Pewaris Tunggal Sang Mafia

Pewaris Tunggal Sang Mafia
Bagian 11


__ADS_3

Hari yang Abel benci pun tiba. Demian sudah sembuh total dan ini kali pertama dia menerima job pemotretan untuk sebuah majalah. Terpaksa. Abel mendampingi Demian sebagai pengawal, sesuai dengan permintaan Demian sendiri.


Abel sengaja berlama-lama untuk memakai makeup supaya Demian merasa kesal padanya.


"Hei Nona. Aku bisa terlambat untuk menunggumu berdandan." Celetuk Demian menatap malas ke arah Abel yang masih sibuk memoles wajahnya. Wajahnya terlihat geram, dengan dengusan nafas yang terbuang kasar.


"Aku harus tampil sempurna, agar tidak malu berada di samping artis papan atas." Biar saja kesal. Agar dia menyesal memperkerjakan aku menjadi pengawalnya.


Tak!


Tak!


Tak!


Bunyi sepatu dan lantai yang berbenturan menandakan jika Demian berusaha sabar menunggu Abel selesai berdandan. Namun emosinya yang buruk membuatnya tidak bisa menahan umpatan.


"Astaga memuakkan! Lama sekali!!" Tuturnya lagi dan lagi.


"Suruh siapa memperkerjakan ku!!" Abel berdiri seraya meraih tas kecilnya. Demian cepat-cepat menghampiri dan meletakkan tas tersebut." Hei apa ini!!" Protes Abel mendongak ke arah Demian.


"Kau hanya pengawal. Jadi untuk apa membawa tas mahal itu?"


"Aku sudah terbiasa bergaya seperti ini."


"Ganti bajumu dengan celana dan kaos longgar." Pintanya tidak menyukai baju yang Abel kenakan. Dia akan jadi sorotan model lain nantinya.


"Tidak mau! Ayo berangkat katamu telat." Abel meraih tasnya untuk mengambil ponselnya. Dia akan berjalan keluar namun Demian meraih pergelangannya.


"Ku bilang ganti bajumu." Demian menarik paksa Abel menuju lemari dan mengambilkan celana jeans juga kaos berwarna putih." Pakai ini." Imbuhnya memaksa Abel menerima baju pilihannya.


"Ini tidak ada dalam peraturan Ian." Demian mengambil ponselnya dan memotret Abel.


"Ku kirim ke Mama." Demian memotret bagian paha Abel yang terbuka.


"Eh tidak!!!" Cegah Abel kembali menyerah karena ancaman.


"Cepat ganti!"


"Iya iya. Dasar anak kecil! Maunya di turuti terus kalau tidak di turuti langsung mengadu pada orang tuanya." Gerutu Abel seraya masuk kamar mandi.


Demian tersenyum sebentar lalu duduk untuk menunggu Abel selesai berganti baju. Cukup sebentar menunggu, Abel sudah keluar dari kamar mandi dengan baju pilihannya.


"Sudah kan. Puas!!" Umpatnya berjalan melewati Demian begitu saja.


"Tetap saja cantik." Gumam Demian mengikuti langkah Abel. Senyum tipisnya terlihat tengah mengolok-olok wanita di depannya yang terlihat kesal akibat ulahnya.


Di dalam mobil. Keduanya duduk saling memunggungi tanpa perduli pada William yang tengah memperhatikan. Abel dengan ponselnya begitupun sebaliknya.


"Hanya satu jam kan?" Tanya Abel tanpa beralih pada posisinya.

__ADS_1


"Hm kenapa?"


"Aku ada pertemuan setelah ini."


"Kemana?" Tanya Demian cepat. Posisi tubuhnya kini menghadap ke arah Abel yang masih memunggunginya.


"Ke pertemuan! Apa kau tidak dengar."


"Apa tempat pertemuan itu tidak ada namanya!!"


"Hotel Camella." Sahut William yang tahu tentang jadwal pertemuan yang harus di hadiri Abel.


"Oh dekat dengan tempat pemotretan."


"Hm ya! Dan akibat ulahmu. Aku harus bolak-balik untuk berganti baju."


"Baju itu sudah sangat baik." Abel memutar tubuhnya dan menatap tajam Demian.


"Bagus? Apa matamu sakit hei Demian!!! Apa pantas mengenakan ini di pertemuan penting!!" Teriak Abel geram.


Demian tersenyum tipis atau lebih tepatnya tersenyum mengejek. Meski begitu, tidak dapat di pungkiri jika di mata Demian. Abel masih terlihat cantik walau baju yang di kenakan memang tidak pantas untuk di pakai ke sebuah pertemuan.


"Jika merasa tidak pantas. Wakilkan pertemuan itu. Bukankah keputusan sudah di ambil. Pak Andra membawa laporan ke rumah jadi kau tidak perlu susah-susah untuk menghadiri pertemuan." Abel menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar. Dia tahu jika kejadian seperti ini akan terjadi karena sifat Demian yang selalu seenaknya sendiri.


"Aku melakukan itu sepulang dari mengantarkan mu Tuan? Aku tidak mengerti kenapa kau seolah menghalangiku untuk mengurus perusahaan ku sendiri."


"Bukankah kau Istriku? Jadi lakukan tugas selayaknya seorang Istri." Abel melongok mendengar itu kemudian tertawa terkekeh geli.


"Istri?" Kekehan Abel tidak juga berhenti hingga kedua bola matanya terlihat berair.


"Kenapa kau tertawa seperti itu? Apa ada yang salah?" Tanya Demian melirik malas.


"Otakmu mungkin yang salah. Kau serius menyuruhku melakukan tugas sebagai Istri?" Demian menarik nafas panjang. Dia mengingat perkataannya sendiri.


Meskipun kita sudah menikah. Kita tidak boleh mencampuri urusan masing-masing. Kau dengan urusanmu dan aku dengan urusanku..


"Hanya sampai semua aman. Setelah ini kau boleh pergi sesukamu seperti biasanya. Bukankah ini juga akibat kesalahanmu. Dia musuh keluargamu tapi aku harus terlibat di dalamnya. Ingat ya. Aku tidak ingin mati muda karena musuh-musuh mu itu."


"Ya terserah kau saja! Aku hanya tidak ingin orang tua kita sakit gara-gara akibat otak batu mu itu!!"


Mobil terparkir di depan studio. Demian merapikan penampilannya sementara Abel melirik nya malas.


Ya Tuhan. Beri aku kesabaran menghadapi anak bermulut busuk ini!!


"Ingat ya. Jika media bertanya kau siapa. Maka kau akan menjawab."


"Aku pengawal Tuan Demian. Puas!!! Cih!!" Demian tersenyum tipis lalu meraih masker dan memakaikan sembarangan pada Abel.


"Pakai itu!!" Pintanya lagi.

__ADS_1


"Untuk apalagi?"


Aku tidak ingin semua orang melihat kecantikan mu. Ah gila!! Kenapa aku jadi repot hanya karena wanita ini!!


"Kau pewaris tunggal Asian Grup kan? Apa jadinya jika dunia tahu kau merangkap jadi pengawal pribadi Tuan Demian." William menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.


"Astaga aku lupa. Untung kamu mengingatkan itu. Terimakasih Tuan Demian yang agung. Tunggu di situ, biar pengawal ini yang membuka pintu untuk mu." Abel memakai masker lalu turun seraya menutup pintu mobil keras.


Braaaakkkkk!!!


Demian berjingkat namun tersungging bahkan terkekeh dalam hati.


"Apa saya menunggu atau pergi Tuan?" Tanya William lirih.


"Terserah!!" Sebelum Abel membuka pintu. Demian lebih dulu turun dan langsung di sorot oleh beberapa media yang menunggu kedatangannya di sana.


Abel hanya diam seraya menatap sekitar. Meskipun dia melakukan ini dengan setengah hati. Namun dia juga tidak ingin terjadi sesuatu dengan Demian.


Saat tatapan Abel bertemu dengan manik Demian. Dia menyadari jika sejak tadi Demian tengah memperhatikannya diam-diam. Wajah Abel seketika berubah aneh karena merasa tidak nyaman dengan tatapan itu.


Kenapa lagi anak itu? Aku tidak nyaman. Abel beranjak dari tempatnya sekarang. Demian melambai ke Aldo dan membisikkan sesuatu sebelum dia kembali fokus pada pemotretan.


"Nona." Panggil Aldo tersenyum. Dia tidak tahu jika wanita di hadapannya adalah Abel. Wanita yang di kiranya Kakak Demian.


"Ada apa?" Tanya Abel masih sesekali melihat ke Demian yang juga sesekali memperhatikannya.


"Demian tidak ingin Nona jauh-jauh dari lokasi pemotretan."


"Aku hanya akan berkeliling."


"Tapi dia ingin anda duduk di tempat semula."


"Aldo!!!!" Teriak Demian membuat Aldo mengerutkan keningnya.


"Saya mohon Nona. Paling tidak, bantu saya menyelesaikan perkerjaan ini." Abel terpaksa mengiyakan daripada Demian merugikan orang lain dengan mulut busuknya.


Abel duduk di tempat semula seraya melirik ke arah Elsa yang baru saja datang.


"Pasangan fenomenal pun akhirnya bertemu." Gumam Abel memalingkan wajah karena masih merasa muak tentang ingatan pertemuan mereka tempo hari.


Elsa sendiri langsung memasang gaya berlebihan untuk menarik perhatian Demian. Tapi Demian malah lebih sering melihat ke arah Abel yang terlihat tengah bermain ponsel.


"Kau lihat apa Ian?" Tanya Elsa seraya bergaya untuk di ambil gambarnya bersama Demian. Kedua tangannya berada di dada Demian sementara tangan Demian melingkar di pinggangnya.


"Bukan urusanmu." Elsa mencari obyek yang sedang Demian lihat. Wajahnya berubah masam ketika dia menyadari jika Demian tengah memperhatikan wanita bermasker.


"Kenapa ada orang asing di sini? Apa dia anak baru?" Tunjuk Elsa dengan suara lantang.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2