Pewaris Tunggal Sang Mafia

Pewaris Tunggal Sang Mafia
Bagian 14


__ADS_3

"Tidak kami sibuk." Tolak Bella.


"Hanya sebentar saja. Sudah lama saya tidak bertemu Pak Daniel." Rajuk Marco terasa memaksa.


"Iya. Lupakan masa lalu karena kita sama-sama sudah tua." Imbuh Fanny menimpali.


"Hanya sebentar saja sayang." Ucap Daniel tidak enak.


"Aku tidak suka Kak." Bella merasa ada yang mengganjal di hati seolah dia tahu niat tidak baik Marco.


"Ada Erik dan yang lain. Kita aman." Tarikan nafas berat terdengar berhembus di sertai tatapan malas ke arah Marco dan Fanny.


"Hanya 10 menit. Tidak lebih." Jawabnya terpaksa.


"Hm oke sayang." Pandangan Daniel beralih pada Marco." Tapi kita tidak bisa lama." Imbuhnya menjelaskan.


"Tidak apa Pak Daniel." Marco mempersilahkan Daniel berjalan duluan menuju restoran kecil yang ada di sana.


Sebisanya Marco tidak memasang gerakan kaku. Dia tahu jika anak buah Andra tengah melihat kegiatan mereka.


"Apa Pak Daniel masih tinggal di rumah Bella?" Tanya Marco basa basi.


"Hm ya aku masih di sana. Sesuai kemauan Istriku." Daniel merangkul pundak Bella erat.


"Kenapa berdua saja Pak. Em tidak bersama si buah hati." Sahut Fanny mencoba akrab.


"Kalian juga kenapa berdua saja?" Celetuk Bella ketus.


"Kami bersama anak pertama kami. Dia sedang ada di toilet sebentar."


"Oh." Bella mengangguk-angguk tanpa menyentuh makanan di hadapannya. Daniel hanya mampu menarik nafas panjang. Dia tahu jika hati Istrinya tidak selapang dirinya. Atau bisa di bilang lebih peka daripada dirinya.


"Ku fikir di mana Ma." Sahut seorang anak laki-laki yang tiba-tiba saja sudah berdiri di pinggir meja.


Anak laki-laki itu bertubuh tinggi dan memiliki wajah mirip Marco hanya saja kulitnya sedikit terang.


"Oh ini dia anaknya. Kenalkan ini Alvaro. Putra tertua kami. Dia mempunyai saudara kembar bernama Alvino tapi dia tidak mau ikut tadi." Ucap Fanny memperkenalkan.


Varo dengan sopan mencium punggung tangan Bella dan Daniel secara bergantian.


"Dia Pak Daniel dan Istrinya." Varo tersenyum menggembang sebab kedua orang tuanya kerapkali menceritakan Daniel pada mereka.


"Ayah sering menceritakan soal kalian pada saya." Varo duduk sopan tepat di samping Bella.


"Berapa umurmu?" Tanya Daniel sangat menyukai kesopanan Varo yang sangat berbeda dengan Demian, anaknya.


"20 tahun Om Tante."


"Astaga beda satu tahun dengan Putraku."


Akhirnya mereka berbincang hangat meski Bella sendiri sulit menerima. Alvaro yang tidak tahu menahu soal rencana busuk kedua orang tuanya, tentu berusaha akrab pada Daniel. Orang yang berjasa atas hidup Ayahnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Abel bergegas masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Demian yang terlihat masih tertinggal di belakangnya. Abel yang notabenenya seorang wanita tidak sabaran. Harus mencoba mengalah dengan sifat Demian yang cenderung suka seenaknya.


Ini demi Mama.. Ini demi Mama..


Ucapnya di dalam hati seraya menaiki anak tangga. Demian sendiri menddesah lembut melihat kemarahan Abel akibat kejadian tadi.


Padahal aku benar-benar tidak sengaja. Kenapa wanita itu marah berlebihan seperti itu.


Dengan cepat Demian menaiki anak tangga dan mendapati pintu kamar tertutup bahkan terkunci.


"Abel." Panggilnya seraya mengetuk.


"Sebentar aku berganti baju." Teriak Abel dari dalam. Demian terpaksa menunggu meski dia juga merasa gerah.


Cklek..


Pintu terbuka dan memperlihatkannya Abel dengan gaun santainya. Dia melewati Demian begitu saja berjalan menuju tangga.


"Kau masih marah padaku?" Tanya Demian.


Abel berpura-pura tidak mendengar. Dia melanjutkan langkahnya tanpa menoleh.


"Sudah dewasa tapi seperti anak kecil." Gerutu Demian bergumam.


"Apa katamu!!!" Demian melongok sebab ternyata Abel mendengar suara lirihnya.


"Apa jika orang dewasa harus diam saja ketika di benturkan tubuhnya ke body mobil!!" Abel menyentuh pundak kanan Demian kasar lalu mendorongnya.


"Sudah ku bilang aku refleks."


"Oh refleks?" Jawab Abel tertahan." Hm bisa ku mengerti." Abel tersenyum seolah dia sudah bisa menerima alasan Demian.


Sambil mengangguk-angguk, dia memutar tubuhnya dan sengaja menginjak sepatu Demian dengan sandal heels yang belum sempat di ganti.


"Aaaaaachhhhhhh!! Sakit." Pekik Demian mengangkat kakinya menjauh dari kaki Abel.


"Sakit ya?" Tanya Abel seraya memutar tubuhnya.


"Tentu saja!!!"


"Maaf Ian. Aku tidak sengaja. Aku harap kamu maklum." Abel menepuk pundak Demian sebentar lalu berjalan pergi.


Selalu saja. Dia selalu bisa membalas ku dengan berbagai cara.. Astaga.. Ini terasa menusuk kakiku..


Demian melepaskan sepatunya dan memeriksa kakinya yang memerah.


"Oke. Baik. Ini setimpal." Gumam Demian kembali berdiri lalu masuk ke dalam kamar untuk mengganti bajunya.


Setelah selesai mengganti baju, Demian keluar kamar dan ikut bergabung dengan Abel yang tengah menyantap makan siangnya.

__ADS_1


"Bibik.." Panggil Demian berteriak. Si pembantu langsung membawa satu piring tambahan dan meletakkannya.


"Mau Bibik ambilkan Tuan?" Tawar pembantunya.


"Tidak Bik." Si pembantu mengangguk lalu pergi." Nona." Panggil Demian fokus ke arah Abel yang tidak merespon kedatangan." Abel." Panggil nya lagi. Bukankah sudah seri? Kenapa dia masih marah? " Tante Abel." Terpaksa Demian mengucapkan panggilan itu sehingga membuat Abel langsung menegakkan pandangannya dengan mata membulat.


"Dasar anak kecil busuk! Kau mau apalagi?" Demian melipat kedua tangannya dan bersandar pada kursi setelah membalikkan piring dengan sedikit menggesernya.


"Piringku kosong Abel. Aku ingin kamu mengisinya."


"Isi sendiri. Tugasku sebagai pengawal sudah tidak berlaku!!" Demian mengangguk-angguk seraya tersenyum. Tanpa sepengetahuan Abel, dia meraih ponsel untuk merekam perbincangan mereka.


"Tugasmu sebagai Istri belum selesai." Abel malah terkekeh dengan perasaan kesal. Rasanya ingin marah tapi dia terlalu takut wajahnya keriput akibat perbuatan Demian.


"Istri sialan!!!" Wajah Abel sesaat berubah garang." Ambil sendiri! Jika tidak mau. Silahkan kelaparan." Segera saja Demian mengangkat ponselnya dan memutarkan percakapan singkat mereka.


"Ku kirimkan pada Mama agar dia tahu jika pilihannya adalah wanita yang buruk." Abel menghela nafas panjang. Ancaman itu terdengar serius jika menyangkut Bella dan Daniel.


"Selalu saja mengancam!!"


"Isi piringku dengan makanan agar semuanya beres." Pinta Demian lagi.


Kenapa anak busuk ini semakin hari semakin menyebalkan!!!


Terpaksa sekali Abel berdiri. Mengambilkan nasi juga lauk dan mengisi gelas kosong Demian dengan air putih.


"Silahkan Tuan Demian." Tawar Abel seraya tersenyum kesal.


Hahahaha dia tersenyum tapi kesal. Lucu sekali..


Aku berharap Demian segera jatuh cinta dengan wanita lain agar aku tidak lagi berhubungan dengan mulut busuknya..


"Aku baru merasakan jika makanan dari tanganmu terasa lebih enak." Demian bergumam dan makan dengan lahapnya sementara Abel kehilangan selera makan.


Dia semakin memuakkan!!!


"Kenapa kamu jadi tidak selera sekarang?" Abel melirik malas seraya mengaduk-aduk makanannya.


"Melihat sikapmu membuatku mendadak kenyang."


"Lebih baik kamu makan yang banyak agar tubuhmu tidak terlalu kurus dan datar." Tatapan Abel berubah tajam. Dia menatap ke arah Demian yang tengah makan dengan santainya.


"Ini tubuh ideal sialan!!! Kenapa kau sekarang jadi suka mengkritik penampilan ku!!"


"Karena kau pengawal ku. Aku tidak ingin di sebut tidak memberikan upah yang cukup untuk memberi makanan enak hingga kau sekurus itu." Abel mendengus kemudian berdiri dan hendak beranjak." Tetap di tempat atau aku akan mengirimkan rekaman suara tadi!" Abel berbalik badan. Dia terpaksa duduk daripada Demian kembali menang. Tentu saja dia tidak ingin Bella menyalahkannya hanya karena rekaman suara yang seharusnya bertujuan untuk pembelaan.


"Aku harap kau segera jatuh cinta Demian!! Agar kau segera menceraikan aku!!" Demian terkekeh mendengar ucapan lantang Abel.


"Serius kau mengatakan itu? Kau tahu aku seperti apa kan? Aku tidak akan jatuh cinta sebab aku sangat mencintai diriku sendiri. Jadi jangan harap aku akan menceraikan mu." Aku mulai menyukainya. Ahh Tuhan.. Aku nyaman berada di dekatnya meski hanya berisi perdebatan. Aku akan menjadikan Mama dan Papa sebagai ancaman ampuh untuk menjinakkan Abel..


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2