Pindah Ke Akun Baru

Pindah Ke Akun Baru
Mimpi Buruk


__ADS_3

"Aku mau bertemu Reza."


Kutatap tajam mata Salsya yang langsung bicara tanpa basa-basi. "Mas Reza tidak ada," kataku.


"Kok bisa? Ke mana? Kan aku sudah whatsapp dia."


Aku berdeham. "Aku yang membuka pesanmu dan aku langsung menghapusnya."


Salsya mend*sah keras, dia sebal dan kesal kepadaku. "Aku--"


"Aku ingin bicara dengan kamu," potongku. "Ayo, duduk di ruang tamu."


Dia mengangguk. "Oke," katanya.


Dia pun mengikutiku masuk dan kami duduk di ruang tamu. Aku bicara dengan lembut, bicara dari hati ke hati, sebagai sesama perempuan dan sesama ibu. "Langsung saja, Sya, aku mau minta maaf atas semua sikap kasarku selama ini ke kamu. Aku--"


"Aku akan memaafkan kamu asal kamu mengizinkan aku menikah dengan Reza. Jangan coba-coba menjadi penghalang untuk kami."


Ya Tuhan, wanita ini. Sabar, Nara. Tahan dirimu. "Justru itu, aku ingin meminta kamu -- meminta dengan baik-baik -- tolong, jauhi suamiku."


Salsya menggeleng. "Tidak akan! Cinta sejati Reza itu aku. Reza itu milikku! Kam--"


"Sya, mas Reza sudah menikah. Dia laki-laki beristri. Sebentar lagi aku lahiran, aku tidak ingin anak-anakku kehilangan ayahnya. Tolong...."


Dia menatapku dengan tajam. "Kamu egois! Aku bahkan tidak meminta Reza untuk menceraikan kamu. Aku juga rela jadi istri kedua. Istri siri. Kenapa kamu egois mau menguasainya sendiri?"


Sepertinya memang percuma bicara dengan kamu. Dengan cara baik-baik pun kamu seperti ini. "Sya, kamu tidak sadar atau bagaimana? Mas Reza mati-matian menghindari kamu. Apa kamu tidak kasihan pada diri kamu sendiri harus jatuh bangun mengejarnya? Jelas-jelas dia menghindar, Sya. Dia menghindar dari kamu. Aku yakin kamu menyadari hal itu, ya kan?"


Dia menggeleng-geleng tak jelas seperti perempuan sinting. "Tapi Kayla bilang, katanya.... Tidak, tidak, aku percaya pada Kayla. Aku percaya -- Reza sekadar menunggu sampai kamu melahirkan, setelah itu dia akan menikahiku. Pasti. Aku tahu dia sangat mencintaiku. Dia pasti akan menepati janjinya. Aku yakin. Reza, Reza mencintaiku. Dia mencintaiku. Kamu, kamu pembohong, Ra! Kamu bohong!"


Astaga... jadi begitu.... "Begini, Sya. Sebelum aku dan mas Reza menikah, aku mengajukan syarat pranikah kepada mas Reza, bahwa dia tidak boleh berpoligami. Dan seandainya itu terjadi, maka itu berarti sama saja dia menjatuhkan talak atas diriku. Dan kupastikan, mas Reza tidak akan pernah melakukan itu. Dia akan setia kepadaku sampai kapan pun. Jadi tolong, sebagai sesama perempuan dan sebagai sesama ibu, tolong kamu jauhi suamiku."


Salsya tidak percaya, dia syok dan mulai meneteskan air mata. "Jadi, selama ada kamu -- aku tidak akan pernah bersatu dengan Reza? Hmm? Baiklah, kalau begitu... aku akan menyingkirkan kamu."


Aku tertegun. Aura Salsya berubah dalam sekejap. Sosok pembunuh berdarah dingin terpancar dari wajahnya. Matanya menatapku dengan penuh kebencian. Sesaat kemudian, dia merogoh ke dalam tasnya, dan...


Sebuah pisau.


Salsya mengacungkan benda tajam berujung lancip itu ke arahku -- ke perutku.

__ADS_1


Aku hampir terlonjak. "Pisau? Ya ampun, Sya...."


"Kenapa? Takut?" Dia mulai mengeluarkan suara tawa cekikikan. Jelas wujud orang dengan gangguan jiwa yang berada di depanku -- mengancam untuk membunuhku.


Jadi ini wujud aslinya. "Sya, tenang. Aku mengajak kamu bicara baik-baik. Jangan--"


"Terlambat. Kamu pikir aku akan selalu diam dan selalu bisa kamu tindas? Kamu bisa melakukan itu di depan Reza. Sekarang... kita cuma berdua, Nara...."


Aku mulai khawatir. "Sya...," kataku hendak membujuknya.


"Nara... Nara. Aku sudah pernah membunuh tiga orang. Dan kali ini... giliran kamu. Oh, ya, aku ingat. Kamu hamil anak kembar, kan? Itu artinya... aku bisa menghabisi tiga nyawa sekaligus. Iya, kan?"


Aku berusaha tenang, sedikit demi sedikit menyingkir dan mencoba menghindar. Sedangkan Salsya perlahan mendekat ke arahku.


"Katakan, kamu ingin kutusuk di mana? Jantung? Hati? Lambung? Atau... oh, aku tahu, bagaimana kalau kita mulai dari perutmu? Asyik, kan?" dia berkata sambil mengarahkan mata pisau itu ke tubuhku -- ke organ-organ yang ia sebutkan.


Tuhan... tolong lindungi aku dan anak-anakkku. Aku tidak mungkin berlari dalam keadaan seperti ini. Dia pasti akan berhasil mengejarku atau aku akan jatuh terjerembab. Satu-satunya cara aku harus bertahan dan melawan.


Dan...


Salsya mulai menyerang.


Aku berhasil menghindar hingga pisaunya menancap ke sofa, hingga sofa itu pun bergeser dari tempatnya. Salsya marah. Dia meng*rang dengan beringas dan melakukan penyerangan berikutnya.


Salsya yang tersungkur secepat kilat berusaha mengambil pisaunya, tapi aku melumpuhkannya lagi, lalu menarik rambutnya dan menghentakkan kepalanya ke lantai. Dia pingsan. Tapi hanya pura-pura.


Aku lengah, aku mengira dia sudah lumpuh, lalu dengan susah payah hendak berdiri.


Bug!


Salsya menendangku hingga aku terlentang.


Ctek!


Lampu padam. Ruangan seketika menjadi gelap. Aku menahan sakit. Lalu...


Ada sekelebat bayangan hitam datang dan langsung menyerang Salsya. Orang yang tidak kukenal, pakaiannya serba hitam dan mengenakan penutup kepala, yang terlihat hanya mata dan mulutnya.


Aku memiringkan tubuhku -- berusaha berdiri, tapi tidak bisa. Perutku sakit seolah mengalami kontraksi. Dan di saat itu...

__ADS_1


Sosok hitam itu dengan sadis menghunjamkan pisau ke dada Salsya, ia menekankan pisau itu ke tubuh Salsya hingga membenamkan seluruh mata pisau sampai ke pangkal gagangnya, lalu meraih tangan Salsya dan menggenggamkannya ke gagang pisau.


Aku berusaha menahan suaraku, membekap mulut dengan kedua tangan. Aku syok.


Lalu, sosok hitam itu menghampiriku. Aku berteriak, tapi dengan cepat dia membekap mulutku.


"Ssst... tenanglah," suaranya pelan.


Kata-kata dengan alat penyamar suara memecah keheningan.


Sambil menangis dan menahan sakit, suaraku pun tersendat. "To-tolong, tolong jangan... jangan bunuh aku. Ak-aku... aku... aku sedang hamil...."


Dia tersenyum -- senyuman asing dalam suasana gelap namun tetap bisa kulihat dengan pendaran cahaya dari ruangan lain. Lalu...


Dia mengelus perutku. "Kamulah pemenangnya."


"Siapa kamu?"


Dia menggeleng. "Katakan pada siapa pun yang bertanya kalau kamu tidak tahu apa-apa. Akui kalau kamu sudah pingsan lebih dulu sebelum semua ini terjadi. Mengerti?"


Aku mengangguk setuju demi keselamatanku dan anak-anak dalam kandunganku. "Aku janji, ak-ku, aku tidak akan mengatakan apa pun. Aku akan menuruti kata-katamu."


Cengiran lebar merekah dari wajahnya yang bertopeng. "Bagus! Sekarang tidurlah." Dia mengusap wajahku dengan tangannya yang terselubung sarung tangan. Lalu...


Perlahan...


Aku mulai kehilangan kesadaranku. Obat bius, aku tahu dia membiusku.


"Hai, Bocah-Bocah, bertahanlah. Kalian akan baik-baik saja. Percaya atau tidak, kalian akan terlahir sebagai jagoan. Asalkan ibu kalian ini bisa diajak kerja sama. Kalau tidak...."


Aku ketakutan -- di ujung kesadaranku. "Kamu... mau... apa?"


Lalu...


Dia mengarahkan pisau ke perutku.


Srettt!


"Jangaaaaan...!"

__ADS_1


...♡♡♡...


...Thanks for reading! Mohon dukungan dengan like setiap part-nya, ya. Like-mu adalah semangat bagiku untuk terus berkarya....


__ADS_2