
Abel mendengus, melihat Demian sudah terlelap tidur setelah menghabiskan waktunya semalaman di lokasi syuting. Asisten pribadinya sengaja tinggal terpisah, karena Demian ingin menutupi status pernikahannya bersama Abel.
Karirku sedang bagus Ma.. Aku tidak ingin merusaknya karena pernikahan ini..
Bella mengiyakan keinginan anak semata wayangnya, asal dia tidak menolak pernikahan yang awalnya di tentang keras. Namun apalah daya, Demian tidak sanggup menolak. Apalagi itu keinginan Ibunya.
Bagaimana jika penggemarnya tahu jika idolanya tidur dengan gaya begitu buruk.
Setelah memastikan Demian tidur. Abel menanggalkan handuk kimononya lalu menggantinya dengan celana hitam panjang dan blouse mewah berwarna biru.
Setelah kematian kedua orang tuanya. Abel memiliki kesibukan baru. Dia harus mengurus perusahaan Asian Grup di bawah pelatihan Andra.
Kepintaran Ibunya menurun hingga dia bisa belajar dengan begitu cepat tanpa kuliah.
"Ian aku berangkat. Jika kau mau makan pesan saja. Aku tidak mau kau menelfon lalu berteriak ingin di pesankan makanan." Gumam Abel tidak di dengar. Dengkuran Demian semakin keras sehingga terpaksa Abel mengambil selembar catatan kecil dan menempelkan pesan di dahi Demian." Ah menyebalkan sekali anak ini!!" Umpat Abel meraih tas kecilnya lalu berjalan keluar kamar.
Rumah yang besar dengan kunci sandi yang terpasang pada setiap jendela dan pintu. Sebagian rumah berdinding kaca di lapisi anti peluru, sementara kamar pembantu terpisah dengan bangunan utama. Itu semua di lakukan untuk menjaga keselamatan Abel yang merupakan pewaris terakhir dari Asin Grup.
"Jadwal hari ini kemana Pak." Tanya Abel pada Andra yang sudah menunggunya di depan pintu.
"Hanya ada satu pertemuan Nona." Andra dengan sopan membukakan pintu mobil.
"Tidak ada perkembangan pada penyelidikan?"
"Tidak ada Nona." Abel mengangguk-angguk seraya mengedarkan pandangannya ke sekitar.
"Jadi hari ini aku bisa belajar menembak?"
"Nona sudah pintar melakukannya."
"Aku ingin lebih pintar lagi agar pembunuh keluargaku tidak bisa lari dari kejaran ku." Andra tersenyum sebab percuma akan melawan. Abel tidak bisa di hentikan, mirip seperti Almarhum Mamanya.
"Baik Nona." Andra fokus menatap jalan dengan pengawalan ketat yang ada di belakang. Terkadang, Andra merasa menyesal. Tidak bisa mengendus tentang insiden kecelakaan yang merenggut nyawa Tuan dan Nonanya.
Dia sampai berhari-hari tidak berselera makan karena rasa bersalah sudah terlalu teledor. Namun Abel malah menyuruhnya bangkit dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
Mobil mewah itu berbelok di sebuah hotel. Pertemuan di rencanakan di sana atas kesepakatan bersama. Meskipun umur Abel masih sangat muda. Namun sambutan untuknya luar biasa. Para pengusaha muda terlihat begitu menghormati Abel mengingat perusahaan besar yang kini berada di tangannya.
Apalagi paras Abel begitu cantik dengan rambut ikal panjangnya, membuat para pengusaha muda bersemangat ketika melakukan pertemuan seperti sekarang.
Drrrrrtttt... Drrrrrtttt... Drrrrrtttt...
Abel mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Tarikan nafas berat berhembus ketika dia melihat kontak Demian memanggilnya.
Anak ini benar-benar!!!
Abel mematikan panggilan namun Demian terus menganggunya lagi dan lagi.
"Sebaiknya di terima dulu Nona."
"Hm sebentar." Abel tersenyum lalu berdiri dan berjalan menjauh untuk menerima panggilan.
__ADS_1
"Ya halo.
"Gawat!! Mama ke sini nanti siang.
Mata Abel melebar mendengar itu.
"Kau harus pulang tepat waktu dan ingat untuk berpura-pura jadi istri yang baik. Aku tidak mau Mama bersedih jika sampai tahu keburukan mu seperti apa.
Dia selalu merasa baik padahal orang yang paling buruk adalah dia!!!
"Hm.
"Jawaban macam apa itu!!
"Aku sedang ada pertemuan. Kau jangan memicu perdebatan.
Jawab Abel menekan kata-katanya. Bukankah dia yang minta pernikahannya di sembunyikan! Tapi kenapa dia selalu saja tidak mengerti posisiku!!
"Oke. Cepat pulang!! Aku tidak mau menggeser tempat tidur ini sendiri.
"Panggil tukang kebun untuk membantu.
"Mereka penuh kuman!! Selesaikan pertemuan mu dan temui aku di rumah. SECEPATNYA!!!
Tut...Tut...Tut....
Sial sekali anak itu!!!
Bukan hanya Demian yang sangat menyanyangi Bella dan Daniel. Namun dia juga begitu menghormati mereka selayaknya orang tua kandungnya.
.
.
.
Tepat pukul 11 siang, mobil Daniel terparkir di pekarangan rumah. Demian segera menyambut kedatangan mereka meski Abel masih juga belum datang.
"Di mana anak perempuan Mama?" Demian mengumpat dalam hati. Sebab Bella selalu menanyakan Abel terlebih dahulu daripada dirinya.
"Dia masih di jalan Ma. Masuk dulu." Bella masih terlihat muda di umurnya yang akan menginjak 38 tahun. Wajahnya begitu cantik bahkan dia lebih pantas menjadi Kakak bagi Demian daripada seorang Ibu.
"Seharusnya kamu membantu istrimu Ian. Meskipun kau sibuk, jangan sampai kewajiban sebagai seorang suami di abaikan." Sahut Daniel yang juga terlihat awet muda.
Selalu aku yang di salahkan..
"Hm iya. Mama ingin Abel segera hamil jadi dia tidak boleh stress dan terlalu lelah." Ujar Bella menimpali.
"Iya Ma, Pa." Jawab Demian asal sebab dia dan Abel memiliki kesibukan masing-masing." Duduk dulu, biar ku buatkan minum." Demian mendudukan Bella di sofa ruang tengah.
"Memangnya Bibik kemana?" Tanya Bella seraya memperhatikan sekitar.
__ADS_1
"Pulang kampung Ma." Bella mengangguk-angguk. Dia mengerti jika Abel tidak di perbolehkan untuk memperkerjakan sembarangan pembantu.
"Biar Mama menginap di sini sampai Bibik kembali ya."
Jangan!!" Jawab Demian dan Abel yang ternyata baru datang.
"Em maksudku, kita bisa mengatasinya Ma. Bibik hanya pulang selama satu Minggu saja." Abel tersenyum lalu mencium punggung tangan Bella dan Daniel secara bergantian
Maniknya membandingkan wajah antara Demian dan Daniel yang memang bak pinang di belah dua.
Andai sifatnya juga sama. Batin Abel duduk di samping Demian dan mulai mempersembahkan sinetron romantis.
Ketika Bella dan Daniel berkunjung. Keduanya selalu saja berpura-pura menjadi pasangan harmonis sepanjang sejarah. Itu mudah untuk Demian sebab beberapa film berhasil di bintanginya. Begitupun sebaliknya. Abel juga sangat lihai berpura-pura karena baktinya yang begitu besar untuk Bella dan Daniel. Dia tidak ingin membuat kedua orang di hadapannya kecewa. Meski rumah tangganya bersama Demian cenderung hambar seperti sebuah permainan rumah-rumahan.
"Mama tadi sudah memasak makanan kesukaan mu sayang." Bella menggeser rantang makanan ke arah Abel.
"Terimakasih ya Ma." Abel tersenyum dan langsung membuka rantang yang berisi nasi goreng juga beberapa masakan lain.
"Abel saja?" Demian tentu merasa iri karena perhatian Bella kini tertuju pada Abel, Istrinya.
"Ini bisa di makan berdua sayang."
"Sepertinya tidak ada makanan kesukaanku Ma." Protes Demian mencoba tersenyum.
"Belajar mengalah pada Istrimu, Demian." Pinta Daniel tidak menyukai gelagat dari anaknya sendiri.
"Iya Pa. Sudah ku lakukan setiap saat." Jawab Demian.
"Utamakan Istrimu baru memikirkan diri sendiri."
Malas sekali mengutamakan dia! Lebih baik aku mengutamakan karir daripada harus mengurusi Istri tidak berguna itu.
"Papa tidak mau memiliki anak yang bersikap buruk pada Istrinya." Imbuh Daniel.
Memang buruk Pah, sangat buruk. Tidak pantas sekali makhluk bermulut busuk ini menjadi anak kalian..
"Iya sayang. Biar Abel bisa cepat hamil." Abel tersenyum aneh begitupun Demian.
"Padahal kita melakukannya setiap hari ya sayang. Tapi kenapa aku tidak hamil juga." Jawab Abel menepuk-nepuk paha Demian sedikit keras.
"Mungkin kamu yang tidak subur." Jawab Demian asal. Ingin rasanya dia menampis tangan Abel yang ada di pahanya sekarang.
"Tidak mungkin. Aku yakin aku subur." Dasar anak busuk! Enak sekali bilang aku tidak subur!!
"Lebih berkerja keras lagi. Mama benar-benar ingin seorang cucu." Bella tersenyum, memandang keduanya hingga bayangan tentang masa lalu bersama Daniel melintas.
"Sudah Ma. Dia bahkan tidak pernah tidur dan meminta itu terus padaku. Iya kan sayang." Usapan tangan Abel semakin di tekan. Memberikan sebuah bahasa isyarat pada Demian agar mengiyakan ucapannya.
"Iya Ma. Demi keinginan Mama aku rela tidak tidur." Daniel tidak bergeming. Menatap ketidakseriusan dari ucapan Abel dan Demian.
Ya Tuhan. Sampai kapan mereka akan berpura-pura seperti itu..
__ADS_1
~Bersambung