Pewaris Tunggal Sang Mafia

Pewaris Tunggal Sang Mafia
Bagian 6


__ADS_3

Abel menyuruh Daniel dan Bella pulang. Sementara dia menunggu Demian yang kembali tidur karena efek obat untuk pemulihan luka tusukan.


Sambil menunggu, dia memainkan ponselnya dan tidur berbaring pada sofa. Sesekali maniknya melirik ke Demian yang belum juga bangun.


Hidupmu sudah ku tolong Tuan, jadi mulai saat ini, jadikan aku ratu yang harus kau turuti hahahaha. Abel tersenyum kecil dengan suara hatinya sendiri. Jika mungkin Demian bisa menjaga sedikit mulut busuknya. Mungkin Abel juga tidak terlalu mencibirnya seperti yang di lakukan setiap hari.


Bibir Abel molongok. Saat maniknya kembali melihat Demian, dia sudah membuka matanya, menatapnya.


Cih!! Tatapan macam apa itu!! Memelas sekali!! Awas saja. Jika mulutnya masih sangat busuk! Aku tidak mau di suruh olehnya. Biar dia sadar!! Jika hidup itu butuh seseorang!!


"Tolong, aku haus." Gumam Demian dengan suara lemah.


"Hanya sampai kau sembuh ya! Aku melayani mu karena kau terlihat menyedihkan." Abel berdiri menuju meja samping ranjang untuk menuangkan air putih." Nih." Abel mengulurkan tangannya dengan gelas di tangannya.


"Egh! Aku tidak bisa."


"Bagaimana caranya agar bisa!" Abel duduk di sisi ranjang lalu mengambil sedotan dan menyodorkannya pada bibir Demian." Terus saja keras kepala jika kau ingin mati konyol. Bukankah dulu sudah ku katakan untuk di kawal sebab kau tidak sekuat aku." Manik Demian hanya menatap bibir Abel yang sejak tadi bergerak, sebab perih pada luka perutnya masih terasa begitu sakit.


"Kita lanjutkan pertengkaran jika aku sudah sembuh. Kau bisa mengomel karena tidak tahu sakitnya seperti apa." Ingin sekali aku berteriak di telinganya yang tebal itu!! Dasar wanita tidak punya hati.


Demian tidak tahu, jika tanpa donor darah dari Abel. Nyawanya mungkin saja sudah melayang. Sementara Abel yang tidak mau tahu, langsung beranjak pergi dan duduk di tempatnya semula.


"Terserah kau saja. Mengajak berperang juga ayo." Jawab Abel kembali berbaring. Demian meliriknya sebentar lalu menatap langit-langit kamar rumah sakit.


Abel sengaja tidak bertanya macam-macam. Dia mengerti keadaan Demian yang terluka cukup serius. Meski ingin sekali dia bertanya tentang sosok yang menikam. Namun itu di urungkan sampai Demian sembuh.


"Abel.." Panggil Demian lirih. Abel pura-pura tidak mendengar dan malah mengeluarkan dengkuran." Hei Abel tolong aku" Ucapnya memohon dengan nafas yang berhembus kasar." Tante tolong aku." Tentu saja Abel langsung duduk mendengarnya.


"Sudah ku katakan jangan memanggilku dengan sebutan Tante!!"


"Jika tidak ingin ku panggil begitu. Penuhi panggilanku."


"Ada apa lagi sih? Bukankah sudah minum. Jika kau meminta makan. Pihak rumah sakit belum memberikannya. Kau tidak boleh makan sembarangan agar cepat sembuh."


"Tanganku tidak bisa bergerak bebas karena ini." Demian mengangkat tangan kanannya yang terdapat jarum infus. Selang jarum infus terlihat menjuntai ke tubuhnya sehingga tangan kanan Demian tidak bisa bergerak bebas.


Tanpa berkomentar lagi. Abel menggiring tiang Infus dan meletakannya di sisi kanan ranjang.


"Sudah kan. Aku mau tidur. Jangan berteriak padaku lagi." Abel kembali ke sofa dan berbaring.


"Mana bisa aku teriak. Perutku perih sekali! Apa dokter tidak memberikan obat yang mujarab agar aku cepat sembuh." Ocehan dari Demian berusaha tidak di dengarkan Abel. Dia tahu lelaki yang sedang berbaring bermulut busuk dan gemar mengumpat.


Telinganya sudah menebal, merasa terbiasa mendengar perkerjaan Demian yang selalu berkata kasar dan keras jika mengobrol bersamanya.


"Hei Nona Abel. Temani aku berbicara. Jangan kau diam seperti itu dan membuat ku bosan. Agh Tuhan sakit sekali. Rasanya aku ingin mati saja." Ucap Demian terus saja berceloteh padahal baru saja dia mengeluh sakit.

__ADS_1


Suara anak itu benar-benar membuatku pusing. Biasanya kami hanya bertemu beberapa jam. Itu saja aku sudah sangat tidak tahan dengan mulut busuknya itu. Tapi sekarang, aku harus berpura-pura jadi Istri yang baik agar Mama dan Papa tidak curiga..


"Ahh Abel tolong aku... Perih sekali! Mungkin perutku mengeluarkan darah lagi." Abel terduduk. Mencengkram kepalanya seraya menatap tajam Demian.


"Jika tidak ingin sakit diamlah Bayi!! Astaga!! Aku pusing mendengar suara mu."


"Serius ini sakit! Tolong panggilkan dokter! Agh tidak! Aku benar-benar akan mati!! Abel berdiri seraya mendengus. Dia menombol alarm dan tidak lama setelah itu seorang suster datang.


"Ada apa Nona."


"Dia berkata sakit." Menunjuk ke arah Demian.


"Astaga maaf." Suster itu malah kembali keluar sehingga membuat Demian mengelinjang kesetanan.


"Suster sialan!! Kenapa kau malah pergi!! Jika aku sudah sembuh!! Akan ku runtuhkan rumah sakit ini!! Agh!! Perih sekali!!" Abel bergegas berjalan ke sisi tempat tidur. Dia menyikap selimut dan berpura-pura memasang wajah terkejut.


"Astaga!! Darah!!! Darah banyak sekali!!! Ya Tuhan aku mau pingsan melihatnya." Pekik Abel berpura-pura dan menutup lagi selimut.


"Sudah ku katakan!! Bawa aku berobat di luar negeri. Agar mereka menyembuhkan lukaku ini!!" Suster tadi kembali dengan membawa nampan berisi jarum suntik dan obat.


"Maaf Tuan. Saya lalai karena ada korban kecelakaan. Sebenarnya obat pereda nyeri sudah di suntikan sejak satu jam yang lalu." Segera saja suster menyuntikan cairan pada selang infus.


"Aaaaachh!!! Sakit!!! Panas!!! Perutku sudah berdarah dan sekarang kau menyuntikkan cairan sialan itu!!" Demian memberontak sehingga suster merasa kuwalahan.


"Tenang Tuan. Ini belum selesai." Ucapnya menunjuk ke sisa cairan yang masih separuh. Suster terpaksa mencabutnya karena takut jika jarum suntiknya patah.


"Kau akan ku pecat!! Dasar Suster sialan!!!" Umpatnya tidak juga berhenti.


"Dia sedikit gila Sus, jangan di dengarkan." Tiga cairan berhasil di masukkan. Demian menggerang karena rasa perih masih terasa di pergelangan tangannya.


"Tidak apa Nona." Jawab si Suster seraya mengganti cairan infus." Ini injeksi, habisnya sangat cepat. Jika sudah tinggal sedikit, nanti panggil saya biar saya ganti dengan infus biasa. Permisi." Suster keluar dengan membawa nampannya lagi.


Abel terkekeh menatap Demian yang tengah mendesis kesakitan.


"Dasar payah!!! Jika sudah sembuh pakai rok sana!!"


"Tolong Abel. Periksa apa darahnya sudah berhenti." Abel mengambil ponselnya. Menyikap selimut Demian dan memfotonya.


"Sudah surut!" Dia memperlihatkan hasil foto pada Demian hingga membuatnya sadar jika Abel sudah mengerjainya.


"Kau mempermainkan aku seperti itu Abel. Kau tega sekali. Kau tidak tahu bagaimana sakitnya ini. Agh Tuhan sakit sekali." Abel mendengus lalu kembali berbaring.


"Jangan tidur. Ingat ya, infusku cepat habis jadi kau harus tepat waktu memanggil suster." Ucap Demian mengingatkan.


"Iya cerewet!!"

__ADS_1


Rasa lelah akibat kurang tidur. Membuat beberapa kali mata Abel menutup meski kembali terbuka seraya memperhatikan cairan infus yang tinggal separuh.


"Nona Abel."


"Aku tidak tidur Tuan Demian." Abel menatap Demian dengan mata bulatnya atau lebih tepatnya berusaha di bulatkan.


"Mari mengobrol agar kamu tidak tidur." Demian melihat gelagat Abel yang mengantuk, sehingga dia tidak ingin Abel tertidur hingga melupakan tugasnya.


"Aku tidak tidur." Abel mengucapkannya dengan mata tertutup. Baru beberapa menit berlalu. Abel terbangun dengan sesuatu yang terlempar menimpa perutnya.


"Abel!! Darahku naik!!! Cepat panggil Suster!!!" Abel bergegas bangun meskipun pusing menjalar. Dia juga merasa panik dengan darah Demian yang mulai naik ke selang infus.


Untung Suster segera datang untuk mengganti cairan injeksi dengan cairan infus biasa. Namun karena kejadian tadi membuat infus Demian tiba-tiba macet.


"Maaf Tuan. Ini sedikit perih rasanya." Padahal selang infus hanya di tekuk lalu di tarik. Namun Demian kembali berteriak dan mengeluhkan perih.


"Hentikan!! Perih sekali!!! Aaaaaaaaaaa!!"


"Sudah Tuan." Ucap Suster mengatur kecepatan tetesan cairan infus." Permisi." Suster keluar. Abel mencengkram erat kepalanya yang pusing karena terkejut. Menatap Demian yang masih meringis kesakitan.


"Ahh kepalaku." Eluh Abel berjalan keluar untuk menemui William.


"Ada perlu Nona." William segera berdiri sejajar. Sudah lama Willy mengagumi wanita dewasa yang berdiri di hadapannya.


"Panggil aku Kak. Jangan Nona. Em tolong belikan kopi ya. Menjaga anak kecil itu membuatku pusing."


"Baik Kak. Emm.. Saya akan mengantarkannya ke kamar."


"Terimakasih ya Will." Abel tersenyum dan kembali masuk.


"Kenapa tidak di jodohkan saja denganku." Gumam William menddesah lembut ketika fikiran itu melintas. Dia bahkan menyukai Abel sejak duduk di bangku SMP.


Baginya Abel terlihat sangat cantik dan berkarisma. Apalagi seringnya Willy diam-diam memperhatikan ketika Abel berlatih bela diri dan menembak bersama Andra. Membuat rasa sukanya semakin menguat.


Willy sempat patah hati ketika mendengar pernikahan antara Abel dan Demian di gelar. Tapi apa daya, dia hanya anak seorang pesuruh yang mampu patuh dan patuh.


Andra tidak segan-segan menghajarnya jika sampai Willy bercerita soal perasaannya itu.


Sebaiknya ku pendam saja, cinta tidak harus memiliki..


~Bersambung..


Jika ada typo bisa kasih tahu ya🤭


Kadang mata berkunang-kunang jadi typo bertebaran 😁

__ADS_1


Terimakasih dukungannya 🥰🥰🥰


__ADS_2