Pewaris Tunggal Sang Mafia

Pewaris Tunggal Sang Mafia
Bagian 12


__ADS_3

"Dia pengawal ku." Saat Demian berkata demikian. Sontak Abel menolah karena merasa terpanggil.


Kenapa lagi pasangan fenomenal itu? Abel terpaksa ikut berdiri karena perdebatan ringan itu.


"Pengawal? Bukankah seharusnya kamu tidak sembarangan mencari pengawal apalagi dia seorang wanita." Protes Elsa terasa tidak berarah. Dia bukan teman apalagi kekasih Demian yang mempunyai hak untuk mengaturnya.


"Apa maksud ucapan mu itu." Lucas menekan kata-katanya. Dia takut tersorot media akan perangai buruknya.


"Aku hanya memberikan peringatan agar kamu tidak terluka seperti kemarin."


"Carikan pengawal yang menurutmu baik untuknya." Sahut Abel sudah berdiri di samping keduanya.


"Oke. Akan ku carikan! Harusnya kau berkaca sebelum melamar pekerjaan. Bagaimana kemampuanmu. Apa bisa kau melindungi artis papan atas seperti Demian ini."


"Dia pengawal ku dan hanya dia." Tutur Demian seraya tersenyum namun tatapan maniknya mampu menyayat hati Elsa.


"Kamu marah padaku?"


"Menurutmu bagaimana? Aku tidak suka kau mencampuri urusanku."


"Tapi dia seorang wanita yang bahkan sangat kurus." Elsa menunjuk tubuh Abel dari atas sampai bawah.


Ini penghinaan!! Jika aku tidak sedang berpura-pura. Akan ku sobek bibir wanita ini hingga tembus ke belakang kepalanya!!


"Ada apa kalian?!!" Si produser tentu saja merasa marah karena pemotretannya tertunda.


"Urus mulut wanita ini." Menunjuk ke arah Elsa." Aku tidak mau dia mencampuri urusanku atau aku akan membatalkan pemotretan ini." Demian meraih pergelangan tangan Abel dan mengiringinya untuk menjauh.


"Elsa. Elsa. Elsa. Kenapa kau selalu mencampur adukkan masalah pribadimu di sini." Runtuk si produser kesal." Jika Demian sampai tidak mau di ambil gambarnya. Bisa-bisa sponsor itu membatalkan kerja samanya lalu mendenda kita dengan nominal besar karena tidak bisa memenuhi keinginannya." Imbuhnya menjelaskan.


Elsa malah tidak fokus dan melirik ke arah Demian bersama Abel.


"Elsa!!" Teriak produser geram.


"Iya Pak?"

__ADS_1


"Jika kau tidak profesional. Aku akan mengantikan mu dengan model lain!"


"Eh jangan!!" Sahut Elsa cepat.


"Bekerjalah secara profesional!! Kita break sejenak!!" Teriak si produser memberikan ruang bagi Demian untuk mengembalikan suasana hatinya.


Demian memandangi Abel yang di fikirnya merasa kesal atas perkataan Elsa.


"Kau harus terbiasa sebab terkadang orang yang mengagumi ku menjadi gila seperti Elsa." Manik Abel beralih menatap Demian.


"Tidak penting sekali memikirkan pacarmu yang posesif itu." Demian mendessah lembut mendengar jawaban Abel yang tidak sesuai perkiraannya.


"Dia bukan teman apalagi pacar." Jawabnya lirih.


"Cepat selesaikan pemotretan ini dan kita pulang." Jawaban Abel membuat Demian yakin jika Abel benar-benar tidak merasa cemburu.


"Kenapa kau selalu membahas pacar? Apa kau ingin aku memiliki itu?" Entah kegilaan apa yang terjadi di otak Demian hingga dia melontarkan perkataan itu.


"Hm ya. Itu bagus. Agar kita bercerai dan tidak harus berpura-pura bahagia."


"Kenapa tidak kau saja yang mencari." Abel tersenyum tipis di balik masker. Dia tidak memikirkan hal itu sebelumnya. Tujuannya hidup hanya ingin membalas dendam atas kematian kedua orang tuanya.


Demian menutupi itu dengan sempurna karena kelihaiannya dalam berakting. Dia menjadi sok marah-marah seperti biasanya padahal yang terjadi pada hatinya bertolak belakang dengan ucapannya.


"Jangan menyuruhku jika begitu." Jawab Demian pelan.


"Aku tidak menyuruh tapi bicara fakta. Lihatlah Ian, dia sedang memperhatikan kita sampai matanya terlepas dari tempatnya." Demian menyadari tatapan Elsa yang sering kali di lakukan.


"Sudah ku katakan. Sesuatu yang ku cintai adalah karier." Juga... Demian mendessah lagi dan lagi. Menatap Abel yang memang tidak sedang berpura-pura acuh. Bagaimana mungkin dia acuh saat sedang duduk bersama aktor tampan sedunia seperti diriku!!! Aku tidak yakin dia seorang wanita!! Ach!! Aku ini kenapa. Perasaan ini rasanya sangat menyiksa.


"Hm oke. Suruh teman wanita mu untuk berhenti cemburu padaku karena itu tidak berguna. Aku bahkan muak berada di tempat ini!!" Abel berdiri namun di cegah.


"Tetap di sini." Pintanya kasar.


"Aku bosan dan akan berjalan-jalan di sekitar."

__ADS_1


"Tetap di sini atau pemotretan ini tidak akan pernah selesai. Semua tergantung suasana hatiku. Jika aku di buat kesal karena mu. Aku tidak bisa fokus dan pemotretan ini tidak akan selesai." Abel menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu memutar tubuhnya memunggungi Demian.


"Oke Tuan. Aku akan di sini sampai kau menyelesaikan pemotretan dengan hati damai." Demian tersenyum tipis dengan tangan terangkat dan hampir menyentuh puncak kepala Abel.


Ahh apa ini.. Demian menggenggam tangannya lembut dan menurunkannya. Ingin sekali aku mengusap rambut panjangnya itu dan... Ach!! Tidak!! Sialan!!! Demian bergegas berdiri untuk melanjutkan pemotretannya daripada fikiran tidak waras nya mencoba mengelabuhi.


🌹🌹🌹


Seorang lelaki berbalik badan dengan wajah geram saat anak buahnya melaporkan tidak adanya perkembangan tentang penyelidikannya. Sudah dua Minggu berlalu, namun anak buah lelaki yang ternyata bernama Marco itu sulit menembus keamanan.


"Sia-sia aku membayar mu!!" Ucap Marco geram. Wajahnya bahkan sudah terlihat menua tapi dendam pada keluarga Jonathan dan Daniel mengakar di otaknya.


"Kami sudah berusaha mencari celah tapi sangat sulit Tuan. Apalagi sekarang anak Jonathan malah ikut di lokasi syuting." Dengusan terdengar berhembus. Marco berusaha bangkit dari modal yang di berikan Daniel dulu.


Seharusnya Daniel tidak kembali melakukan kesalahan dan bersikap terlalu baik pada seseorang yang tidak tahu terimakasih. Sehingga kini Marco menjadi pengusaha restoran yang sukses.


Dengan kesuksesannya, dia sanggup membayar beberapa orang untuk mencelakakan Jonathan dan keluarganya yang ternyata masih menyisakan Abel.


Marco berencana memusnahkan keluarga Jonathan terlebih dahulu sebab keluarga itu yang memiliki kekuatan sangat kuat. Namun rencana itu berantakan karena ternyata Abel masih hidup.


"Ingat untuk tidak bertindak gegabah." Sahut Fanny baru saja masuk. Keduanya kembali bersatu bahkan menikah dan di karuniai dua orang anak laki-laki.


"Aku ingin mereka segera musnah tapi anak Jonathan sulit ku singkirkan."


"Mereka bukan orang sembarangan Marco. Jika kau gegabah. Bukan hanya nyawamu yang terancam tapi keluarga kita." Marco terdiam dan tidak bergeming seraya memikirkan cara ampuh untuk memperlancar rencana nya.


Tiba-tiba Fanny tersenyum saat terlintas sebuah ide cemerlang melintas di otaknya. Fanny mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu ke telinga Marco.


"Daniel tidak akan curiga. Dia tetap saja jadi orang yang bodoh dan terlalu baik pada semua orang." Imbuh Fanny menimpali.


"Hm ide bagus. Jika tidak dapat kita musnahkan secara cepat, tidak masalah jika memusnahkan mereka secara perlahan." Marco tersenyum tipis dan mulai merancang rencana agar pendekatannya pada keluarga Daniel terasa alami.


Penghinaan itu akan terbayar jika kalian musnah dari dunia ini hahahaha...


🌹🌹🌹

__ADS_1


NB: Jika tidak mengerti Marco dan Fanny. Di harapkan membaca novelku yang berjudul MENGEJAR CINTA ISTRI KECILKU 🤗


Terimakasih dukungannya 🥰🥰


__ADS_2