
"Ya Tuhan!" Aku terlonjak dan spontan menutup mata. Tiba-tiba bulu kudukku meremang. Aku merinding.
Reza menyentuh kedua pundakku. "Kenapa? Kamu melihat apa?" tanyanya.
"Bukan apa-apa, Mas. Aku hanya kelilipan."
Aku menggeleng dan membuka mataku perlahan. Tidak ada apa-apa. Kuhela napas dalam-dalam dan meyakinkan diriku sendiri -- bahwa aku salah lihat, tepatnya hanya berhalusinasi. Tidak ada hantu, tidak ada Salsya di sana.
Tenang, Nara. Rasa takut dan rasa bersalahmu yang membuatmu berhalusinasi seperti ini. Tenang. Tenang. Tenang.
Huh... dadaku bergemuruh. Aku kembali mengedarkan pandangan ke area parkiran di bawah pohon, tempat di mana aku dan Salsya bertengkar beberapa hari lalu. Bukan, itu tempat di mana aku marah-marah pada Salsya, dan aku memaki-makinya. Bahkan aku mendoakannya mati hari itu. Yah, pertengkaranku itu masih membekas kuat di ingatanku. Kata-kataku, juga harapanku atas kematiannya -- terngiang-ngiang di kepala. Rasanya, seolah-olah aku ini si pahit lidah yang hanya dengan mencetuskan keburukan, maka itu langsung terjadi. Benar kata orang, kata-kata adalah doa. Baik ataupun buruk. Aku memang tidak menyesali kematian Salsya, tapi aku menyesal menginginkannya. Itu membuatku merasa bahwa hatiku ini jahat, padahal aku tidak sejahat itu.
"Ayo, Sayang."
Aku mengangguk tanpa kata, dan mulai melangkah di sepanjang jalan setapak pemakaman, dengan Reza di sampingku, memegangi tanganku dan langkah kaki yang seirama dengan langkah kakiku. Tiga orang bodyguard yang bertubuh kekar berjalan di belakang, beberapa meter jauhnya dariku. Sengaja, aku tidak mau mereka terlalu mencolok untuk mengawalku. Sebab, aku ini bukan siapa-siapa, bukan istri seorang sultan, presiden, apalagi pangeran atau raja. Aku lebih suka mereka jaga jarak agak jauh dariku.
__ADS_1
Setelah beberapa langkah yang membuatku sedikit kelelahan, batu nisannya mulai tampak, permukaannya tampak halus dan mengilat. Karena aku tidak bisa berjongkok, aku berdiri saja dan menaburkan bunga di atas makamnya dengan khidmat.
"Kamu pimpin doa, ya, Mas. Doakan dia."
Reza mengangguk, ia duduk di dekat nisan yang diukir dalam huruf tebal, SALSYA AULIA PUTRI BINTI AHMAD ALBAR. Dia berdoa, dan aku mengamini, apa pun yang ia minta pada Tuhan untuk seseorang yang jasadnya terbaring di dalam sana.
Setelah itu...
"Kenapa?" tanya Reza. Dia langsung berdiri dan mengusap air mataku. "Sudah, jangan nangis terus. Aku tidak bisa melihat kamu seperti ini."
"Kenapa kamu bicara sepert itu?"
Kupejamkan mataku sejenak. "Sebagian hatiku bersyukur karena... dia, sudah tidak ada. Aku tidak bisa menampik kalau ada kelegaan dari dalam hatiku. Kupikir, itu berarti tidak ada lagi yang akan mengganggu rumah tangga kita. Mungkin... kita akan benar-benar bahagia tanpa ada yang mengusik. Tapi di sisi lain aku juga merasa bersalah. Gara-gara aku... bahkan, sekarang... Aulian...," kalimatku terputus-putus di selaan air mata. "Gara-gara aku, kan?"
Reza menggeleng, dan menghapus lagi air mataku yang tak bisa berhenti. "Dengar, sudah takdirnya seperti ini. Siapa yang bisa melawan takdir? Memang sudah waktunya Salsya pergi. Itu kehendak yang di atas. Aulian juga akan baik-baik saja. Pasti."
__ADS_1
Kuharap begitu.
"Aku juga tidak ingin jadi orang munafik. Jujur aku juga merasa ini yang terbaik, terutama untuk kamu dan anak-anak kita. Aku mohon, Sayang, kamu jangan berlarut-larut dengan rasa bersalah kamu. Aku takut kamu down. Aku takut anak kita yang jadi korban. Mereka tidak bersalah. Mereka berhak hidup sehat, mereka tidak boleh ikut terbeban. Kamu paham maksudku?"
Aku mengangguk dan menyuruk ke dalam pelukannya. "Aku paham, Mas. Tapi aku tidak bermaksud...," ucapanku kalah oleh deraian air mata. "Ini bukan mauku, Mas."
Reza mengelus-elus bahuku. "Sepulang dari sini, aku mau kamu buat diri kamu sibuk," katanya. "Jangan beri kesempatan rasa bersalah itu masuk ke pikiran kamu. Terserah, kamu mau masak, kamu mau menulis. Apa saja. Ya?"
Aku manusia biasa, bukan sistem yang bisa dikendalikan.
"Kamu bisa," kata Reza, ia seakan tahu isi kepalaku. "Perlahan, seiring waktu, rasa bersalah itu akan hilang sendiri. Aku hanya minta kamu kuat. Untuk diri kamu sendiri, untuk aku, juga anak-anak. Janji?"
Aku mengangguk. "Aku akan berusaha, Mas."
Berusaha, bukan berarti bisa. Atau hanya belum bisa?
__ADS_1
Entahlah. Tapi aku tahu, anak-anakku tak boleh jadi korban.