
Daniel tersenyum saat melihat potret kebersamaan Abel dan Demian yang sengaja Andra abadikan saat berada di rumah sakit.
Keduanya menjadi terlihat sedikit akrab meski bendera genjatan senjata belum berkibar.
"Jika mereka cepat akrab maka mereka akan cepat jatuh cinta." Bella melontarkan keinginannya. Dia sangat mengidamkan seorang cucu dalam waktu dekat ini.
"Amin sayang. Lambat laun mereka akan segera jatuh cinta."
"Tapi kenapa lama sekali ya Kak. Tidak seperti kita dulu." Tangan Bella meraih jemari Daniel dan menggenggamnya erat.
"Itu tergantung dari niat lelakinya. Dulu aku sudah tertarik denganmu sejak awal jadi semua bisa berjalan cepat karena niat itu." Bella menarik nafas panjang. Menyadari sikap Demian yang dingin." Wanita itu akan luluh jika di hujani sikap manis dan perhatian." Imbuh Daniel lirih.
"Jadi ini semua gara-gara Demian? Apa itu maksud Kak Daniel?" Lagi lagi, Bella tidak suka dengan prasangka buruk Demian, anaknya.
"Aku tidak berkata itu sayang. Semua juga membutuhkan timbal balik."
"Dia anak kita loh Kak. Kenapa Kak Daniel selalu saja menyalahkan Demian atas ini! Mereka itu memang butuh proses lebih lama jadi tidak ada tersangka di dalam sana. Semua hanya butuh waktu." Daniel mengangguk-angguk seraya tersenyum. Lebih memilih menerima jawaban itu daripada harus memicu perdebatan.
"Hm maafkan aku. Aku hanya ingin kau cepat menimang cucu." Ucap Daniel selalu bisa merajuk dengan berbagai cara.
"Aku juga ingin. Tapi Kak Daniel jangan menyalahkan anak kita."
"Oke ini yang terakhir. Aku berjanji." Aku berharap suatu saat nanti Tuhan memperlihatkan kebenaran itu padamu sayang. Aku tidak sedang menyalahkan tapi bagaimana bisa Abel jatuh cinta jika sikap Demian seperti itu. Ahh Tuhan. Aku berharap mereka segera jatuh cinta agar keinginan Istriku bisa terwujud.
🌹🌹
Demian menatap gerakan Abel saat tengah mengikat rambutnya sembarangan. Salivanya tertelan kasar dengan jantung berdetak tidak beraturan.
"Aku mau mandi dulu. Aku sudah menyuruh Willy untuk membelikan makan malam untuk kita." Demian menddesah seraya berpaling.
"Bukankah lebih baik kita makan dengan olahan ayam tadi." Daripada harus menyuruh lelaki lain untuk membelikan makanan untuk kita.
"Aku tidak pernah mencobanya. Sudahlah, di larang berprotes. Kau tinggal mengambil pesanan itu lalu masuk. Aku mandi dulu, ini sudah malam." Demian melirik malas ke Abel yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.
"Lebih baik ku tunggu di depan." Demian bangun seraya menyeringai. Dia berjalan perlahan menuju ruang tamu. Baru saja dia akan duduk. Mobil William terlihat sudah terparkir di depan.
__ADS_1
Demian mengurungkan niatnya untuk duduk dan menunggu kedatangan William di ambang pintu.
"Ini Tuan makanannya." William menyodorkan dua kotak makanan yang tidak langsung di sambut oleh Demian.
"Bawa pergi. Bukankah sudah ku katakan untuk tidak berdekatan dengan Istriku." William mengangguk-angguk seraya tersenyum.
"Saya hanya menjalankan perintah Tuan."
"Aku tidak ingin makanan dari tanganmu. Aku lebih suka Pak Andra yang bertugas, bukan kau!!" Tunjuk Demian kasar.
"Saya akan menolak permintaan Nona Abel lain kali agar Tuan tidak cemburu pada saya." Mata Demian membulat dengan wajah merah padam.
"Apa katamu!! Cemburu!!" Demian terkekeh dan melupakan sakit dalamnya hanya karena tidak ingin mengakui kecemburuannya." Aku hanya tidak ingin kedua orang tuaku menganggap kalian berselingkuh!" William menahan senyum dengan menundukkan kepalanya.
"Nyonya Bella dan Tuan Daniel sudah tahu jika saya memang di tugaskan.."
"Aku yang berkuasa di sini! Jadi turuti peraturan itu dan tidak perlu banyak bertanya." Sahut Demian cepat.
"Lalu saya harus beralasan bagaimana jika Nona Abel menanyakan soal makanan pesanan nya."
"Apa Ayah salah? Aku merasa Tuan Demian menyukai Kak Abel. Jika keduanya saling membenci, tidak mungkin Tuan Demian cemburu seperti itu." William berjalan pergi untuk membagi kotak makan dengan penjaga rumah seraya memikirkan alasan yang tepat ketika Abel menanyakan pesanan nya.
.
.
Setengah jam berlalu. Abel baru saja keluar kamar mandi dan tidak mendapati Demian.
Abel memutuskan untuk bersolek terlebih dahulu tapi suara berisik di dapur membuatnya terpacing untuk memeriksa. Dia melongok, mendapati Demian tengah menggoreng olahan ayam dengan sebuah helm yang terpasang.
"Astaga." Kekehan Abel tidak tertahankan sehingga Demian langsung melihat ke arahnya." Kau sedang apa Ian? Bukankah kau belum sembuh." Protes Abel berjalan menghampiri.
"William tidak mendapatkan pesanannya jadi aku menggoreng ini untuk makan kita." Abel menddesah seraya merebut alat penggorengan dari tangan Demian.
"Padahal aku tadi sudah bilang untuk membeli yang lain jika tidak ada." Gerutu Abel sementara Demian melepaskan helm yang di pakai.
__ADS_1
"Begitu kau bilang becus." Gerutu Demian duduk di kursi makan.
"Namanya orang pasti pernah melakukan kesalahan. Aku akan bertanya padanya."
"Tidak." Sahut Demian cepat.
"Kenapa tidak?"
"Dia berpamitan akan beristirahat." Abel mengangguk-angguk seraya mengangkat olahan ayam yang sudah kering.
"Kasihan sekali. Mungkin dia kelelahan sebab tidak ada tempat tidur di rumah sakit. Dia harus rela berbaring di tempat yang keras itu." Demian mengepalkan tangannya kuat untuk menahan rasa cemburu yang kian menggebu.
"Aku lapar dan sangat lapar." Sampai aku ingin memakan hidup-hidup lelaki itu.
"Hm ini, sebentar ku ambilkan nasi dan sausnya." Abel bersikap biasa saja padahal wajah Demian terlihat tidak baik." Aku ingin bertanya satu hal padamu sebab sekarang kamu terlihat sudah baik." Imbuh Abel setelah menyiapkan nasi dan saus.
"Apa. Katakan."
"Kau melihat wajah pelaku penyerangan kemarin."
"Di sana sangat gelap. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Yang pasti dia mengunakan pakaian serba hitam lengkap dengan maskernya."
"Sebaiknya kamu berhenti menjadi entertainment. Itu membahayakan mu. Bukankah lebih baik kau bantu Papa mengelola bisnis itu daripada harus menjual tampang di depan kamera." Demian menegakkan kepalanya dan menatap tajam Abel yang juga tengah menatapnya.
"Itu duniaku dan itu kesenangan ku. Aku tidak bisa meninggalkannya. Aku sudah merintis karir itu dari saat aku SMA dan hingga sekarang. Lalu kau suruh aku meninggalkannya begitu saja? Kau gila sudah mengatakan itu." Suara buruk Demian kembali keluar karena tersulut emosi.
"Kau tidak mengerti bagaimana sedihnya Mama saat kau kritis! Aku tidak memikirkan mu tapi aku lebih memikirkan Mama dan juga Papa! Please Ian!! Jangan egois dan mementingkan kesenanganmu sendiri." Demian mendengus seraya menarik nafas dalam-dalam.
Aku sangat mencintai perkerjaan ku tapi aku juga mencintai Mama..
"Jika kau masih bersikukuh! Pakai jasa pengawal agar mereka bisa menjagamu dan tidak membuat orang tua kita bersedih." Abel berdiri tanpa menyentuh makanannya. Dia merasa kesal dengan sikap Demian yang di fikirnya tidak memikirkan perasaan kedua orang tuanya. Kau tidak mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang tua. Sehingga kau dengan mudah memilih karier daripada menghindari sesuatu yang membuat air mata mereka jatuh. Dasar anak sialan!!! Bagaimana bisa aku menikah dengan anak berhati batu seperti dia!!
"Itu kenapa aku tidak mau menikah. Aku tidak ingin pernikahan ini menjadi penghambat karier yang selama ini ku rintis dari awal." Demian terdiam dan mulai memikirkan tawaran yang Abel ucapakan untuk menyewa pengawal sebab dia juga tidak ingin membuat Bella bersedih.
🌹🌹🌹
__ADS_1