
Manik Demian mengikuti langkah William yang baru saja masuk. Dia mengenalnya meski tidak akrab. Sifat Demian yang tidak ramah, membuatnya sulit menjalin pertemanan.
"Ini Kak." Dengan sopan William meletakan satu cup kopi di atas meja.
"Duduk sini saja Will. Temani aku berbincang." Pinta Abel.
William sempat melemparkan senyuman pada Demian lalu duduk dengan sedikit rasa sungkan.
Demian membuang muka. Entah kenapa, dia merasa tidak suka melihat William duduk di sana bersama Abel, Istri rahasianya.
Terserah saja!! Sebaiknya aku tidur. Batin Demian terasa bergejolak. Ingin terlelap tapi nyatanya matanya terus melirik ke arah Abel yang tengah berbincang.
"Seharusnya sambil kuliah Will..Nanti ku bicarakan dengan Pak Andra ya."
"Tidak perlu Kak. Saya tidak apa-apa. Ayah sudah melatih saya jadi itu semua sudah lebih dari cukup."
"Sayang sekali. Em bagaimana dengan Bu Ella? Apa kabarnya?"
"Mama baik-baik saja." Andra sengaja mengungsikan Ella di desa Bik Yanti karena pelaku pembunuhan belum tertangkap. Sementara Andra dan William, terpaksa harus tinggal di markas jika keduanya tidak pulang.
Mata Abel sesekali melirik ke arah Demian yang sejak tadi terlihat gelisah.
"Ada yang salah Tuan?" Tanya Abel memastikan.
"Ambilkan aku minum Nona." William tersenyum. Dia tahu kenyataan hubungan antara Abel dan Demian dari Andra.
"Jika kau sembuh akan ku balas perbuatanmu." Abel berjalan mengambil gelas minum dan memberikannya pada Demian.
"Tolong tanyakan dokter. Kapan aku boleh makan?" Nyeri pada perut nya seketika menghilang. Terbawa arus rasa aneh yang Demian rasakan sekarang.
"Jika boleh makan pasti di beri makanan!!" Jawab Abel ketus. Dia ingin pergi namun suara Demian mencegah.
"Ayolah Nona Abel." Rasanya Demian sengaja merepotkannya. Agar Abel tidak berbincang lagi dengan William.
"Baiklah Tuan Demian yang agung." Abel berjalan keluar untuk menuju ruangan dokter jaga yang ada di ujung lorong.
"Bisakah kau pergi dari ruangan." William menoleh saat tiba-tiba Demian berkata. Apa yang sedang ku katakan..
"Daripada Tuan sendiri bukanlah lebih baik..."
"Aku lebih suka sendiri daripada ada pemandangan tidak sedap di sini." Nada bicaranya begitu dingin menusuk sehingga William memutuskan menuruti perintah." Hei tunggu." Cegah Demian membuat langkah William berhenti." Cari alasan yang tepat kenapa kau harus keluar. Kau tahu maksudku?" William mengangguk." Jawab aku!!!" Demian tidak percaya dengan apa yang di ucapkan nya sekarang.
"Iya Tuan. Saya akan mencari alasan yang tepat."
"Hm bagus. Pergi!! Aku muak melihatmu berada di sini." William kembali mengangguk lalu berjalan keluar bersamaan dengan kedatangan Abel.
"Bukankah sudah ku katakan menunggu di dalam saja?"
"Aku ingin mencari angin Kak. Permisi." Demian tersenyum penuh kemenangan, kemudian memasang wajah tidak berdosa saat Abel berjalan ke arahnya.
"Dokter akan ke sini untuk memeriksa."
"Hm.." Abel merasa aneh dengan jawaban Demian yang begitu singkat.
"Kau kelihatan semakin parah Tuan." Demian merasa bingung dengan apa yang di rasa. Meski dia mencoba menutupi semua karena keangkuhan hatinya yang begitu kuat.
Seolah darah yang di berikan Abel adalah ramuan mujarab penyatu hati. Demian menjadi lebih banyak diam daripada harus berkata yang tidak-tidak.
Ada hikmah di balik kejadian itu. Bella dan Daniel sengaja menjenguk hanya sebentar. Berharap kebersamaan antara kedua anaknya bisa menumbuhkan perasaan cinta.
Entah karena hal itu atau darah yang Abel donor kan. Tapi sekarang sikap Demian menjadi lebih baik dari sebelumnya.
"Aku boleh pinjam ponselmu?" Tanya Demian ketika Abel baru akan masuk kamar mandi.
Hari ini Demian keluar dari rumah sakit meski harus membutuhkan istirahat cukup untuk penyembuhan.
"Hm." Abel mengambil ponselnya dan memberikannya pada Demian." Lalu apalagi? Sebab aku akan berendam untuk mengembalikan kulit terawat ku." Demian menarik nafas panjang. Ingin berkata kasar namun tertahan di kerongkongan.
__ADS_1
Aneh sekali anak busuk ini. Sudah dua hari dia tidak merespon. Apa kecelakaan itu membuatnya linglung?
"Katanya mau mandi dan berendam? Kenapa kau malah memandangi ketampanan ku yang sempurna ini." Ledek Demian masih dalam batas wajar.
"Ish!!! Malas!! Awas ya, jangan memanggilku selama setengah jam ke depan." Pinta Abel lagi.
"Hm iya." Meskipun aneh, Abel melangkah menuju kamar mandi untuk berendam. Sementara Demian mencoba menghubungi Aldo yang pasti setengah mati kebingungan.
Sesuai permintaan, berita kecelakaan Demian tidak mencuat ke publik sehingga pihak produser, sutradara bahkan Aldo tidak mengerti di mana Demian menghilang.
Setelah beberapa kali panggilan. Aldo baru menerima panggilan dari nomer Abel yang pasti di sebutnya orang asing.
"Ya halo!
"Aku Ian.
"Demian!!! Astaga!!! Kau menghilang ke mana? Gawat ini!!! Kemarin para kru mencari mu. Kita rugi besar Ian!! Mereka menuntut ganti rugi karena kau tidak hadir.
"Akan ku bayar. Aku sakit, ingat untuk tidak berkata apapun.
"Demian sakit?
Ah pasti Aldo mengeraskan suaranya.. Demian mengenal suara Elsa yang terdengar terkejut.
"Di rumah sakit mana?
"Di rumah.
"Rumahmu di mana Ian?
"Tidak perlu ke sini.
Demian mengakhiri panggilan dan meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidurnya.
Apa dia selalu mandi selama itu? Lirih terdengar suara Abel bersenandung.
Sudah tiga bulan berlalu... Aku bahkan tidak tahu kebiasaan apa yang di lakukan setiap harinya.. Aku bicara apa sih..
Aneh! Demian menyebut dirinya sendiri merasa aneh. Tentang apa yang di rasa, kenapa dia lebih memilih diam dan menghindari perdebatan.
"Kenapa aku jadi mirip Ayah." Eluh Demian lirih." Egh!!" Eluh Demian berusaha berdiri namun kembali duduk. Perutnya masih terasa nyeri sehingga dia memutuskannya untuk berbaring saja.
*************
"Apa kau bilang? Dia masih hidup?" Tanya seorang lelaki duduk di kursi kokohnya.
"Iya Tuan. Dia pulang ke rumahnya hari ini." Penjagaan begitu ketat sehingga musuh dari Joy tidak sanggup menerobos dinding keamanan.
Bisa saja sniper unggul di sewa, namun seluruh rumah di lapisi pelindung anti peluru.
"Cari cara lain! Aku ingin keturunan Jonathan musnah dari dunia ini." Pintanya tersenyum tipis.
**************
Demian tidak juga tidur sampai Abel menyelesaikan ritual mandinya. Dia tertegun, terpanah, melihat wajah segar Abel dengan rambut basahnya.
Apalagi ketika sebuah hair dryer menghempaskan rambut ikalnya, menambah kesan seksi dan sanggup membutakan mata.
Demian membuang muka. Dia sungguh merasa aneh seolah otak yang terkontaminasi dengan darah Daniel dan Abel menuntutnya untuk mengakui pesona wanita dewasa yang merupakan Istrinya.
"Kenapa belum tidur Tuan? Ingat untuk banyak istirahat." Ucap Abel mengingatkan.
Bagaimana bisa tidur jika dia memainkan rambutnya seperti iklan sampo!! Ahh Tuhan!!! Sebenarnya kenapa aku ini!! Umpatan itu kerapkali terlintas semenjak Demian di rawat tiga hari lalu.
"Tidak mengantuk. Bagaimana bisa tidur." Jawabnya singkat.
"Apa lukamu masih sakit?"
__ADS_1
"Aku sudah lebih baik."
"Tapi suara busuk mu yang bising itu menghilang." Ledek Abel tidak di respon.
Demian bingung dengan apa yang terjadi. Kedua orang tuanya dan Abel sengaja tidak bercerita soal donor darah tersebut sebab mereka melakukannya dengan ikhlas.
"Kau merawatku itulah alasannya."
"Itu hanya pencitraan. Kau ingat itu. Aku tidak ingin melihat Mama dan Papa bersedih." Demian mengangguk seraya menatap langit-langit kamar.
Abel yang memang tidak merasakan apapun, bersikap biasa saja padahal sesekali Demian meliriknya.
Kemana saja aku? Dia cantik...
Demian kembali membuang muka, semua terasa benar-benar salah. Hatinya bergetar, memperhatikan Abel yang tengah duduk bersantai dengan cemilan dan tontonannya.
Bel pintu berbunyi, Abel berdiri dan meraih ponselnya untuk melihat siapa yang datang.
"Apa mereka temanmu?" Abel menunjukkan layar ponselnya yang terhubung dengan CCTV rumah mereka.
"Astaga, kenapa mereka tahu tempat ini."
"Ya sudah terlanjur. Mungkin mereka memiliki pelacak." Abel meletakkan ponselnya, lalu meraih lengan Demian untuk membantunya duduk di kursi roda." Jangan lupa. Panggil aku Kak." Imbuh Abel sebelum mendorong kursi roda keluar kamar.
Keduanya terpaksa menempati kamar Tamu karena Demian belum cukup baik untuk berjalan menaiki tangga.
"Hm." Jawab Demian lemah. Seolah dia tidak rela jika harus mengakui Abel sebagai Kakak.
"Tunggu di sini." Abel berjalan membuka pintu. Aldo berdiri di balik pintu tersebut bersama Elsa.
Siapa wanita ini? Kenapa Demian tidak pernah bercerita jika memiliki saudara secantik ini. batin Aldo memperhatikan Abel dari atas sampai bawah.
Elsa menyentuh pundak Aldo dengan pundaknya sehingga Aldo tersadar dari lamunannya.
"Em apa ini rumah Demian?"
"Oh iya. Silahkan masuk." Abel mempersilahkannya dengan ramah.
"Kenapa bisa Ian." Sapa Aldo langsung menyerbu ke Demian yang duduk di kursi roda.
"Musibah jadi pasti bisa." Jawab Demian kembali ketus.
"Aku membawakan mu buah-buahan segar, nanti di makan ya." Abel melebarkan matanya, terkekeh dalam hati melihat sikap Elsa yang terlihat di buat-buat.
"Silahkan duduk. Mau minum apa?" Tawar Abel tersenyum ramah.
"Dia..." Tanya Aldo tertahan.
"Kakaknya." Sahut Abel cepat. Demian menddesah namun hanya bisa bungkam.
"Aku baru tahu kamu punya Kakak." Ucap Elsa memasang sikap sok manis.
....
Hai reader terhormat 😁😁
Aku mau minta maaf tidak bisa lanjutkan cerita ini dulu..
Jadi mau aku tamatin sejenak...
Entah kapan aku lanjutin lagi...
Mungkin nunggu cerita satunya selesai
Sekali lagi maaf 🙏🙏🙏
Terimakasih dukungannya 🥰🥰🥰
__ADS_1