
Kalian pernah merasakan jatuh lalu tertimpa tangga?
Inilah yang dirasakan Mayra sekarang, dan aku harap hal itu tidak pernah terjadi dalam kehidupan orang lain, termasuk diriku sendiri. Yang dialami Mayra saat ini bukan hanya jatuh dan tertimpa tangga, tapi juga tertimpa ember penuh berisi cat dan tukang catnya sekaligus. Tahu rasanya seperti apa? Pasti tak terkatakan sakitnya.
Dimulai ketika dia dan kedua orang tuanya mengalami kecelakaan. Mobil yang mereka kendarai ditabrak mobil lain yang tidak bertanggung jawab, hingga mereka menabrak pembatas jalan dan akhirnya jatuh dari tebing yang cukup tinggi. Kedua orang tuanya meninggal di tempat dan Mayra harus kehilangan rahimnya. Sementara pengemudi mobil yang ngebut itu lari entah ke mana. Setelah itu awan gelap selalu menyelimuti kehidupannya. Belum
juga masa berkabung selesai, calon mertuanya langsung menolak mentah-mentah dirinya hanya karena alasan Mayra tidak lagi memiliki rahim hingga tidak bisa memberikan mereka cucu, meski pada akhirnya ia dan Alfi tetap menikah, tapi tetap saja, terpaksa berbagi suami dengan wanita lain adalah hal menyakitkan -- pil pahit yang ke sekian, yang harus ia telan. Selama enam tahun ia harus mengarungi bahtera rumah tangga dengan menanggung beban kebencian ibu mertua dan pahitnya plus getirnya rasa berbagi suami, sekarang ia harus menerima kenyataan bahwa suaminya akan hidup dengan satu kaki.
Dalam hal ini aku berkaca, bahwa di luar sana, ada banyak duka yang lebih besar dari duka yang aku dan ibuku alami, tapi mereka bisa bertahan. Kuakui, mereka -- terutama Mayra, dia sosok perempuan hebat dan tangguh yang pernah kukenal.
__ADS_1
Bagaimana denganmu? Kau pernah mengalami kepahitan dalam hidupmu? Pernahkah kau berpikir untuk mengakhiri hidupmu? Kuharap tidak. Dan, jika pun iya, please, mulai detik ini, jadilah sosok yang kuat. Pun aku, aku akan berusaha mejadi sosok yang lebih kuat dan tegar, lebih tegar dari diriku yang selama ini.
Oh, tidak. Tegar dan kuat bukan berarti kau tidak boleh bersedih. Sedih adalah hal yang wajar, karena kita manusia. Tapi tidak berpikiran pendek dan sempit, itu yang harus. Yeah, mustahil manusia tidak mengalami kesedihan dalam hidup. Begitu juga aku, meski keburukan yang terjadi saat ini bukan terjadi di keluarga intiku. Tetap, aku sedih.
Aku termangu-mangu penuh kesedihan di sore yang lembab dan asing. Terbesit niat di dalam hatiku untuk mengetuk pintu kamar mandi itu dan meminta suamiku untuk keluar dari sana. Tapi aku tak melakukannya. Yang kulakukan hanya berdiri kaku bersandar tembok.
Aku menoleh sebentar ke luar jendela, di luar hujan telah reda rupanya, hanya tinggal gerimis yang bagaikan jarum-jarum tipis berjatuhan dari langit. Aku mengangguk. "Ya," kataku. "Tapi janji, kamu harus hati-hati. Ingat, selalu ada aku dan anak-anak kita yang menunggu kamu pulang. Jangan sampai ada berita buruk yang kudengar tentang kamu. Kamu dengar aku?"
Ya ampun. Sakit sekali rasanya, terasa ada yang sangkut dan mengganjal di tenggorokan.
__ADS_1
Reza mengangguk, membuka mulutnya tanpa suara. Kemudian ia memelukku, sangat erat.
"Ajak seseorang bersama kamu, ya. Kamu belum istirahat. Aku takut kamu capek atau ngantuk nanti. Jangan nyetir sendiri."
Sekali lagi Reza mengangguk, seakan suaranya sudah habis dan dia tidak mampu mengucapkan satu kata pun.
Setelah berpelukan sekali lagi, kutemani ia keluar. Tapi, setibanya di ruang keluarga, kami mendapati Tirta dan beberapa penghuni rumah sedang berkumpul di sana, dalam kebisuan dan ketermanguan. Rupa-rupanya, Tirta sempat mendengar saat Reza bicara di telepon. Anak kecil itu dengan polosnya bertanya, "Amputasi itu apa?"
Tidak ada satu pun orang yang mampu menjawab, apalagi menjelaskan. Tidak juga aku, terlebih lagi Reza. Tidak satu pun.
__ADS_1