakah ada masalah?" tanya Yulia. Uh! Entah kenapa dia selalu selangkah di depanku.
__ADS_1
"Haah~~ kalian dengarkan ini baik baik karena ayah hanya akan mengatakannya sekali." Mendengar itu, akupun mulai fokus untuk mendengarkan ayah, begitupun dengan Yulia.
"Akhir akhir ini monster muncul lebih banyak dari biasanya dan banyak kesatria, penyihir, atau petualang yang kualahan melawannya. Tadi pagi raja mengatakan bahwa kalian harus ke istana dan menjaga putri Lucia dan putri Lilia karena raja harus memantau daerah barat. Meski di sana ada pangeran Dean, tapi tetap saja raja meminta agar kalian ke istana untuk mengantisipasi adanya hal yang tidak di inginkan." Ayah mengatakan hal itu dengan tampang yang errr serius.
"Tapi ayah, bukankah putri Lucia dan Lilia itu sangat pandai dalam hal sihir yah? Dan juga pangeran Dean juga sangat mahir dalam sihir, kenapa kita harus ke sana?" tanyaku tak mengerti. Ketiga anak raja itu di kabarkan sangat kuat tapi kenapa kita berdua harus ke istana dan menjaga kedua putri raja?
"Ayah tidak bisa mengatakannya lebih dari itu, yang terpenting kalian harus kesana, kalian tidak harus tau apa yang terjadi di sana."
"Tapi kan, jika aku sendiri tidak tau apa masalahnya, bagaimana aku harus melindungi kedua putri itu?"
"Untuk kali ini aku mendukung kakak, jika tak ada masalah kenapa kita harus melindungi mereka?" kata Yulia mencoba membelaku. Nice Yulia.
"Haah~~" Ayah menghela nafas gusar. "Baiklah, ayah kalah, ayah akan memberitahu kalian, tapi ayah harap kalian tidak membeberkannya kepada yang lain. Raja tidak ingin ada satupun orang yang tahu akan hal ini, tapi untuk kalian pengecualian." kata ayah pasrah.
"Putri Lucia dan Lilia memang sangat kuat namun beberapa hari yang lalu mereka di serang oleh monster yang tidak di kenal dan kekuatan sihir mereka memudar dikarenakan mereka terkena racun dari monster yang menyerang mereka. Jadi di istana hanya ada Dean dan para kesatria yang menjaga kedua putri itu."
"Baiklah ayah, kami akan pergi ke istana sesuai dengan perintah dari raja," kata Yulia yakin. Dia memang orang yang tegas sih, tapi dia sering kaku dan kikuk saat berbicara pembicaraan ringan.
"Baik jika itu keputusan kalian, kalian akan berangkat 2 jam lagi jadi jangan membuang buang waktu, siapkan barang yang akan kalian bawa dan kereta kuda akan sampai dalam 2 jam."
"Baik ayah, jika tak ada hal yang perlu di bicarakan lagi, kami pamit undur diri," kata kami bersamaan lalu keluar dari ruangan ayah.
...***...
2 jam berlalu, kami telah bersiap dan kereta kuda sudah datang menjemput kami. Kamipun segera masuk ke dalam kereta kuda dan keretapun berangkat.
Aku menatap keluar jendela, uh aku merasa bosan. Akhirnya aku pun melamun memikirkan apa yang akan terjadi nanti. "Kak, apa yang akan terjadi setelah kita sampai di istana yah?" tanya Yulia yang berhasil membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
"Entahlah," jawabku singkat. "Mungkin kita akan mengalami hal baru setelah sampai di sana."
"Yah... sepertinya begitu."
Percakapan kami berhenti sampai di situ. Kami menikmati perjalanan dengan cara kami masing masing.
...***...
Sekarang kami sudah sampai di istana dan betapa kagetnya kami saat melihat banyak sekali orang tergeletak tak bernyawa di lantai. Kami segera berlari mencari para putri dan pangeran.
Setelah mencari ke segala tempat, akhirnya kami menemukan pangeran Dean yang sedang melawan para monster di bantu dengan putri Lucia dan juga Lilia.
Kami segera membantu pangeran untuk mengalahkan semua monster yang ada di ruangan tersebut. Setelah beberapa saat, akhirnya para monster itu sudah berhasil di berantas oleh kami. "Tuan putri Lucia, tuan putri Lilia, dan pangeran Dean. Apa kalian baik baik saja?" tanya Yulia sambil memeriksa ketiga anak raja itu.
"Kami baik baik saja, tidak ada luka jadi kau tidak perlu memeriksa kami," kata pangeran Dean yang membuat Yulia menghela nafas lega. "Ayo keluar dulu!" Setelah dia mengatakan hal tersebut, kami langsung berlari keluar.
Di luar istana, kami terkesiap melihat pemandangan yang begitu berbeda dengan sebelumnya. Langit yang tadinya biru menjadi kelabu, dan banyak sekali monster berkeliaran memakan semua warga yang ada.
"A— apa yang terjadi?! Pa— para warga—" Putri Lucia yang sangat terkejut itu sampai tidak bisa melanjutkan kata katanya.
Saat kami ingin menyelamatkan para warga, kami di kepung oleh segerombolan monster yang berupa orc dan juga goblin. Kami sudah berusaha untuk mengalahkan mereka tapi entah kenapa mereka tidak bisa mati.
"KYAK!! KAKAK!!" Terdengar suara teriakan dari putri Lucia dan juga Lilia yang berhasil membuat kita tersentak. Mereka kini sedang di gendong oleh sebuah pria dengan tubuh kekar dan juga memiliki tanduk merah darah yang ada di kepalanya.
Bersambung
Okey! Maaf kalo ceritanya kagak jelas, maklum pemula. oh ya kalau ada kesalahan kata ataupun ada saran silakan tulis di kolom komentar ya.
__ADS_1
See you next time