Pewaris Tunggal Sang Mafia

Pewaris Tunggal Sang Mafia
Bagian 4


__ADS_3

Setelah pemotretan selesai, Demian dan para kru mengadakan pesta kecil untuk merayakan keberhasilan film yang mereka buat. Demian duduk seraya menikmati makanan ringan di hadapannya. Sementara yang lain asyik menikmati minuman keras yang botolnya berserakan di atas meja.


"Berhenti minum Aldo! Kau akan mati jika minum terus." Meskipun mulut Demian begitu busuk tapi sekalipun dia tidak pernah meneguk minuman keras yang saat ini di konsumsi para kru.


"Cobalah sedikit saja Ian." Bujuk Elsa. Lawan main Demian di film tersebut.


"Tidak." Jawabnya ketus. Bukan hanya Abel saja. Tapi perangai Demian memang sangat buruk dan dingin jika itu menyangkut seorang wanita.


"Kau bukan lelaki jika tidak meminum ini."


"Tidak ya tidak!!! Ayo Do! Ku antarkan pulang." Demian berdiri dan menarik kasar tubuh Aldo yang merupakan asisten pribadinya.


"Antar aku ke Selly. Ach pusing sekali kepalaku." Demian menddesah lalu mengiring tubuh Aldo untuk menuju ke mobil dan menyuruhnya masuk.


"Kau mau ke pacar mu?"


"Iya hehe. Biasa, aku ingin menghabiskan malam yang panas dengannya mumpung kau tidak ada job." Demian mendengus dan mulai melajukan mobilnya.


"Apa enaknya melakukan itu." Aldo terkekeh mendengar itu.


"Makanya cari pacar biar tahu rasanya. Tuh sama si Elsa. Dia kan cinta mati padamu."


"Menjijikkan sekali."


"Kalau sudah tahu rasanya, kau akan minta tambah terus menerus. Pasti Selly sudah menungguku dengan pakaian seksinya." Demian tidak bergeming seraya fokus menyetir.


Apartemen milik kekasih Aldo yang berada di pinggiran kota, membuatnya harus membuang waktu satu jam untuk pulang dan pergi.


Setelah mengantarkan Aldo ke atas, Demian masuk ke dalam lift dan masih tidak curiga dengan lelaki yang kini berdiri di sampingnya


Demian merasa aman, sebab masker sudah di kenakan sehingga dia tidak menaruh kecurigaan sedikitpun pada sekitar.


Tepat saat tangan lelaki misterius akan mengambil belati, seseorang masuk dan membuatnya mengurungkan niat untuk menghabisi Demian sekarang. Meski begitu dia terus saja mengikuti dengan jarak yang cukup dekat.


"Sebaiknya aku memotong jalan." Bodohnya Demian hingga memutuskan untuk berbelok karena jalanan di depan terlihat macet.


Seharusnya dia menunggu saja daripada harus mengambil jalan sepi yang saat ini di lalui.


Dulu, penjagaan ketat juga di terapkan untuk Demian demi keselamatannya. Namun wataknya yang keras membuatnya menolak itu. Dia tidak suka di kawal, itu menjijikan dan beranggapan akan memicu sorotan publik tentangnya.

__ADS_1


Hanya sembunyi-sembunyi Tuan.


Tidak ya tidak!!


Andra hanya bisa pasrah dan menyuruh para anak buahnya berhenti mengawal meski terkadang rasa was-was masih saja melintas di fikiran.


Demian melirik ke arah spion sebelah kanan dan baru menyadari jika ada mobil yang mengikutinya.


Awalnya itu hanya sekedar tebakan. Tapi ketika mobil itu menyalip dan memotong jalan laju mobilnya membuat Demian yakin jika lelaki yang keluar dari mobil itu mengincarnya.


"Sial!!!" Umpatnya membuka pintu mobil dan berniat menghampiri lelaki itu. Tapi naas! Matanya seketika perih saat lelaki itu melemparinya dengan serbuk." Aaaaaggghhhhhhhhhhh!!!" Pekiknya menutup matanya dengan kedua tangannya.


Jleb!!!


Mulut Demian terbuka, saat menyadari bukan hanya mata yang perih namun perutnya juga terasa begitu panas.


Jleb!!!


Perih mata sudah tidak terasa, sebab tubuh Demian ambruk tergolek lemah di kaki lelaki tersebut.


Lelaki tersebut tersenyum dan membuka tudung jaketnya. Dia mulai menyeret tubuh Demian lalu di lemparkan ke jurang yang terdapat di sisi jalan.


Sarung tangannya di lepas dan di masukkan ke dalam kantung kresek yang sudah di siapkan. Lelaki itu kembali masuk mobil dan pergi begitu saja tanpa rasa bersalah.


Pukul 2 malam..


Abel terjaga karena mimpi buruk soal kematian kedua orang tuanya kembali melintas. Dia duduk seraya meneguk air putih yang ada di atas meja dan meneguknya habis.


"Katanya pulang malam!! Dasar anak busuk!!!" Umpat Abel kembali berbaring untuk melanjutkan tidurnya. Tapi ada rasa tidak nyaman di hati sehingga matanya enggan terpejam.


Abel memutuskan bangun saja dengan ponsel di tangannya. Dia keluar kamar menuju ke dapur lalu membuka kulkas. Di ambilnya beberapa cemilan dan minuman ringan lalu duduk di ruang televisi seraya memeriksa mungkin Demian tidur di ruang tamu.


"Kenapa aku perduli sih." Tuturnya menyalakan televisi seraya memakan cemilan." Biasanya dia tidak pernah berbohong meski mulutnya sangat busuk." Abel terpaksa melakukan panggilan telepon untuk Demian tapi panggilannya tidak terjawab.


Sementara Demian yang masih hidup, meronta meminta tolong dengan posisi tubuh tersangkut rerimbunan.


Beruntungnya, ada beberapa motor berhenti ketika melihat mobil Demian yang membentur pohon dengan keadaan mesin menyala. Mereka adalah para pendaki gunung yang kebetulan melintas.


"Tidak ada orangnya." Ujar salah satu dari mereka saat memeriksa mobil Demian yang kosong.

__ADS_1


"Tolong...Tolong..." Teriak Demian semakin lirih. Tubuhnya lemas karena kehilangan banyak darah yang terus saja mengucur deras.


"Diam sialan!!! Aku mendengar sesuatu." Salah satu dari mereka mengambil senter lalu menyorot jurang sedalam 10 meter dan menemukan Demian tersangkut dengan baju bersimbah darah.


"Orang itu!! Atau mayat!!" Ujar temannya.


"Dia masih bernafas. Siapkan alat. Aku turun ke bawah dan kau hubungi polisi." Para pendaki yang sudah ahli, menyiapkan tali dan alat lainnya untuk turun ke bawah.


Sebenarnya mereka tidak ingin terlibat, namun jika Demian tidak segera di tolong. Mereka takut tubuhnya akan semakin jatuh ke bawah dan berakibat fatal.


"Siap!! Cepat tarik!!" Teriak salah satu dari mereka yang tengah turun ke bawah dengan tubuh Demian yang masih setengah sadar.


Papa benar! Papa benar jika kita masih membutuhkan orang lain untuk hidup. Batin Demian mulai terbuka hatinya ketika melihat seseorang yang tidak di kenal berusaha menolongnya meski terlihat kesulitan.


"Pegang yang kuat."


"Cepat tarik!! Dan panggil ambulance." Tiga dari mereka berusaha menarik tali sementara satu lainnya memanggil ambulance." Tuan sadar. Kau harus bertahan." Ucap salah satu dari mereka dengan baju yang penuh dengan darah Demian.


"Astaga ini luka tusukan." Meski mata Demian terpejam namun dia masih bisa mendengar obrolan lima orang pendaki itu.


Lirih terdengar suara sirine polisi dan beberapa saat setelah itu tubuh Demian di bawah masuk ke ambulance. Sementara kelima pendaki terpaksa ikut serta untuk menjadi saksi.


.


.


Baru saja ponsel di letakkan. Abel kembali meraih ponselnya. Keningnya berkerut ketika melihat kontak milik Bella memanggilnya.


"Halo Ma.


"Demian di rumah sakit. Dia di serang. Sebaiknya kamu cepat ke sini Abel.


"Baik Ma. Aku ke sana.


Abel berdiri setelah panggilan berakhir. Dia menggenggam erat ponselnya dengan raut wajah geram.


"Sudah ku katakan untuk memakai pengawalan tapi dia terlalu keras kepala dan bodoh!! Jika sudah seperti ini bagaimana!!" Abel bergegas menaiki tangga untuk berganti baju.


Meskipun dia dan Demian selalu tidak akur tapi mereka tetaplah Suami Istri.

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2