
Happy reading....
Setelah meletakan jamuan, Abel duduk tepat di samping kursi roda Demian. Dia tengah menikmati kekocakan gaya Elsa yang di rasa sangat berlebihan.
"Sudah lama Kak tinggal di sini?" Tanya Aldo tentu tertarik dengan paras cantik Abel dengan gaya khasnya.
"Em baru saja datang saat Demian sakit."
"Kakak kandung atau Kakak jauh?" Celetuk Elsa bertanya. Dia merasa tersaingi dengan kehadiran Abel.
"Bukan urusanmu." Sahut Demian tidak ingin membahas sesuatu yang membahayakan untuk karirnya.
"Aku hanya takut kamu tersandung masalah yang akan menurunkan kepopuleran mu."
"Memangnya jika aku bukan Kakak kandung, kepopuleran Demian bisa turun?" Sahut Abel sangat suka menyulut emosi seseorang semacam Elsa. Dalam sekali tatap. Dia bisa menebak bagaimana sifat Elsa.
"Tinggal satu atap dengan wanita yang bukan saudaranya memang tidak boleh." Demian membuang nafas kasar karena perdebatan yang terjadi.
"Wah aku baru tahu. Em tapi tenang saja. Jika karir Demian turun nanti akan ku naikkan." Jawab Abel asal. Dia terkekeh dalam hati membaca raut wajah kesal Elsa sekarang.
"Tidak semudah itu."
"Mungkin untukmu tapi itu mudah untuk ku. Semudah ini." Abel membolak-balikkan tangan kanannya seraya tersenyum.
"Aku juga bisa." Elsa menirukan gerakan tangan hingga membuat Abel terkekeh.
"Apalagi untuk karirmu. Aku bisa menghancurkan itu dalam satu kali kedip!" Elsa mendengus dan semakin terbawa arus emosi.
"Hentikan Abel." Sahut Demian menengahi. Dia muak mendengarkan perdebatan yang di rasa sangat tidak penting.
"Suruh tamu mu bersikap selayaknya tamu! Aku sudah baik menyuguhkan makanan bukan racun!"
"Cantik sih, tapi tidak tahu sopan santun." Abel terkekeh lalu berdiri seraya menyiratkan sirup ke arah Elsa.
"Pergi!!!" Usir Abel tegas.
"Ach!! Basah!!! Tidak sopan sekali!!!" Abel menatap lekat ke Elsa dan semakin geram dengan sikapnya. Dia meraih ponsel lalu menghubungi William untuk membantunya menyingkirkan Elsa.
"Dasar pellacur!!" Gumam hendak pergi namun William lebih dulu datang.
"Kau bilang apa hah! Pellacur!!" Teriak Elsa tidak terima.
"Bawa dia pergi!!" Pinta Abel. William tersenyum sejenak dan menyeret paksa Elsa untuk keluar rumah.
"Kenapa kau mengajaknya." Protes Demian melirik ke arah Abel yang masuk ke dalam kamar. Selama tiga bulan bersama, dia tahu jika Abel adalah wanita yang tegas namun gampang tersulut emosi seperti dirinya.
"Dia yang ikut sendiri." Manik Aldo masih memperhatikan ke arah kamar di mana Abel masuk.
"Kau lihat apa!" Tanya Demian geram. Dia tidak suka dengan tatapan Aldo pada Abel.
"Dia lebih cantik dari Selly." Demian berpaling, menahan rasa nyeri pada hatinya selayaknya orang yang tengah cemburu.
Sakit sekali!! Kenapa rasanya begini.
"Boleh aku menyimpan kontaknya?"
"Tidak!! Hapus atau ku hancurkan ponselmu." Jawab Demian seraya menyeringai karena luka dalamnya belum sepenuhnya sembuh." Sebaiknya kau pergi. Aku tidak ingin media tahu tentang lokasi rumahku. Kalau sampai karena kunjungan ini ada banyak media di depan rumah besok. Bayar biaya denda itu sendiri!" Mata Aldo membulat. Menatap panik ke Demian.
"Yah kenapa begitu Ian. Aku hanya berniat menengok mu."
"Aku tidak butuh kau jenguk! Cepat pergi." Dengan terpaksa Aldo berdiri setelah meminum sisa sirup.
__ADS_1
Meskipun sakit. Tetap saja menyebalkan.
"Aku pamit ya. Hubungi aku jika kau sudah sembuh."
"Hm." Aldo beranjak pergi keluar rumah menyusul Elsa yang terlihat masih berdebat dengan William.
Manik Demian menatap ke arah kamar, lalu menarik nafas panjang untuk mengendalikan perasaan aneh semenjak dia lolos dari kematian.
"Abel. Tolong aku." Pintanya berpura-pura tidak bisa mengerakkan kursi roda.
"Malas. Aku baru saja berbaring. Sebaiknya kau gerakkan kursi roda itu sendiri sekalian belajar. Jangan manja!"
"Aku tidak sedang manja Abel. Aku benar-benar tidak bisa. Cepat bantu aku atau.." Abel muncul dari dalam kamar dengan gerakan malas.
"Atau apa?!!" Tanyanya berjalan menghampiri Demian lalu membantunya untuk kembali masuk kamar.
"Ku panggil kau dengan sebutan.."
"Panggil saja. Aku akan keluar rumah dan membiarkanmu membusuk di sini seperti mulutmu dan mulut pacarmu tadi." Demian tersenyum tipis. Abel merasa aneh dengan itu meski dia hanya mampu meliriknya. Mulut busuknya benar-benar sudah sedikit sembuh. Kenapa dia malah tersenyum seperti itu. Apa wanita tadi benar-benar..
"Pacarku hanya karier."
"Aku tidak perduli tapi carilah wanita yang lebih baik dari wanita tadi. Tingkahnya sangat memuakkan padahal aku baru melihatnya beberapa menit." Abel melingkarkan tangannya ke pinggang Demian untuk membantunya berbaring di tempat tidur.
"Sudah ku bilang jika aku tidak menyukai wanita manapun. Aku hanya menyukai karierku." Jawab Demian sedikit kesal menerima kenyataan jika Abel tidak cemburu pada Elsa.
"Hm terserah. Sebaiknya kau beristirahat Tuan. Aku juga lelah dan ingin berbaring sebentar."
Demian tidak menjawab. Punggungnya di sandarkan pada pinggiran ranjang seraya sesekali melirik ke Abel yang bersiap tidur di sofa.
Sungguh.. Dia cantik dan sangat cantik..
Demian berpaling ketika Abel melihat ke arahnya dan berpura-pura acuh. Egonya masih terlalu tinggi untuk merendahkan diri dan mengakui jika dia cukup tertarik dengan Abel.
"Kenapa tidak tidur?" Tanya Abel membuka suara.
"Hampir lima hari aku selalu tidur dan sekarang kau suruh tidur. Aku bosan Nona Abel."
"Dokter yang menyuruh bukan aku. Itu juga untuk pemulihan agar luka dalam mu cepat sembuh." Abel kembali duduk berniat menemani Demian.
"Tidak jadi beristirahat?" Abel meraih cemilan seraya menarik nafas panjang.
"Nanti aku malah pusing jika tidurku terganggu karena perintah mu."
"Aku berjanji akan diam." Abel malah terkekeh. Itu sangat terdengar aneh." Kenapa kau selalu menertawakan ku seperti itu." Lirik Demian malas.
"Bukankah perkerjaanmu memang menganggu hidupku. Jadi jangan sok untuk menyuruhku beristirahat lalu kau tidak akan berisik."
"Aku serius Nona. Beristirahat saja jika memang ingin. Aku tahu aku sudah merepotkan mu beberapa hari ini." Cepat-cepat Abel berdiri lalu menempelkan tangannya ke dahi Demian.
"Astaga Ian. Aku tidak mengerti apa yang terjadi denganmu. Kau sudah tidak sakit, tapi kenapa suaramu begitu lembut membelai telinga."
"Jangan meledekku Nona." Demian menyingkirkan tangan Abel dari dahinya.
"Jika melihat sikapmu sekarang. Kau pantas menjadi anak Papa Daniel."
Demian diam dan kembali tidak bergeming. Bukan hanya Abel yang merasakan keanehan itu, tapi dirinya juga.
"Aku memang anak mereka." Demian memperlihatkan tatapan yang sulit di artikan hingga membuat Abel merasa tidak nyaman.
"Aku akan membuat sesuatu untuk ku makan." Abel berdiri dan berniat mengacuhkan Demian.
__ADS_1
"Memangnya Bibik kemana?"
"Besok dia baru mulai berkerja lagi." Abel melirik sebentar kemudian melangkah keluar kamar. Tarikan nafas berat berhembus seraya sesekali menoleh seolah takut jika Demian masih memperhatikannya. Aneh sekali anak itu. Kenapa dia melihatku seperti itu? Kenapa aku malah tidak nyaman.
Abel menyalakan kompor, berniat menggoreng olahan ayam untuk di jadikan cemilan. Setelah memanaskan minyak goreng. Abel berjalan menuju kulkas dan mengambil satu bungkus olahan ayam.
Tap!!!
"Ach!!!" Pekiknya saat melihat Demian sudah berdiri di ambang pintu dapur." Kau!! Sialan!!! Mengagetkan saja!!" Umpat Abel tidak serius sebab nyatanya dia merasa gugup dengan cara menatap Demian.
"Buatkan untukku juga Nona." Pintanya seraya berjalan perlahan lalu duduk di kursi makan.
"Kau sudah sembuh?" Tanya Abel basa-basi. Kenapa dia malah ikut ke sini. Padahal aku berharap dia tidur saja.
"Aku bosan di kamar." Ach!! Sakit sekali Lantas aku kenapa berjalan mengikutinya seperti ini.
"Pakai kursi rodamu Tuan."
"Aku ingin cepat sembuh."
"Agar pemilihan mu cepat."
"Aku sudah sembuh. Hanya sakit sedikit." Jawab Demian asal padahal luka dalamnya masih terasa nyeri.
"Hm ya sudah." Abel mulai memasukkan olahan ayam seraya sesekali melirik ke arah Demian.
"Tolong suruh kacung mu membelikan aku ponsel."
"Kacung?" Abel menoleh dengan wajah bertanya-tanya.
"Hm supirmu."
"Willy?" Demian mengangguk dengan raut wajah tidak suka.
"Ku fikir sudah berubah tapi ternyata mulut busuk mu masih tersisa. Belajarlah untuk menghargai orang yang sudah baik denganmu. Karena sehebat apapun dirimu, kau akan butuh orang lain untuk hidup."
"Dia sudah di bayar kan. Jadi terserah aku harus menyebutnya apa." Kenapa dia membelanya hingga seperti itu.
"Meskipun di bayar jika tanpa mereka. Kita bisa apa."
"Sangat banyak orang yang mau berkerja seperti itu." Abel mengangkat olahan ayam dari penggorengan lalu berbalik badan.
"Mencari orang yang bisa di percaya itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Susah sekali dan jika kau salah memilih bisa-bisa nyawamu terancam seperti kemarin." Abel mengambil piring dan menyajikan olahannya. Dia meletakkannya di atas meja lalu duduk tepat di samping Demian untuk menghindari tatapan manik Demian.
"Itu sudah tugas mereka." Abel menarik nafas panjang. Dia merasa percuma berbicara dengan orang seperti Demian. Tangannya meraih satu buah olahan ayam dan meniup-niup nya. Tepat saat Abel akan melahapnya, tangan Demian dengan cepat mengambilnya lalu memakannya.
"Hei!!!!" Tunjuk Abel menoleh.
"Perutku masih sakit untuk meniup." Jawab Demian beralasan.
"Ish!! Dasar!!" Runtuk Abel mengambil satu lagi." Tidak sopan sekali. Bukankah seharusnya kamu izin dahulu atau memintanya dariku. Bukan merebutnya seperti itu." Demian tersenyum sebentar tanpa sepengetahuan Abel.
"Hm berikan itu untukku Nona." Pinta Demian menunjuk ke olahan yang hampir Abel makan.
"Ini giliranku. Bukankah kau tadi sudah." Celetuk Abel sudah membuka mulutnya namun Demian kembali merebutnya dengan menahan nyeri pada perut. Dia baru menyadari kesenangan itu. Mendengarkan celotehan Abel yang terlihat semakin mengemaskan ketika sedang kesal seperti sekarang.
"Sudah ku minta baik-baik tapi kau tidak mau. Jadi ku rebut." Dengusan terdengar berhembus." Masih sangat banyak di piring Nona bahkan di kulkas juga ada." Imbuh Demian semakin membuat Abel kesal.
"Iya tapi ini panas. Aku belum mencicipinya."
"Hmm.." Demian mengambil satu olahan dan meniup-niup nya sebentar lalu menyodorkannya ke arah Abel." Makan ini." Abel mematung sesaat seraya tersenyum aneh.
__ADS_1
Ada apa sih dengan Demian?
🌹🌹