Pewaris Tunggal Sang Mafia

Pewaris Tunggal Sang Mafia
Bagian 5


__ADS_3

Happy reading 🥰🥰🥰


Baru saja Abel datang, Bella menyerbunya dengan pelukan dan tangis. Abel membalas pelukan, membawanya kembali ke dalam kesedihan atas kecelakaan beberapa bulan lalu.


"Kita butuh golongan darah AB. Tapi stok di rumah sakit sedang tidak ada. Jika tidak cepat di dapatkan, nyawa Demian.." Tangis Bella pecah. Melihat anak satu-satunya tengah berjuang untuk hidupnya.


"Darah Mama dan Papa?"


"Papa sedang di ambil darahnya dan sekarang beristirahat di ruangan. Tapi darah yang di donorkan belum cukup Abel. Bagaimana ini. Mama takut terjadi sesuatu dengan Demian." Tangannya mengusap lembut punggung Bella berusaha menguatkan mertua kecilnya itu.


"Aku tidak tahu golongan darahku Ma. Tapi aku siap jadi pendonor jika memang cocok."


Abel melepaskan pelukan Bella dan memanggil perawat untuk memeriksa golongan darahnya. Ini di lakukan bukan demi Demian tapi demi Bella.


Dia duduk tegang, ketika seorang suster mengambil sampel darahnya. Sedikit nyeri, sebab ini kali pertama untuknya mengenal jarum suntik.


"Syukurlah. Cocok Nona." Ucap si perawat setelah melakukan pemeriksaan kilat." Mari ikut saya Nona." Bibir nya tersungging, berdiri dan mengikuti langkah suster menuju ruangan khusus.


Sebelum masuk, Abel di peruntukkan memakai baju yang di sediakan. Baju ini berwarna biru muda dan sedikit panas. Namun ketika langkahnya masuk ke ruangan di mana Demian di rawat. Seketika rasa panas menghilang. Udara begitu dingin menusuk tulang seperti berada di kulkas ukuran besar.


"Silahkan berbaring di sini Nona." Abel berbaring dengan mata fokus ke arah Demian yang tengah berbaring dengan banyak alat yang terpasang di tubuhnya.


Astaga Tuhan.. Kasihan sekali...


Ada rasa takut saat Abel melihat jarum cukup besar di masukkan ke dalam lipatan tangannya.


"Rileks Nona." Ujar suster menyuruh Abel meluruskan tangannya ketika pengambilan darah berlangsung.


Darah menyatu yang cepat, detak jantung Demian kembali normal. Para dokter dan perawat tersenyum, sebab Demian sudah melewati masa kritisnya.


Abel di bawa ke ruang perawatan untuk memulihkan stamina. Dia berbaring sendirian di ruangan. Dengan mata berkunang-kunang. Abel menutup matanya, berharap rasa pusing itu segera enyah.


Cklek...


Pintu terbuka, memperlihatkan Bella dengan sebuah nampan di tangan.


"Terimakasih ya sayang." Ucapnya sebelum duduk.


"Terimakasih?" Tanya Abel mengulang.


"Darahnya." Aku berharap mereka bisa akur setelah ini. Darah Abel sudah masuk ke tubuh Demian bahkan di terima dengan baik. " Makan dulu sayang." Abel berusaha duduk. Mengambil nampan dari Bella dan memakan sajian rumah sakit agar staminanya pulih." Jangan lupa vitaminnya." Seketika Abel tersenyum aneh saat Bella menyodorkan sebuah pil yang sudah di letakkan pada mangkuk kecil.


Aku benci minum obat.. Aku tidak bisa meminum benda kecil dan pahit itu..


Abel selalu memiliki alasan untuk menghindari minum obat. Terkadang saat sakit, dia harus berpura-pura sembuh agar Nara tidak memaksanya meminum benda kecil yang di pandang mengerikan bagi Abel.


"Aku sudah sembuh Ma." Abel duduk, menahan rasa berkunang-kunang. Daripada obat harus melewati tenggorokannya yang pasti otomatis mengecil.

__ADS_1


"Ini vitamin penambah darah sayang. Agar stamina kamu pilih seutuhnya."


"Sudah." Abel berdiri, mencoba tersenyum lalu berjalan untuk mengambil tasnya." Apa Demian sudah sadar Ma?" Dia berdiri di samping Bella sehingga Bella terpaksa ikut berdiri.


"Sudah sempat sadar sebentar. Tapi mungkin sekarang tidur lagi. Ayo kita ke kamarnya."


"Hm.." Abel meraih lembut lengan Bella. Berjalan beriringan menuju ruangan VIP dengan fasilitas lengkap.


Ruangan itu tidak ayal seperti rumah sendiri. Terdapat satu ranjang pasien dan sofa memanjang yang begitu empuk. Sofa itu di peruntukkan bagi keluarga pasien yang mungkin ingin tidur di sana.


Daniel terlihat tengah duduk menunggu, tepat di samping Demian yang masih terlelap. Tapi syukurlah. Sebab alat yang terpasang di tubuhnya sudah tidak ada lagi.


"Dia belum juga bangun." Abel duduk di sofa sementara Bella menghampiri tempat tidur untuk melihat keadaan Demian.


"Mungkin efek obat sayang." Tangan Daniel terangkat dan mengusap punggung Bella lembut.


"Mama sebaiknya menghubungi asisten Demian." Bella berjalan ke Abel lalu duduk di sampingnya.


"Untuk apa Abel?"


"Memutuskan semua kontrak kerja." Pandangan Abel beralih pada Daniel.


"Hm begitulah Ma."


"Mama tidak tahu ponselnya ada di mana?"


"Dari kartu nama sayang." Abel mengangguk-angguk.


"Mungkin ponselnya menghilang Nak." Sahut Daniel beranjak dan ikut duduk bersama di sofa.


"Coba ku hubungi." Abel mencoba menghubungi nomer Demian dan tidak aktif." Sepertinya sudah hilang." Imbuh Abel tersenyum.


"Biar saja Nak. Jika pihak pengontrak menuntut ganti rugi, biar Papa bayar saja."


Cklek...


Pintu terbuka dan memperlihatkan wajah cemas Andra. Anak buahnya melapor jika Abel memesan taksi untuk pergi ke rumah sakit. Otak Andra yang masih berkerja dengan bagus, menghubungi kontak Daniel untuk bertanya di mana kamar perawatannya.


"Kenapa tidak menghubungi saya Nona." Ucap Andra mengutarakan kekhawatirannya.


"Terlalu terburu-buru Pak." Tidak ada yang seakrab Andra. Abel selalu menolak ketika Roy atau Erik yang mengantarkannya.


Manik Andra melirik ke arah tubuh Demian yang terkapar. Tarikan nafas berat berhembus kasar. Dia sudah memperkirakan jika kejadian ini akan terjadi.


"Anak-anak sudah ku suruh menyisir lokasi. Polisi bilang, mobilnya sengaja di terjunkan."


"Hentikan penyelidikan Pak. Suruh anak buah mu saja." Sahut Abel tegas. Watak itu di dapatkannya dari Jonathan yang selalu tegas dan cepat dalam mengambil keputusan.

__ADS_1


"Sudah saya lakukan Nona."


"Jika pelakunya sama. Akan ku buru sampai ke ujung dunia."


"Tidak sayang. " Ucap Daniel dan Bella bersama.


"Biarkan itu menjadi tugas para anak buah. Papa tidak ingin kamu turun tangan sendiri."


"Iya sayang. Selain kamu menantu Mama. Kamu juga amanat yang perlu kami jaga."


Ish tidak seru.. Watak ini di turunkan dari Nara. Yang memiliki jiwa pembunuh dan ingin menghabisi seseorang yang berani menyentuh anggota keluarganya. Aku tidak akan puas jika belum membunuh pelaku dengan tanganku sendiri. Seolah sifat kedua orang tuanya di wariskan. Abel tumbuh menjadi gadis yang kuat.


"Iya Mama, Papa." Andra tersenyum tipis. Melihat Nonanya berpura-pura patuh pada dua orang yang di anggap pengganti orang tuanya.


Tok..Tok..Tok...


"Masuk." Gagang pintu bergerak. Seorang lelaki muda keluar dari sana. Berjas rapi dan parasnya cukup tampan.


Dia adalah William. Putra tunggal Andra yang akan di perkerjakan sebagai supir pribadi.


"Hei Will. Astaga kau jadi lebih dewasa memakai jas itu." Puji Abel mengakui jika Putra tunggal Andra berparas tampan.


"Karena saya tidak bisa meninggalkan Istri saya terlalu lama. Em William akan jadi supir pribadi Nona dan Tuan Demian." Wajah Abel berubah tidak suka. Dia ingin bebas! Dan sekarang rantai pengekang malah di tambahkan." Dia sudah sangat terlatih Nona. Tenaga saya juga tidak seperti dulu lagi jadi saya memang sudah melatih William jauh-jauh hari untuk menggantikan posisi saya." Bella tersenyum menatap Abel yang membuang muka.


Mereka menganggap aku bayi kecil yang perlu di jaga.


"Bisakah aku minta kebebasan sedikit Pak."


"Tidak bisa." Sahut Andra cepat.


"Serius Pak. Ini membosankan. Aku ingin menikmati hidup seperti sebagian orang tapi kenapa kau menambahkan rantai belenggu lagi." Daniel tersenyum begitupun Bella.


"Ini memang berat Nona. Seorang pewaris satu-satunya memang akan terasa berat. Saya hanya ingin melindungi Nona dari sesuatu yang mungkin bisa membuat Nona celaka.."


"Sudah cukup. Itu alasan yang sama, aku mual dan pusing mendengar kata-kata itu. Terserah saja Pak jika ingin memperkerjakan William. Dia juga sudah ku anggap sebagai adik." Celoteh Abel tidak tertahankan. Punggungnya di sandarkan lemah pada sofa seraya menatap langit-langit kamar.


"Saya siap melayani Nona."


"Panggil aku Kak saja Will!" Celetuk Abel.


"Baik saya permisi Nona. William akan menunggu di depan. Jika Nona ingin pulang, dia akan mengantarkannya."


"Hm.." Andra mengangguk sejenak kemudian pergi keluar bersama William.


Apa aku menyamar jadi gembel saja!! Hidupku memuakkan sekali!!!


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2