
Di mobil..
"Di mata mereka masih tidak ada cinta sayang." Bella terdiam menatap keluar jendela.
"Padahal sudah tiga bulan tapi kenapa mereka belum akur juga."
Di luar perkiraan, ternyata Daniel dan Bella mengetahui hubungan antara Abel dan Demian yang begitu dingin. Mereka sengaja diam, untuk memberikan waktu pada kedua anaknya yang seharusnya sudah mampu memberikan cucu.
"Aku yakin karena sikap Demian." Jawab Daniel.
"Kenapa terus menyalahkan Demian Kak." Hingga saat ini, Bella masih juga memanggil Daniel dengan sebutan itu jika tengah berdua seperti sekarang.
"Aku merasa ada yang salah dengan anak kita. Itu karena kamu terlalu memanjakannya hingga dia menjadi anak yang sulit menghargai orang lain.
"Salah bagaimana? Mereka membutuhkan waktu untuk saling memahami." Daniel tersenyum lalu merangkul kedua pundak Bella untuk bersandar ke pundaknya.
Sungguh di luar dugaan jika hingga saat ini Daniel masih memperlakukan Bella dengan sangat manis.
NB. Jika tidak tahu bagaimana kehidupan Bella dan Daniel. Silahkan baca novelku yang berjudul Mengejar cinta istri kecilku
Sekalipun dia tidak pernah membentak atau sekedar mengabaikan keinginan Bella. Sepertinya janjinya pada awal pernikahan.
Kamu akan jadi ratuku selamanya..
"Padahal aku ingin sekali menimang cucu Kak." Gumam Bella menginginkan seorang bayi sejak lama meski Tuhan hanya memberikan Demian.
"Doakan saja mereka cepat akrab agar bisa memberikan cucu untuk kita." Aku yakin mereka tidur terpisah..
"Iya Kak." Aku yakin Demian tidak seperti apa yang Kak Daniel fikirkan. Semoga kedua anakku bisa segera bersatu dan saling mencintai..
*************************
"Menyusahkan sekali!!" Eluh Demian duduk lemah di sofa setelah kepergian Bella dan Daniel." Pernikahan ini seperti mimpi buruk saja!!" Imbuh Demian melirik malas ke Abel yang tengah fokus makan.
"Ingat pada kata-kata Papa. Kau harus lebih mengutamakan kebutuhanku." Sahut Abel seraya terkekeh. Dia begitu senang mendapatkan perhatian lebih dari mertuanya.
"Najis!! Melihatmu saja aku sudah muak!!"
"Apalagi aku!! Hoeeeek!! Cih!!" Abel memutar tubuhnya memunggungi Demian." Jika bukan karena Mommy! Aku tidak mau hidup dengan anak bermulut busuk seperti dirimu!!" Mata Demian melebar dan menatap geram ke punggung Abel.
"Aku lelaki!! Bukan anak!!!"
"Memang anak. Kenapa? Kau tidak terima?"
"Tubuhmu bahkan lebih kecil dariku." Abel tersenyum lalu ikut memutar tubuhnya melihat ke Demian.
__ADS_1
"Tidak berguna! Hanya tubuhmu saja yang besar tapi otakmu tidak." Ledek Abel ketus.
"Jika aku tidak pintar! Aku tidak akan menjadi selebritis."
"Apa susahnya menjadi selebritis! Aku juga bisa melakukannya." Abel berdiri seraya membawa masakan yang di bawa Bella tadi." Selera makan ku turun gara-gara kau!" Abel melenggang masuk di ikuti oleh Demian.
"Aku belum makan. Hei Tante, berikan itu padaku."
Tak!!!
Abel meletakan rantang sedikit kasar pada meja. Dia tidak suka jika Demian memanggilnya Tante.
"Apa katamu!!" Bentak Abel berdiri saling berhadapan dengan Demian yang memang jauh lebih tinggi darinya.
"Berikan itu padaku Tante!!!" Segera saja Abel menjewer telinga Demian meski langsung di tampis kasar.
"Kau fikir aku takut anak busuk!!!" Abel mendorong tubuh Demian hingga dia terduduk di lantai.
"Sialan!! Kau yang busuk!!" Demian bergegas berdiri dan akan membalas perbuatan Abel namun kata-kata Daniel terlintas begitu saja.
Jangan sebut dirimu lelaki jika kau sampai berbuat kasar pada wanita!!
"Uhhh dasar!!" Umpatnya lebih memilih mengambil makanan lalu berlalu keluar dapur.
"Ihhh dasar!! Bagaimana mungkin dia menjadi anak Papa jika sikapnya saja seperti itu!!!" Abel duduk lemah seraya menuang air putih lalu meneguknya habis. Dia bergegas berdiri ketika mendengar suara ponselnya berdering.
Kenapa nada deringnya sama sih?
Abel duduk lemah seraya melirik malas ke Demian yang tengah menerima panggilan.
"Jadi sekarang?
"Ya Ian. Aku tidak tahu kenapa jadwalnya di majukan.
"Hm aku bersiap.
Demian mengakhiri panggilannya dan meletakkan makanannya tanpa membereskannya.
"Aku harus pergi. Berapa nomer pin pintu sebab mungkin aku pulang malam." Abel tidak menjawab. Dia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan singkat pada Demian.
Demian beranjak menuju lantai dua untuk berganti baju. Sementara diam-diam Abel mengambil makanan bekas Demian dan melahapnya.
"Buang-buang makanan saja! Kasihan Mama yang sudah capek-capek memasak." Gumamnya beralasan. Setelah makanannya habis, dia meletakkan rantang pada cucian untuk sekalian membersihkannya. Sebaiknya aku pergi setelah ini. Mungkin saja pelakunya muncul..
Abel berjalan menaiki tangga dan berpapasan dengan Demian yang sudah terlihat tampan dengan style nya. Keduanya hanya terdiam, tidak bertegur sapa bahkan berlalu pergi berlawanan arah begitu saja.
__ADS_1
Setibanya di kamar, Abel berganti baju dengan seragam andalannya jika ingin melarikan diri tanpa pengawalan. Dia bahkan memiliki pintu khusus agar para penjaga tidak mengetahui jika dia keluar diam-diam.
Itu terpaksa di lakukan. Sebab jika tidak begitu, Abel tidak akan bisa pergi bebas seperti yang di lakukannya sekarang. Abel tahu jika itu Andra lakukan untuk kebaikan nya. Namun Abel merasa mampu untuk melawan jika dia mungkin berada di posisi yang genting.
"Udara segar." Gumamnya tersenyum menatap keluar kaca taksi. Topi dan kaca matanya di lepas dan di masukkan ke dalam tas kecilnya.
Sesekali Abel memutar tubuhnya, untuk melihat situasi belakang yang mungkin saja terlihat mencurigakan.
"Cafe Nazzefah Nona?" Ucap supir taksi memastikan.
"Iya Pak."
Taksi berhenti tepat di Cafe Nazzefah. Abel segera turun setelah membayar uang taksi dan duduk di salah satu tempat di sana.
Abel sering melakukan ini. Keluar tanpa pengawalan sebab sebenarnya dia lelah untuk hidup penuh dengan aturan. Harus mengunakan pengawal seolah dia anak kecil yang perlu di jaga.
Tapi apa daya, itu memang harus di lakukan. Abel tidak ingin mengecewakan Andra yang di anggap sebagai pengganti orang tua untuknya.
"Silahkan Nona." Seorang waiters meletakan makanan pesanan Abel.
"Terimakasih." Jawab Abel ramah.
Tangannya meraih jus lalu menyeruputnya sedikit dengan terus mengedarkan matanya untuk terus waspada jika mungkin ada yang mencurigakan.
"Ayolah.. Muncul di hadapanku. Aku tahu kau menginginkan kematian ku." Gumam Abel tersenyum simpul. Seolah tidak sabar, ingin mengetahui siapa dalang di balik pembunuhan keluarganya.
Sementara di studio. Demian tengah melakukan prosesi pemotretan untuk film terbarunya yang baru di release. Dia terlalu teledor hingga tidak menyadari jika sejak awal perjalanannya, ada seorang lelaki yang membuntutinya.
Pemotretan yang di gelar out door, membuatnya bisa mengamati Demian dengan leluasa di tempatnya berdiri.
Entah apa tujuannya. Tapi kini lelaki itu memperhatikannya dari jauh, dengan wajah tertutup masker dan belati yang tersimpan rapi di balik jaket hitamnya.
~Bersambung
Visual..
Demian dengan rambut putihnya..
Aku pakai visual Jisso untuk Abel🥰
Semoga suka..
__ADS_1
Terimakasih dukungannya 🥰🥰