
Abel bergegas berdiri saat terdengar produser berteriak jika pemotretan sudah selesai. Namun lagi lagi suara Demian menghentikannya.
"Bukankah seorang pengawal harus berjalan di sampingku." Protesnya membuat Abel menghentikan laju kakinya.
Ah Tuhan baru satu hari aku melakukan perkerjaan ini tapi Demian sudah membuatku muak..
"Bagus seperti itu." Demian tersenyum saat melihat Abel berjalan sejajar dengan dirinya.
Memuakkan sekali!!!
Ingin rasanya Demian merangkul kedua pundak Abel sekarang. Tapi rasa itu tertahan karena keangkuhannya. Dia hanya mampu sesekali melirik seraya menarik nafas dalam-dalam.
"Ian tunggu." Panggil Aldo setengah berteriak.
Demian meraih kaos belakang Abel untuk menyuruhnya berhenti sehingga membuat Abel menoleh sejenak.
"Apa lagi?" Tanya Abel lirih. Ian tidak menjawab dan menghadap ke bawah Aldo dengan tangan masih memegang ujung kaos Abel.
"Ada tawaran sinetron. Jika kamu mau kita bertemu dengan produser besok." Ucap Aldo dengan senyum mengembang. Matanya melirik ke arah tangan Demian yang seolah tengah menahan Abel untuk pergi.
"Aku tidak menerima job film apalagi sinetron. Bukankah kau sudah ku beritahu."
"Sayang sekali jika di tolak. Sinetron itu memiliki episode yang panjang Demian."
"Kenapa tidak kau saja yang main sinetron itu." Jawab Demian pelan. Dia baru menyadari jika manik Aldo tengah memperhatikan tangannya sehingga perlahan tangannya melepaskan ujung kaos Abel.
"Jika aku bisa. Pasti akan ku lakukan. Sayangnya wajahku dan bakat ku tidak sebagus dirimu." Aku merasa ada hubungan khusus antara Demian dan pengawalnya. Kenapa Ian seolah ingin si pengawal ini berada di dekatnya. Pandangan Aldo beralih pada Abel untuk menebak-nebak bagaimana wajahnya di balik masker itu. Kulitnya sangat terawat. Apa benar dia pengawal atau...
Tak!!!
Demian memukul kepala Aldo keras sehingga membuat si pemilik kepala mengusap-usapnya seraya menyeringai.
"Kau lihat apa?" Tanya Demian geram.
"Tidak hehe." Aldo tersenyum aneh dan lebih memilih mengalihkan pandangannya daripada harus berseteru dengan Demian dan berakhir dengan pemecatan." Jadi kau menolaknya?" Imbuhnya memastikan.
"Hm ya." Demian melanjutkan langkahnya di ikuti oleh Abel. Untung aku menyuruhnya berganti baju. Begitu saja sudah menarik perhatian apalagi jika memakai baju tadi..
"Apa perlu ku bukakan pintu mobil untukmu Tuan." Tawar Abel tersenyum di balik masker dengan hati kesal.
"Tidak perlu. Kau cepat masuk."
"Terimakasih atas kemurahan hati Tuan." Abel meraih gagang pintu mobil bersamaan dengan datangnya Elsa.
"Tunggu dulu Ian." Abel mengurungkan niatnya masuk dan lebih memilih drama Korea yang tersuguh di hadapannya.
"Apa?" Demian melirik ke arah Abel yang tengah memperhatikannya.
"Aku membuatkan mu ini." Menyodorkan sebuah kotak makan.
__ADS_1
"Apa itu?" Tanya Demian tanpa menyentuh.
"Aku memasaknya sendiri. Katamu kau suka spaghetti kan." Abel terkekeh dalam hati melihat sikap Elsa dengan suara di buat-buat.
"Aku tidak suka. Masuk! Tunggu apalagi." Pinta Demian seraya menatap tajam Abel. Cepat-cepat Abel membuka pintu kemudian masuk di ikuti oleh Demian.
Abel terkekeh seraya membuka maskernya sementara Demian meliriknya malas.
"Aku memasaknya sendiri pangeran. Katamu suka spaghetti." Ledek Abel menirukan gaya bicara Elsa.
William menahan tawa seraya fokus ke arah jalan dan sesekali melirik ke arah wajah Demian yang tengah kesal.
"Menjijikan sekali. Dia selalu saja bersikap seperti itu setiap kali bertemu." Gerutu Demian bergumam.
"Awas. Nanti benci jadi cinta." Ledek Abel lagi.
"Tidak ada sejarahnya seperti itu. Benci ya benci! Mana mungkin jadi cinta!!" Abel melirik ke Demian seraya terkekeh.
"Jika tidak melakukan itu. Kenapa kau marah. Itu tandanya kau memiliki rasa."
"Rasa apa hei Abel!! Dia bukan tipeku." Teriak Demian tidak terima.
"Ku fikir kalian sejenis. Bukankah kalian sama-sama dunia entertainment dan sama-sama memiliki paras yang tampan juga cantik. Jika kalian bersatu, akan bisa mendongkrak popularitas. Lalu kita bercerai agar kau tidak perlu merasa terancam dengan musuh keluargaku."
Demian mendengus namun tidak bergeming. Itu adalah ide yang sangat bisa di lakukan. Dia bisa saja menyewa wanita cantik untuk berpura-pura menjadi pasangan. Tapi entah kenapa tidak ada sedikit niat terbesit di hatinya.
Tanpa sadar Demian memperhatikan Abel naik turun secara berulang-ulang hingga tangan Abel menjewer telinganya keras.
"Ach!! Sakit!!!" Teriak Demian melotot.
"Kau lihat apa sampai seperti itu! Jangan bilang jika kau mulai kagum pada ku." Demian mengusap-usap telinganya dan memasang wajah geram seolah tidak terima dengan perkataan Abel.
"Kau kurus dan tidak menarik! Bagaimana mungkin ada wanita seperti mu yang memiliki tubuh datar mirip sapu lidi!!"
"Apa katamu!!" Abel mengangkat kedua tangannya lalu mengacak-acak rambut Demian dengan sedikit jambakkan.
"Ach! Sakit lepaskan." Kedua tangan Demian terangkat berniat untuk menghentikan perbuatan Abel. Namun, saat jemari keduanya bersentuhan. Ada getaran aneh yang terjadi sehingga membuat Demian terpaksa mendorong pundak Abel hingga membentur pintu mobil.
Braaaakkkkk!!!
Sontak, William menghentikan laju mobilnya untuk memeriksa keadaan Abel sementara Demian merasa menyesal sudah melakukan itu.
"Nona baik-baik saja." Tanya William perduli.
"Kau keterlaluan sekali anak busuk! Kau tega sekali mendorongku seperti itu!!" Gerutu Abel duduk tegak menatap kesal ke arah Demian.
"Kepalaku juga sakit kau tarik seperti itu!" Jawab Demian tidak kalah ketus meski raut wajahnya terlihat menyesal." Kenapa kau berhenti!! Cepat jalan!!!" Pinta Demian pada William.
"Baik Tuan." William kembali melajukan mobilnya dengan mata sesekali melihat ke arah Abel dari pantulan kaca spion.
__ADS_1
Apa dia baik-baik saja? Aku terlalu keras mendorongnya?
"Aku tidak sengaja." Ucap Demian lirih." Aku refleks tadi." Imbuhnya tanpa melihat ke Abel.
"Tidak perlu kau jelaskan. Ini memang perkerjaanmu. Aku harap pembunuh keluargaku segera tertangkap agar aku tidak harus menjadi pengawal mu." Abel memunggungi Demian seraya memijat punggungnya.
"Aku juga berharap seperti itu."
Sayang sekali dia Suamiku dan juga anak dari Papa Mama. Jika tidak! Sudah ku balas sampai punggungnya patah. Ach!! Tulang ku membentur body mobil..
Demian menatap keluar jendela. Merasa menyesal dengan apa yang terjadi. Bibirnya bungkam karena terhalang keangkuhannya. Padahal di dalam hati, ingin rasanya dia meminta maaf atas perbuatan kasarnya tadi.
Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi..
🌹🌹🌹
Daniel terlihat tengah mengantarkan Bella untuk berbelanja kebutuhan rumah di bawah pengawalan Erik. Atas permintaan Bella, keduanya sering menghabiskan waktu berdua hanya untuk berbelanja kebutuhan rumah yang seharusnya bisa di lakukan pembantu rumah tangga.
Kebiasaan itu sudah di lakukan bertahun-tahun sehingga mereka tidak menaruh curiga dengan Marco yang sengaja berbelanja di sana bersama Fanny.
Dugh!!!
Marco sengaja membentur tubuh Daniel untuk mengalihkan perhatiannya.
"Ahh. Maaf." Ucap Marco tersenyum.
"Ti tidak apa-apa." Senyum Daniel seketika mengembang. Dia masih sangat ingat wajah Marco meski kini sudah menua." Marco?" Imbuhnya memastikan.
"Pak Daniel." Jawab Marco berpura-pura kaget. Dia langsung memeluk erat tubuh Daniel seolah merasa rindu.
Bella menatap keduanya curiga, mengingat bagaimana kejahatan mereka dulu.
Tetap saja Daniel tampan. Dia awet muda. Tidak seperti Marco yang bahkan sudah beruban. Batin Fanny memperhatikan Daniel dari atas sampai bawah.
"Lihat apa?" Tanya Bella tersenyum kecut ke arah Fanny. Rasa cemburunya untuk Daniel tidak berubah. Bella masih saja tidak ingin Daniel berdekatan dengan wanita manapun, apalagi Fanny.
"Oh tidak Bella. Aku hanya tidak menyangka bisa bertemu di sini." Fanny melingkarkan tangannya lengan Marco.
"Dia Istriku Pak." Sahut Marco menimpali.
"Astaga kalian jadi menikah?" Daniel turut bahagia tapi tidak untuk Bella.
"Sebaiknya kita pergi Kak." Marco tersenyum menatap ramah ke Bella.
Dia masih saja cantik dan awet muda..
"Em apa tidak bisa kita mengobrol sebentar?" Tanya Marco berusaha mencegah kepergian Daniel.
🌹🌹🌹
__ADS_1