
"Hm aku setuju." Ucap Demian dari ambang pintu kamar. Maniknya menatap Abel yang terlihat tengah melakukan perawatan wajah.
"Memang harus setuju. Jika tidak! Akan ku hancurkan karier mu!!"
"Tidak semudah itu."
"Mudah saja. Aku beberapa kali merekam kau mengumpat dan marah-marah seperti orang gila. Jika itu ku sebarkan, kau yakin jika karier mu akan baik-baik saja."
"Akan ku hancurkan ponselmu!!" Cepat-cepat Abel meraih ponselnya dan meletakkannya pada selipan bra-nya.
"Ambil jika mau." Ledeknya menjulurkan lidahnya ke arah Demian yang tepat berdiri di hadapan.
Wajahnya mengemaskan sekali jika seperti itu. Demian malah berpaling dan memundurkan tubuhnya saat menyadari degup jantung nya kembali mengoyak akal sehatnya. Dewasa, dia sangat dewasa dan juga cantik. Ah Tuhan aku gila sudah memikirkan ini tapi aku ingin mellumat bibir merahnya itu..
"Aku tidak sudi menyentuhmu." Demian duduk lemah di tepian ranjang.
"Aku juga tidak sudi kau sentuh." Abel kembali duduk di kursi rias dan melanjutkan aktivitasnya." Itu bukan sekedar ancaman. Aku akan melakukannya jika kau tidak mengunakan jasa pengawal." Ancam Abel lagi.
"Iya oke tapi aku tidak mau sembarangan orang. Aku tidak nyaman." Abel mengangguk-angguk seraya menyisir rambut.
"William. Dia yang cocok."
"Tidak! Aku tidak mau."
"Siapapun tidak akan mau mengawal lelaki bermulut busuk seperti dirimu." Demian kembali mendengus lagi dan lagi. Dia memikirkan cara untuk bisa terlepas dari William. Lelaki yang sangat membuatnya cemburu.
"Bagaimana dengan kamu Nona?" Tiba-tiba saja fikiran itu terlintas berserta ancamannya jika Abel menolaknya.
"No Ian!! Aku tidak mau." Abel memutar tubuhnya.
"Why?"
"You suck!" Jawab Abel ketus.
"Aku hanya ingin kamu. Only you." Demian tersenyum tipis penuh ancaman.
"Bukankah kau membenciku dan tidak ingin dekat denganku."
"Apa harus jatuh cinta dulu baru bisa membuat mu menjadi pengawal ku." Abel membuang muka dengan dengusan nafas terbuang kasar.
"Aku memiliki perusahaan yang harus ku urus."
"Kau bisa mewakilkan itu hingga semua aman." Abel tidak bergeming. Dia meletakkan krim malamnya dengan kasar." Katamu demi Papa dan Mama." Rajuk Demian mengeluarkan jurus pamungkas nya.
__ADS_1
"Aku bukan pengawal Ian. Kenapa kau punya ide segila itu." Abel berdiri dan menatap tajam Demian.
"Aku tahu kamu cukup hebat untuk hal ketangkasan." Aku juga ingin bersamamu setiap saat Abel. Aku merasa kesal membayangkan mu bersama William sepanjang hari.
"No Ian! Aku tidak mau."
"Hm oke. Setelah ini tidak perlu mengaturku untuk memakai jasa pengawal dan lain sebagainya. Biar saja Mama menangis karena melihatku terluka atau bahkan terbunuh. Masih ada kamu yang mengantikan ku nantinya." Demian beranjak pergi berniat untuk pergi ke kamar utama yang berada di lantai dua.
"Cih! Busuk sekali anak itu. Bagaimana mungkin dia punya niat seperti itu." Gerutu Abel menatap keluar jendela." Terserah saja jika dia ingin mati. Mama dan Papa masih memiliki aku." Abel mengangguk-angguk seraya tersenyum karena menurutnya itu sudah keputusan terbaik.
.
.
Tidak seperti biasanya. Bella dan Daniel berkunjung selarut itu. Abel membukakan pintu untuk Keduanya dengan sambutan begitu hangat.
"Mama." Sapa Abel mencium punggung tangan Bella dan Daniel secara bergantian." Sayang, ada Papa dan Mama." Teriak Abel dengan wajah aneh.
Demian turun dari atas secara perlahan sehingga Abel langsung menyusul untuk membantunya berjalan.
"Kau tidak akan bisa menolak keinginan ku setelah ini." Bisik Demian yang ternyata sengaja memanggil kedua orang tuanya.
"Kenapa kau semakin gila saja!!" Jawab Abel lirih dan berpura-pura tersenyum ke arah Bella dan Daniel.
"Istriku merawatku dengan baik sehingga aku sembuh lebih cepat Ma." Jawab Demian meraih jemari Abel dan mengecup punggung tangannya.
Ih!! Apa ini!! Kenapa dia melakukan itu. Abel tidak kuasa menolak perlakuan Demian. Dia berfikir jika Demian tengah kembali berakting untuk mengelabuhi Bella dan Daniel.
"Terimakasih ya sayang." Mual langsung menjalar ketika Abel mendengar ucapan itu.
"Sudah tugasku sayang. Kenapa kamu berterimakasih." Daniel menatap keduanya secara bergantian. Nafasnya terbuang kasar melihat adegan garing yang di perlihatkan kedua anaknya.
Sampai kapan mereka berpura-pura seperti itu.
"Tumben Mama berkunjung malam-malam." Tanya Abel memberanikan diri.
"Mama minta kamu mau menerima keinginan Demian ya."
"Keinginan apa Ma?" Tanya Abel pura-pura tidak tahu.
"Bersamamu setiap saat. Cemburu itu hal yang wajar Abel. Apalagi perkerjaan kalian selalu berhubungan dengan lawan jenis jadi Mama setuju dengan keinginan Demian."
"Cemburu? Siapa yang cemburu Ma."
__ADS_1
"Demian tidak ingin kamu berdekatan dengan lelaki lain. Mama sudah bicarakan ini dengan Pak Andra. Beliau bilang tidak masalah dan akan memberikan laporan ke rumah." Abel menarik nafas panjang seraya melirik ke arah Demian.
Benar-benar anak ini!!! Selalu saja berbohong untuk menutupi kebusukkan nya.
"Film ku juga sudah selesai. Jadi kamu hanya menemaniku saat pemotretan." Sahut Demian menimpali.
"Aku tidak bisa jika malam hari."
"Aku berjanji tidak akan mengambil syuting malam sayang."
Menjijikan sekali!!
Meskipun mereka sedang berpura-pura. Tapi sepertinya itu ide yang bagus. Mereka harus menghabiskan waktu berdua lebih banyak agar cepat akrab dan saling mengenal satu sama lain..
"Itu ide yang bagus Abel. Selama ini kalian kan sibuk dengan perkerjaan masing-masing. Jadi Papa fikir, kalian harus lebih banyak menghabiskan waktu berdua."
"Bukankah seharusnya Demian berhenti dari dunia entertainment saja Pa." Tolak Abel halus.
"Coba saja kamu rajuk dia untuk berhenti." Abel menarik nafas dalam-dalam. Dia tahu jika Demian selalu bersikukuh mempertahankan karier nya." Papa sudah lelah untuk menawarkan mengurus dunia bisnis. Tapi sampai sekarang dia tidak juga mau berhenti." Imbuh Daniel menjelaskan jika dia sudah berusaha melakukan itu namun Demian tetap pada pendiriannya.
"Ingat janji Mama untuk tidak memaksa ku berhenti asal aku mau menikah dengan Abel." Sahut Demian mengingatkan.
Tentu saja anak busuk itu tidak bisa di hentikan. Sebaiknya aku mengalah daripada Papa dan Mama menjadi terbebani dengan ini..
"Sudahlah. Tidak perlu berdebat. Aku setuju." Senyum Demian mengembang. Dia tahu jika ini akan berhasil karena titik lemah Abel ada pada kedua orang tuanya.
"Terimakasih ya sayang sudah mengalah."
"Iya Ma. Mama mau menginap?"
"Tidak. Kami langsung pulang saja. Kami hanya takut kalian berdebat jadi kami memutuskan berkunjung." Abel tersenyum seraya melirik ke Demian yang tengah tersenyum menang.
Aku yakin ada rencana lain di balik ini semua. Apa Demian sengaja menginginkan ku untuk menyiksaku?
Setelah mengantarkan kepulangan Bella dan Daniel di depan. Abel bergegas masuk dan menatap kesal ke Demian.
"Sudah puas Tuan?" Tanya Abel ketus.
"Tentu saja. Kau kalah dan akhirnya aku yang menang."
"Tidak ada pemenang sebab aku mau karena Papa dan Mama. Jika kau bersikap macam-macam padaku, akan ku hancurkan karier mu!!" Ancam Abel melangkah meninggalkan Demian
🌹🌹🌹
__ADS_1